Bahaya Aqidah Dibalik Keseruan Program PMM: Mahasiswa Muslim Harus Kritis



Oleh. Ayu Fitria Hasanah S.Pd

(Pengamat Pendidikan dan Sosial Budaya)


#InfoMuslimahJember -- Baru-baru ini Universitas Jember melaksanakan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) jilid 2 sebagai bagian dari program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Bagai sebuah sensasi, pada kesempatan ini terdapat mahasiswa non-muslim asal Universitas Negeri Medan yang diberi kesempatan untuk tinggal di Pondok Pesantren Ulul Azmi Bondowoso selain menjalankan kuliah. Tak hanya tinggal, namun juga mengikuti rangkaian kegiatan ibadah umat Islam di pesantren.

Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa belajar lebih dalam tentang keberagaman agama, adat istiadat dan budaya sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air, sebagaimana salah satu tujuan kegiatan PMM (unej.ac.id, 13/09/2022). Berdasarkan hal ini maka PMM sebagai sebuah program hendak membentuk generasi agar memiliki karakter terbuka atau inklusif, dengan kata lain meningkatkan karakter/sikap mengakui dan menghargai atas eksistensi keberbedaan dan keberagaman mengenai agama, budaya dan adat istiadat sebagai bentuk cinta tanah air.

Diantara sikap inklusif yang dapat dipahami melalui kegiatan PMM ini adalah, bolehnya umat agama tertentu melakukan ibadah umat lain sebagai bentuk penghargaan, membentuk pemahaman bahwa semua agama sama atau sama-sama mengajarkan kebaikan, hanya caranya yang berbeda, membentuk persepsi agar adaptif dengan keberagaman adat dan budaya, termasuk di dalamnya mengenai cara beragama, artinya dalam tata cara beragama program ini mengajarkan generasi muda untuk adaptif dengan budaya, mengedapankan keberagaman budaya. Maksudnya, jika terdapat ajaran-ajaran agama yang bertentangan dengan budaya sekalipun hukumnya wajib tidak boleh dipaksakan. Jika syariat tersebut disuarakan untuk dilaksanakan maka dikatakan sebagai sikap eksklusif, sikap merasa agamanya paling benar, dan dikatakan intoleran.

Berdasarkan hal itu, karakter inklusif serta pemahaman inklusif yang hendak dibentuk telah melanggar batas-batas aqidah Islam serta toleransi dalam pemahaman Islam yang benar. Dalam Islam memang diperintahkan untuk bersikap toleransi terhadap umat agama lain, perintah ini terdapat dalam surat Al-Kafirun. Namun toleransi dalam Islam adalah mengakui adanya perbedaan, adanya keberadaan agama lain, dan tidak boleh mengganggu pelaksanaan ibadah mereka, tetapi haram hukumnya turut serta pada kegiatan ibadah umat lain.

Kegiatan PMM ini berpeluang menjadikan mahasiswa muslim melakukan praktik-praktik ibadah agama lain atas dasar sikap menghargai, inilah bahaya aqidah yang jelas mengancam. Selain itu, dalam aqidah Islam tegas Allah menyampaikan dalam surat Al Imron ayat 19 bahwa “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Artinya umat Islam tidak boleh memiliki pemahaman bahwa semua agama sama, dan bersikap tidak masalah meskipun tidak mengambil Islam, karena Allah jelas mengabarkan bahwa hanya Islam yang Allah ridhoi, hanya amal-amal yang dilaksanakan sesuai Islam yang diterima. Karena itu mahasiswa muslim harus berhati-hati dengan program PMM ini, agar tidak terjebak pada narasi yang bertentangan dengan Islam.

Selain itu, bentuk cinta tanah air tidak selalu harus dengan mempertahankan budaya yang ada, terlebih bagi umat Islam, jika budaya tersebut rusak dan bertentangan dengan ajaran Islam maka wajib ditinggalkan. Apalagi mengedepankan budaya dan adat istiadat atas seruan pandangan-pandangan Islam, padahal Islam datang dari Allah, sedangkan budaya datang dari manusia. 

Bentuk cinta tanah air harusnya diekspresikan dengan keseriusan mengkaji secara kritis berbagai hakikat masalah atau faktor yang menyebabkan negeri ini serta penduduknya mengalami krisis. Mengkaji bagaimana pengelolalahan sumber daya alam, pengelolahan kebijakan MIGAS, pengelolahan kesehatan dan sebagainya hingga menemukan akar masalah penyebab krisis di negeri ini. Karena itu mahasiswa muslim tidak perlu terpukau dengan program PMM tersebut, menumbuhkan rasa cinta tanah air tidak selalu harus dengan belajar berbagai budaya yang ada, tetapi dapat dengan meningkatkan kepedulian kepada masyarakat yang hari ini semakin sengsara, dapat dengan meningkatkan kepedulian terhadap nasib kekayaan negeri yang justru berakhir pada kekuasaan tangan asing.









0 Comments

Posting Komentar