Millenial Preneur Meraih Masa Depan : Kenali, Pelajari dan Hadapi Tantangan Ekonomi Masa Kini!




Kembali Back to Muslim Identity (BMI) mengadakan acara via zoom dengan tema Millenial Preneur : Prepare yourself, get ready for youre future serta dihadiri oleh 43 aktivis mahasiwa di Universitas-universitas di Jawa Timur. Sesuai dengan tema nya, acara dipandu oleh host millenial Kak Ayu dan spesial guest star, Kak Linda yakni owner dari Lindaily.id yang merupakan millenial preneur. BMI juga menghadirkan pemateri yang mahir di bidangnya yaitu Kak Helmiyatul Hidayati, S.Ikom selaku pemateri pertama dan ibu Azizah Fadlilah S.Pd selaku pemateri kedua. 


Sesi awal dibuka dengan perbincangan kak ayu dengan kak linda mengenai bisnis yang sedang ditekuni oleh Kak Linda, Kak Linda juga memaparkan beberapa tantangan mengenai menurunnya pendapatan dikarenakan pandemi, panitia juga memutarkan video yang dimana para pelaku bisnis, yakni perusahaan-perusahaan besar yang omzetnya menurun dikarenakan pandemi. 


Materi awal dibuka dengan pertanyaan host tentang apakah benar pandemi lah yang menjadi penyebab dari terpuruknya ekonomi? Kak Helmi memaparkan fakta-fakta mengenai krisis yang  dialami oleh Indonesia bahkan dunia, contohnya perusahaan yang gulung tikar, pengangguran, inflasi tinggi, dll. “Ekonomi kita sebelum pandemi itupun ya nggak baik-baik aja, jadi bukan hanya sekarang kita kesusahan untuk menjual, membeli sesuatu, atau mengalami pengangguran yang luas sekali, ternyata sebelum pandemi pun hal seperti ini sudah sering terjadi.” Pungkas Kak Helmi. 


Kak Hilmi menambahkan bahwa pada tahun 2019 (sebelum pandemi), United Nations Conference on Trade and Development memperkirakan akan terjadi resesi ekonomi global ditahun 2020, dan hal ini juga pun juga terjadi pada tahun 1900-an mengalami hiperinflasi dan krisis ekonomi di berbagai belahan dunia termasuk Amerika, masalah pengangguran yang tak kunjung selesai dan harga-harga bahan pokok semakin tinggi akibat inflasi. 


“Kalau bukan pandemic, siapa dalang dibalik krisis ekonomi?”, tanya Kak Helmi. Kak Helmi menjelaskan kembali bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan sebelumnya bahwa kejadian ini terjadi akibat halalnya riba dan masyarakat awam tentang riba dan bentuk-bentuknya. “Bagaimana sih hal ini (riba) bisa menyebabkan krisis ekonomi global?”, tukas Kak Helmi. 


Kembali Kak Helmi menjelaskan bahwa dampak riba pada dunia yaitu senantiasa menimbulkan kegoncangan ekonomi. “ Utang itu rasanya gak pernah selesai, terus itupun bisa berdampak dibanyak hal, bisa berdampak ke rumah tangga yang nggak harmonis, anak yang tidak solih dan solihah, jadi, riba itu bener-bener menghancurkan umat gitu ya.” Tegas Kak Helmi. Kak Helmi juga menjelaskan bahwa kondisi ini sesuai dengan hadits Rasul yang mengatakan bahwa siapa yang memakan dan mengambil riba, maka ia sama saja memerangi Allah dan rasulNya. “ Jadi, ketika kita terjerumus ke dalam riba, sesungguhnya itu kita sedang berperang melawan Allah dan rasulNya.” Jelas Kak Helmi.


Kak Helmi menjelaskan kembali bahwa sekarang kita hidup dalam sistem kapitalisme yang menganggap jual beli adalah riba. Praktiknya, seluruh harta (SDA) diserahkan pada mekanisme pasar bebas yang memperbolehkan segala macam harta kekayaan apapun itu dimiliki atau dimanfaatkan oleh siapapun. 


Kegiatan ekonomi dimana kakinya adalah rumah tangga dan perusahaan, perusahaan menghasilkan barang dan jasa kemudian dibeli rumah tangga. Perusahaan mendapat laba dan menyewa lahan serta tenaga kerja pada rumah tangga untuk memproduksi barang dan jasa lagi. Lalu, berkembanglah praktik sewa uang yang diperkenalkan Yahudi, menghasilkan bunga sebagai keuntungannya hingga berkembang menjadi pasar keuangan, pasar modal, dan pasar derivatif, dan lain sebagainya, dan hal ini juga berdampak pada rakyat. 


Kak Helmi menyimpulkan bahwa pandemi bukan akar masalah krisis ekonomi, tapi adanya pendemi memperparah kondisi. Akar masalahnya adalah sistem kapitalisme yang menyamakan jual beli dengan riba yang terdiri dari empat organ penting yaitu pasar bebas (bebas kepemilikan, kemanfaatannya, sampai berkembang menjadi pasar keuangan empat tingkat) ini merupakan awal mula terjadinya krisis ekonomi), suku bunga, dan uang kertas. Memperbaiki salah satu organ, sangat mustahil dilakukan, namun harus diganti sistem ekonomi yang sehat dan perlu sebuah kebijakan politik untuk mengganti sistem kapitalisme. 


Lanjut, Kak Ayu memberi pertanyaan, “solusi apa sih yang tepat untuk mengganti sistem ekonomi kapitalisme?” tanya Kak Ayu. Bu Azizah menjelaskan diawal bahwa usaha beliau sempat mengalami krisis juga, dan hal itu bukan karena pandemi, tapi karena kapitalisme. “ketika kita mau mencari solusi krisis di seluruh dunia, didalam surah Al-Maidah ayat 3 disebutkan bahwa Islam itu adalah agama yang sempurna yang menyelesaikan semua masalah hidup.” Timpal Bu Azizah. 


Semakin dalam Bu Azizah menjelaskan bahwa didalam Islam tidak hanya menjelaskan masalah zakat, sholat tapi juga mengatur persoalan perekonomian, bertransaksi, bermuamalah, mengatur pemerintahan, mengurusi rakyat, berhubungan dengan manusia lain, dll. hukumnya akan senantiasa sesuai di zaman apapun, nah, salah satu yang diatur dalam Islam adalah sistem ekonomi 


Islam yang mengatur kepemilikan, dalam Islam tidak ada larangan untuk individu mengembangkan harta, asalkan sesuai dengan Islam dan halal untuk dikembangkan, terkait dengan kepemilikan umum seperti barang dagang, SDA, barang tambang, harus dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat, tidak boleh mengambil keuntungan terhadap kepemilikan umum, dan kepemilikan negara (jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, dll) dikelola di Baitul Maal dan pastinya dikelola negara. “Sekarang tu aset negara banyak sekali, tapi peruntukannya untuk siapa? kita lihat dalam sistem kapitalis ya untuk para penguasa dan pemilik modal, tapi kalau dalam Islam tidak ya, jadi peruntukannya adalah untuk rakyat, jadi dua ini, kepemilikan umum dan negara sama-sama dikelola negara dan dikembalikan kepada rakyat.” Jelas Bu Azizah.


“Sebagai calon pengusaha-pengusaha muda, harus meluruskan orientasi kita, tujuan hidup kita, mengembangkan harta itu sebenarnya untuk apa?.” tanya Bu Azizah. Kembali Bu Azizah menjelaskan dengan mengutip didalam Surah Adz-dzariyat ayat 56,  bahwa menjadi seorang pengusaha harus diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya sebagai pengusaha yang memproduksi pakaian yang syar’i sesuai yang diperintahkan Allah, diniatkan ibadah, dan memperkuat dakwah. “Jadi kita diperintahkan untuk masuk Islam secara sempurna, tidak mengambil yang enak-enaknya saja, mencapai ridha nya Allah dalam semua aktivitas yang kita lakukan, kemudian masalah ekonomi kita mengikutinya, orientasikan kehidupan untuk mencapai ridha Allah.” Tukas Bu Azizah. 


Bu Azizah melanjutkan didalam surah Al baqarah ayat 30 Allah menjadikan manusia sebagai khalifah yaitu orang memutuskan perkara diantara manusia tentang kedzholiman dan mencegah mereka dari perbuatan terlarang dan dosa, jadi ini merupakan tugas kepemimpinan yang mengajak manusia dalam kebaikan. Khalifah adalah penguasa atau pemimpin yang merapkan Islam kaffah.


“Islam kaffah itu adalah yang mengatur persoalan sosial yaitu hubungan antar manusia, politik yaitu ya bagaimana hubungan dengan negara lain dan mengatur pemerintahan, pertahanan keamanan, independent tidak berada dibawah pengaruh asing, punya sanksi ynag tegas bagi yang melanggar syariat, pendidikan dipenuhi secara gratis, tidak dikomersialkan seperti sekarang, didalam Islam semua ada.” Jelas Bu Azizah. Bu Azizah menceritakan bagaimana perjuangan rasul yang selam 13 tahun berdakwah di Mekkah dan kemudian hijrah ke Madinah meninggalkan harta dan keluarganya dengan risiko yang tidak kecil demi menegakkan syariat Islam, rasul juga seorang pengusaha yang sukses. Materi kemudian ditutup oleh Bu Azizah dengan pertanyaan, “Lalu bagaimana dengan kita, sudahkan kita siap menjadi pengusaha yang taat, menjalankan seluruh hukum-hukum Allah?”

0 Comments

Posting Komentar