Janin Dengan Gen Psikopat. Bagaimana Islam Memandangnya??

Janin Dengan Gen Psikopat. Bagaimana Islam Memandangnya??

 


(Analisis Populer Drama Korea Mouse Bag. 1)

Oleh. Helmiyatul Hidayati

(Blogger Profesional, Reviewer Drama dan Film)



#InfoMuslimahJember -- Negeri Ginseng memang tak pernah berhenti membuat heboh para K-Popers di seluruh dunia dengan memproduksi berbagai drama yang selalu mampu menarik perhatian. Produksi tidak main-main tampak dari hasil yang memang sangat apik dan epic, baik dari segi penulisan naskah, sinematografi, editing dsb.


Salah satu drama Korea yang menarik perhatian adalah Mouse (Tikus, red). Dibintangi oleh aktor papan atas Lee Seung Gi, drama ini memiliki alur cerita yang biasa namun tak biasa, yakni tentang psikopat (orang yang memiliki gangguan kepribadian, biasanya antisosial, tidak memiliki empati dan memiliki temperamental yang tidak bisa diprediksi). Dalam drama korea Mouse, psikopat di sini adalah orang yang membunuh untuk kesenangan.


Mouse bukanlah drama korea yang mengangkat tema psikopat untuk pertama kalinya. Biasanya drama dengan tema psikopat masuk dalam genre film thriller. Genre ini menceritakan tentang kehidupan yang realistis, jauh dari sifat supranatural sekalipun fiksi. Dikemas dengan plot yang cerdas dan twist. Tujuannya membuat penonton tegang dan terpacu adrenalinnya. Umumnya drama dengan genre thriller memiliki pesan yang berat, seperti pesan moral, ideologi bahkan kesadaran  dan keadilan moral.


Dalam drama ini, salah seorang ilmuwan Korea, berhasil melakukan penelitian mengenai gen psikopat. Ia bisa mendeteksi suatu janin yang sedang dalam kandungan ibunya, membawa gen psikopat dan atau membawa gen genius. Bila janin tersebut membawa gen psikopat, maka sudah pasti ia akan tumbuh menjadi pembunuh berantai. 


Keadaan Korea pada saat itu sedang genting karena memang sedang dalam bayang-bayang ketakutan akibat adanya pembunuhan berantai. Sehingga ada wacana untuk membuat undang-undang aborsi bagi janin dengan gen psikopat. Namun wacana itu tidak sampai menjadi undang-undang karena adanya berbagai penentangan.


Salah seorang psikopat senior ternyata adalah dokter yang sangat brilian, sayangnya meski telah divonis hukuman mati, ekseskusi tidak pernah dilakukan, padahal dia telah membunuh 20 orang dalam setahun. Ia hidup di penjara dengan nyaman dan mengintimidasi siapa pun.


Ternyata tak sedikit janin dengan gen psikopat. Sehingga meski psikopat senior berada di dalam penjara, pembunuhan dan pemerkosaan berantai tetap saja terjadi. Hal ini membuat rakyat tak tenang dan polisi pun kalang-kabut berusaha mengejar para psikopat. Konflik inilah yang menjadi warna di sepanjang drama.


Plot cerita tak biasa terletak pada ide bagaimana psikopat lahir, yakni karena dia membawa gen psikopat sejak masih menjadi janin. Tentu saja ini tidak nyata, karena gen atau DNA atau informasi genetik tidak menentukan kepribadian seseorang namun ia memiliki pengaruh pada bentuk fisik manusia, misal warna mata, rambut atau kulit yang biasanya ia dapatkan dari orang tua atau moyangnya.


Konsep bahwa janin membawa gen psikopat kurang lebih mirip dengan kepercayaan yang meyakini adanya dosa asal, yakni dosa Adam dan Hawa yang mengakibatkan kodrat manusia menjadi lemah dan kehilangan kekuatan alaminya, juga kehilangan banyak berkat dari tuhan sehingga menjadikan manusia cenderung tunduk pada keinginan dagingnya (hawa nafsu).


Tentu saja konsep ini merupakan pandangan yang salah, karena secara rasional dapat dikatakan bahwa janin atau bayi tidak bisa memilih ia lahir dari orang tua siapa, di mana, dalam ras, suku atau bangsa apa. Bayi lahir tanpa mengetahui apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi, bagaimana dosa atau kepribadian buruk sudah menjadi haknya??


Kepribadian (akhlak) baik atau buruk seorang manusia tidak dibawa sejak lahir namun ia dibentuk karena lingkungan dan pendidikan yang ia terima. Islam menyebutkan keadaan ini dalam sebuah hadits, Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”


Manusia dilahirkan dengan segenap potensi akal, fisik dan naluri. Hal ini merupakan ketetapan dari Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Namun dalam melakukan perbuatan, manusia diberi kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu atau meninggalkannya, apakah dalam perbuatan tersebut dia akan mengikuti ketentuan Allah ataukah melanggarnya. Pilihannya tergantung dari bagaimana pemahamannya dalam memandang kehidupan.


Jadi, tidak benar bila seseorang melakukan perbuatan menghilangkan nyawa manusia karena ia ‘ditakdirkan’ menjadi psikopat sejak masih janin. Sebab, Allah telah menciptakan akal bagi manusia, dan dalam tabiat akal manusia diberi kemampuan untuk memahami serta mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah juga telah memberi sebaik-baik petunjuk agar manusia tidak tersesat.


“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (QS. Al Balad : 10)


“Maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan0 kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. As-Syams : 8)

MUDIKKU TUMBAL BASA BASI PENANGANAN PANDEMI???

MUDIKKU TUMBAL BASA BASI PENANGANAN PANDEMI???



Oleh. Isnani Zhd


Sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Perayaan hari raya di Indonesia identik dengan tradisi pulang kampung atau mudik. Dan mudik  ini tampaknya tidak bisa terwujud kembali pada tahun ini.


Seperti diketahui, pada 2020, karena Pandemi Covid-19, Masyarakat Indonesia dilarang untuk melakukan mudik. Tahun ini, pemerinta juga kembali melarang masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik dengan alasan yang sama. Padahal mudik sudah menjadi semacam budaya bagi warga muslim di Indonesia. Bisa jadi dengan hanya satu tahun sekali itulah mereka bisa bertemu dengan sanak saudara yang ada di kampung halaman.


Aturan dan larangan mudik telah disampaikan oleh Menko PMK Muhadjir Effendy dalam konferensi pers yang dilakukan secara virtual. “Ditetapkan tahun 2021 mudik ditiadakan, berlaku untuk seluruh ASN, TNI, Polri, BUMN, swasta maupun pekerja mandiri juga seluruh masyarakat,” kata Muhadjir dalam Konpers daring, Jumat (26/3/2021). Larangan mudik Lebaran 2021 berlaku mulai 6 hingga 17 Mei 2021. "Sebelum dan sesudah tanggal itu, diimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pergerakan atau kegiatan-kegiatan yang ke luar daerah kecuali benar-benar dalam keadaan mendesak dan perlu,” tambah Muhadjir. Ia melanjutkan, pelarangan mudik Lebaran 2021 ini untuk mendukung program vaksinasi Covid-19 yang masih berlangsung.


Pandemi Covid-19 di Indonesia berlangsung tepat satu tahun. Memasuki bulan ke-13, upaya penanganan yang dilakukan pemerintah belum berhasil mengakhiri wabah. Setiap harinya kasus Covid-19 masih terus bertambah. Meski pasien sembuh meningkat, kematian akibat virus corona juga masih terjadi. Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia dinilai seperti kehilangan pegangan dengan banyaknya istilah dalam aturan dan kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran kasus. Hal itu diungkapkan Juru Bicara Satgas Covid-19 RS Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dr Tonang Dwi Ardyanto dalam program Overview Tribunnews.com, Kamis (11/2/2021).


Diketahui, di awal terkonfirmasinya kasus Covid-19 di Indonesia, pemerintah membuat istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ketimbang menggunakan istilah lockdown. Kemudian di DKI Jakarta, muncul istilah PSBB Transisi. Lalu, pemerintah menerbitkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali. Terbaru dengan vaksinasi  yang terjadi juga pro kontra ditengah masyarakat karena kurangnya edukasi dan informasi yang memadai dari pemerintah.


Meskipun kebijakan pemerintah untuk mencegah laju penularan virus corona sudah bermacam-macam tetapi hingga hari ini pandemi  belum berakhir. Bahkan terkesan sekarang menjadi ajang kepentingan politik daripada kepentingan keamanan atau kepentingan ekonomi. Adanya penangkapan orang kerumunan yang tebang pilih. Denda bagi yang tidak mematuhi protokol kesehatan, dan bahkan pelarangan mudik yang sebenarnya ketika peran negara difungsikan secara optimal untuk antisipasi sejak awal, pastinya aktivitas mudik akan tetap bisa berlangsung dengan aman.


Sebagaimana halnya pemerintah mengantisipasi sejak awal pelaksanaan pilkada hingga dirasa bisa berlangsung aman. Dan pada akhir tahun 2020 pemerintahpun juga telah mengantisipasi sebelum-sebelumnya agar bisa mengantar para pemudik jelang libur natal dan tahun baru 2021 (Liputan6.com/22/12/2020).


Apalagi dalam kebijakan pelarangan mudik, berdampak besar pada ekonomi dan sosial rakyat. Para awak angkutan menjadi lesu. Bahkan ada saran agar pelarangan mudik dibuat peraturan presiden dan para awak angkutan diberi BLT. Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA) Semarang, Djoko Setijowarno menyarankan, agar pelarangan mudik Lebaran 2021 berjalan efektif, pemerintah diminta terbitkan Peraturan Presiden (Perpres). “Supaya berjalan efektif kebijakan pelarangan mudik Lebaran 2021, sebaiknya Pemerintah dapat menerbitkan Peraturan Presiden. Harapannya semua instansi Kementerian dan Lembaga yang terkait dapat bekerja maksimal,” kata Djoko kepada Liputan6.com, Minggu (28/3/2021). Penerbitan Perpres itu, bertujuan untuk keberlangsungan usaha di bisnis transportasi umum darat wajib mendapatkan bantuan subsidi, seperti halnya moda udara, laut dan kereta. Lebih lanjut lagi Djoko menyaranakan pemerintah memberi anggaran  polisi untuk pelaksanaan pelarangan mudik,   “Oleh sebab itu, terbitkan Peraturan Presiden tentang Pelarangan Mudik Lebaran Tahun 2021. Supaya ada anggaran khusus bagi Polri dalam melaksanakan pelarangan Mudik Lebaran 2021 dapat bekerja maksimal,” ujarnya.


Ternyata dengan pelarangan mudik akan  banyak konsekuensi yang dibayar oleh pemerintah, memberi dana bantuan BLT ke awak angkutan, menyediakan anggaran polisi, dan yang satu ini tahun kemarin sudah dilakukan yaitu pemberian Bansos kepada pelaku usaha dagang dan usaha pariwisata. Kalangan dunia usaha berharap pencairan bantuan sosial (Bansos) yang dijanjikan pemerintah pada masa Lebaran 2021/Idul Fitri 1442 H akan mampu mendongkrak konsumsi dan permintaan pasar sehingga bisa tetap mendorong pemulihan ekonomi dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani (Deskjabar, Sabtu 27 Maret 2021). "Kita tetap harus memaksimalkan momentum ini untuk peningkatan demand dan kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan ekonomi tidak akan berhenti meskipun tidak mudik jadi kita masih punya banyak kesempatan untuk mendongkrak konsumsi, baik dr sisi supply (dengan bansos dan pencairan THR) maupun dr sisi demand (dengan promosi penjualan, online retail, wisata di daerah-daerah suburban," katanya. Ia juga mengingatkan agar pengendalian pandemi pun tetap harus jadi perhatian utama agar trennya terus menurun dan semakin minim menjelang musim Lebaran. Dengan demikian, masyarakat bisa lebih bebas melakukan kegiatan ekonomi di daerah tempat tinggalnya atau daerah sekitarnya dengan wisata lokal.


Inilah bukti jika penganan pandemi hanya basa-basi. Di satu sisi mudik dilarang tapi disisi lain para usaha dagang dan pariwsata diberi bantuan. Artinya untuk tempat wisata boleh dibuka padahal berpeluang terjadinya kerumunan bahkan mendapat bantuan dana.


Andaikan dana-dana yang dianggarkan semuanya itu untuk membiayai penyediaan sarana dan prasarana persiapan mudik, dan negara mengoptimalkan perannya untuk menskenario arus mudik dan arus balik, bisakah?


Harusnya bisa, jika itu dilakukan skala negara. Negara harusnya membuat kebijakan yang utuh dan benar-benar menjadi pijakan penuntasan pandemi.


Lockdown  telah dikenal sebagai solusi tepat penanganan pandemi, itu adalah salah satu perintah Rasulullah saw. Beliau saw bersabda, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).


Siapa pun paham, wabah tak akan mengglobal jika sejak awal si sakit segera diisolasi. Begitu pun dengan pintu-pintu penyebarannya, baik di negara atau wilayah asal maupun di wilayah penularan, semuanya juga harus segera dikunci. Strategi mengunci ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syar’i. Hanya saja, bersamaan dengan proses ini, negara tentu wajib men-support segala hal yang dibutuhkan agar wabah segera dieliminasi. Mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah tetap tercukupi. Negara atau penguasa tak boleh membiarkan masyarakat menantang bahaya hanya karena alasan ekonomi.


Di sinilah negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk harta milik umum di kas negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat, khususnya mereka yang terdampak agar kesehatan mereka terjaga dan imunitasnya tinggi. Semua ini hanya bisa dilakukan oleh penguasa Islam dan dalam sistem yang kondusif yaitu sistem Islam.


Penguasa Islam memegang amanah berat, mengurus umat dan menyejahterakan mereka. Yakni dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti pangan, sandang, dan papan. Juga kebutuhan publik mereka seperti pendidikan, keamanan, dan kesehatan.


Semua ini benar-benar diniscayakan karena Islam memiliki seperangkat aturan, yang jika diterapkan akan mampu menolong para penguasa menunaikan seluruh amanah mereka. Termasuk aturan tentang perekonomian yang membuat negara memiliki modal besar untuk mensejahterakan rakyatnya.


Demikianlah gambaran singkat sistem Islam dalam mengatasi pandemi. Tampak solusi Islam adalah solusi hakiki yang justru sangat dibutuhkan hari ini. Hal ini sejalan dengan hakikat syariat Islam sebagai solusi kehidupan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman. Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (Al-Anfal: 24)

JILBAB SIMBOL INTOLERAN?

JILBAB SIMBOL INTOLERAN?

 


Oleh. Vivi

 

            Telah terselenggara acara Forum Grub Discussion (FGD) Jilbab Simbol Intoleran dan Soft Launching Woman Islamic Course (WIC) via zoom yang dilaksanakan Rabu, 24 Januari 2020 yang dipandu oleh Kak Siska Wahyuni (Part of Sekolah Muslimah Ideologis dan BMIC Jember) sebagai host dan Kak Miftah Karimah S. (Aktivis Perempuan dan Co. BMIC Jember) sebagai pemateri.  Dihadiri oleh puluhan aktivis mahasiswa di berbagai Universitas di Jawa Timur.

            Diawal diskusi Kak Siska selaku moderator, beliau memaparkan tentang keputusan SKB 3 Menteri perihal kasus siswa non muslim yang merasa dipaksa memakai jilbab (kerudung), menyatakan bahwa sekolah dilarang untuk mewajibkan atau menghimbau kepada siswa untuk mengenakan atribut tertentu seperti atribut kegamaan dalam pakaian sekolah. Diskusi mulai berlangsung dengan lontaran pertanyaan dari moderator "Benarkah Jilbab itu simbol intoleran?"

Pertanyaan tersebut, dijawab oleh Kak Miftah dengan menjelaskan "apa itu toleransi?". Toleran didalam Islam adalah menghargai, menghormati atau membiarkan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya. Istilah tepatnya yaitu Lakum Diinukum Wa Liyadiin. Nah ini jadi bermasalah dikondisi hari ini karena definisi toleran disamaratakan. Dianggap intoleran (tidak toleran) jika dia tidak sama dengan yang lain begitupun sebaliknya, contohnya jika yang lain mengucapkan selamat natal kepada non muslim, kok ada yang tidak mengucapkan, maka dia akan disebut sebagai intoleran. Padahal kalau diartikan didalam Islam, toleran itu hanya ada dalam perkara muamalah, sedangkan dalam perkara aqidah dan ibadah tidak ada yang namanya toleransi.

            Pemateri juga menjelaskan bahwa makna toleran juga sering kali tidak konsisten. Misalkan apa dialami oleh muslimah-muslimah Bali yang dilarang berkerudung disekolahnya, tidak pernah muncuat dipermukaan. Tidak ada juga tuduhan intoleran disematkan pada sekolah tersebut. Hal ini terasa janggal karena ketika yang jadi korban adalah muslim, mereka diam seribu bahasa, tapi ketika yang jadi korban itu non muslim, mereka berlomba-lomba untuk membela. Jika toleran itu menghargai, harusnya tidak ada masalah jika kaum muslimah itu memakai krudung karena hal itu terkait dengan aqidah dan ibadah. Jika muslim disuruh untuk menghargai natal, maka muslim pun juga harus dihargai atas kewajiban dari agamanya untuk berkerudung.  Maka sejatinya makna toleran hari ini, terjadi standar ganda. Ketika muslimah hari ini dipaksa tidak berkerudung yang artinya melanggar kewajiban syariat dan berdosa, justru hal itu bukan menjadi sebuah masalah di kondisi saat ini. Bukankah ini harusnya yang disebut intoleran?

Kak miftah juga menambahkan, “Kerudung itu fungsinya adalah menjaga perempuan. Hari ini kita sering kali bicara tentang banyaknya kasus kekerasan seksual, hingga muncul RUU PKS dalam rangka menyelesaikan kasus-kasus kekerasan seksual. RUU ini kan bentuk upaya kuratif, mengobati aja. ketika ada kasusnya gimana kita itu bisa menghukumi mereka atas orang-orang yang melakukan kekerasan seksual. Tapi seringkali kita nggak peka terhadap apa sih yang menyebabkan itu terjadi, kita kan fokusnya cuman, kalau sudah terjadi nanti gimana?, sedangkan tindakan preventifnya (pencegahannya) gak dilihat.” pungkas Kak Miftah.

Dan sebenarnya aturan kerudung di padang  ini sudah beelaku 15 tahun sejak 2005, tapi kenapa sekarang  baru dipermasalahkan. Dari sini, i Kak Miftah mengkritisi bahwa ada indikasi kuat upaya monsterisasi ajaran Islam ditengah-tengah umat yang dilakukan oleh musuh Islam yang kebakaran jenggot akan bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah yang berdiri tegak ditengah-tengah sistem kapitalisme yang mereka perjuangkan. Hal ini juga sebagai pengalihan isu dari masalah-masalah yang sebenernya butuh perhatian lebih dari pemerintah, seperti korupsi, masalah pandemi yang tidak selesai-selesai, dan masalah lainnya.

Diskusi semakin memanas ketika peserta memberikan fakta tentang kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dialami oleh muslimah-muslimah Palestina dan Suriah yang notabene nya mereka sudah menutup aurat. Hal itu dikritisi oleh Kak Miftah dengan pernyataan menohok ,” yang berkerudung aja digituin, apalagi yang gak berkerudung, akan semakin banyak masalah.” Tukas Kak Miftah. Lanjut beliau menjelaskan bahwa, sebagai seorang muslim menjalankan syariat itu dilihat dengan kacamata keimanan bukan dari segi manfaatnya. Maka dari itu, Islam nggak bisa diambil secara setengah-setengah, perempuannya sudah berkerudung tapi video porno mudah diakses, dalam pendidikan tidak diajarkan beraqidah kuat, tontonannya banyak memberikan asupan syahwat. Akhirnya banyak terjadi kekerasan seksual karena yang terbentuk di maindset laki-laki adalah perempuan itu adalah alat pemuas nafsu. “Maka Dari sinilah kenapa Islam itu nggak bisa diterapkan setengah-setengah, ini nggak akan bisa menyelesaikan masalah, nggak akan tampak Islam Rahmatan Lil ‘alamiin itu kalau Islam nggak diterapkan secara Kaffah.” Tegas Kak Miftah

           

100 Tanpa Khilafah : Tragedi Tak Berkesudahan!

100 Tanpa Khilafah : Tragedi Tak Berkesudahan!

 



 

Oleh: Zulaikha

(Mahasiswi IAIN Jember dan Aktivis Muslimah)

 

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram. Ada banyak peristiwa yang terjadi di bulan ini, namun ada 4 peristiwa besar yang terjadi di bulan suci ini.

 

Pertama, pada bulan Rajab tahun ke 10 kenabian terjadi Mukjizat yang menguji keimanan, yaitu isra' dan mi'raj.

 

Kedua, pada bulan Rajab tahun 9 Hijriyah terjadi perang besar (perang Tabuk), dimana 30.000 kaum muslimin menghadapi 200.000 pasukan Romawi.

 

Ketiga, pada bulan Rajab tahun 1987 Masehi setelah ratusan tahun kota suci Yerusalem kiblat pertama kaum muslimin dikuasai pasukan salib, kota suci ini berhasil dibebaskan kaum muslimin yang dipimpin panglima perang yang soleh, Shalahuddin al Ayyubi.

 

Dan yang keempat pada 28 Rajab 1342 Hijriyah atau bertepatan 3 Maret 1924 terjadi peristiwa besar yang hampir kaum muslimin melupakannya, yaitu Runtuhnya negara warisan Rasulullah. Negara yang dilanjutkan secara estafet dari masa Khulafaur Rasyidin, kemudian dilanjutkan khilafah bani Umayyah, khilafah Abbasiyah, hingga khilafah Usmaniyah.

 

Kini tepat satu abad atau 100 tahun sejak runtuhnya Khilafah oleh Mustafa Kamal Attaturk laknatullah, umat Islam bagikan anak yang ditinggal mati bundanya. Ibunda yang selama 1300 tahun menjaga dan merawat mereka dibunuh oleh tangan bengis penjajah. Umat Islam mengalami berbagai penderitaan di seluruh dunia.

 

Umat Muslim hidup terlunta-lunta, mereka terusir dari negerinya sendiri. Ia tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara kecil yang kemudian dikerdilkan oleh negara kafir penjajah. Lihat bagaimana penderitaan umat muslim di Palestina, Kashmir, Rohingya, Suriah, Yaman, dan negeri-negeri muslim lainnya bergejolak hingga saat ini.

 

Kekayaan alamnya di rampas oleh tangan-tangan rakus bagai hidangan di meja makan. Otak umat Muslim dicuci, hingga mereka membenci ajarannya sendiri bahkan dianggap ancaman. Seperti yang terjadi pada muslim di negeri kita ini.

 

Agama Islam dimusuhi dan syari’at Allah dimonsterisasi. Bahkan, sebagian ulama sampai dikriminalisasi. Umat Islam digiring untuk meninggalkan agamanya sendiri perlahan-lahan, hingga akhirnya mereka semakin kehilangan jati diri. Satu persatu syari’at Allah ditinggalkan, umat Islam pun kian jauh dari kebenaran. Hukum-hukum Islam mendapat tudingan sebagai hukum kejam yang jauh dari nilai kemanusiaan, seperti hukum potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi pezina.

 

Penderitaan demi penderitaan yang di alami umat muslim di seluruh dunia telah jelas nampak di depan mata. Umat Islam terpuruk dengan berbagai jenis persoalan kehidupan disebabkan tidak adanya perisai yang melindunginya, yakni khilafah.

 

Maka, runtuhnya khilafah perlu diingat dan disampaikan agar umat muslim tahu betapa pentingnya adanya negara khilafah dan bersama-sama berjuang mengembalikannya. Karena Islam dan kekuasaan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Imam Al-Ghazali mengatakan agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. Agama adalah pondasi, kekuasaan adalah penjaga. Apa saja tanpa pondasi maka ia akan runtuh dan apa saja tanpa penjaga maka akan lenyap.

 

Wallaahu a’lam bish shawwab.

DARI BANJIR, MARI KITA BELAJAR

DARI BANJIR, MARI KITA BELAJAR



Oleh : Faiqoh Himmah

(Founder Info Muslimah Jember)



#InfoMuslimahJember -- Hujan sejatinya sesuatu yang dinantikan. Dia membawa air kehidupan. Dalam konteks Islam, bahkan hujan adalah rahmat. Dari Aisyah ra, menceritakan, saat melihat turun hujan, beliau (Rasulullah saw) bersabda: "(ini adalah) rahmat.” 


Tetapi hujan, ternyata sangat bisa menjadi musibah. Seperti yang terjadi di Jember Jumat (29/01). Hujan yang mengguyur Jember selama 3 hari berturut-turut mengakibatkan Sungai Bedadung tak kuasa menahan debit air.


Banjir tak ayal menerjang beberapa titik bantaran sungai di wilayah tengah kota. Setidaknya ada 435 rumah terendam.  Beberapa rumah bahkan hanyut terseret arus air. Ada pula yang roboh secara keseluruhan.


Satu hal yang patut disyukuri adalah solidaritas masyarakat Jember. Berbagai komunitas dengan cepat bergerak. Masyarakat bahu membahu mengumpulkan makanan, pakaian, dana untuk meringankan mereka yang terdampak. Cek banggane dadi wong Jember, rek! Alhamdulillah. 


Banjir ini adalah terbesar selama 10 tahun terakhir. Penuturan Ima, warga asli yang tinggal di daerah Temba'an (Jl. A. Yani), kepada Info Muslimah Jember, seumur hidup tinggal di sana tidak pernah melihat air setinggi kemaren (kamis). Menurutnya, pernah terjadi debit air meluap sampai setinggi dua meter dari ketinggian rumahnya sekitar tahun 2002, namun tak pernah sampai setinggi saat banjir menerjang kemaren. 


Ya, banjir Sungai Bedadung di tengah kota memang mengejutkan warga. Selain teramat langka, sungai sepanjang 161 km itu sudah sangat lebar. Pertama kalinya, dia tak mampu menampung curahan air hujan.


Doa dan bantuan terbaik harus kita upayakan untuk membantu korban. Terutama yang rumahnya seketika lenyap, hanyut terbawa arus air. Jumlahnya tidak sedikit.


Dari banjir ini mari kita belajar. Setidaknya pengkajian terhadap sebab dan renungan : amankah pemukiman di bantaran sungai?


Manusia tidak bisa mengendalikan curah hujan. Karena ia hak mutlak Allah Sang Pengatur alam. Tetapi manusia bisa berupaya menampung curahan air dari langit.


Sebagaimana umumnya banjir yang terjadi di negeri ini, tiadanya lahan (hutan) memadai untuk menampung air hujan seringkali menjadi faktor utama. Banjir Kalsel menjadi contoh nyata. Kala hutan dibabat menjadi area tambang dan lahan sawit. Tak ada lagi akar yang mampu menampung curahan hujan dari langit.


Jika kita ingin sungguh-sungguh mencegah musibah langka ini terulang, butuh ada pengkajian dan penelitian lebih mendalam apa sebab Sungai Bedadung yang begitu “raksasa" dan perkasa “murka".


Dalam sebuah jurnal saya mendapati data bantaran sungai bedadung kini difungsikan sebagai pemukiman, persawahan, hutan yang ditanami pohon sengon dan kopi.


Butuh para ahli, para peneliti, untuk melakukan pengkajian mendalam. Apakah pemanfaatan bantaran sungai Bedadung itu sudah tepat?


Dan yang paling bisa mengerahkan, mendanai dan melaksanakan langkah-langkah strategis dari hasil pengkajian para ahli ini adalah negara. 


Bukankah kehadiran kita di dunia adalah sebagai Khalifah Fil ardh? Rasulullah saw sendiri pernah bersabda, sebuah dorongan agar umatnya melakukan pengkajian dan penelitian : "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian." (HR. Muslim).


Kedua, keberadaan pemukiman di bantaran Sungai Bedadung. Mengutip dari Kompas.com, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Heru Widagdo menilai rumah yang ada di bantaran sungai tersebut berpotensi terbawa arus sungai. 


Warga asli Jember pasti tau, banyak rumah warga di bantaran sungai terutama di Jl. Sumatra, Gladak Kembar. Bahkan beberapa rumah warga persis berada di bibir sungai. 


Saya jadi teringat sebuah kitab klasik tentang pengelolaan harta negara, Al Amwaal, karya Syaikh Abdul Qadim Zallum. Kitab itu memuat jenis-jenis pemasukan dan harta negara menurut tinjauan syariat. Di antara harta negara adalah tanah. Termasuk tanah bantaran sungai. Bantaran sungai masuk dalam kategori fasilitas umum, di mana manfaatnya harus dirasakan oleh banyak orang. Sehingga dia tidak menjadi tanah kepemilikan individu. Negara yang memiliki, mengelola supaya manfaatnya dirasakan publik.


Pun sangat rawan jika bantaran sungai dijadikan pemukiman. Namun, pasti ada sebab mengapa mereka tetap bertahan tinggal di bantaran sungai? Di sinilah peran penting negara. 


Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda : “Imam (Kepala negara/penguasa) adalah pemimpin (pengurus, penggembala) yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhori)


Pemimpin ibarat penggembala. Apa yang dilakukan penggembala? Dia akan mengurusi gembalaannya. Menyediakan tempat tinggal yang nyaman, menggiring nya ke padang rumput sehingga gembalaannya bisa makan, menjauhkan mereka dari penyakit dan bahaya.


Begitulah, pemimpin dalam Islam bertanggung jawab terhadap seluruh urusan rakyatnya. Karena itu, makna politik  atau as siyasah dalam Islam adalah ri’ayatu su'unil ummah (pengaturan urusan umat). 


Banjir Jember, mengajarkan satu hal lagi. Yakni butuh relokasi pemukiman di bantaran sungai yang rawan diterjang banjir. Lagi-lagi hanya negara yang bisa mengambil kebijakan.


Dalam lintasan sejarah Islam, negara memberikan (iqtha') harta kepada rakyat bukanlah hal aneh. Termasuk negara memberi tanah kepada rakyat secara cuma-cuma.


Dalam kitab Al Amwal, karya Abu Ubaid dikisahkan: Rasulullah saw (sebagai kepala negara) pernah memberikan kaplingan tanah kepada Az Zubair di Khaibar. Rasulullah saw juga pernah memberikan kaplingan tanah di daerag al-Aqiq seluruhnya kepada Bilal bin Harits al-Muzani. Rasulullah saw juga pernah mengkaplingkan tanah kepada Furat bin Al Hayyan al-‘Ijli di daerah al-Yamamah.


Demikianlah, paradigma politik Islam, yang mementingkan pelayanan dan pemenuhan urusan rakyat, relokasi pemukiman warga itu relatif mudah dilakukan. Dibandingkan dengan paradigma politik demokrasi yang acapkali menempatkan kepentingan pemilik modal lebih utama dibandingkan hajat rakyat.


Kajian mengenai ini, sangat banyak tertuang dalam kitab-kitab klasik berjudul sama Al Amwaal, yang dikarang oleh berbagai ulama.


Dari banjir, mari kita belajar. Agar hujan, tetap menjadi rahmat. Segala musibah, adalah bagian dari ketentuan Allah. Kita wajib bersabar atasnya. Namun upaya mencegah "musibah" adalah ikhtiar yg dicontohkan Rasulullah saw.  Jember bisa bangkit, optimis dengan Islam! 


Allahu a'lam.

Gema Khilafah di Penghujung Tahun

Gema Khilafah di Penghujung Tahun



Oleh: Vania Puspita Anggraeni


#InfoMuslimahJember -- Acara Risalah Akhir Tahun atau biasa disebut RATU yang diselenggarakan pada tanggal 26 Desember 2020 pagi tadi pukul 09.00 WIB melalui zoom dan siaran youtube, berhasil meraih 26.000 viewers hingga acara selesai. Acara yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali ini mengusung tema Berkah Dengan Khilafah dengan dipandu Bu Nanik Wijayanti, S. P. selaku host pada acara tersebut dan Hj. Firda Muthmainnah, S.Si, sebagai MC. Acara ini berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam dengan menggandeng 3 narasumber yang berkompeten di bidangnya. Beliau adalah Ibu Hj. Ir. Dedeh Wahidah  Achmad (Konsultan dan Trainer Keluarga Sakinah) sebagai narasumber pertama, Ibu Pratma Julia, S.P. (Pengamat Kebijakan Publik), dan Ibu Erma Rahmayanti, S.P. (Pemerhati Kebijakan Keluarga dan Generasi). Dalam acara kali ini, terbagi dua sesi talkshow yang berbobot. Sesi pertama menguak bagaimana Demokrasi sudah menunjukkan kebobrokannya sebagai sebuah sistem dan sesi kedua mengenai gambaran khilafah sebagai alternatif solusi yang dari Allah.

Ibu Dedeh Wahidah sebagai pemateri pertama, mendapat beberapa pertanyaan dari host mengenai demokrasi. Dalam sudut pandang yang beliau berikan, Demokrasi sudah tidak bisa diselamatkan karena beberapa faktor. Pertama, demokrasi berasal dari manusia yang memiliki akal terbatas. Sehingga akan ada celah terjadinya kesalahan dalam pengaturannya. Kedua, demokrasi berkolaborasi dengan kapitalis. Beliau memberi contoh dari faktor ini dengan studi kasus pemilu. Dimana pemilu dalam demokrasi memerlukan dana besar untuk melakukan kampanye. Dana kampanye tersebut dapat berasal dari uang pribadi paslon atau sokongan pengusaha. Sehingga jika paslon tersebut berhasil menduduki kursi kekuasaan, tidak menutup kemungkinan akan ada upaya balik modal yang telah dikeluarkan selama kampanye dan adanya sistem balas budi. Dimana paslon akan menerima pesanan kepentingan dari pendukung yang telah menyokongnya selama kampanye. Selain itu, Ibu Dedeh Wahidah  juga mengatakan bahwa demokrasi dapat bertindak otoriter untuk mempertahankan kekuasaannya. Sehingga dapat dikatakan jika demokrasi sukses membagi-bagi kekuasaan tapi gagal dalam mendistribusikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat. Menurut Ibu Dedeh Wahidah sebagai seorang muslim seharusnya hanya mengikuti aturan dari Allah yang ada pada Al-qur’an dan As-sunnah. Bukan yang lainnya.

Sementara, Ibu Pratma Julia sebagai pemateri kedua mendapat pertanyaan dari host mengenai kemungkinan demokrasi berkolaborasi dengan syariat. Dengan tegas dan lugas, beliau menjawab bahwa Demokrasi tidak bisa berkolaborasi dngan syariat, sebab demokrasi berasal dari akal manusia yang terbatas dan terdapat banyak celah kesalahan. Sementara, aturan islam berasal dari Allah yang Maha Benar. Adanya kolaborasi demokrasi dengan syariat sama dengan mencampurkan perkara haq dan bathil. Tidak hanya itu, dalam demokrasi aturan yang digunakan berasal dari manusia. Sehingga dapat berubah-ubah dengan mudah sesuai keinginan manusia. Padahal, hanya Allah yang berhak membuat peraturan. Sehingga tidak bisa aturan manusia menandingi aturan Allah. Selain itu, asas sekuler yang bercokol juga dapat membuat umat semakin menjauh dari Allah.

Tidak ketinggalan, Ibu Erma Rahmayanti sebagai pemateri ketiga juga mendapat pertanyaan terkait jaminan khilafah. Maka dengan gamblang beliau menjelaskan bahwa Allah memberi empat jaminan dalam penerapan khilafah. Pertama, kedaulatan berada di tangan hukum syara’, sehingga posisi konstitusi tidak dapat mengalahkan aturan Allah. kedua, pemimpin yang ditunjuk dalam kepemimpinan khilafah harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, yaitu kuat ilmu dan bertakwa sehingga akan selalu menghadirkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan. Ketiga, efisiensi birokrasi. Sehingga permasalahan akan semakin cepat ditangani karena tidak ada ketimpangan regulasi. Keempat, kesatuan komando dibawah khalifah. Dimana khalifah juga tidak akan memberi perintah diluar syariat islam.

Selanjutnya, memasuki sesi tanya jawab mengenai demokrasi dan khilafah, host mengambil tiga pertanyaan dari peserta. Pertanyaan pertama terkait kemungkinan demokrasi diperbaiki langsung dijawab oleh Ibu Pratma Julia bahwa demokrasi telah rusak akarnya. Ibarat tanaman yang akarnya telah membusuk, maka dipindah ke tanah yang lain berulang kali juga tidak bisa merubah keadaan. Sehingga, menurut beliau, demokrasi tidak bisa diperbaiki. Pertanyaan kedua, peserta menanyakan bahwa letak kesalahan berada pada demokrasi atau pemimpin selaku pelaksana aturan? Dengan tegas Ibu Erma Rahmayanti menjawab demokrasi telah rusak akarnya dan seseorang yang yang berhukum dengan hukum selain dari Allah maka termasuk orang dzalim. Pertanyaan ketiga hampir serupa terkait kompromi dalam demokrasi. Ibu Erma Rahmayanti mengatakan bahwa tidak ada kompromi dalam demokrasi.

Usai sesi tanya jawab, testimoni tokoh diberikan oleh Hj. Irene Handono selaku pakar kristologi dan Hj. Komariah selaku pembina majlis ta’lim. Dalam sesi testimoni tersebut, Hj. Irene Handono mengatakan bahwa dalam demokrasi terdapat arogansi untuk  menggeser aturan Allah dan menggantinya dengan aturan manusia. Beliau mengatakan untuk tetap menyerukan kebaikan agar terhindar dari kerusakan. Diamnya orang baik akan membawa kerusakan pada umat dan negara. Maka, beliau mengajak untuk kembali pada aturan Allah yang membawa kemaslahatan. Sementara Hj. Komariah mengatakan dalam sesi testimoni bahwa demokrasi adalah rekayasa global buatan manusia. Dimana Yahudi ingin menjadikan negara islam sebagai jajahan sejak keruntuhan khilafah. Beliau mengatakan bahwa saat ini terjadi ghazul fikr, untuk meredam keinginan umat muslim berislam kaffah. Padahal, sistem khilafah telah terbukti pernah berjaya membawa kemaslahatan.

Sesi ke dua, host kembali melontarkan pertanyaan pada setiap pemateri. Host memberi pertanyaan pada pemateri pertama terkait langkah menuju terwujudnya khilafah. Ibu Dedeh Wahidah menjawab bahwa harus ada tiga komponen dasar yaitu, pertama pemahaman benar terkait penegakkan khilafah. Kedua, keyakinan kokoh agar tidak mudah disesatkan pada pemahaman yang salah. Ketiga, Aksi nyata untuk mewujudkan khilafah. Meski khilafah akan tetap tegak tapi seseorang yang berperan tentu tidak akan sama dengan seseorang yang bertindak sebagai penonton. Beliau juga mengatakan bahwa metode yang digunakan dalam sebuah aksi nyata hendaknya sesuai dengan ajaran Rasulullah, yakni dakwah pemikiran. Adapun secara rinci beliau mengatakan aksi tersebut harus diiringi dengan mengkaji shirah dan islam yang bervisi khilafah.

Sementara untuk pemateri kedua, host memberikan pertanyaan seputar penyatuan potensi kesadaran umat. Ibu Pratma Julia menjawab bahwa untuk menyatukan kesadaran umat harus ada sekelompok orang yang terkodinir dengan kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar dan beraktivitas politik seperti contoh Rasulullah. Menurut beliau untuk memaksimalkan upaya dakwah, maka semua komponen perlu terlibat dengan memanfaatkan potensi yang ada.

Lalu terkait penyikapan statement ketidaksiapan umat dalam tegaknya khilafah, host memberikan pertanyaan pada Ibu Erma Rahmayanti  untuk memberikan tanggapan. Beliau mengatakan, jangan menyikapi sesuatu dari realita yang ada. seharusnya, umat islam menggunakan parameter islam dan tidak boleh menyerah. Bahkan beliau juga mengatakan, bahwa seorang muslimah juga bisa mengambil peran dalam dakwah tanpa terkecuali.

Memasuki sesi tanya jawab pada talkshow sesi kedua, host kembali mengambil tiga pertanyaan dari peserta. Pertanyaan pertama terkait langkah penegakkan khilafah secara praktis dijawab gamblang oleh  Ibu Dedeh Wahidah. Menurut beliau, penegakkan khilafah bisa dimulai dengan memperbanyak bacaan, mendengar dan menganalisis kondisi yang ada. serta meningkatkan kadar mengkaji islam kaffah, dan meniatkan semua karena Allah. Lalu pertanyaan kedua mengenai perbedaan golongan ditengah penegakkan khilafah dijawab oleh  Ibu Pratma Julia bahwa untuk permasalahan furu’/ cabang tidak menjadi masalah jika ada perbedaan asal ajaran dasar tetaplah sama. Sementara untuk pertanyaan ketiga terkait ketaatan pada ulil amri, dijawab secara lugas oleh Ibu Erma Rahmayanti bahwa ulil amri yang ditaati adalah ulil amri yang taat pada Allah dan Rasulnya.

Memasuki testimoni tokoh pada talkshow sesi kedua, Dr. Ir. Pugoselpi Rokhman Dahuri, M. Si sebagai tokoh masyarakat memberikan testimoni secara jelas bahwa permasalahan bangsa yang carut marut saat ini akibat umat yang meninggalkan ajaran islam, sehingga penegakkan syariat menjadi suatu keharusan untuk menyudahi permasalahan saat ini.

Acara diakhiri dengan pemutaran vidio MMC, pembacaan komentar peserta oleh host, pembacaan doa oleh Ustadzah Murti’ah dan untaian kata dari Host “Tidak ada artinya kehidupan yang kita jalani kecuali amal sholih yang mengantar ke surga”

 


SAY NO TO SECULARISM AND LIBERALISM

SAY NO TO SECULARISM AND LIBERALISM



Ahad, 29 November 2020 Back To Muslim Identity Community mengadakan agenda webinar spesial untuk para millenials. Agenda yang dihadiri oleh ratusan peserta milenial tersebut berjalan lancar dan sukses. 


“Ada apa dengan kondisi milenials hari ini?” pertanyaan yang dilontarkan kepada pemateri 1 oleh host bikin penasaran para peserta. Menurut kak Dyah bahwa pandangan hidup generasi milenial saat ini cenderung receh, semaunya dan mengalami kekaburan alias krisis identitas. Untuk itu, sebagai generasi muslimah, kita harus memiliki point of view (cara pandang) yang sama yaitu Islam.


Ketika point of viewnya Islam, maka sebagai seorang muslimah akan mempunyai kesadaran besar sebagai hamba Allah, menjalankan syariat-syariat Allah, ketika hendak melakukan sesuatu pun akan disandarkan pada syariat Allah dan berharap syariat Allah diterapkan secara keseluruhan.


“Namun di era modern ini, identitas milenial muslimah tergerus habis-habisan, bahkan banyak yang mengalami krisis identitas, padahal sebagai muslim, kita memiliki dua potensi besar yaitu Islam dan pemuda (milenial) Islam.” jelas kak Dyah. 


“Jika dua potensi luar biasa ini kita manfaatkan dengan baik maka akan menjadi sebuah potensi kebangkitan yang besar, sebuah potensi kekuatan yang luar biasa, kalau ternyata potensi tersebut dibajak atau tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan menjadi bencana yang luar biasa.” lanjut beliau. 


Dengan dua potensi yang kaum muslim miliki, peradaban Islam dapat bangkit kembali, namun kebangkitan kembali peradaban Islam pun mengkhawatirkan Barat, sehingga framing-framing negatif pun disebarkan, seperti agen-agen radikal itu yang good looking, celana cingkrang, cadar, khilafah pun dilarang, menyebar Islam moderat bahkan K-Pop pun harus menjadi inspirasi milenial.


Serangan masif deislamisasi pun melahirkan milenial-milenial yang liberal dan materialistis bahkan Islamophobia. Sehingga malah milenial muslim sendiri mencegah kebangkitan Islam, menjadi duta pemikiran dan Kebudayaan Barat bahkan menguatkan hegemoni barat atas dunia Islam.




Lalu bagaimana cara memperbaiki generasi milenial saat ini yang telah teracuni pemikiran Barat?


“Kalau kita ingin memperbaiki generasi milenial, perhatikan apa yang disampaikan oleh Imam Malik Rahimahullah, 'tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya (sahabat)'. Jadi memperbaiki generasi milenial dengan menggunakan kunci sukses generasi para sahabat terdahulu.” jelas pemateri kedua. 


Pemuda, iman, ilmu, amal dan dakwah adalah kunci sukses generasi terdahulu, bahkan generasi terdahulu hidup di dalam khilafah, sebuah lingkungan yang melindungi, dan menjaganya. Untuk itu kunci sukses generasi terdahulu perlu kita wujudkan bersama.


Bagaimana agar milenial bangga sebagai muslimah dan tidak mudah tergerus identitasnya? 


“Maka sebenarnya kuncinya itu dua. Pertama, kita harus punya pemikiran ideologis Islam yang unggul dan luhur dipadu kekuatan fisik prima yang dimiliki oleh milenial muslimah, kedua, kita harus punya kehidupan peradaban Islam dalam institusi khilafah.” ungkap ustadzah Yuniar. 


“Apa itu khilafah? Pertama, Khilafah adalah negara adidaya baru yang akan menghapus hegemoni negara barat dan akan menghentikan semua kebijakan yang merusak generasi milenial. Jadi khilafah itu akan melindungi kita. Kedua, khilafah sebagai sistem pendidikan yang menghasilkan pemuda yang kokoh imannya, punya kepribadian Islam, dan punya ilmu keterampilan, Ketiga, Khilafah menjaga akhlak pemuda pemudi dengan sistem pergaulan Islam, Keempat, Khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam, Dan kelima, khilafah adalah hukum pemerintah dari Allah yang harus diwujudkan.” jelas beliau. 


Penjelasan terakhir ustadzah Yuniar, Bagaimana langkah yang kita lakukan untuk mengembalikan khilafah? Pertama, mengkaji Islam Kaffah agar membentuk akidah dengan keyakinan yang kokoh. Kedua, memahami Islam sebagai solusi masalah kehidupan dan bangga terhadap peradaban dan Sejarah Islam. Dan ketiga, Milenial muslimah menyuarakan Islam kaffah dan Khilafah. 


Setelah sesi diskusi dan persembahan, agenda perpaduan materi dan multimedia yang keren pun telah sampai di penghujung acara, diakhir host menggarisbawahi “ternyata Millenials Muslimah nggak cukup Back To Muslim Identity saja, tapi Millenials Muslimah butuh Back To Khilafah”[UN/IMJ]

Komersialisasi Kampus : SAH!  Pernikahan Massal Kampus dan Industri  Lahirkan Intelektual Materialistis

Komersialisasi Kampus : SAH! Pernikahan Massal Kampus dan Industri Lahirkan Intelektual Materialistis


 

Nuning Wulandari S.Tr.T

(Aktivis Muslimah, Part Of Back To Muslim Identity)


#InfoMuslimahJember -- Gerakan Pernikahan Massal antara Industri dengan Kampus yang digagas oleh Nadiem Makarim Kementrian Pendidikan dan kebudayaan nampaknya semakin menemui titik terang. Nadiem berharap perjodohan massal antara Industri dan Kampus ini bisa berjalan sempurna.

Tidak main – main “"Kami akan fasilitasi itu secara besar dan Dirjen Vokasi kementerian kami juga memastikan 'pernikahan massal' ini terjadi di seluruh perguruan tinggi Indonesia, terutama di program pendidikan tinggi Vokasi dan Politeknik," ujar Nadiem (Katadata.co.id).

Adalah Politeknik Negeri Jember salah satu  Perguruan Tinggi Vokasi Negeri (PTVN) yang menyambut baik ucapan Nadiem Makarim. Bertepatan dengan puncak perayaan Dies Natalis ke 32 pada 27/10/20. Kampus Vokasi ini  melaksanakan penandatangan MoU secara serentak dengan 32 institusi mitra dan IDUKA dalam rangka mewujudkan dan memperkuat program link and match, yang digulirkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi agar antara perguruan tinggi dan IDUKA (Industri Dunia Usaha dan Dunia Kerja) menjalin kemitraan, baik dalam aspek perekrutan SDM, Riset bersama, Magang/PKL Industri, Dosen dari Industri dan kemitraan lainnya dengan IDUKA (Polije.ac.id).

Sebanyak 32 mitra yang melakukan Penandatangan MoU secara daring ini diantaranya :

·         2 Perguruan manca negara (Jiangsu Agri-animal Husbandary Vocatioanal College China serta Vaagdevi College of Engineering Warangal India)

·         4 PTN/PTS (Politeknik Negeri Madura, Politeknik Negeri Banyuwangi, Politeknik Indonusa Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Jember)

·         5 Pemerintahan (Pemprov. Jawa Timur, Pemprov. Aceh, Pemkab. Situbondo, Pemkab. Sidoarjo dan Pemkab. Nganjuk)

·         Direktur PT Botani Seed Indonesia, Bogor; Direktur Indomaret Grup, Jakarta; Direktur PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Jember; Direktur PT J&T Express Indonesia, Surabaya; Direktur PT Dua Kelinci, Pati; Direktur PT Gamatechno Indonesia, Yogyakarta; Ketua Ikatan Pengusaha Benih Holtikultura Indonesia, Malang; Direktur PT Charoend Phokphand Indonesia, Surabaya; Direktur PT Yoongbe Indonesia (PMA Korea), Jember; Direktur CV. Pertanian Bumi Jaya, Tanggul Jember; Direktur CV. Sekawan Tani Indonesia, Puger Jember; Direktur PT Bank Sinar MasSyariah Jember; Presiden Direktur PT Benih Citra Asia, Ajung Jember; Direktur PT Mangli Djaya Raya, Jember; Manager PT Roda Sakti Surya Raya (YAMAHA), Jember; PT Garudafood Putra Putri Jaya. Tbk; PT Manufactur Dynamic Indonesia; PT Seger Pakusari Agrobisnis; PT Marimas Putera Kencana, Semarang (Sumber polije.ac.id)

 

Sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah “Perguruan Tinggi harus lebih aktif melakukan kerjasama dengan para industri, termasuk kawasan industri terdekat. Upaya itu, menurut dia, bisa dilakukan universitas dengan cara membuka fakultas, departemen atau program studi terkait dengan jenis industri di kawasan tersebut” Ungkap Presiden Joko Widodo pada 4/7/20 (Katadata.co.id).

 

PERNIKAHAN MASSAL UNTUK APA ?

Sekilas gagasan pernikahan massal ini seolah menjadi terobosan baru agar indonesia bisa bertahan di era keterbukaan pasar global dengan mengejar target sukses dalam persaingan global. Walhasil dunia pendidikan juga menjadi korban yang diberdayakan agar  arah pendidikan hari ini berbasis pada industri kapitalis. Target pendidikan didesign hanya berorientasi  pada kompetensi (kemampuan) para intelektual agar mampu menghadapi tuntunan dunia kerja yang dinamis semata, dengan mencetak SDM pekerja alias buruh.

 

Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa industri hari ini banyak dimiliki swasta atau asing. Lantas apa yang diharapkan dari gagasan pernikahan massal yang mengarah pada pendidikan berbasis industri?

 

Perlu dipahami bersama bahwa pendidikan bukan sebatas pada kompetensi (kemampuan) saja. Tujuan pendidikan harusnya membentuk dan mendidik SDM yang berkarakter, cerdas, menjadi tenaga ahli yang terampil, menghasilkan penemuan dan karya yang mampu dinikmati umat dan dapat menyelesaikan masalah persoalan bangsa. Apa lagi ditengah masalah krisis karakter yang sedang dihadapi generasi milennials.

 

Model pendidikan ini  justru melahirkan generasi korupsi, kekerasan, keserakahan, kejahatan, penistaan agama hingga konflik, generasi hedon. Belum lagi perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, tawuran, rendahnya adab kesopanan dan pemahaman islam menjadi momok menakutkan yang senantiasa menghantui output dunia pendidikan.

 

Tidak ada yang dibisa diharapkan dari pendidikan yang berbasis industri, gagasan ini hanya menjadi titik sempurna agar para korporasi dapat dengan mudah menguasai kampus. Kampus harus berlari kencang mengikuti permintaan pasar, mengurangi tingkat pengangguran sarjana menjadi alasan utama agar dunia kampus tetap mengikuti arahan industri dunia kerja dan dunia usaha. Korporasi dengan mudahnya menekan dunia kampus yang tak lagi punya independensi karena pendidikan hari ini telah sempurna dikomersialisasikan. Dunia bisnis yang serat dengan untung – rugi juga harus dikonversikan kedalam dunia pendidikan.

 

Sebagaimana keresahan Tom Hodgkinson dalam pernyataannya berikut:

“Pendidikan itu sendiri adalah penangguhan, penundaan. Kita dinasihati agar bekerja keras supaya mendapatkan nilai bagus. Kenapa? Supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Apa itu pekerjaan yang bagus? Pekerjaan yang bergaji tinggi. Oh, itu saja? Semua penderitaan ini, hanya agar kita mendapatkan banyak uang, yang bahkan jika kita berhasil mendapatkannya pun tidak akan menyelesaikan masalah kita, bukan? Ini adalah ide sempit yang tragis tentang untuk apa hidup ini sesungguhnya.”

 

Benar saja potensi intelektual hari ini terbuang sia – sia pada hal –hal yang tidak bermanfaat bagi umat. Atau bahkan potensi itu telah terkubur bersama dengan bersamaan dengan berbagai ambisi pemenuhan gaya hidup sesuka hati tanpa paham untuk apa hidup ini sesungguhnya

 

Jika kalangan inteletual yang punya peran besar datang dengan membawa solusi atas setiap problem bangsa dengan harga yang tidak gratis, bahkan bernilai untung rugi karena erat dengan dunia bisnis. Atau bahkan kalangann intelektual sedang disibukkan dengan mencetak dan menjadi tenaga kerja. Lantas siapa yang akan mengurusi persoalan umat dengan ikhlas?