Jember Surga Narkoba?



Oleh : Faiqoh Himmah 


#InfoMuslimahJember -- Warga Jember mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa dalan dua bulan, aparat telah menangkap 60 pengedar narkoba! 

Jumlah yang tidak sedikit apalagi jika membayangkan, andaikata satu pengedar punya 10 pelanggan, maka ada 600 pemakai. Bagaimana jika satu pengedar punya 20, 30 atau mungkin 100 pelanggan?

Maka, penangkapan 60 pengedar dalam 2 bulan inu adalah fakta yang cukup mencengangkan. Fakta ini cukup menggambarkan Jember dalam kondisi darurat narkoba. Ibarat fenomena gunung es, sangat mungkin jumlah riil pengedar narkoba di lapangan jauh lebih banyak dari itu.

Narkoba ini bukan isu baru. Berbagai lapisanBerbagai masyarakat bisa terjerat. Orang  biasa, pesohor, aparat bahkan pejabat. 

Dalam skala nasional, banyak artis dan pejabat terjerat kasus narkoba. Di Jember, ada oknum pegawai imigrasi ditangkap karena menggunakan narkoba. Bahkan yang menghebohkan, ada puluhan siswa sebuah SMP negeri di wilayah kota yang terlibat narkoba. Sunguh sungguh menyedihkan.

Sebelumnya sempat viral kasus empat kepala desa yang terbuai pesta sabu. Padahal mereka adalah teladan &  pengurus urusan rakyat. Warga desa Wonojati, Tempurejo, Taman Sari dan Glundengan mungkin tak akan pernah lupa bahwa dalam sejarah desa mereka, kadesnya pernah nyabu.

Di kalangan masyarakat umum, sindonews.com pada September tahun lalu mengangkat berita, 2 orang DJ (disc jokey) cantik diciduk polisi ketika hendak pesta sabu. Sebelum menciduk 2 DJ cantik ini, aparat telah menangkap 2 tersangka pengedar sabu di sebuah hotel ternama di Jember. Bahkan, diduga peredaran sabu yg melibatkan mereka ini dikendalikan dr dalam lapas! Miris! Apakah Jember sudah menjadi surga bagi peredaran narkoba? Kita berharap tidak.

Padahal  berbagai upaya sudah dilakukan untuk memberantas narkoba. Tapi Sayangnya, berbagai upaya ini seolah menemui jalan buntu. Begitu satu kasus selesai, kasus-kasus baru bermunculan.   

Munculnya kasus baru ini tak hanya dipicu karena sifat dari zat narkoba itu sendiri yang menimbulkan efek ketergantungan bagi penggunanya, lebih dari itu, penyalahgunaan narkoba terus terjadi karena hukum yang diberlakukan cenderung tak berefek jera. 

Dalam kasus empat kepala desa terlibat narkoba misalnya. Mereka hanya dijatuhi hukuman 8 bulan penjara. Banyak pula pemakai --yg menikmati narkoba dengan kesadaran-- tidak menjalani hukuman karena dianggap korban. Mereka hanya menjalani rehabilitasi. Tak jarang stlh masa rehabilitasi dikatakan selesai, mereka kembali terjerat. Sementara itu, sindikat narkoba seolah sulit tersentuh. Banyaknya tuntutan mati kepada bandar narkoba bak angin lalu.

Tak heran,  Indonesia sendiri disebut sebagai surganya peredaran narkoba. Sindikat narkoba juga seolah leluasa menyelundupkan barang haram ini meski aparat telah menjalankan sistem pengamanan secara ketat. Bahkan dalam beberapa kasus, disinyalir  justru oknum aparat yang terlibat dalam "pengamanan" peredaran narkoba.

Alhasil, mekanisme pemutusan rantai peredaran narkoba tak pernah usai. Pada akhirnya, penyalahgunaan narkoba masih saja sulit untuk ditumpas. Inilah konsekuensi penerapan sistem demokrasi-kapitalisme.


Berantas Narkoba dengan Islam

Fakta-fakta yang ada menunjukkan kepada kita bahwa Untuk memutus peredaran narkoba tidak bisa setengah hati. Memberantas peredaran narkoba haruslah bersifat sistemis. 

Artinya harus ada perubahan paradigma mendasar ttg narkoba ini dan semua pihak yang bertanggungjawab  punya kesamaan pandangan dan langkah. Baik dari sisi individu rakyat, aparat penegak hukum dan pemangku kebijakan dan juga ketegasan aturannya.

Islam sebagai agama yg sempurna, memberi petunjuk kepada kita bagaimana mengatasi ini.

Islam menjalankan tiga unsur pokok dalam memberantas narkoba. Pertama, Islam membangun benteng dr narkoba dengan memerintahkan setiap muslim untuk bertakwa. Seorang individu yang bertakwa, akan menyandarkan amal perbuatannya pada hukum Allah semata. Kesadarannya bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya adalah kontrol utama dalam mengarungi kehidupan. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) sendiri dikategorikan sebagai perbuatan yang haram untuk dilakukan.

Kedua, Islam memerintahkan masyarakat untuk memiliki kepedulian. Kepedulian ini didasarkan pada takwa tadi. Masyarakat yg takwa, akan memiliki perasaan, pemikiran yang disandarkan pada syariat. Perasaan mereka akan ridlo pada hal2 yg diridloi Allah. Sebaliknya mereka akan sama2 marah/tidak ridlo jika terjadi kemaksiyatan. Jadi ukuran rildo dan benci di tengah masyarakat adalah syariat. Pemikiran mereka pun disandarkan pada syariat. Mereka menilai baik dan buruk sesuai dengan apa yg ditetapkan oleh syariat.

Kesamaan dalam memandang mana yg baik dan mana yg buruk,  mana yg diridloi dan dibenci, akan memunculkan kontrol sosial di tengah-tengah masyarakat. Amar makruf nahi mungkar adalah tradisi keseharian masyarakat Islam. 

Ketiga, Islam memerintahkan negara menerapkan aturan Islam. Penerapan aturan Islam oleh negara ini dipandang sebagai ibadah yg diwajibkan. Islam memerintahkan penetapan sanksi yg tegas tanpa pandang bulu bagi yg terbukti bersalah.

Tidak lemah dan memudahkan grasi, dan tak mengenal kompromi dalam menjalankan hukum syariat terhadap para pengguna narkoba berupa sanksi ta’zir baik dicambuk, dipenjara atau sanksi ta’zir lainnya sesuai keputusan Qadhi.

Alhasil, harmonisasi ketiga unsur akan mencegah berulangnya kasus penyalahgunaan narkoba, sekaligus memutus rantai peredaran narkoba dalam berbagai macam bentuk.

Karena mulai dari indivudu rakyat, masyarakat, pejabat dan penguasa (negara) semua menjadikan ketakwaan sebagi perisai, syariat sebagai tolok ukur. Semua bersinergi dalam meraih ridlo Allah dan keberkahan Untuk negeri.  Menjauhkan diri dan negara dari sekulerisme-liberalisme yg terbukti merusak dan menyengsarakan manusia.

Mekanisme ini hanya dapat diterapkan jika Islam dijadikan pedoman dalam kehidupan termasuk bernegara. Allahy a'lam.


0 Comments

Posting Komentar