Menggali Akar Kekerasan Seksual di Kampus!



Oleh : Fadiya Hayya

(Aktivis Mahasiswi Jember)


#InfoMuslimahJember -- Jember, Sabtu (22/01/2022) Telah terselenggarakan Focus Group Discussion oleh Back to Muslim Identity Community Jember. Berbeda dari acara sebelum-sebelumnya, kali ini acara digelar dengan spesial yaitu secara offline bertempat di Warkop Cabang Jember dan juga via online melalui zoom meet. Tak hanya acara diskusi offlinenya saja yang membuat berbeda, tapi acara Fokus Group Discussion kali ini dihadiri oleh para aktivis dari berbagai lembaga yang luar biasa, diantaranya  berasal dari BEM  Polije, kemudian dari UPM Millenium UIN KHAS Jember, IMSAC FK UNEJ, UKPK UIN KHAS Jember, BEM UM Jember, BEM FAI UNMUH, Kohati cabang Jember, HMI komisariat Sunan Ampel,, IMM Komisariat Akademos, PNE dan BEM UNMUH.


Dengan mengangkat tema '(masih)  Menggali Akar Kekerasan seksual di Kampus!', diskusi diawali dengan membeberkan fakta-fakta kasus kekerasan seksual di Kampus yang semakin marak dan mengkhawatirkan. "Saat ini bisa jadi mereka yang jadi korban, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kita adalah korban-korban selanjutnya. Karenanya menjadi penting, untuk kita menggali lebih dalam lagi, 'apa sebenarnya akar masalah kekerasan seksual?," tutur Kak Hida sebagai pemantik diskusi, sekaligus koordinator BMIC Jember.


Dipandu langsung oleh Kak Nuning sebagai Host, acara FGD dilanjutkan dengan sesi diskusi yaitu sesi speak-up kepada para aktivis mahasiswi per-lembaganya untuk memberikan tanggapan masing-masing, mengenai apa penyebabnya, solusi dan langkah riil yang aka diambil melihat maraknya kasus kekerasan seksual. Diskusi berjalan dengan lancar, bisa dilihat dari para aktivis yang sangat antusias dalam menyampaikan tanggapan, dan pemikiran mereka terkait kekerasan seksual.


Dengan segala argumen, tanggapan, yang telah di sampaikan oleh para aktivis, Kak Hida sebagai Pemantik sekaligus penyelenggara acara FGD, menyimpulkan sekaligus menarik ke dalam pembahasan dengan pernyataan “Membahas tentang kekerasan seksual ternyata komoleks, sangat kompleks bahkan. Tidak simple yang kita pikirkan hanya dengan membuat regulasi. Nyatanya banyak regulasi sudah dibuat, kekerasan terus meningkat. Karenanya butuh kita unyuk menelisik lebih dalam."


Kak Hida menuturkan bahwa, memang dari dulu hingga saat ini ada berbagai macam regulasi dan solusi yang banyak, dari mulai Undang-Undang tentang PKDRT, tentang perlindungan anak, tentang perkawinan, tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, bahkan yang terbaru PERMENDIKBUD no. 30 tahun 2021, dan RUU TPKS yang saat ini menjadi RUU inisiatif DPR. Tak hanya regulasi, gerakan penanganan kasus kekerasan seksual juga banyak, sebut saja  SATGAS Kekerasan seksual, dan LBH APIK Indonesia yang sangat luar biasa dalam mendampingi penyitasl. “Tapi aneh nggak sih, dengan banyaknya regulasi dan solusi yang ada tapi kenapa kekerasan seksual malah makin meningkat? Sepertinya sudah banyak yang kita lakukan tapi kenapa angka kekerasan seksual tak kunjung turun?” Heran Kak Hida. 


Kak Hida menjelaskan bahwa, realita sistem hukum di Indonesia saat ini adalah tajam ke bawah dan tumpul ke atas lah masalahnya. Banyak fakta dari pelaku kasus kekerasan seksual yang berakhir dicabut dari ranah hukum hanya karena ‘dia punya uang’ ‘dia orang tinggi’. Hukum dibeli dengan uang dan hukum tak berlaku untuk orang ‘tinggi’. Bahkan sempat muncul hastag #PercumaLaporPolisi, karena memang banyaknya fakta warga yang melapor kepada polisi terkait kekerasan seksual tapi malah tidak di proses bahkan sampai di suruh mencari pelakunya sendiri. Miris!


“Yang katanya hukum itu untuk semua, dimana ?? sepertinya sebanyak apapun regulasi tak akan bisa menyelesaikan masalah ini, kalau pada akhirnya hukum bisa dibeli dengan uang..Percuma kita ngomongin regulasi sampai berbusa-busa kalau sistem hukum kita hari ini seperti ini. Benar kita butuh Regulasi, LBH, SATGAS, saya katakan butuh.. tapi kalau sistem hukum kita hari ini tidak beres dan masih bermasalah maka percuma tidak sih? Karenanyavtidak cukup hanya mengubah regulasi, tapi kita juga butuh mengubah sistem hukum kita” Tungkas Kak Hida.


Kak Hida juga menuturkan bahwa, sering kali kita berpikirnya adalah ‘ketika kekerasan seksual sudah terjadi apa yang harus kita lakukan’, tapi kita sering tidak berpikir tentang ‘kenapa ya itu bisa terjadi, kenapa pelaku kekerasan seksual melakukan itu, bagaimana cara mencegahannya’. Padahal yang perlu kita cari juga adalah ‘kenapa pelaku bisa melakukan itu, apa motifnya?’. "Ini hal yang sangat penting, agar kita gak cuma sibuk cuci piring, tapi juga tau kenapa piringnya kotor. Agar LBH apik gak lagi kebanjiran kasus kekerasan seksual, gimana cara mencegahnga? Ini PR berpikir kita," tutur Kak Hida.


“Jika mau kita telaah mendalam, para pelaku kekerasan seksual sering kali melakukan aksinya saat mabuk, habis nonton film porno, jd lihat yg tertutup pandangannya tetap sja bersyahwat, atau memang lihat yang seksi-seksi karena secara manusiawi jika lihat yang seksi pasti mode on dah, juga biasanya karena ada dalam  hubungan pacaran, marak sekali sekarang kasua kekerasan seksual yang pelakunya adalah pacar, seperti kasus novia. Tapi anehnya, apakah semua pintu-pintu ini ditutup? Miras dilarang di negeri ini? Film porno diberantas? TIDAK! justru dilegalkan dan diberi ruang. Inilah akarnya, kita hari ini hidup dalam sistem LIBERAL, serba bebas tanpa aturan agama. .”Jelas Kak Hida.




Lalu Apa Solusi yang tuntas yang dapat memberantas problem kekerasan seksual saat ini?


Kak Hida menyampaikan, Bahwa kita butuh solusi yang mengakar, tidak cukup hanya sekedar regulasi tapi butuh solusi yang mengakar. Pembahasan kekerasan seksual ininharus dari hulu hingga hilir, tak cukup di hilir saja. Karena masalah kekerasan seksual ini masalah yang mengakar dari segala sisi, dari segala aspek.


Maka disini ada 4 (empat) solusi dari Islam yang akan menuntaskan masalah kekerasan seksual sampai akarnya. Pertama, adalah sistem pendidikan, yang mana di dalamnya akan dicetak generasi menjadi insan yang beriman dan bertaqwa, yaitu dengan berkurikulum beraqidah islam, bernafsiyah islam.  Kedua, adalah  media, sebagai pengedukasi dan membebaskan dari unsur pornografi. Islam akan menfilter apa saja yang berbau pornografi dan hal-hal yang tak layak diakses. 


Ketiga, adalah sistem sosial, Islam  akan mejaga laki-laki dan perempuan dengan cara mambatasi pergaulan diantara keduanya, kemudian mensyariatkan menutup aurat demi menjaga dirinya, memerintahkan untuk menundukan pandangan dengan lawan jenis, tidak ikhtilat dan khalwat. Keempat, adalah sistem hukum, yakni hukum dalam Islam bersifat adil, tidak pandangan bulu, dan memberi efek jera kepada pelaku.


Kak Hida menuturkan, setelah dijelaskan terkait solusi sistem islam, bisa kita lihat bahwa tak mungkin kita bisa menegakkan sendiri, kerena itu adalah peran Negara, lalu bagaimana langkah kita?


BMIC Jember, melakukan 4 (Empat) hal. Pertama, terus melakukan Pressure Group, meminta negara untuk menutup segala pintu yang memunculkan aksi kekerasan seksual, dan menggantinya dengan sistem Islam. Kedua, adalah melakukan dialog dan diskusi bersama para aktivis san intelektual untuk menggali lebih dalam akar masalah serta mengkaji soalusi tuntasnya. Ketiga, melakukan kampanye “Yuk Gaul Syar’I”, sebagai upaya untuk mengopinikan sistem pergaulan dalam Islam, dan keempat, melakukan pencerdaskan masyarakat melalui ‘Sekolah Muslimah Ideologis’.


Kemudian acara ditutup dengan pembacaan Pernyataan sikap yang dibacakan oleh Kak Nuning . Berikut pernyataan sikap aktivis Jember: 


1. Mengecam keras dan tidak mentolerir segala kekerasan seksual yang terjadi di kampus

2. Bersinergi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi kasus kekerasan seksual yang ada di kampus

3. Melakukan dialog dan diskusi dengan para intelektual  untuk menggali akar masalah kekerasan seksual yang ada di kampus

4. 4. Kasus kekerasan seksualtidak cukup hanya disolusi dengan regulasi tapi juga harus diselesaikan mulai dari hulu (akar)

5. Melakukan pengkajian Islam sebagai solusi kehidupan dalam rangka menuntaskan kekerasan seksual



0 Comments

Posting Komentar