Kasus Covid Kembali Melonjak; Bagaimana Mengatasinya Dengan Bijak?


 

Oleh. Nurul Fitri

(Praktisi dan Tenaga Kesehatan Masyarakat)


#InfoMuslimahJember -- Setelah beberapa pekan tersiar kabar penurunan kasus covid-19, dengan berkurangnya angka kasus terkonfirmasi dan menurunnya jumlah pasien yang dirawat inap. Masyarakat mulai banyak yang optimis pandemi akan segera berakhir.

Dikutip dari beritajatim.com, kasus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bangkalan, kian melandai. Hingga kini belum ada kasus dari klaster tenaga kesehatan usai divaksin beberapa waktu lalu.

 

Kepala Dinas Kesehatan, Sudiyo mengatakan, saat ini vaksinasi di kalangan tenaga kesehatan tahap pertama telah rampung. “Untuk vaksinasi nakes (tenaga kesehatan), saat ini 83 persen, target kami dua hari lagi selesai,” ujarnya, Kamis (25/2/2021).

 

Jumlah kasus baru COVID-19 secara global sedikit menurun sepanjang pekan lalu, setelah terus mendaki sejak minggu keempat Februari lalu.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, ada 5,5 juta kasus Covid-19 pada pekan lalu, turun 4% dibanding minggu sebelumnya mencapai 5,7 juta infeksi.  Angka kematian global akibat COVID-19 juga melorot selama pekan lalu, tercatat sekitar 90.000 atau turun 4% ketimbang minggu sebelumnya mencapai 93.000 (kontan.co.id).

 

Ironi Penurunan Angka Covid


Namun kenyataannya di bulan Juni 2021 angka kasus baru covid kian merangkak naik. Beberapa kota dan kabupaten mengalami lonjakan kasus baru. Salah satu kota yang mengalami lonjakan cukup signifikan adalah kabupaten Bangkalan.


Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Agus Sugianto Zain, mengklarifikasi perihal ditutupnya pelayanan RSUD Syamrabu Bangkalan. Menurutnya, pelayanan rumah sakit tersebut direncanakan ditutup, pasca dua tenaga kesehatan meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Di antaranya satu dokter dan satu bidan.


Selain Bangkalan, Kudus juga mengalami lonjakan kasus covid, Bupati Kudus Hartopo mengungkap sedikitnya 60 desa dari 132 desa/kelurahan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masuk kategori zona merah menyusul ditemukannya banyak kasus penyebaran virus corona (Covid-19) di puluhan desa tersebut.

 

Kasus melonjaknya covid juga sampai ke kabupaten Garut. Melonjaknya angka positif Covid-19 membuat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 8 Juni mendatang, terancam batal.

 

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengaku khawatir terjadinya kenaikan tren kasus positif Covid-19 di Kota Bandung pasca lebaran dan libur panjang beberapa waktu lalu. Hal ini terlihat dari angka Bed Occupancy Ratio (BOR) atau keterisian tempat tidur di Rumah Sakit Kota Bandung yang sudah 79,9 persen dan cenderung akan mengalami kenaikan.

 

"Ini sudah di titik psikologis. Menunjukkan bahwa baik fasilitas kesehatan maupun tenaga kesehatannya sebentar lagi collapse," katanya di Bandung, Minggu (6/6/2021).

 

Ada Apa di Balik Meningkatnya Kasus Covid??


Aturan mengenai larangan mudik jauh-jauh hari sudah diumumkan oleh pemerintah. Sayangnya larangan mudik ini tidak diimbangi dengan persiapan yang memadai, nampak hanya seperti gertak sambal saja. Pada kenyataanya banyak masyarakat yang bisa mudik dengan santainya. Kalaupun ada yang mengalami kendala, di lokasi lain akan diloloskan begitu saja. Membuat masyarakat menjadi apatis terhadap peraturan pemerintah yang dinilai tidak bijak.


Anomali dari aturan larangan mudik ini juga tampak dengan dibukanya tempat wisata dan masuknya WN Cina ke Indonesia. Pemerintah tidak konsisten dalam menerapkan aturan pembatasan sosial terkait dengan pengendalian Covid-19. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai apa yang terjadi saat ini merupakan bentuk inkonsistensi pemerintah dalam membuat aturan.


Kondisi seperti inilah yang membuat masyarakat tidak bisa mentaati pembatasan dengan konsisten, sehingga kasus covid senantiasa akan selalu naik, pada saat aturan dari negara juga tidak konsisten, rakyat lagi yang dirugikan.

 

Bagaimana Islam Mengatasi Wabah??

 

Disaat dunia tidak dapat mengatasi wabah covid 19 bahkan semakin menyebar penularannya dan mematikan. Seharusnya umat mulai menyadari bahwa lambannya penanganan virus corona bukan semata-mata problem teknis, namun problem sistemik. Maka, penyelesaiannya pun harus sistemik pula. Kapitalisme sekuler yang tidak mengutamakan nyawa manusia, harus diganti dengan sistem lain. Tiada lain adalah sistem Islam. Sistem yang berasal dari Pencipta Manusia, Alam Semesta dan Kehidupan.

 

Secara teknis, solusi Islam dalam mengatasi masalah wabah adalah sebagai berikut.

Pertama, isolasi/karantina. Rasul saw. bersabda, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari).

 

Tindakan karantina atas wilayah yang terkena wabah tentu dimaksudkan agar wabah tidak meluas ke daerah lain. Pada realitasnya, karena karantina tidak dilakukan dengan cepat, kini virus sudah menyebar ke seluruh provinsi. 


Pemerintah tetap bisa melakukan isolasi dengan melihat pergerakan virus di setiap daerah. Inilah fungsi dari penetapan zona. Agar bisa ditentukan penanganan yang tepat. Mana yang harus isolasi, dan mana yang tidak harus isolasi. Selain itu, penguasa juga wajib untuk mensuplai berbagai kebutuhan untuk daerah yang diisolasi.

 

Tindakan cepat isolasi/karantina cukup dilakukan di daerah terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap berjalan normal dan tetap produktif. Daerah-daerah produktif itu bisa menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.

 

Kedua, jaga jarak. Di daerah terjangkit wabah diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasul saw.: “Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR al-Bukhari).

Jaga jarak dilakukan seperti yang berhasil diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un ‘Umwas di Palestina.

Hanya saja, untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing) massal tanpa henti. Ini juga upaya yang dilakukan pemerintah hari ini dalam menangani covid, selain gencar mengkampanyekan 3M.

 

Dalam Islam, tes akan dilakukan dengan akurat secara cepat, masif, dan luas. Tidak ada biaya sedikit pun. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara. Termasuk kebutuhan diri dan keluarganya selama masa perawatan pun menjadi tanggung jawab negara. Dimana negara mendapatkan pemasukan dari semua pendapatan SDA yang melimpah dan bisa juga dari aset-aset negara lainnya, tanpa bergantung pajak dan utang luar negeri.

 

Dengan langkah itu bisa dipisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas kesehariannya. Tanpa dibayang-bayangi virus corona. Aktivitas ekonomi pun tetap produktif sekalipun menurun.

 

Maka, mari kembali kepada hukum syariah, agar dampak pandemi Covid-19 tidak semakin parah. Dunia pun bisa kembali normal sebagaimana sebelum adanya virus. Tentu kita merindukan hari itu, bukan?

0 Comments

Posting Komentar