DARI BANJIR, MARI KITA BELAJAR



Oleh : Faiqoh Himmah

(Founder Info Muslimah Jember)



#InfoMuslimahJember -- Hujan sejatinya sesuatu yang dinantikan. Dia membawa air kehidupan. Dalam konteks Islam, bahkan hujan adalah rahmat. Dari Aisyah ra, menceritakan, saat melihat turun hujan, beliau (Rasulullah saw) bersabda: "(ini adalah) rahmat.” 


Tetapi hujan, ternyata sangat bisa menjadi musibah. Seperti yang terjadi di Jember Jumat (29/01). Hujan yang mengguyur Jember selama 3 hari berturut-turut mengakibatkan Sungai Bedadung tak kuasa menahan debit air.


Banjir tak ayal menerjang beberapa titik bantaran sungai di wilayah tengah kota. Setidaknya ada 435 rumah terendam.  Beberapa rumah bahkan hanyut terseret arus air. Ada pula yang roboh secara keseluruhan.


Satu hal yang patut disyukuri adalah solidaritas masyarakat Jember. Berbagai komunitas dengan cepat bergerak. Masyarakat bahu membahu mengumpulkan makanan, pakaian, dana untuk meringankan mereka yang terdampak. Cek banggane dadi wong Jember, rek! Alhamdulillah. 


Banjir ini adalah terbesar selama 10 tahun terakhir. Penuturan Ima, warga asli yang tinggal di daerah Temba'an (Jl. A. Yani), kepada Info Muslimah Jember, seumur hidup tinggal di sana tidak pernah melihat air setinggi kemaren (kamis). Menurutnya, pernah terjadi debit air meluap sampai setinggi dua meter dari ketinggian rumahnya sekitar tahun 2002, namun tak pernah sampai setinggi saat banjir menerjang kemaren. 


Ya, banjir Sungai Bedadung di tengah kota memang mengejutkan warga. Selain teramat langka, sungai sepanjang 161 km itu sudah sangat lebar. Pertama kalinya, dia tak mampu menampung curahan air hujan.


Doa dan bantuan terbaik harus kita upayakan untuk membantu korban. Terutama yang rumahnya seketika lenyap, hanyut terbawa arus air. Jumlahnya tidak sedikit.


Dari banjir ini mari kita belajar. Setidaknya pengkajian terhadap sebab dan renungan : amankah pemukiman di bantaran sungai?


Manusia tidak bisa mengendalikan curah hujan. Karena ia hak mutlak Allah Sang Pengatur alam. Tetapi manusia bisa berupaya menampung curahan air dari langit.


Sebagaimana umumnya banjir yang terjadi di negeri ini, tiadanya lahan (hutan) memadai untuk menampung air hujan seringkali menjadi faktor utama. Banjir Kalsel menjadi contoh nyata. Kala hutan dibabat menjadi area tambang dan lahan sawit. Tak ada lagi akar yang mampu menampung curahan hujan dari langit.


Jika kita ingin sungguh-sungguh mencegah musibah langka ini terulang, butuh ada pengkajian dan penelitian lebih mendalam apa sebab Sungai Bedadung yang begitu “raksasa" dan perkasa “murka".


Dalam sebuah jurnal saya mendapati data bantaran sungai bedadung kini difungsikan sebagai pemukiman, persawahan, hutan yang ditanami pohon sengon dan kopi.


Butuh para ahli, para peneliti, untuk melakukan pengkajian mendalam. Apakah pemanfaatan bantaran sungai Bedadung itu sudah tepat?


Dan yang paling bisa mengerahkan, mendanai dan melaksanakan langkah-langkah strategis dari hasil pengkajian para ahli ini adalah negara. 


Bukankah kehadiran kita di dunia adalah sebagai Khalifah Fil ardh? Rasulullah saw sendiri pernah bersabda, sebuah dorongan agar umatnya melakukan pengkajian dan penelitian : "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian." (HR. Muslim).


Kedua, keberadaan pemukiman di bantaran Sungai Bedadung. Mengutip dari Kompas.com, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Heru Widagdo menilai rumah yang ada di bantaran sungai tersebut berpotensi terbawa arus sungai. 


Warga asli Jember pasti tau, banyak rumah warga di bantaran sungai terutama di Jl. Sumatra, Gladak Kembar. Bahkan beberapa rumah warga persis berada di bibir sungai. 


Saya jadi teringat sebuah kitab klasik tentang pengelolaan harta negara, Al Amwaal, karya Syaikh Abdul Qadim Zallum. Kitab itu memuat jenis-jenis pemasukan dan harta negara menurut tinjauan syariat. Di antara harta negara adalah tanah. Termasuk tanah bantaran sungai. Bantaran sungai masuk dalam kategori fasilitas umum, di mana manfaatnya harus dirasakan oleh banyak orang. Sehingga dia tidak menjadi tanah kepemilikan individu. Negara yang memiliki, mengelola supaya manfaatnya dirasakan publik.


Pun sangat rawan jika bantaran sungai dijadikan pemukiman. Namun, pasti ada sebab mengapa mereka tetap bertahan tinggal di bantaran sungai? Di sinilah peran penting negara. 


Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda : “Imam (Kepala negara/penguasa) adalah pemimpin (pengurus, penggembala) yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhori)


Pemimpin ibarat penggembala. Apa yang dilakukan penggembala? Dia akan mengurusi gembalaannya. Menyediakan tempat tinggal yang nyaman, menggiring nya ke padang rumput sehingga gembalaannya bisa makan, menjauhkan mereka dari penyakit dan bahaya.


Begitulah, pemimpin dalam Islam bertanggung jawab terhadap seluruh urusan rakyatnya. Karena itu, makna politik  atau as siyasah dalam Islam adalah ri’ayatu su'unil ummah (pengaturan urusan umat). 


Banjir Jember, mengajarkan satu hal lagi. Yakni butuh relokasi pemukiman di bantaran sungai yang rawan diterjang banjir. Lagi-lagi hanya negara yang bisa mengambil kebijakan.


Dalam lintasan sejarah Islam, negara memberikan (iqtha') harta kepada rakyat bukanlah hal aneh. Termasuk negara memberi tanah kepada rakyat secara cuma-cuma.


Dalam kitab Al Amwal, karya Abu Ubaid dikisahkan: Rasulullah saw (sebagai kepala negara) pernah memberikan kaplingan tanah kepada Az Zubair di Khaibar. Rasulullah saw juga pernah memberikan kaplingan tanah di daerag al-Aqiq seluruhnya kepada Bilal bin Harits al-Muzani. Rasulullah saw juga pernah mengkaplingkan tanah kepada Furat bin Al Hayyan al-‘Ijli di daerah al-Yamamah.


Demikianlah, paradigma politik Islam, yang mementingkan pelayanan dan pemenuhan urusan rakyat, relokasi pemukiman warga itu relatif mudah dilakukan. Dibandingkan dengan paradigma politik demokrasi yang acapkali menempatkan kepentingan pemilik modal lebih utama dibandingkan hajat rakyat.


Kajian mengenai ini, sangat banyak tertuang dalam kitab-kitab klasik berjudul sama Al Amwaal, yang dikarang oleh berbagai ulama.


Dari banjir, mari kita belajar. Agar hujan, tetap menjadi rahmat. Segala musibah, adalah bagian dari ketentuan Allah. Kita wajib bersabar atasnya. Namun upaya mencegah "musibah" adalah ikhtiar yg dicontohkan Rasulullah saw.  Jember bisa bangkit, optimis dengan Islam! 


Allahu a'lam.

0 Comments

Posting Komentar