Rasulullah, Sebaik-baik Teladan Keluarga

    

Oleh. Gadingsari Rosi

(Pemerhati Sosial)


Bulan Rabiulawal merupakan salah satu bulan yg istimewa di dalam Islam, karena bulan kelahiran Rasul Muhammad SAW. Seorang utusan yang dipilih oleh Allah SWT untuk memberi peringatan dan pembawa berita gembira melalui mukjizatnya yaitu Al-Quranul karim.

Maka dibulan ini, sudah seharusnya kita memperbanyak sholawat kepada Nabi SAW agar kelak mendapatkan syafaat beliau SAW di yaumil qiyamah.

Rasulullah adalah sosok panutan terbaik (uswatun hasanah) bagi umatnya dalam seluruh aspek kehidupan, baik lingkup  kenegaraan, dakwah, sosial budaya, politik, hukum, akhlaq dan ibadah, serta dalam lingkup keluarga. Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al-Ahzab : 21,


كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ


"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah".

Sebagai seorang muslim maka wajib hukumnya untuk taat, tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Allah SWT dan juga Rasul-Nya tanpa tapi dan nanti. Sesuai firman Allah SWT di dalam QS. An-Nur : 51,


كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ


"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Di dalam lingkup keluarga Rasulullah terkenal sebagai pribadi yg penyayang, perhatian, penuh cinta kasih dan pelindung bagi keluarganya. Sebagaimana sabda beliau SAW,

"Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga."

(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban)


Sebagai seorang suami, menurut ummul mukminin Siti Aisyah r.a seperti diriwayatkan imam Bukhari, Nabi SAW tidak pernah merasa keberatan dan segan untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti : menjahit baju yang sobek, menyapu lantai, memerah susu kambing, belanja ke pasar, membetulkan sepatu dan kantung air yang rusak, atau memberi makan hewannya. Bahkan, beliau SAW pernah memasak tepung bersama-sama dengan pelayannya dan memperbaiki dinding rumahnya sendiri.

Beliau SAW juga bersikap adil kepada istri-istrinya, selalu bermusyawarah dengan para istrinya, tidak segan untuk menasihati istri-istrinya, tidak segan untuk menerima masukan/saran dari istri-istrinya, berhias untuk para istrinya, dan bersenda gurau dengan para istrinya.

Perkataan dan perlakuan beliau SAW yang terpuji sebagai seorang kakek, ayah, dan pemimpin negara terlihat jelas dalam berbagai kesempatan seperti sering mencium cucunya, membiarkan cucunya menggunakan punggung beliau main perosotan ketika sholat. Saat perang Uhud, beliau menolak dengan lembut anak-anak yang mau ikut berperang karena usia mereka belum cukup. Tidak ada satu pun alasan pembenar bagi kita untuk mengikutsertakan anak-anak dalam hal yang mengandung bahaya. 

Kondisi rumah tangga Rasulullah diatas jelas bertolak belakang dengan pengarusan isu yang masif tentang kesetaraan gender (antara laki-laki dan perempuan) yang menganggap rumah tangga (seperti isu superioritas laki-laki sebagai kepala keluarga menjadi biang kekerasan dalam rumah tangga/kdrt) dengan kata lain diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Ketika Islam datang dengan syariat-Nya, maka Islam telah menetapkan berbagai hak dan kewajiban untuk laki-laki dan perempuan. Islam menetapkannya sebagai hak dan kewajiban terkait kebaikan manusia menurut pandangan Allah SWT, bukan karena ada atau tidak adanya kesetaraan. Rasulullah sebagai utusan-Nya hanya menjalankan apa-apa yang sudah diwahyukan Allah SWT kepada beliau bukan berdasarkan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. An-Najm : 3-4,


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ.إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ


"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran ) menurut keinginannya. Tidak lain (Alquran  itu) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya)".

Demikianlah Rasulullah menjalankan banyak perannya dengan sempurna baik sebagai nabi, kepala negara, pemimpin jihad, sekaligus peran domestik sebagai seorang ayah, kakek yang penuh cinta dan kasih sayang, menjadi suami/kepala keluarga yang bergaul dengan makruf terhadap istri-istrinya, sehingga memberikan ketenangan dan ketentraman.


Wallahua'lam bisshowab.

0 Comments

Posting Komentar