Trend Mahasiswa Lulus Kuliah Bekerja, Yakin Sejahtera?


Nuning Wulandari S.Tr.T

Part of Back To Muslim Identity Jember


Kini bekerja menjadi salah satu life goals para Gen Z. Mimpi saat kuliah, tantangan pasca kuliah ataupun rutinitas para Gen Z tak sempat merasakan bangku kuliah. Memang ini bukan hal baru. Bahkan seorang enterpreneur terkenal Elon Musk CEO Tesla dan SpaceX berpendapat bahwa “ Seseorang tak akan mampu mengubah hidupnya jika hanya bekerja selama 40 jam per minggu”. Apa yang disampaikan Elon menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu orang yang menganut lifestyle ini. Belakangan ini trend Gen Z gila kerja dan karier menjadi aspek terpenting dalam hidupnya sering kali dikenal dengan istilah Hustle Culture. Trend ini diartikan sebagai budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja tanpa henti dimanapun dan kapanpun. Prinsip dasarnya adalah Kerja keras membawa sejahtera sedangkan bermalas malasan pangkal miskin. Sekilas ini terdengar keren dan mengesankan meskipun sebenarnya cukup mengkhawatirkan. 

Jepang adalah salah satu negara yang menganut trend Hustle Culture ini. Sebuah riset mengatakan bahwa 1 dari 5 karwayan di Jepang memiliki resiko meninggal dunia karena kebanyakan bekerja, bahkan Jepang sudah menyiapkan Istilah bagi mereka yang meninggal saat bekerja “Karoshi” namanya. Tak cukup disini peristiwa Mba-mba SCBD yang sempat viral karena gaya hidup yang mewah nyatanya berbeda dengan kehidupan nyata mereka. Mereka terjebak pada lilitan hutang pinjol yang terus menggunung. Belum lagi trend gila kerja ini telah menyebabkan para Gen Z memilki gangguan mental mulai dari anxienty, hipertensi, gangguan tidur, stress dll. Maka wajar ketika para Gen Z akhirnya tumbuh dengan mental kerupuk dan melabeli dirinya dengan generasi strawberry. Lulus kuliah bekerja ataupun mendedikan seluruh hidup untuk bekerja ternyata tidak lantas membuat hidup lebih sejahtera. Pada faktanya seringkali yang terjadi adalah Kerja Serius Gaji Main – Main. Kerja keras bagai quda namun tak kudapati hidup sejahtera. 

Nampaknya ini perlu menjadi bahan berfikir bersama secara serius. Apa yang membuat para mahasiswa dan Gen Z yang terjun dalam dunia kerja justru tak sejahtera? Ini terjadi karena hari ini para pemuda terjebak dalam Jeratan Industrialisasi. Ada 3 penyebab utamanya diantaranya:


Serangan Life Style Dan Tren Fomo


Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Mike Fatherson mengatakan bahwa manusia senantiasa memikirkan bagaimana konsumsi dapat mempengaruhi hidupnya, mulai dari tubuh, busana, hiburan, pilihan makanan minuman dan seterusnya yang kemudian dipandang sebagai indikator dari individualitas selera serta gaya hidup dari pemilik. Semakin tinggi selera, maka ia akan semakin bonafide dan keren. Gen Z saat ini seringkali terjebak pada life style yang konsumtif. Mereka akan merasa mampu, mapan dan sukses saat mampu membeli barang – barang bukan kebutuhan dasar yang menganggap hal itu akan menaikkan citra sosial mereka. Maka wajar saat mereka terjebak pada gaya hidup yang konsumtif mereka juga akan merasakan FOMO “Fear Of Missing Out” takut akan merasa tertinggal karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Mindset yang dimiliki Gen Z seperti ini amat sangat disukai para Pemilik Modal (korporasi). Gaya hidup melangit ala Gen Z ini akan menambah kekayaan Korporasi. Tengok saja kekayaan Bernard Arnault (Chairman dan CEO LVMH Perusahaan induk dari 75 brand terkenal termasuk Louis Vuitto, Chistian Dior dll) adalah Rp 1.320 T. Pendapatan APBN saja masih kalah dibandingkan kekayaannya. 

Jadi wajar saja saat Gen Z menghabiskan hidupnya untuk bekerja, namun sejahtera tak kunjung mereka dapat. Penyebabnya adalah mereka telah terjebak pada gaya hidup konsumtif dan menjadi ladang subur bagi pasar korporasi. Hasil kerja mereka bukan lagi untuk kebutuhan hidup yang lebih baik, melainkan sebagai ajang flexing atas pencapaian hidup yang sudah mereka raih dan seolah olah telah mendapatkan sejahtera. 


Gen Z Sasaran Input Produksi Dunia Industri 


Gaya hidup Gen Z ala kapitalisme harus dipenuhi dengan bekerja, untuk bisa membeli produk – produk korporasi maka mereka harus memiliki pekerjaan diperusahaan yang bonafide. Belum lagi biaya pendidikan yang mahal, ini menjadi penyebab Gen Z bekerja untuk bisa mengembalikan modal kuliah dari orangtuanya. Namun ada yang luput dari perhatian mereka, yakni standart gaji di sistem kapitalisme. Kapitalisme memandang tenaga kerja adalah input produksi, maka berlaku hukum biaya sekecil mungkin. Kalaupun menutut mereka besar, itu hanya sekedar mencukupi kebutuhan hawa nafsu belanja barang-barang branded milik korporasi. Ini berarti gaji mereka sebenarnya akan kembali pada korporasi. 

Coba saja bandingkan gaji karywan dengan CEOnya. Perbandingan gaji CEO PT freeport Indonesia sebesar Rp 5,6 M per bulan sedangkan engineernya hanya kisaran 14-15 Jt per bulan. Rasio perbandingannya adalah 373 : 1. Sehingga Gen Z adalah aset besar bagi korporasi untuk terus menggerakkan roda perekonomian mereka, sebagai tenaga kerja sekaligus sebagai pangsa pasar yang subur. 


Gen Z Adalah Conveyor Belt Industri


Gen Z yang menjadi sasaran empuk para korporasi tidak hanya menjadi tenaga kerja dan pangsa pasarnya saja. Melainkan mereka jugalah yang menjadi andalan korporasi untuk meningkatkan penjualannya. Industri dan korporasi memanfaatkan kepopuleran Gen Z untuk menciptakan kesadaran semu bahwa kebahagiaan dan kenyamanan bisa di dapat dengan membeli produk – produk yang mereka iklankan. Mereka terus mempromosikan barang – barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya demi kepuasan batin.Korporasi melihat peluang besar dengan gaya hidup Gen Z yang mewah sebagai standart gaya hidup masyarakat pada umumnya. Inilah beberapa hal yang menjadi penyebab kerja keras yang dilakukan oleh Gen Z nampaknya masih jauh dari kata sejahtera, hal ini karena ujung dari perjuangan mereka di dunia kerja hanya habis untuk memberi makan ego dalam sistem hidup kapitalisme. 

Semua ini tidak lepas dari buah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang selalu mengedepankan untung rugi dinilai dari segi pencapaian secara materi. Seberapa serius pun Gen Z ini bekerja keras, mereka tidak akan mampu menyaingi para korporasi global. Mereka hanya akan mendapatkan remah remah ekonomi untuk bertahan hidup. Selain itu mereka dikenal sebagai generasi yang rapuh, tidak siap menyikapi persoalan hidup dan sering mengalami depresi. Gen Z seharusnya menjadi garda terdepan dalam penyelesaian  masalah masyarakat. Secara fisik mereka memiliki idealisme dan motivasi yang kuat. Tentu ini bertolak belakang dengan cara pandang islam terhadap pemuda (read : Gen Z). Islam memandang pemuda muslim sebagai orang yang memikul tugas berat dan kewajiban besar terhadap diri, agama, dan umatnya. Suatu kewajiban yang akan menyingkap eksistensinya dan mengoptimalkan potensi dirinya. Tuntutan Islam ini menjadi tanggung jawab negara Islam untuk mengoptimalkan potensi pemuda melalui pembangunan. Landasan pembangunan generasi akan bertumpu pada ideologi Islam, termasuk landasan dalam sistem pendidikan. Output pendidikan Islam akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam serta menguasai ilmu dan teknologi yang berguna bagi kehidupan.


0 Comments

Posting Komentar