Peringatan Maulid Nabi Virtual: Cinta Nabi, Seperti Apa Mewujudkannya?


    

Oleh. Yuni

 

“Siapa saja yang mengaku mencintai Allah SWT maka buktikan. bukikan dengan mengikuti perintah dan larangan Nabi SAW. Maka siapa yang mengaku mencintai Allah dan nabi SAW namun dia tidak mengikuti apa yang dikerjakan oleh Rasulullah Muhammad SAW maka sesungguhnya cintanya Dusta” itulah beberapa kalimat yang disampaikan oleh KH. Rohmat S. Labib dalam pembukaan Maulid Nabi virtual yang diselenggarakan Majelis Cinta Nabi Kamis 30 Oktober 2020 bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW 12 Rabiul Awwal 1442H.


Acara yang disaksikan lebih dari 65 ribu peserta ini bertema CINTA NABI “Tegakkan Syariah Wujudkan Keadilan Lenyapkan Kezaliman”. Disampaikan oleh beberapa tokoh, acara ini menyoroti beberapa problem negeri ini yang tak kunjung ada perubahan mulai dari resesi ekonomi, munculnya isu Neo-PKI dan undang undang Omnibus law. Lantas bagaimana mengikuti Rasulullah dalam menyelesaikan berbagai masalah bangsa seperti ini? KH. KH. Rohmat S. Labib menyampaikan mengikuti Rasulullah adalah wujud keimanan. Jika kita beriman maka kita pasti mengikuti surat Annisa’ 65 yang berbunyi “Maka demi tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Mengikuti Rasulullah dengan menerapkan syariah dalam semua aspek kehidupan itulah yang harus kita lakukan.


Dr. Ichsyanuddin Noorsy, BSC, SH, MSi. menyampaikan bahwa Rasulullah adalah tokoh yang paling berpengaruh didunia versi majalah Times. Terpilihnya Rasulullah disampaikan melalui diskusi yang panjang, hingga akhirnya disepekati oleh para tokoh waktu itu. Kriteria pemimpin yang berpengaruh yaitu melindungi pengikut dan rakyatnya, menyejahterakan dan mencerdaskan rakyatnya. Itulah yang sulit ditemukan dari pemimpin sekarang. Oleh karenanya rasulullah sebagai teladan pemimpin yang tidak pernah mengingkari janji, tidak sibuk mengurusi urusan pribadi dan melindungi rakyatnya.


Dari sisi historis rasul SAW hadir ditengah manusia untuk mewujudkan peradaban yang baru. Peradaban itu didukung oleh tiga hal yang pertama yaitu penegakkan syariat termasuk aqidah yang kedua adalah Ukhuwah dan yang terakhir adalah dakwah. Sebagai pembawa risalah kita bisa mengikuti rasulullah 1400 tahun yang lalu, namun ketiga hal itu harus diteruskan oleh ulama’ dan kaum muslim semuanya. Di mauled nabi ini tentu menjadi spirit bagi kita untuk emngembangkan peradaban islam. Terutama di Indonesia ada 87,19 persen adalah ummat islam. Harusnya ummat islam mampu mewarnai peradaban ummat di negeri ini. Namun kenyataannya mayoritas negeri ini seperti buih dilautan yang terombang ambing sehingga terpojokkan dan ini menjadi indikasi yang kurang baik perkembangan peradaban islam di Indonesia, khususnya dalam hal penegakan hokum di negeri ini terkesan ada pemojokan terhadap ummat islam. Kita lihat saja perbandingan penanganan orang-orang yang memusuhi islam dan orang-orang muslim yang mencoba menegakkan persoalan syariat islam, dakwah dan ukhuwah islamiyah itu.


Ada kesan hukum ditegaskan tidak Equal atau tajam kebawah, tumpul keatas. Orang yang berpunya akan selalu menang dalam berperkara. Adanya ketidak adilan atau kezaliman semacam ini menuntun adanya kewajiban ummat islam untuk menolak dengan dakwah amar ma’ruf  nahi munkar. Setiap perjuangan pasti ada tantangan yang terjal, naik dan mendaki itu hal yang wajar. Sebaliknya jika dakwah ada di zona nyaman, sebenarnya kita sedang berada di jalan yang keliru. Pesan-Pesan tersebut Disampaikan oleh Prof. Dr. Suteki, SH. M.HUM Di waktu yang lain.


Wakil Sekjen MUI Pusat KH. Najamuddin Romli juga berpesan kepada seluruh ummat muslim kita harus meneladani Rasulullah dengan cara santun terhadap saudaranya, namun beliau tegas terhadap kezaliman. Kebenaran itu datangnya dari Allah dan kita dianjurkan untuk tidak ragu-ragu dengan kebenaran. Bagaimana pribadi rasulullah yang agung memperlihatkan kepada kita bagaimana beliau membantai kezaliman. Ummat islam Indonesia harus berkata tegas dan tidak setuju terhadap perlakuan kezaliman yang dilakukan oleh siapa saja.


Di forum diskusi Ust. Ismail yusanto menyampaikan bahwa tanda-tanda kehancuran kapitalisme didepan mata. Kapitalisme menyisakan kesenjangan antara kaya dan miskin. Kapitalisme melakukan penyesuaian dalam rangka menambal kekurangan mereka melalui CSR, namun itupun tidak mampu mengentaskan kemiskinan. Kapitalisme selama tidak ada kompetitornya maka manusia akan terus berharap padanya. Oleh karena kita harus menyadarkan kepada orang orang yaitu keadilan dan keberkahan dan itu hanya ada dalam sistem ekonomi islam dan itu hanya bisa tegak bila ditopang oleh Negara. Beliau menyampaikan beberapa kalimat penutup bahwa cinta kepada nabi harus dibuktikan dalam esmua aspek kehidupan. Kita tidak bisa mencampur adukkan anatara haq dan yang bathil. Penerapan syariat. Penerapan syariat secara menyeluruh suatu saat nanti akan terjadi juga. Lebih baik mati dalam ketaatan daripada hidup dalam kemaksiatan.

 

0 Comments

Posting Komentar