Dukungan pada Fashion Show Umbar Aurat dan Penolakan pada Gelaran Pendidikan Akhlak Generasi di Kota Santri



Prita HW – 

(Momwriter dan blogger, penulis buku “Bangga Menjadi Jember People”)


Jember kembali ramai dengan beberapa perhelatan. Seteleh menjadi tuan rumah PORPROV beberapa waktu lalu, baru-baru ini juga digelar malam final Gus dan Ning Jember yang diadakan dengan panggung dan tata lampu mewah di alun-alun Jember, persis satu area dimana Masjid Agung Al Baitul Amien yang iconic berada (18/07). 

Tak disangka, kontes ajang kecantikan dan adu ketampanan untuk memilih duta wisata Jember itu menuai kritik yang keras dari kalangan masyarakat, terutama kalangan santri dan pengasuh pesantren. Kritik pertama yang kemudian ramai di media pada 19 Juli lalu datang dari Kyai Abdur Rohman Luthfi, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

Keterkejutan itu bermula saat ada fashion show perform yang mempertontonkan pakaian tembus pandang, semi transparan yang memperlihatkan lekuk tubuh wanita dengan maksimal. Menurutnya, seperti yang dilansir dari suaraindonesia.co.id, ajang yang mungkin awalnya bertujuan baik justru menjadi ajang maksiat, dan ini merupakan kemerosotan moral. 

Kekecewaan juga datang dari Gus Firjaun seperti yang dilansir dari media yang sama. 

Sementara itu, ramai diberitakan pula beberapa waktu lalu, kedatangan Ustadz Hanan Attaki (UHA) dalam tajuk Konser Langit dibatalkan dengan alasan latar belakang personal UHA yang diduga merupakan eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Jelas, ini bukan alasan yang masuk akal. Sebab, jika merujuk pada harapan tokoh pesantren yang dengan keras mengecam pertunjukan umbar aurat di ajang pemilihan Gus dan Ning Jember 2022, pemerintah harusnya memberikan edukasi yang mendidik, bukan justru sebaliknya. 

Konser Langit dengan mendatangkan UHA sebagai guest star utama merupakan salah satu langkah strategis yang seharusnya didukung pemerintah. Sebab mendekatkan ilmu agama kepada generasi muda harusnya sejalan dengan misi kalangan pesantren dalam mendidik akhlak. 

Kemanakah Arah Identitas Jember Tercinta?

Jember yang merupakan kota dengan pesantren terbanyak di Jawa Timur memang lekat dengan citra sebagai kota santri. Bahkan, sebutan yang seharusnya diperuntukkan saat menyebut putra dan putri pemilik pondok pesantren yaitu Gus dan Ning diambil sebagai sebutan bagi para duta wisata. 

Pertanyaannya, akan kemanakah arah kota santri ini? Terlebih, kalangan yang kontra dari kalangan muslim di Jember sendiri memang sangat santer terhadap salah satu case yang terjadi di panggung malam final Gus dan Ning 2022 lalu. 

Semua menganggap pertunjukan itu memalukan dan bahkan mencoreng citra Jember sebagai kota religius. 

Bila ajang-ajang serupa disebar luaskan, dan terutama terus didukung pemerintah, bisa ditebak, Jember sedang menuju pada perubahan identitas secara besar-besaran. Kecaman dan ungkapan kekecewaan tentu tak cukup untuk menjaga generasi dari paparan degradasi moral yang jauh dari nilai-nilai agama Islam. 

Sebagai seorang praktisi pendidikan, saya sendiri terus terang sangat menyayangkan sikap Pemkab Jember yang malah tidak mendukung event yang justru akan menjadi counter dari degradasi moral itu sendiri. 

Semoga tak hanya kecaman dan kekecewaan saja yang muncul terhadap event-event serupa yang digelar hanya untuk umbar aurat dan menyuburkan kemaksiatan. Lebih dari itu, diperlukan dukungan dan kebijakan yang tegas untuk menyikapi berbagai langkah yang menjadikan Jember sendiri kehilangan identitasnya sebagai kota santri.  


0 Comments

Posting Komentar