Feminisme; Benarkah Bentuk Jihad Melawan Ketidakadilan Sosial??

Jember, Minggu (23/10/2021) Forum Kelas Politik Aktivis kembali digelar secara online melalui Zoom meet dan WA grup. Kelas ini dihadiri oleh Mahasiswi aktivis dari berbagai organisasi mahasiwa di Jember. Bermula dari banyaknya isu ketidakadilan sosial terhadap perempuan, feminisme dengan ide kesetaraan gendernya, hadir membawa angin segar, namun benarkah ide feminisme mampu mensolusi dan mewujudkan keadilan sosial?

Dibahas langsung di acara diskusi online Kelas Politik Aktivis, dengan mengangkat tajuk “Feminisme, Jihad Melawan Ketidakadilan Sosial?”  bersama Kak Harum sebagai Host dan Kak Ayu sebagai pemateri, acara ini berjalan dengan lancar ditandai dengan antusias peserta, mengikuti jalannya acara dan hidupnya sesi tanya jawab.

Benarkah Feminisme, dapat menjadi solusi dari ketidakadilan sosial?

Feminisme dengan gerakannya yang mengusung ide kesetaraan gender seolah menjadi solusi dari adanya ketidakadilan sosial saat ini, sehingga muncul statmen feminisme dijadikan Jihad melawan ketidakadilan sosial. Lalu benarkah bahwa ketidakadilan sosial diakibatkan karena ketimpangan gender? 

Kak Ayu menuturkan bahwa, faktanya di masa sekarang ketika pandemi, semakin jelas ketidakadilan sosial terjadi, salah satunya banyak masyarakat yang kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya, selain itu dapat dilihat bahwa banyak juga mahasiswa yang masih kesulitan untuk membayar UKT, disisi lain ternyata di masa pandemi, ketika banyak rakyat kesulitan dalam ekonomi, nyatanya banyak para pejabat di negeri ini, yang jumlah hartanya tidak tanggung-tanggung makin meningkat, dan masih banyak lagi contoh ketidakadilan sosial yang terjadi disekitar kita. Dapat dilihat disekitar kita juga, nyatanya ketidakadian sosial tidak hanya menimpa kaum perempuan saja, tapi juga menimpa kaum laki-laki.

Dan apakah ketidakadilan sosial diakibatkan karena bias gender?

Tentunya tidak ada kaitan, antara ketidakadilan sosial dan bias gender. Ketidakadilan sosial ini disebabkan oleh adanya masalah dalam tata kelola negara itu sendiri, semisal dalam sistem ekonomi, pendidikan, sistem politiknya, yang kemudian melahirkan ketidakadilan sosial ini terjadi.

Lalu Ketidakadilan Seperti Apa yang Dimaksud Kaum Feminis?

Kak Ayu menuturkan ketidakadilan sosial yang dimaksud kaum feminis adalah, bahwa jumlah perempuan yang duduk di kursi politik sangat sedikit dibandingkan dengan laki-laki, perempuan yang harus menanggung beban ganda, sebagai pekerja dan sebagai pengurus rumah tangga, kaum perempuan yang dijadikan subordinat (direndahkan dari pada laki-laki), adanya marginalisasi, hal-hal tersebutlah yang menurut kaum feminisme, yang dimaksud dengan ketidakadilan sosial, sehingga para kaum feminisme menuntut keadilan sosial. Kaum feminisme melihat adanya ketidakadilan sosial ini diakbitakan karena adanya ketimpangan gender. Sehingga mereka mensolusi masalah ketidakadilan sosial dengan berjihad memperjuangkan kesetaraan gender. 

Kaum Feminisme Memandang bahwa Kesetaraan Gender adalah Solusi Ketidakadilan sosial, Lalu Bagaimana Hasilnya?

Dalam merealisasikan kesetararaan gender, realitasnya feminisme “Gagal”, dan ini mereka sampaikan sendiri dalam konferensi Internasional di Bangkok pada tahun 2019, kak Ayu menceritakan bahwa mereka marah, karena selama 25 tahun mereka memperjuangkan kesetaraan gender, namun hasilnya masih sangat kecil dan jauh dari apa yang mereka cita-citakan. Bahkan menurut laporan terbaru, dalam The Global Gender Gap Report 2021 menyatakan, untuk mewujudkan kesetaraan gender butuh waktu 135 tahun, dibidang politik 145 tahun, sementara dibidang ekonomi justru lebih lama lagi yaitu 267 tahun, selain mustahil ide ini dapat diwujudkan, ternyata ide ini juga utopis dan sudah gagal. Meskipun banyak yang memperjuangkannya, ide ini akan tetap gagal, hal ini disebabkan karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu berbeda secara fisik ataupun secara alami, jadi sangat mustahil untuk dituntut sama. 

Justru ketika perempuan dituntut sama dengan laki-laki ataupun sebaliknya, akan menimbulkan masalah termasuk bagi laki-laki, tidak hanya perempuan. Kaum laki-laki juga akan mendapatkan masalah dan, merasakan stress apabila dituntut oleh kaum feminis untuk melakukan peran yang sama dengan perempuan. Oleh karena, itu ide kesetaraan gender justru malah menimbulkan “Ketidakadilan Sosial” baik pada laki-laki maupun perempuan. Dan ketidakadilan hakiki justru terjadi, perempuan dipaksa sama dengan laki-laki.

Benarkah Adil Itu Ketika Laki-Laki dan Perempuan Sama?

“Adil itu tidak harus selalu sama”, oleh karena itu feminisme adalah ide yang absurd, dalam sebuah buku yang berjudul “Mengkritik Feminisme” karya Nazreen Nawaz, kak Ayu mengulas bahwa kesalahan ide feminisme tidak hanya menyerukan hak perempuan, untuk menikmati nilai dan hak kewarganegaraan yang sama seperti laki-laki, tetapi untuk mengukur keberhasilan mereka dengan mengadopsi semua hak, peran dan tugas laki-laki. Selain itu kak Ayu juga menjelaskan dalam sebuah artikel yang meneliti tentang rumah tangga di Amerika. Sebanyak 70% wanita, percaya bahwa konsep sukses di rumah dan ditempat kerja adalah mitos, sebanyak 40% mengatakan mereka di ujung tanduk, dan hanya 16% yang sangat puas dengan kehidupan mereka. Dari data-data tersebut ternyata feminisme semakin membuat perempuan makin terpuruk.

Lalu Bagaimana Agar Kita Mendapatkan Keadilan Menurut Islam?

Kak Ayu menyampaikan, “Adil itu, ketika kita meletakkan segala sesuatu berdasarkan syariat Islam, kembali kepada apa yang Allah turunkan untuk kita, maka dengan begitu, niscaya kita akan mendapatkan keadilan”.

Islam merupakan sebaik-baik aturan yang benar untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, oleh karena itu Jihad melawan ketidakadilan adalah dengan kembali kepada syariat Islam, bukan feminisme.


0 Comments

Posting Komentar