Busana Terbuka pada Ajang Pemilihan Gus Ning Jember, Bukti Jember Makin Liberal



Oleh:

Ayu Fitria Hasanah S.Pd

(Pengamat pendidikan dan sosial budaya)


Warga Jember dihebohkan dengan salah satu pertunjukan fashion pada ajang pemilihan Gus Ning Jember 2022, pasalnya terdapat peserta fashion show yang merupakan calon ning menggunakan busana seksi dan terbuka. Seperti yang diketahui bahwa Gus dan Ning yang terpilih selanjutnya akan menjadi duta daerah, tentu bukan hanya mempromosikan berbagai wisata daerah, tetapi kostum fashion yang dikenakan oleh calon duta juga menjadi cerminan nilai-nilai dan budaya daerah tersebut.

Jember sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius bahkan dikenal sebagai salah satu kota santri di Jawa Timur menjadi dipertanyakan komitmennya dalam menjaga nilai-nilai religius/agama yang sudah tertanam kuat di masyarakat. 

Meski telah ada permohonan maaf dari pihak penyelenggara, masalah ini tidak dapat diabaikan. Keberanian para kontestan tampil dengan busana terbuka, dan diamnya para tamu undangan dalam menyaksikan fashion show tersebut hingga selesai menunjukkan bahwa nilai-nilai liberal (kebebasan, nilai-nilai barat) telah semakin kuat menyerang Kota Jember dan warganya. Karena itu, masyarakat tak cukup sekedar mentolerir masalah tersebut sebagai salah satu kesalahan akibat kurang kontrol terhadap kostum, tetapi harus menyadari adanya pergeseran nilai-nilai dan standart di tengah kehidupan masyarakat, yang harusnya berpegang teguh pada standart agama bergeser mengadopsi nilai-nilai liberal ala Barat. 

Umumnya atas alasan mengikuti modernisasi, meraih kemajuan dan kepopuleran masalah busana terbuka dianggap bukan bentuk peyimpangan atau pelanggaran, melainkan dianggap sebagai perkembangan fashion atau mode terkini, meski jelas melanggar syariat Islam atau nilai-nilai religius yang telah dijunjung tinggi sebelumnya. Sebaliknya penolakan terhadap modernisasi dan kemajuan semacam itu dianggap sebagai bentuk ketertinggalan dan penyebab daerah tak mampu bersaing di kancah nasionl atau pun internasional.

Narasi atau persepsi semacam ini sangat berbahaya jika terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, karena hanya akan semakin menjauhkan masyarakat dari prinsip-prinsip keyakinan, standart halal haram dan justru beralih pada kebanggaan mengambil budaya-budaya Barat atau liberal yang sejatinya bertentangan dengan agamanya.

Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk berpikir benar dan kritis dalam mendefinisikan kemajuan. Pilihan mode/gaya busana yang terbuka bukanlah lambang kemajuan ataupun sesuatu yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan prestis daerah, mode busana terbuka justru akan menimbulkan kemudhorotan, mengundang murka Allah dan menjadi teladan yang tidak baik bagi masyarakat.

Sehingga bahaya jika mode busana yang terbuka justru dijadikan kostum yang dipertunjukkan. Selain itu, masyarakat perlu kembali menguatkan identitasnya sebagai masyarakat religius yang bangga dengan nilai-nilai agama dan menguatkan kembali persepsi kemajuan, martabat/kehormatan bahwa hal itu hanya dapat diraih dengan sikap bangga memegang teguh prinsip-prinsip keyakinan dan standart halal haram, tidak membebek pada budaya-budaya bebas ala Barat.

0 Comments

Posting Komentar