Janin Dengan Gen Psikopat. Bagaimana Islam Memandangnya??

 


(Analisis Populer Drama Korea Mouse Bag. 1)

Oleh. Helmiyatul Hidayati

(Blogger Profesional, Reviewer Drama dan Film)



#InfoMuslimahJember -- Negeri Ginseng memang tak pernah berhenti membuat heboh para K-Popers di seluruh dunia dengan memproduksi berbagai drama yang selalu mampu menarik perhatian. Produksi tidak main-main tampak dari hasil yang memang sangat apik dan epic, baik dari segi penulisan naskah, sinematografi, editing dsb.


Salah satu drama Korea yang menarik perhatian adalah Mouse (Tikus, red). Dibintangi oleh aktor papan atas Lee Seung Gi, drama ini memiliki alur cerita yang biasa namun tak biasa, yakni tentang psikopat (orang yang memiliki gangguan kepribadian, biasanya antisosial, tidak memiliki empati dan memiliki temperamental yang tidak bisa diprediksi). Dalam drama korea Mouse, psikopat di sini adalah orang yang membunuh untuk kesenangan.


Mouse bukanlah drama korea yang mengangkat tema psikopat untuk pertama kalinya. Biasanya drama dengan tema psikopat masuk dalam genre film thriller. Genre ini menceritakan tentang kehidupan yang realistis, jauh dari sifat supranatural sekalipun fiksi. Dikemas dengan plot yang cerdas dan twist. Tujuannya membuat penonton tegang dan terpacu adrenalinnya. Umumnya drama dengan genre thriller memiliki pesan yang berat, seperti pesan moral, ideologi bahkan kesadaran  dan keadilan moral.


Dalam drama ini, salah seorang ilmuwan Korea, berhasil melakukan penelitian mengenai gen psikopat. Ia bisa mendeteksi suatu janin yang sedang dalam kandungan ibunya, membawa gen psikopat dan atau membawa gen genius. Bila janin tersebut membawa gen psikopat, maka sudah pasti ia akan tumbuh menjadi pembunuh berantai. 


Keadaan Korea pada saat itu sedang genting karena memang sedang dalam bayang-bayang ketakutan akibat adanya pembunuhan berantai. Sehingga ada wacana untuk membuat undang-undang aborsi bagi janin dengan gen psikopat. Namun wacana itu tidak sampai menjadi undang-undang karena adanya berbagai penentangan.


Salah seorang psikopat senior ternyata adalah dokter yang sangat brilian, sayangnya meski telah divonis hukuman mati, ekseskusi tidak pernah dilakukan, padahal dia telah membunuh 20 orang dalam setahun. Ia hidup di penjara dengan nyaman dan mengintimidasi siapa pun.


Ternyata tak sedikit janin dengan gen psikopat. Sehingga meski psikopat senior berada di dalam penjara, pembunuhan dan pemerkosaan berantai tetap saja terjadi. Hal ini membuat rakyat tak tenang dan polisi pun kalang-kabut berusaha mengejar para psikopat. Konflik inilah yang menjadi warna di sepanjang drama.


Plot cerita tak biasa terletak pada ide bagaimana psikopat lahir, yakni karena dia membawa gen psikopat sejak masih menjadi janin. Tentu saja ini tidak nyata, karena gen atau DNA atau informasi genetik tidak menentukan kepribadian seseorang namun ia memiliki pengaruh pada bentuk fisik manusia, misal warna mata, rambut atau kulit yang biasanya ia dapatkan dari orang tua atau moyangnya.


Konsep bahwa janin membawa gen psikopat kurang lebih mirip dengan kepercayaan yang meyakini adanya dosa asal, yakni dosa Adam dan Hawa yang mengakibatkan kodrat manusia menjadi lemah dan kehilangan kekuatan alaminya, juga kehilangan banyak berkat dari tuhan sehingga menjadikan manusia cenderung tunduk pada keinginan dagingnya (hawa nafsu).


Tentu saja konsep ini merupakan pandangan yang salah, karena secara rasional dapat dikatakan bahwa janin atau bayi tidak bisa memilih ia lahir dari orang tua siapa, di mana, dalam ras, suku atau bangsa apa. Bayi lahir tanpa mengetahui apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi, bagaimana dosa atau kepribadian buruk sudah menjadi haknya??


Kepribadian (akhlak) baik atau buruk seorang manusia tidak dibawa sejak lahir namun ia dibentuk karena lingkungan dan pendidikan yang ia terima. Islam menyebutkan keadaan ini dalam sebuah hadits, Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”


Manusia dilahirkan dengan segenap potensi akal, fisik dan naluri. Hal ini merupakan ketetapan dari Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Namun dalam melakukan perbuatan, manusia diberi kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu atau meninggalkannya, apakah dalam perbuatan tersebut dia akan mengikuti ketentuan Allah ataukah melanggarnya. Pilihannya tergantung dari bagaimana pemahamannya dalam memandang kehidupan.


Jadi, tidak benar bila seseorang melakukan perbuatan menghilangkan nyawa manusia karena ia ‘ditakdirkan’ menjadi psikopat sejak masih janin. Sebab, Allah telah menciptakan akal bagi manusia, dan dalam tabiat akal manusia diberi kemampuan untuk memahami serta mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah juga telah memberi sebaik-baik petunjuk agar manusia tidak tersesat.


“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (QS. Al Balad : 10)


“Maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan0 kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. As-Syams : 8)

0 Comments

Posting Komentar