GRAND DESIGN KAPITALIS ATAS POTENSI PEMUDA

GRAND DESIGN KAPITALIS ATAS POTENSI PEMUDA



Oleh. Isnani Zahidah


#InfoMuslimahJember - Pemuda adalah aset penting bagi suatu negara. Sepanjang sejarah manusia, pemuda menjadi tonggak utama peradaban yang senantiasa memikirkan dengan sungguh-sungguh, menggerakkan, dan memimpin umat kepada suatu perubahan untuk kondisi yang lebih baik. Besarnya jumlah pemuda di seluruh dunia (satu dari lima orang penduduk dunia berusia 10-19 tahun) menjanjikan suatu arus perubahan dengan pemuda sebagai pemimpinnya. Mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan dan pernah menjadi SEkjen PBB periode 2007-2016 Ban Ki Moon mendefinisikan pemuda dengan kalimat, “Pemuda lebih dari sekedar bonus demografi. Pemuda memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan”.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,19 juta jiwa atau 24,02% dari total penduduk yaitu satu di antara empat orang Indonesia adalah pemuda. Tak berlebihan jika peran sentral mereka diatur pemerintah dalam Undang-undang nomor 40/ 2009 tentang Kepemudaan.  

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan pemuda menjadi salah satu kunci sukses dalam memanfaatkan bonus demografi. “Sebagai  generasi penerus bangsa, pemuda harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, karakter, dan jiwa patriotisme,” ujarnya saat menjadi pembicara pada Dialog Nasional Pemuda Tahun 2020 yang digelar secara daring oleh Bappenas, Senin (26/10). Menurut Muhadjir, hal itu sangat diperlukan sehingga pada tahun 2030 mendatang Indonesia benar-benar akan mencapai bonus demografi. Harapannya, jumlah angkatan kerja yang nanti diprediksi mencapai 71% akan diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing.


Rancangan Induk Potensi Pemuda

Pada dasarnya negara pengemban sistem kapitalisme rentan terjdi krisis moneter. Dalam system ekonomi kpitalis krisis moneter bisa terjadi secara periodik. Ditahun 2008 Amerika serikat telah mengalami krisis keuangan yang serius hingga menjadikan perekonomian AS lumpuh. Tidak hanya itu ditahun 2012 Eropa turut mengalami krisis yang parah seperti yang dialami AS. Akibat dari adanya krisis ini adalah merosotnya daya beli masyarakat AS dan Eropa yang mengakibatkan barang-barang industri tersebut harus segera di ekspor ke negara lain. Asia (China, India, dan Indonesia) adalah pasar yang menggiurkan karena petumbuhan ekonominya yang tinggi. Disamping itu negara-negara tersebut memiliki jumlah penduduk besar sehingga berpeluang untuk menjadi pasar bagi produk-produk AS. Demi kepentingan ini, Amerika memimpin upaya pemetaan pemberdayaan pemuda yang diaruskan secara global melalui PBB. Amerika memberikan perhatian khusus pada Indonesia terutama karena Indonesia akan memperoleh bonus demografi.

Agenda Pemerintah Internasional dan Nasional terhadap pemuda di berbagai negeri muslim khususnya Indonesia. Agenda kontra-radikalisme terhadap pemuda Muslim dengan Pencegahan ekstrimisme Kekerasan (PVE) dengan beberapa program: 1). Pemerintah menetapkan regulasi PERPRES No.7 RANPE tahun 2021  tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024. 2). kurikulum pendidikan & pelaku Usaha (MBKM, pesantren, digitalisasi madrasah; sekuler & pembajakan peran), 3). Youth empowerment-pemberdayan ekonomi, perdamaian, SDGs , 4). masyarakat- moderasi & budaya, 5). media (inklusif anti hoax (narasi radikal) dengan menciptakan berita yang nyaman kondusif anti hoax, salah satunya dengan narasi radikal dari sudut pandang penguasa, 6). Identitas dan peran baru “ala barat” bagi pemuda muslim-duta sekuler individualis, liberal, materialistis, jauh dari agama/identitas hakiki 

Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme tahun 2020-2024 (RAN PE). Perpres itu ditandatangani Jokowi pada 6 Januari 2021 dan resmi diundangkan sehari setelahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah menyusun serangkaian strategi, salah satunya fokus pada peningkatan efektivitas kampanye pencegahan ekstremisme di kalangan kelompok rentan (kontra radikalisasi). Dalam upaya ini, pemerintah melibatkan sejumlah pihak, mulai dari tokoh pemuda, agama, adat, tokoh perempuan, media massa, hingga influencer media sosial. Alasan dilibatkannya sejumlah pihak ini yakni belum optimalnya partisipasi tokoh pemuda hingga influencer media sosial, termasuk mantan narapidana teroris, dalam menyampaikan pesan pencegahan ekstrimisme. Merujuk pada Perpres, pihak-pihak tersebut nantinya akan ikut menyampaikan pesan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, baik melalui produksi konten internet maupun kampanye kreatif daring dan luring.

Terkait dengan pemberdayaan bonus demografi, salah satu alat ukur untuk menilai kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia, ungkap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ialah melalui Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Penilaian IPP didasari atas 15 indikator yang masing-masing dikelompokkan dalam lima domain yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

“Capaian IPP kita masih sangat rendah, hanya 51,50 pada tahun 2018. Bahkan di 2017 sebelumnya, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-7 untuk Youth Development Index (YDI) Asean yang artinya kita hanya lebih baik dari tiga negara yaitu Thailand, Kamboja, dan Laos,” ungkap Menko PMK. Kendati demikian, menurutnya pembangunan pemuda tentu tidak hanya terkait dengan IPP namun juga dalam rangka pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goal’s (SDG’s) yang sudah dicanangkan melalui Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015. Ini sejalan dengan UU kepemudaanyang dijadikan  acuan untuk mengarahkan potensi kebangkitan pemuda, agar tidak bergerak liar dalam merespon krisis multidimensi yang membelenggu negeri ini. UU Kepemudaan memberi garis tegas tentang target pembentukan kesadaran pemuda. Agenda penyadaran pemuda (Pasal 1Ayat 5)adalah kegiatan yang diarahkan untuk memahami dan menyikapi perubahan lingkungan. Upaya perubahan lingkungan ini kemudian dirinci dalam UU NO 41 Tahun 2011 pasal 28 Ayat 2 yaitu memahami dan menyikapi perubahan lingkungan strategis,  baik domestik maupun  global serta mencegah dan menangani risiko. Artinya, kesadaran pemuda harus sejalan dengan keberlangsungan agenda global di Indonesia

Demikianlah, arah pemberdayaan pemuda telah dirancang PBB dan diratifikasi oleh penguasa. Pemuda hanya dibaca dari nilai ekonominya semata. Pemuda telah dikorbankan menjadi mesin penyelamat ekonomi kapitalis. Hasilnya, pemuda menjadi generasi yang cuek dan permisif. Di sisi lain, pemuda juga dipapar gaya hidup liberalis, konsumeris, dan hedonis. Sementara, segelintir pemuda yang belum terlalu hanyut dalam gaya hidup hedonis dankonsumeris mendapat pemahaman mengenai HAM, multikulturisme, pluralisme, dan sebagainya dalam pendidikan yang justru kian menggerus aqidah. Pemuda, sadar atau tidak telah dijauhkan dari aqidah yang hakiki dan ‘dipaksa’ meyakini demokrasi-nasionalisme yang sebenarnya tak lebih dari alat Barat untuk melegalkan penjajahannya di negeri-negeri berkembang. Bisa dibayangkan, generasi Indonesia kedepan akan menjadi generasi yang cuek pada aqidah dan persoalan umat, pragmatis, sertaliberalis.


Visi Islam Untuk Pemuda Islam

Sangat penting untuk mendesain karakter pemuda agar potensinya yang sangat besar tidak dimanfaatkan sebagai penyelamat ekonomi kapitalisme. Penting untuk mengideologisasi gerakan pemuda agar dapat mewujudkan perubahan hakiki yang dilandasi oleh Islam.Hal ini sangat bergantung dengan taraf berfikir yang dimiliki oleh pemuda, dan taraf berfikir pemuda ini sangat ditentukan oleh bagaimana kebijakan negara dalam membentuk sistem yang terpadu dalam pemberdayaan potensi pemuda. Arah kebijakan suatu negara tersebut sangat ditentukan oleh ideologi yang dianutnya. Adapun hal yang bida dipahamkan atas pemuda dan masyarakat adalah:

1. Posisi penting pemuda dalam islam sebagai agen dalam perubahan 

2. Kepribadian islam pemuda (Pemuda besar dalam sejarah Islam – kepribadian, kualitas, dan apa yang mereka capai untuk Islam. Mereka adalah pelopor sejati Islam dan pelopor perubahan nyata.

3. Membekali mereka mampu melawan serangan-serangan musuh merusak dan membajak perannya;  keyakinan agamanya, kesadaran yang kuat akan kematian dan ahkirat, kesadaran akan kepalsuan dan bahaya dari ide-ide dan sistem liberal sekuler dan konsep-konsep non-Islam lainnya yang mengelilinginya, untuk menjadi pemimpin bukan pengikut, membangun rasa tanggung jawab terhadap ummat dan din, mencari teman yang baik, membangun konsep haya’ (malu), bangga dengan budaya dan sejarah Islam, dll 

Semoga kerja ini segera terealisasi dengan izin dan pertolongan Allah SWT.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan mengerjakan amal shalih bahwa sungguh Ia akan menjadikan  mereka berkuasa di bumi sebagaimana  Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Ia ridhai. dan Ia benar-benar mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan  menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahKu dan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatupun. tetapi barangsiapa yang kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”[]


  


Mencari Solusi Hakiki Konflik Palestina

Mencari Solusi Hakiki Konflik Palestina

 



oleh : Faiqoh Himmah*)

Lagi-lagi pasukan Israel menyerang muslim Palestina yang tengah melakukan ibadah di Masjidil Aqsha. Tanpa mengindahkan bulan Suci Ramadhan yang dihormati umat Islam, pasukan Israel menggeruduk dan menembakkan gas air mata pada jama’ah sholat shubuh, Jumat (15/04). Sekitar 150 warga Palestina dilaporkan terluka.

Ketegangan terus berlanjut. Polisi Israel menggunakan granat kejut dan peluru karet untuk mengintimidasi pengunjuk rasa (muslim yang beribadah di Masjidil Aqsha). Selasa (19,04) Israel melancarkan serangan udara ke kota Khan Younis, di wilayah selatan Jalur Gaza. Ledakan besar terlihat di pangkalan militer Hamas.

Bagaimana respon dunia? Seperti biasa, dunia hanya mengecam tanpa melakukan aksi nyata. Komite Arab Regional (yang terdiri dari Negara-negara yang melakukan normalisasi dengan Israel) mengadakan pertemuan darurat di Yordania, mereka mengutuk kekerasan Israel. Erdogan dikabarkan menelepon Presiden Israel dan menyatakan kekecewaan atas kekerasan pasukan Israel. Begitu pula menteri luar negeri UEA menelepon menlu Israel, AL Nahyan menyerukan stabibilitas. Lima negara Eropa (Irlandia, Prancis, Estonia, Norwegia, Albania) anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan bentrokan di Yerusalem dihentikan.

Sementara itu menteri luar negeri AS, mendesak Israel dan Palestina untuk menahan diri. Dalam pembicaraannya dengan Yair Lapid, Menlu Israel, Blinken menegaskan komitmen AS terhadap keamanan Israel. Sementara itu kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas, BLinken menyatakan komitmen AS untuk meningkatkan kualitas hidup warga Palestina. Blinken mendesak solusi dua Negara.

Perebutan Tempat Suci?

Dalam pernyataannya, menlu AS, Blinken menegaskan keharusan Israel dan Palestina menghormati kesepakatan atas status quo tempat suci. Bahwa otoritas kerajaan Yordania memiliki kekuasaan dalam menjaga tempat suci di komplek Al Aqsha.  Begitu pula Rusia dan Negara-negara lain. Sementara itu, PM Palestina menyatakan Al-Aqsha adalah milik dan hak umat Islam, tidak dapat dibagi-bagi.

Sebagaimana digembar-gemborkan media selama ini, konflik Israel – Palestina adalah konflik “abadi” karena terkait dengan keyakinan masing-masing agama akan tempat suci mereka. Akan tetapi, jika ditelaah secara mendalam, sejarah akan menunjukkan bahwa konflik Israel – Palestina adalah konflik yang tidak bisa dilepaskan dari situasi dunia pasca dihapuskannya Khilafah Utsmani sebagai kekhilafahan Islam.

Palestina adalah salah satu wilayah kekuasaan Khilafah Islam. Palestina ditaklukkan pada masa KHalifah Umar Bin Khaththab secara damai. Tanah Palestina adalah tanah Kharajiyah milik kaum muslimin. Selama berabad – abad, umat Islam dan Kristen yang tinggal di Palestina berada dalam pengasuhan Khilafah. Mereka hidup secara damai. Hingga tiba masa kelemahan Daulah Utsmani (Barat menyebutnya Ottoman Empire), ketika Daulah Utsmani terjebak pada Perang Dunia II dan mengalami kekalahan. Sebagian besar wilayah Daulah Ustmani kemudian berada di bawah kekuasaan Inggris. Termasuk Palestina.

Pada tahun 1917, Inggris dan Prancis membidani lahirnya “Negara” Yahudi yang disahkan dalam perjanjian Balfour. Kedua Negara tersebut memberikan dana dan senjata besar-besaran demi terwujudnya Negara Israel. Palestina, sebagai bagian dari Timur Tengah berada di pusaran konflik kepentingan dan penjajahan Barat. Seiring perubahan situasi politik dunia dengan kemunculan AS sebagai pemain penting, demi mengamankan kepentinganya di Timur Tengah, AS ikut menaruh “saham” atas Negara Israel. Bahkan lebih besar daripada para pendahulunya.

Pada tahun 1947, PBB mengeluarkan resolusi yang membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian. Sebagian besar diserahkan kepada Israel. Selanjutnya Yahudi mendeklarasikan berdirinya “Negara” Israel pada tahun 1948. Sebuah “Negara” yang berdiri dengan pengusiran dan pembantaian terhadap penduduk Palestina. Barat, yang dipimpin oleh AS mengakui dan menjamin dukungan penuh atas Negara Israel. Padahal mereka sangat getol mengkampanyekan HAM.

Ketika Iraq menginvasi Kuwait, AS menjadikan alasan untuk menyerang Iraq, mengakibatkan Negara itu luluh lantak hingga hari ini. Begitu juga saat ini ketika Rusia menyerang Ukraina, AS dan Negara-negara Barat langsung mengambil tindakan, bukan sekedar kecaman. Mulai dari Embargo terhadap Rusia hingga dukungan persenjataan untuk Ukraina. Tapi, mengapa hal demikian tidak pernah terjadi atas Palestina? Padahal kekejian Israel telanjang dipertontonkan pada dunia. AS justru secara terbuka tanpa malu menunjukkan keberpihakannya pada Israel. Apa yang menyebabkan sikap ganda ini?

Di satu sisi, penguasa – penguasa Timur Tengah tampak mesra berhubungan dengan AS. Padahal nyata-nyata AS berada di pihak Israel yang membantai saudara-saudara mereka di Palestina. Penguasa – penguasa timur tengah yang memiliki kekayaan minyak dan kekuatan militer seolah tak mampu menghentikan kekejaman Israel, sebuah Negara kecil yang baru berdiri.

Jika dikaji secara jernih dan mendalam, konflik yang terjadi di Palestina (sebagai bagian dari Timur Tengah), tidak lepas dari sejarah panjang upaya Barat untuk meruntuhkan Daulah Khilafah, sebagai representasi ideologi Islam.  Masalah Timur Tengah memrupakan masalah yang terkait dengan Islam dan bahayanya bagi Barat. Letaknya yang stratetis dengan kekayaan alam yang melimpah, terutama minyak telah membangkitkan kerakusan AS dan Barat. Negara Yahudi, sengaja ditanam untuk menimbulkan ketidakstabilan di kawasan tersebut, sehingga Timur Tengah selalu berada dalam permainan dan kendali Negara-negara Barat.

Dalam Alquran surat Ali Imran ayat 118, Allah SWT berfirman :

“Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.”

Solusi Hakiki untuk Palestina

Menilik akar masalah konflik Palestina, bahwa bukan sekedar perebutan tempat suci, akan tetapi adanya penjajahan dan kepentingan Barat atas Islam dan Timur Tengah seacara umum, solusi hakiki untuk Palestina adalah mewujudkan adanya kekuatan yang mampu menyaingi dan menghentikam hegemoni Barat.

Umat Islam tidak bisa berharap pada penguasa – penguasa negeri- negeri muslim meski mereka memiliki kekuatan militer dan SDA, karena faktanya, mereka adalah pelayan kepentingan Barat. Tidak punya nyali untuk independen dan membela saudara seiman mereka di Palestina.

Umat juga tidak bisa berharap pada perundingan dan perjanjian – perjanjian damai atau sejuta deklarasi dan kecaman, karena faktanya itu semua hanya berakhir di atas meja dan tidak sedikitpun membuat Israel gentar.

Satu – satunya yang harus umat lakukan adalah mewujudkan kekuatan independen berbasis pada ideology Islam, dengan menjadikan aqidah islam sebagaia asas dan pemersatu, lalu dengannya umat mewujudkan kekuatan dalam bentuk sebuah Negara yang berlandaskan pada syariah Islam, dengannya Jihad diserukan untuk mengusir Israel dari tanah Palestina dan mengakhiri hegemoni Barat di Timur Tengah dan dunia seacara umum. Hegemoni Barat inilah yang telah menciptakan penderitaan di dunia. Dengannya hukum – hukum syariat terhadap non muslim ditegakkan, yang terbukti mencipatakan harmoni selama berabad - abad.

Tidakkah ini adalah kekuatan yang seimbang dan jawaban atas rasa kemanusiaan kita?

Wallahu a’lam bish showab.

*) Pemred Info Muslimah Jember

 

 

 

 

Finalisasi Perdagangan Israel dan UEA, Pengkhianatan Bagi Islam

Finalisasi Perdagangan Israel dan UEA, Pengkhianatan Bagi Islam

 



[Berita dan Komentar]

Finalisasi Perdagangan Israel dan UEA, Pengkhianatan Bagi Islam


Berita:

Kementerian Ekonomi Israel dan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan kedua negara telah memfinalisasi negosiasi kesepakatan perdagangan bebas. Setelah sebelumnya menormalisasi hubungan bilateral pada 2020 lalu.

Pada Jumat (1/4/2022) Kementerian Ekonomi Israel mengatakan dengan perjanjian ini sekitar 95 persen produk yang diperdagangkan akan segera atau secara bertahap bebas bea cukai. Produk-produk yang masuk dalam perjanjian ini antara lain makanan, produk pertanian dan kosmetik hingga peralatan medis dan obat-obatan.

UEA dan Israel menjalin hubungan resmi pada tahun 2020 berdasarkan Perjanjian Abraham yang ditengahi pemerintah mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Bahrain dan Maroko turut menjalin hubungan resmi Israel dengan perjanjian tersebut.


Sumber : Israel dan UEA Finalisasi Perdagangan Bebas


Komentar :

Finalisasi perdagangan bebqs Israel dan UEA, sebagai tindak lanjut dari normalisasi hubungan Israel dan UEA pada tahun 2020 lalu adalah pengkhiantan terhadap Islam dan umat Islam.

Dalam pandangan Islam, mendukung normalisasi adalah haram. Jelas keharaman karena tindakan ini terkategori muwalah (bersikap setia) kepada orang kafir.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman setia (wali, pelindung atau pemimpin)mu; sebagian mereka adalah pelindung (pemimpin) bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman setia (wali, pelindung, atau pemimpin), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah [5] : 51).

Padahal jelas, Israel telah melakukan pembantaian, pengusiran, panjajahan terhadap Palestina dengan dukungan AS dan negara-negara Barat.

Kerjasama Israel dan UEA secara terbuka yang diikuti negara-negara muslim lain, jelah menjadi bukti, bahwa salah satu sebab terbesar, kepongahan Israel terhadap Palestina, dan tak putusnya penderitaan rakyat Palestina adalah karena pengkhianatan penguasa-penguasa muslim.

Hubungan kerjasama Israel dan UEA ini secara tidak langsung menunjukkan persetujuan UEA dan negeri-negeri muslim atas kebrutalan Israel pada penduduk palestina.

Sungguh menyedihkan! Padahal tegas Allah menyatakan bahwa muslim adalah bersaudara dan wajib memberikan pembelaan terhadap saudaranya.

Dalam banyak hadist, Rasulullah saw juga menyatakan bahwa muslim ibarat satu tubuh, muslim adalah bangunan yang kokoh.

Sayangnya, ayat dan hadist-hadist itu tidak berpengaruh dalam jiwa mereka!

Mereka justru mengemis pengakuan AS dan dunia Barat demi apa yang disebut kepentingan nasional. Kerjasama ekonomi yang akan memberi dampak besar. Padahal negeri - negeri mereka adalah negeri - negeri yang Allah karuniai kekayaan alam melimpah. Karena sebab kekayaan itulah mereka menjadi incaran AS dan negara-negara imperialis lain.

Sungguh, mendekat dan berkawan setia dengan negara-negara penjajah tidak akan mendatangkan kemuliaan!

Karena kemuliaan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya dengan menerapkan Islam secara kaffah. Sehingga kaum kafir segan dan tunduk. Dan cahaya Islam memberikan kebaikannya untuk seluruh umat manusia.

وَِللهِِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ ~

Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun [63]: 8).

Saatnya kita meninggalkan ideologi kapitalisme dan berpegang teguh pada Islam!

Allahu a'lam. []


Faiqoh Himmah, Pemred Info Muslimah Jember

 Islam Menyejahterakan Guru

Islam Menyejahterakan Guru



Oleh : Sri Endah Lestari S.Pd

Praktisi pendidikan


#InfoMuslimahJember -- Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan oleh Bupati H. Hemdy dinilai tidak sesuai harapan dan mengecewakan ribuan guru honorer di Kabupaten Jember. Pasalnya, surat yang dianggap berharga yang ditunggu-tunggu para guru tersebut tidak bisa dibuat syarat untuk ikut PPG atau sertifikasi. Seperti yang disampaikan oleh Aktivis PGRI Jatim Ilham Wahyudi, menanggapi kekecewaan para honorer Jember.


"Honorer belum digaji. Bahkan, SK yang diterbitkan Bupati Hendy tidak bisa dijadikan syarat mengikuti sertifikasi," ungkap Ilham saat dikonfirmasi via selulernya,  Menurut Ilham, pengajuan sertifikasi PPG oleh pusat, khusus Kabupeten Jember sudah ditolak permanen oleh sistem. Dengan kejadian tersebut, sebagai aktivis pendidikan pihaknya sangat menyayangkan. "Contoh Lumajang dan kabupaten lain, semua tidak ada masalah. Hanya Jember yang bermasalah," tegas Ilham."Kami merasa terkesan 'tertipu' dan 'diprank' oleh Bupati Jember. Kalau tidak ada solusi, kami akan kembali turun ke jalan," tutupnya (suaraindonesia.co.id, kamis,17/02/2022).


Bagaimana sebenarnya Islam mensolusi tentang gaji guru?

Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang diturunkan Allah kepada Sayyidina Muhammad SAW dari Allah SWT, Dzat yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan, sekaligus Allah lah yang mengatur kehidupan ini berdasarkan wahyu Allah yang tercantum dalam Al Qur’an dan Al Hadits.

Sebagaimana  dalam QS Al Maidah ayat 3 ;

 اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Artinya : Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat Ku bagi kalian, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.

Juga dalam QS Al Baqarah ayat 208

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

 Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Islam adalah agama yang sempurna karena mengatur seluruh aspek kehidupan, baik mengatur : 

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT yaitu meliputi ( ibada: sholat, puasa, zakat, umrah, hajji ),

2. Hubungan manusia dengan diri sendiri  ( meliputi makanan,minuman,pakaian dan akhlaq), 

3. Hubungan manusia dengan manusia ( meliputi sistem ekonomi , sistem pergaulan, sistem peradilan, sistem pemerintahan, sistem pendidikan).

Jadi Islam itu tidak hanya mengatur bagaimana beribadah ( sholat, puasa, zakat, hajji dan umrah ) tetapi mengatur semua aspek kehidupan. Itulah kehebatan sistem Islam  sebagai idiologi yang berlandaskan kepada Al Qur’an dan As-Sunnah, yang mampu mengatur semua kehidupan sekaligus memberikan solusi dari problem apapun, termasuk masalah gaji guru dan pengangkatan guru.


Islam menyejahterakan guru

Pendidikan Islam yang tangguh harus ditopang oleh sistem Islam ekonomi yang tangguh. Karena system ekonomi yang tangguh sebagai penopang pembiayaan pendidikan yang bermutu tinggi yang tentu butuh biaya yang sangat besar. Dalam Islam, memasukkan baitul maal dalam membiayaan pendidikan ada di 2 pos, yaitu ; pertama, pos fai’ dan kharaj dan yang kedua, pos Kepemilikan umum.( minyak, emas, batu bara, nikel, lautan, mutiara batu permata, hutan, dll )

Dengan pengelolaan kepemilikan umum sesuai dengan ekonomi Islam, maka pembiayaan pendidikan yang besar akan mampu untuk dikelola dengan baik, tanpa hutang dan pajak.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, gaji pengajar adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp. 58.130.400,- Di jaman Shalahuddin al Ayyubi gaji guru malah lebih besar lagi. Di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah berkisar antara 11 dinar sampai dengan 40 dinar! Artinya gaji guru bila di kurs dengan nilai saat ini adalah Rp42.729.500,- s.d Rp.155.380.000,- ( Catatan : 1 dinar = 4,25 gram. 1 gram murni 24 karat = Rp.914.000, data 8 Okt 2021)

Madrasah Al Mustanshiriah yang didirikan Khalifah Al Mustanshir ( Bani Abbasiyah 1226-1242 ) di kota Baghdad. Pada sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit dan pemandian.

Madrasah Al-Nuriyah di Damaskus yang didirikan pada abad ke enam hijriyah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky(1118-1174). Di sekolah ini terdapat fasilitas lain , seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Inilah ketangguhan sistem Islam yang mampu memuliakan dan menyejahterakan guru. Dan pada faktanya sistem islam  ini sudah terbukti 1300 tahun lamanya, menjadi sistem terbaik sepanjang sejarah peradapan manusia. 

Allahu ‘alam bish – shawab

Kekerasan Seksual Pada Perempuan : Adakah Solusi Yang Bisa Dilakukan?

Kekerasan Seksual Pada Perempuan : Adakah Solusi Yang Bisa Dilakukan?

 


Jember, Sabtu (19/02/22) Para mahasiswa muslimah dari berbagai kampus dan komunitas berkumpul dalam acara e-Talk ‘Millenials back to Islam : Stop Sexual Violence’ yang diselenggarakan oleh Back to Muslim Identity melalui via zoom meet dan WA grup. Acara ini berjalan dengan lancar ditandai oleh antusias dari para mahasiswa muslimah dalam forum yang ikut ramai mengungkapkan berbagai fakta terkait kekejian kekerasaan seksual hari ini, serta antusiasnya para mahasiswa muslimah menghidupkan sesi tanya jawab dengan bertanya dan sharing.


Acara ini dipandu langsung oleh Kak Nuning beserta rekannya yaitu Kak Vivi sebagai host, sekaligus bersama 2 pemateri yang hebat, Kak Hida (Co.BMIC Jember) dan Kak Ayu Fitri (Part of BMIC Jember). Acara diawali dengan hidangan nobar yaitu review film ‘Penyalin Cahaya’, kemudian dilanjut pula dengan cemilan manis special yaitu live suara emas Kak Ratih membawakan lagu ‘Muslimah Berdaya’. Baru setelah itu acara dibuka oleh Kak Nuning sebagai host, menyapa, memberikan poling game, dan sebelum memasuki sesi sharing-sharing dengan pemateri, kak nuning mendatangkan Quest Star sebagai pematik sekaligus sebagai saksi hidup langsung terkait pergaulan mahasiswa di kampus dan di daerah sekitar yang ditemui oleh aktivis mahasiswa yaitu dibersamai oleh Kak Lily (Aktivis UNMUH) dan Teh Enung (Founder Muslimah Youth Club) sebagai Quest Star asal negeri metropolitan. Dari hasil sharing-sharing bersama 2 quest star ini, ternyata kekerasan seksual serta pelecehan seksual itu terjadi dimana mana dan beragam macamnya, bahkan di tempat kecil/gang, begitupun di kota besar/kota jauh, entah itu pelecehan yang verbal atau tidak, entah itu masalah psikis atau paksaan berlabel ‘pacaran’, dan ternyata semua bentuk bentuk pelecehan dan kekerasan seksual yang ada semuanya bersifat ‘terencana’. Miris..


Mengawali sesi sharing bersama pemateri, kak nuning membuka dengan pertanyaan yang di lontarkan kepada kak ayu fitri dan kak hida. “Kenapa kekerasan seksual itu sangat erat dengan perempuan?”.


Kak ayu menjelaskan, perempuan memang rentan menjadi korban karena perempuan adalah makhluk yang istimewa, bahkan sangking istimewanya Allah mengibaratkan wanita itu layaknya perhiasan yang pastinya menarik. Pun melihat dari fakta yang ada, wanita adalah satu hal yang menarik, dari ujung kepada sampai kaki semuanya sangat menarik untuk dipandang apalagi bagi kaum adam. Maka dari itu sangat interes dengan kekerasan seksual entah itu dalam segi privat atau tidak.


Dilanjut dengan penjelasan kak hida, kebanyakan kecenderungan laki-laki melihat perempuan adalah dengan pandangan seksual. Hal ini bisa kita liat dari pengaruh tontonan yang dilihat, misal yang ia lihat film tentang guru yang berpacaran dengan murid maka hal itu akan membuat laki-laki juga memandang guru yang seharusnya adalah guru yang harus dihormati berganti dengan pandangan seperti yang ia tonton sebelumnya. Kita diarahkan untuk berpandangan tidak jauh-jauh dari seksual, dan ternyata hal ini adalah pandangan yang dibuat oleh orang-orang barat yang mana seksual bagi mereka adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti contohnya di Swiis, anak-anak perempuan yang umurnya 16 tahun ketika ia masih ‘virgin’ dianggap suatu hal tabu, padahal hal seperti itu bagi kita malah sebaliknya itu adalah aib dan hal tabu, tapi bagi mereka itu adalah suatu hal yang normal jika umur 16 tahun mereka sudah tidak virgin. Yaitu karena mereka menggangap bahwa seksual itu adalah kebutuhan. Dan pandangan barat itu sangat berefek besar bagi masyarakat, akhirnya terjadi kerusakan dimana-mana, bapak yang melampiaskan hasrat seksualnya kepada anakanya, pacarnya, anak kecil, siapapun yang ia temui bahkan sampai hewan pun jadi. Miris.


Kak hida menegaskan bahwa seksual sebenarnya bukan kebutuhan yang harus dipenuhi, karena kalau tidak dipenuhi tidak akan mati, mungkin hanya gelisah. Namun berbeda dengan makan, minum, tidur itu baru kebutuhan jasmani yang ketika tidak dipenuhi maka akan mati.


Lalu dikunci oleh kak nuning, maka tidak heran kekerasan seksual mencuat dimana-mana karena masyarakat berpandangan bahwa seksual merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi dengan siapapun.


Lalu bagaimana islam memandang, apakah laki-laki dengan perempuan berkaitan pula dengan seksualitas seperti pandangan barat?


Kak ayu menuturkan, bahwa sebenarnya memang laki-laki maupun perempuan itu secara fitroh memili naluri ketertaikan dan itu hal wajar. Yang tidak wajar adalah langsung mengfollow up atau langsung di penuhi dengan orangnya, dengan cara apa pemuasannya, dengan siapapun. Dan sebenarnya dalam islam telah tertera aturan yang lengkap sehingga mampu menumpaskan pemenuhan-pemenuhan yang salah dalam seksual. Karena kalau kita lihat orang-orang barat itu sebenarnya mereka memenuhi kebutuhan hasrat mereka tujuannya hanya untuk mendapatkan kelezatan dan kenikmatan semata, maka tidak akan menjadi masalah bagi mereka jika dampakknya hamil, aborsi karena kembali lagi tujuan mereka adalah bukan untuk memiliki anak atau membuat ikatan, hanya sekedar pemenuhan nafsu dan kenikmatan. Sedangkan dalam pandangan islam, Allah menciptakan naluri seksual punya tujuan utama yaitu melestarikan keturunan untuk produksi manusia, kemudian diatur pula cara pemenuhannya yang benar sekaligus mulia yaitu dengan pernikahan, yang akhirnya terjaga hasrat seksualnya dan tidak ada korban kekerasan seksual karena sudah terpenuhi. Dan dalam islam media akan dibatasi dan diatur, tayangan, buku-buku, dan lain lain yang berbau seksual tidak akan ada sehingga akan terjaga secara total, segala faktor-faktor internal maupun eksternal.


Ditekankan kembali oleh kak nuning dari apa yang telah disampaikan oleh 2 pemateri, bahwa artinya yang perlu dirubah di dalam diri masyarakat adalah dari paradigmanya atau pandangannya terkait seks itu sendiri, yang mana seks itu bukanlah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau menurut islam hal itu dipenuhi dengan pernikahan.


“Setelah yang dijelaskan oleh kak hida dan kak ayu tentang kekerasan seksual, ada pertanyaan nih, mengingat kalau orang-orang dulu itu kan ranahnya memang pernikahan, bukan pacaran. Bahkan ketemu laki-laki dan perempuan itu malu-malu, pacaran aja tidak boleh. Sedangkan jaman sekarang pacaran adalah hal wajar. Kenapa jaman dulu itu tidak sebebas hari ini? yang mana melampiaskan seksual itu bukan ke dalam ranah pernikahan malah kepada hal-hal lain, nah ini kenapa?” Tanya kak nuning


Sebelumnya kak hida megeaskan bahwa pernikahan itu bukan hanya berbicara seksualitas saja. Bukan hanya untuk pemenuhan seksual saja. Pernikahan itu sesuatu yang serius dan bukan main-main, banyak hal yang harus dipersiapkan, banyak yang harus dipelajari. Seperti yang Rasulullah katakan “wahai orang muda menikahlah ketika kau sudah siap, kalau belum siap maka berpuasalah”. Yaitu pasanya dengan menjauhkan diri dari rangsangan-rangsangan yang mengarahkan pada seksual, mengalihkan ke aktivitas-aktivitas yang bermanfaatkan yang bisa mengalihkan dari semua itu. Maka ketika kita belum bisa memenuhi cinta itu alihkan dahulu cintanya kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah.


Kak nuning menegaskan bahwa memang pandangan baratlah yang membuat kekerasan seksual ini marak terjadi. Dari pandangan ini akhirnya masyarakat seenaknnya melampiaskan hastrat seksualnya. Dan mereka juga tidak memahami arti dari penikahan yang sebenarnya, mereka hanya menggangap bahwa pernikahan hanya sekedar pemenuhan seksual, akhirnya mereka punya anggapan juga bahwa tidak perlu menikah untuk bisa memuaskan hasrat seks. Dan dari pandangan barat itu lahirlah banyak masalah antara perempuan dan laki-laki, tak hanya seksual, tapi banding tinggi, kesataraan, wanita di nomer duakan dll.


Lalu, Apakah dalam sudut pandangan islam laki-laki dan perempuan juga punya masalah antar keduanya?


Kak ayu menyampaikan, bahwa sebenarnya ketika kita mengambil solusi islam, dan mengaca pada sahabiyah-sahabiyah dahulu maka inayAllah tidak akan ada masalah karena dari pandangan baratlah yang membuat para perempuan memilki banyak masalah, dan memang pemahaman-pemahaman barat itu disasarkan kepada peremuan-perempuan muslim yang akhirnya salah menfsifkan aturan yang bukan dari islam.


“Didalam islam laki-laki dan perempuan itu sama kedudukannya. Tidak ada yang unggul satu dengan yang lain. Mereka punya potensi yang sama, punya kesempatan yang sama untuk menempati posisi terbaik disisi Allah. Terlepas bahwa memang sangat jelas perbedaan diantara keduanya secara fisik, biologis, fitroh itu adalah ciri khas mereka masing-masing, malah ketika dipaksa sama itu adalah bentuk ketidakadilan. Dan justru adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan ini adalah dalam rangka untuk berkolaborasi, saling melengkapi, saling menolong, dan melahirkan berbagai kebaikan dan kemaslahan untuk kehidupan ini..” Tutur kak ayu.


Kak nuning mengunci, bahwa adanya tuntutan setara, untuk bebas, kemudian perempuan sama dengan laki-laki yang mana itu menjadi celah timbulnya kekerasan seksual ini bermula dari pandangan barat, yang justru dari pandangan barat itu perempuan makin banyak masalah, makin terkekang, makin terhinakan. Namun islam yang justru menjadikan perempuan bisa berkontribusi dengan baik, posisinya dimuliakan, dan pun juga punya potensi dan daya pikir yang sama seperti laki-laki.


Dilanjut dengan sesi Tanya jawab yang sangat meriah. Kemudian sesi sharing narasumber ditutup dengan closing statement dari kak ayu dan kak hida.


“Untuk benar-benar menstop kekerasan seksual, pelecehan seksual memang sangat dibutuhkan solusi yang kompleks mulai dari perubahan cara pandang seksual dan perempuan itu sendiri, dan bagaimana menerapkan system pergaulan dalam islam. Dan ini tidak bisa dipahami hanya sekali dua kali, tapi terus berdiskusi bersama kami BMIC sama-sama mengkaji mencari solusi dan akar masalah..” Closing kak ayu


“Ternyata pandangan barat itu tidak seindah yang kita bayangkan, yang kita liat di media-media, bahkan malah merusak, dan membuat masalah yang komperhensif, jadi sudahlah ya kita tak perlu berkutit kutit lagi dengan pemahaman barat itu. Nah..ntuk bisa mendalami lebih jelas bahwa pandangan barat yang salah bisa baca buku.’kritik terhadap pemikiran barat kapitalis’..”Closing kak hida


Beralih ke sesi reviewers buku #YukGaulSyar’I oleh Kak Aisyah QK (Founder dari Ideo Media) dan Kak Dina Amalia (Aktivis mahasiwa, Jurusan Kedokteran). Kemudian sesi reviewers diakhiri dengan closing statement kak aisyah dan kak dina.


“Tidak ada solusi yang pas kecuali solusi islam. Jadi kita harus back to islam..”Closing Kak Dina.


“Bagaimana kita bisa bertahan berperan dengan segala hal dan ujian, itu dari bagaimana kita belajar, karena dengan belajar kita bisa membentuk menset yang benar, dengan kita punya menset yang benar akhirnya keadaan apapun ujian apapun godaan apapun didunia ini, kita akan tetap  bisa bertahan dan kokoh. Ketika kita punya pondasi yang kuat, menset yang benar yaitu ilmu islam. Dan ini tidak cukup mengaji sekali tapi perlu mekanjutkan kelas kelas intesif, atau kajian kajian intesif selanjutnya..”  Closing Kak Aisyah QK


Dan acara pun berakhir, ditutup dengan persembahan monolog oleh Kak Syarifah masih tentang kekerasan seksual yang terjadi hari ini. acara pun selesai, ditutup doa dan salam oleh Kak Nuning selaku host.

Menggali Akar Kekerasan Seksual di Kampus!

Menggali Akar Kekerasan Seksual di Kampus!



Oleh : Fadiya Hayya

(Aktivis Mahasiswi Jember)


#InfoMuslimahJember -- Jember, Sabtu (22/01/2022) Telah terselenggarakan Focus Group Discussion oleh Back to Muslim Identity Community Jember. Berbeda dari acara sebelum-sebelumnya, kali ini acara digelar dengan spesial yaitu secara offline bertempat di Warkop Cabang Jember dan juga via online melalui zoom meet. Tak hanya acara diskusi offlinenya saja yang membuat berbeda, tapi acara Fokus Group Discussion kali ini dihadiri oleh para aktivis dari berbagai lembaga yang luar biasa, diantaranya  berasal dari BEM  Polije, kemudian dari UPM Millenium UIN KHAS Jember, IMSAC FK UNEJ, UKPK UIN KHAS Jember, BEM UM Jember, BEM FAI UNMUH, Kohati cabang Jember, HMI komisariat Sunan Ampel,, IMM Komisariat Akademos, PNE dan BEM UNMUH.


Dengan mengangkat tema '(masih)  Menggali Akar Kekerasan seksual di Kampus!', diskusi diawali dengan membeberkan fakta-fakta kasus kekerasan seksual di Kampus yang semakin marak dan mengkhawatirkan. "Saat ini bisa jadi mereka yang jadi korban, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kita adalah korban-korban selanjutnya. Karenanya menjadi penting, untuk kita menggali lebih dalam lagi, 'apa sebenarnya akar masalah kekerasan seksual?," tutur Kak Hida sebagai pemantik diskusi, sekaligus koordinator BMIC Jember.


Dipandu langsung oleh Kak Nuning sebagai Host, acara FGD dilanjutkan dengan sesi diskusi yaitu sesi speak-up kepada para aktivis mahasiswi per-lembaganya untuk memberikan tanggapan masing-masing, mengenai apa penyebabnya, solusi dan langkah riil yang aka diambil melihat maraknya kasus kekerasan seksual. Diskusi berjalan dengan lancar, bisa dilihat dari para aktivis yang sangat antusias dalam menyampaikan tanggapan, dan pemikiran mereka terkait kekerasan seksual.


Dengan segala argumen, tanggapan, yang telah di sampaikan oleh para aktivis, Kak Hida sebagai Pemantik sekaligus penyelenggara acara FGD, menyimpulkan sekaligus menarik ke dalam pembahasan dengan pernyataan “Membahas tentang kekerasan seksual ternyata komoleks, sangat kompleks bahkan. Tidak simple yang kita pikirkan hanya dengan membuat regulasi. Nyatanya banyak regulasi sudah dibuat, kekerasan terus meningkat. Karenanya butuh kita unyuk menelisik lebih dalam."


Kak Hida menuturkan bahwa, memang dari dulu hingga saat ini ada berbagai macam regulasi dan solusi yang banyak, dari mulai Undang-Undang tentang PKDRT, tentang perlindungan anak, tentang perkawinan, tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, bahkan yang terbaru PERMENDIKBUD no. 30 tahun 2021, dan RUU TPKS yang saat ini menjadi RUU inisiatif DPR. Tak hanya regulasi, gerakan penanganan kasus kekerasan seksual juga banyak, sebut saja  SATGAS Kekerasan seksual, dan LBH APIK Indonesia yang sangat luar biasa dalam mendampingi penyitasl. “Tapi aneh nggak sih, dengan banyaknya regulasi dan solusi yang ada tapi kenapa kekerasan seksual malah makin meningkat? Sepertinya sudah banyak yang kita lakukan tapi kenapa angka kekerasan seksual tak kunjung turun?” Heran Kak Hida. 


Kak Hida menjelaskan bahwa, realita sistem hukum di Indonesia saat ini adalah tajam ke bawah dan tumpul ke atas lah masalahnya. Banyak fakta dari pelaku kasus kekerasan seksual yang berakhir dicabut dari ranah hukum hanya karena ‘dia punya uang’ ‘dia orang tinggi’. Hukum dibeli dengan uang dan hukum tak berlaku untuk orang ‘tinggi’. Bahkan sempat muncul hastag #PercumaLaporPolisi, karena memang banyaknya fakta warga yang melapor kepada polisi terkait kekerasan seksual tapi malah tidak di proses bahkan sampai di suruh mencari pelakunya sendiri. Miris!


“Yang katanya hukum itu untuk semua, dimana ?? sepertinya sebanyak apapun regulasi tak akan bisa menyelesaikan masalah ini, kalau pada akhirnya hukum bisa dibeli dengan uang..Percuma kita ngomongin regulasi sampai berbusa-busa kalau sistem hukum kita hari ini seperti ini. Benar kita butuh Regulasi, LBH, SATGAS, saya katakan butuh.. tapi kalau sistem hukum kita hari ini tidak beres dan masih bermasalah maka percuma tidak sih? Karenanyavtidak cukup hanya mengubah regulasi, tapi kita juga butuh mengubah sistem hukum kita” Tungkas Kak Hida.


Kak Hida juga menuturkan bahwa, sering kali kita berpikirnya adalah ‘ketika kekerasan seksual sudah terjadi apa yang harus kita lakukan’, tapi kita sering tidak berpikir tentang ‘kenapa ya itu bisa terjadi, kenapa pelaku kekerasan seksual melakukan itu, bagaimana cara mencegahannya’. Padahal yang perlu kita cari juga adalah ‘kenapa pelaku bisa melakukan itu, apa motifnya?’. "Ini hal yang sangat penting, agar kita gak cuma sibuk cuci piring, tapi juga tau kenapa piringnya kotor. Agar LBH apik gak lagi kebanjiran kasus kekerasan seksual, gimana cara mencegahnga? Ini PR berpikir kita," tutur Kak Hida.


“Jika mau kita telaah mendalam, para pelaku kekerasan seksual sering kali melakukan aksinya saat mabuk, habis nonton film porno, jd lihat yg tertutup pandangannya tetap sja bersyahwat, atau memang lihat yang seksi-seksi karena secara manusiawi jika lihat yang seksi pasti mode on dah, juga biasanya karena ada dalam  hubungan pacaran, marak sekali sekarang kasua kekerasan seksual yang pelakunya adalah pacar, seperti kasus novia. Tapi anehnya, apakah semua pintu-pintu ini ditutup? Miras dilarang di negeri ini? Film porno diberantas? TIDAK! justru dilegalkan dan diberi ruang. Inilah akarnya, kita hari ini hidup dalam sistem LIBERAL, serba bebas tanpa aturan agama. .”Jelas Kak Hida.




Lalu Apa Solusi yang tuntas yang dapat memberantas problem kekerasan seksual saat ini?


Kak Hida menyampaikan, Bahwa kita butuh solusi yang mengakar, tidak cukup hanya sekedar regulasi tapi butuh solusi yang mengakar. Pembahasan kekerasan seksual ininharus dari hulu hingga hilir, tak cukup di hilir saja. Karena masalah kekerasan seksual ini masalah yang mengakar dari segala sisi, dari segala aspek.


Maka disini ada 4 (empat) solusi dari Islam yang akan menuntaskan masalah kekerasan seksual sampai akarnya. Pertama, adalah sistem pendidikan, yang mana di dalamnya akan dicetak generasi menjadi insan yang beriman dan bertaqwa, yaitu dengan berkurikulum beraqidah islam, bernafsiyah islam.  Kedua, adalah  media, sebagai pengedukasi dan membebaskan dari unsur pornografi. Islam akan menfilter apa saja yang berbau pornografi dan hal-hal yang tak layak diakses. 


Ketiga, adalah sistem sosial, Islam  akan mejaga laki-laki dan perempuan dengan cara mambatasi pergaulan diantara keduanya, kemudian mensyariatkan menutup aurat demi menjaga dirinya, memerintahkan untuk menundukan pandangan dengan lawan jenis, tidak ikhtilat dan khalwat. Keempat, adalah sistem hukum, yakni hukum dalam Islam bersifat adil, tidak pandangan bulu, dan memberi efek jera kepada pelaku.


Kak Hida menuturkan, setelah dijelaskan terkait solusi sistem islam, bisa kita lihat bahwa tak mungkin kita bisa menegakkan sendiri, kerena itu adalah peran Negara, lalu bagaimana langkah kita?


BMIC Jember, melakukan 4 (Empat) hal. Pertama, terus melakukan Pressure Group, meminta negara untuk menutup segala pintu yang memunculkan aksi kekerasan seksual, dan menggantinya dengan sistem Islam. Kedua, adalah melakukan dialog dan diskusi bersama para aktivis san intelektual untuk menggali lebih dalam akar masalah serta mengkaji soalusi tuntasnya. Ketiga, melakukan kampanye “Yuk Gaul Syar’I”, sebagai upaya untuk mengopinikan sistem pergaulan dalam Islam, dan keempat, melakukan pencerdaskan masyarakat melalui ‘Sekolah Muslimah Ideologis’.


Kemudian acara ditutup dengan pembacaan Pernyataan sikap yang dibacakan oleh Kak Nuning . Berikut pernyataan sikap aktivis Jember: 


1. Mengecam keras dan tidak mentolerir segala kekerasan seksual yang terjadi di kampus

2. Bersinergi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi kasus kekerasan seksual yang ada di kampus

3. Melakukan dialog dan diskusi dengan para intelektual  untuk menggali akar masalah kekerasan seksual yang ada di kampus

4. 4. Kasus kekerasan seksualtidak cukup hanya disolusi dengan regulasi tapi juga harus diselesaikan mulai dari hulu (akar)

5. Melakukan pengkajian Islam sebagai solusi kehidupan dalam rangka menuntaskan kekerasan seksual



Dunia Tanpa Kekerasan Seksual. Mungkinkah Terwujud??

Dunia Tanpa Kekerasan Seksual. Mungkinkah Terwujud??



Oleh. Usi Safitri


#InfoMuslimahJember -- Jember, Minggu(21/11/2021) aktivis mahasiswa muslimah dari berbagai kampus di Jember berkumpul dalam diskusi Kelas Politik Aktivis yang digelar secara online melalui Zoom meet dan WA grup. Acara ini berjalan dengan lancar ditandai dengan antusiasme para Agent of Change, mengikuti jalannya acara dan hidupnya sesi tanya jawab. Kelas Politik Aktivis kali ini mengangkat tema 16 Hari Tanpa Kekerasan Seksual yang diperingati setiap bulan November. Judul yang diangkat adalah “Dunia Tanpa Kekerasan Seksual Antara Cita Dan Realita?” bersama kak Vivi sebagai host, dan kak Nuning sebagai keynote speaker.


Fenomena kekerasan seksual yang akhir-akhir ini banyak menjadi pemberitaan di media, terlebih adanya opini-opini yang berkembang serta lahirnya undang-undang untuk mensolusi kekerasan seksual, nyatanya tak mampu mensolusi permasalahan kekerasan seksual, yang ada kasus kekerasan seksual makin meningkat, hal ini sesuai dengan data yang pemateri paparkan dan sampaikan bahwa fenomena kekerasan seksual ibarat gunung es, artinya data yang ada belum mencatat semuanya, dan nyatanya masih banyak kasus yang tidak terungkap.


Lalu Apa Yang Menyebabkan Permasalahan Kekerasan Seksual Tak Kunjung Tersolusi?


Kak Nuning menyampaikan bahwa dari banyaknya upaya yang dilakukan pemerintah mensolusi permasalahan kekerasan seksual, seperti RUUPKS (Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) dan yang terbaru Permendikbud yang harapannya dapat mensolusi permasalahan kekerasan seksual. Tapi faktanya dari banyaknya regulasi yang ada, belum mampu menghentikan atau menghilangkan kekerasan seksual yang ada secara signifikan. 


Lalu Benarkah Kekerasan Seksual Terjadi Akibat Ketimpangan Gender?


Para aktivis Feminis tentunya sepakat bahwa kekerasan seksual diakibatkan karena adanya ketimpangan gender atau relasi gender yang tidak setara, yang artinya baik perempuan atau laki-laki berpotensi menjadi korban atau pelaku, meski kenyataannya perempuan menjadi kelompok paling rentan. Hal ini diakibatkan karena masih adanya budaya patriarki yang telah mengakar di tengah masyarakat. Sehingga menyebabkan perempuan dipandang memiliki posisi yang rendah, dan hal inilah yang menyebabkan perempuan sangat rentan terhadap kekerasan seksual. Pandangan bahwa kekerasan kekerasan terkait gender adalah pandangan yang sangat keliru. Ini adalah pandangan kaum feminis yang mengukur kejahatan berdasarkan gender, baik pelaku maupun korban.


Jika bukan karena ketimpangan gender, lalu apa yang menyebabkan adanya kekerasan Seksual?


Jika kita telisik lagi nyatanya bukan semata-mata karena adanya ketimpangan gender, akan tetapi hal ini disebabkan karena lemahnya perlindungan dan sistem hukum atau regulasi untuk melindungi korban kekerasan seksual, Ditambah adanya budaya hidup liberal, dimana tatanan kehidupan kita dibebaskan untuk melakukan apa saja, tanpa mengikuti aturan yang ada di masyarakat maupun aturan agama, setiap manusia mengatur dirinya sesuai dengan aturan yang dibuatnya sehingga wajar akan banyak orang-orang yang melakukan kekerasan seksual dan pelecehan seksual, ini mencerminkan bahwa gagalnya bangunan sosial politik saat ini yang didasari ideologi kapitalisme, serta rapuhnya tatanan moral masyarakat yang ada, akibat tidak adanya standar baku yang mengatur tingkah laku manusia. 


Tatanan Kehidupan Tanpa Kekerasan Seksual dan Pelecehan Seksual, Adakah?


Tentunya saat ini kita sangat menginginkan kehidupan tanpa adanya kekerasan seksual, dimana perempuan benar-benar dimuliakan, bukan hanya perempuan yang merasa aman pun juga laki-laki, dan kehidupannya yang dipenuhi dengan suasana keimanan, ketika memang ada kasus kekerasan seksual, hukum tak lagi pandang bulu. Maka dari itu kita butuh regulasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, akan tetapi sistem hukumnya harus dibenahi terlebih dahulu. Dan sistem regulasi yang kita i satu-satunya harapan perempuan bahkan manusia untuk menyelesaikan kekerasan terhadap perempuan sebenarnya pernah ada, sistem tersebut adalah sistem Islam yang benar-benar akan menjaga keamanan rakyatnya entah itu laki-laki maupun perempuan.


Renovasi Glantangan Golf Jember, Demi Kepentingan Siapa?

Renovasi Glantangan Golf Jember, Demi Kepentingan Siapa?

 



Oleh: Laily Ch. S.E (Pemerhati Sosial Ekonomi)

 

Cukup fantastis! Anggaran dana yang rencananya akan digelontorkan oleh pemerintah Kabupaten Jember dalam rangka perbaikan sarana dan prasarana padang golf satu-satunya yang dimiliki kota tembakau ini. Anggaran sebesar 5 milyar rupiah diajukan dalam Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Jember tahun 2022.

Tentu saja rencana ini mendapat sorotan dari berbagai pihak. Sebab, kebijakan tersebut dinilai lebih berpihak pada kepentingan elit tertentu daripada warga Jember secara umum. Jamak diketahui bahwa olahraga golf merupakan olahraga yang umumnya hanya dimainkan oleh orang-orang berduit saja. Pandangan minor oleh publik juga dilatari dengan membandingkan anggaran golf yang lebih besar daripada dana penanganan kematian ibu hamil dan anak di Jember yang hanya sebesar Rp 3,1 miliar.

Disisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember yang dirilis di awal tahun 2021, secara absolut menunjukkan jumlah penduduk miskin di kabupaten ini pada tahun 2019 sebanyak 226,57 ribu jiwa dan tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi 247,99 ribu jiwa. Sementara untuk Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Jember pada 2020 mengalami kenaikan 0,20 poin menjadi 1,42 dibanding tahun 2019 yang sebesar 1,22. Sedangkan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami kenaikan yakni sebesar 0,07 poin atau naik 0,31 pada tahun 2020.

Kenaikan kedua indeks yakni P1 dan P2 memberikan indikasi bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di Jember cenderung menjauhi garis kemiskinan. Potret ini menunjukkan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin juga semakin melebar. "Artinya memang ada pergeseran penduduk yang dulu 'muntup-muntup' di atas garis kemiskinan sedikit, ketika garis kemiskinan naik, akhirnya mereka termasuk penduduk miskin," kata Emil Wahyudiono, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Jember.

Sebelumnya, BPS Jember juga telah mengeluarkan rilis tentang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jember tahun 2020. Data BPS menyebut juga pandemi Covid-19 berdampak terhadap 170.000 angkatan usia kerja terdampak, antara lain 14,56 ribu orang harus menganggur akibat pandemi. (Surya.co.id, 5/1/2021)

Derasnya arus kritik warga pun membuat goyah DPRD. Parlemen yang mulanya setuju saat membahas KUA PPAS Rancangan APBD 2022 dalam rapat tertutup dengan Tim Anggaran Pemkab Jember pada tanggal 3 November 2021 lalu, kemudian mulai muncul benih-benih kecenderungan ingin menolak.

Fraksi PKB melontarkan kritik besaran anggaran golf tatkala Sidang Paripurna untuk penyampaian pandangan umum Fraksi tanggal 9 Nopember 2021. Disusul kemudian oleh Fraksi Pandekar (gabungan Partai Demokrat, PAN, dan Partai Golkar) yang merasa heran dengan ancang-ancang pengucuran dana bernilai miliaran rupiah hanya demi golf. PKB menyarankan agar rencana itu tidak dilakukan dengan dua pertimbangan yakni situasi pandemi dan status kepemilikan lahan.

Dalam situasi pandemi, menurut PKB, anggaran sebaiknya dialokasikan untuk sektor usaha mikro kecil menengah. Kedua, status kepemilikan tanah Padang Golf Glantangan harus diperjelas. “Apakah itu milik Pemkab Jember atau PTP Nusantara XII,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi.

Berbeda hal nya dengan Kamil Gunawan, tokoh Persatuan Pegolf Senior Indonesia (Perpesi), menyatakan dukungannya terhadap alokasi anggaran Rp 5 miliar tersebut. Kamil menegaskan, Lapangan Golf Glantangan bakal memiliki dampak ekonomi bagus bagi Jember. “Kalau ada turnamen, banyak pegolf datang dan hotel di Jember laku. Alhamdulillah bupati memikirkan lapangan golf di Jember. Ini bagian dari pariwisata. Banyak tamu yang datang ke Jember, hotel berjalan, perdagangan berjalan,” katanya. (Berita jatim.co.id, 12/11/2021)

 

Demokrasi Langgengkan Oligarki

Bupati Jember Hendy menyampaikan pidatonya di Gedung DPRD Jember tanggal 10 November 2021 lalu bahwa Pemkab Jember berkewajiban dalam hal penyediaan serta pemeliharaan fasilitas olahraga termasuk golf. Apalagi, hanya Jember yang memiliki lapangan bermain golf dari sekian banyak daerah di kawasan eks Karesidenan Besuki. Sehingga perbaikan fasilitas disebutnya sebagai upaya menjaga sarana yang sudah ada sejak Glantangan Golf didirikan melalui peresmian oleh Gubernur Jawa Timur Muhammad Noer pada tanggal 2 Nopember 1975 lampau.

Selain itu, keyakinan Hendy atas gelontoran dana Rp 5 miliar untuk memperbaiki lapangan dan gedung bakal berdampak majemuk. Golf dianggap menjadi media pendongkrak kedatangan wisatawan sekaligus magnet investasi. "Olahraga golf merupakan gaya hidup pengusaha, bos-bos besar. Oleh karenanya, manfaatkanlah golf ini sebagai sarana menarik investasi ke Jember,” papar kepala daerah berlatar belakang mantan PNS yang sekaligus pengusaha itu.

Sebagai informasi, Glantangan Golf dikelola oleh Yayasan Golf. Lembaga ini terakhir kali diketuai oleh mantan Kepala Disperindag Jember Harianto. Namun, yang bersangkutan mengundurkan diri sebelum perhelatan Pilkada Jember tahun 2015 silam. Saat ini Yayasan Golf masih aktif beraktivitas dengan ketua sementara, yakni Hengky Soegiarto Gunawan, seorang pengusaha atau pemilik PT Cement Puger Jaya Raya Sentosa yang mengelola pabrik semen di kawasan tambang kapur Gunung Sadeng, Kecamatan Puger.

Dalam sistem demokrasi, meniscayakan penerapan konsep trias politika yang membagi kekuasaan menjadi tiga yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dalam pelaksanaannya tiga kekuasaan ini adalah ilusi semata sebab mereka bersatu membentuk kekuatan dalam rangka menjaga kepentingan mereka. Para penguasa bergandengan tangan dengan para konglomerat pengusaha untuk melanggengkan ambisi mereka. Oligarki kekuasaan begitu kental terendus pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Begitu pun pada masa pandemi. Jangankan rasa empati yang muncul di benak para penguasa, yang ada mereka memanfaatkan pandemi ini untuk kepentingan mereka.

Pembangunan serta perbaikan sarana dan prasarana fasilitas umum memang dibutuhkan dalam rangka memudahkan akses bagi warga agar mampu menjangkau dan menggunakannya. Namun nampak kurang bijaksana apabila sarana prasarana tersebut harus menguras banyak biaya di saat pandemi COVID-19 ini yang belum sepenuhnya tuntas. Pemerintah kabupaten Jember sebaiknya memprioritaskan program mendesak yang menyangkut hajat hidup orang banyak ketimbang kepentingan segelintir orang.

Fenomena ini menyebabkan masyarakat mayoritas makin tersingkir dalam kegiatan perekonomian nasional. Kekuasaan yang dimiliki para oligarki tersebut berdampak pula pada munculnya intoleransi/ketimpangan ekonomi. Inilah ilusi kehidupan demokrasi. Jargon kesejahteraan rakyat hanyalah janji palsu pada rakyat untuk tetap bertahan dalam sistem ini. Janji palsu ini telah menjadi alat untuk menjaring suara rakyat agar para oligarki untuk terus berkuasa. Sistem demokrasi memang memberikan ruang untuk mengumbar janji kosong demi tercapainya tujuan. Demokrasi bahkan menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan, termasuk menggunakan kekuasaan untuk membela oligarki yang minoritas dan melalaikan nasib mayoritas rakyat. Rakyat hanya dicari suaranya dan dilupakan saat kekuasaan sudah dalam genggaman. Inilah jahatnya demokrasi, karena menjadikan akal manusia sebagai pemutus segala sesuatu. Apakah rakyat masih mau ditipu oleh demokrasi?

 

Islam Adalah Solusi

Islam merupakan sebuah sistem kehidupan terbaik yang landasannya adalah keimanan. Bahwa di balik semua yang ada, ada Zat Yang Maha Mencipta dan Maha Sempurna, dan bahwa setelah kehidupan di dunia ini ada hari hisab dan pembalasan. Dari landasan ini akan lahir aturan-aturan hidup yang mampu memecahkan seluruh persoalan kehidupan dengan penyelesaian yang selaras dan sempurna. Hingga dengannya akan mewujudkan kerahmatan bagi seluruh alam. Oleh sebab itu, jaminan kehidupan yang baik akibat penerapan sistem Islam ini tak hanya berdimensi duniawi saja, tetapi juga berdimensi akhirat. Sebagaimana tersurat dalam doa yang selalu dimintakan setiap orang beriman, “Rabbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.”

Sistem Islam ini tidak tegak di atas kekerasan atau pemaksaan sebagaimana sistem oligarki dan otokrasi, atau tegak di atas kebebasan seperti halnya sistem demokrasi. Sistem Islam tegak di atas kesadaran akan konsekuensi iman, termasuk dalam hal ketaatan pada kepemimpinan seorang imam. Tak heran jika sistem Islam bisa tegak dalam kurun yang sangat panjang. Sekalipun tak dinafikan ada fase kepemimpinan yang menyimpang dari ketetapan Islam. Ini dikarenakan sistem Islam adalah sistem untuk manusia yang meniscayakan ada kesalahan dalam penerapan.

Dalam sistem Islam, negara dan para penguasa berperan penuh sebagai pengurus dan penjaga rakyat. Peran ini dipahami berkonsekuensi berat di hari penghisaban. Setiap penguasa akan terdorong melaksanakan fungsi kepemimpinan secara maksimal. Fungsi kepemimpinan dalam sistem ini di-support sistem aturan yang lengkap dan dipastikan mewujudkan kebaikan. Mulai dari sistem politik Khilafah yang mengglobal, sistem ekonomi dan moneter dinar dirham, sistem keuangan ala baitulmal, sistem sosial berparadigma ta’awun alal birri dan ketakwaan, sistem hukum yang preventif dan menjerakan, serta sistem-sistem lainnya. Sistem seperti inilah yang mestinya diperjuangkan penegakannya. Bukan malah berharap pada sistem yang sudah terbukti kezalimannya atau tetap mempertahankan sistem yang sudah terbukti kerusakannya.

Seruan Word Bank Bisa Akhiri Kemiskinan? Fakta atau Mitos??

Seruan Word Bank Bisa Akhiri Kemiskinan? Fakta atau Mitos??

 



Oleh: Isnani, S.Pd

 

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia atau International Day for the Eradication of Poverty diperingati setiap tanggal 17 Oktober. Tahun ini, PBB menetapkan temanya: Building forward together: ending persistent poverty, respecting all people and our planet. Artinya, membangun kemajuan bersama: mengakhiri kemiskinan akut, menghormati sesama dan planet kita. Masih mengutip publikasi PBB selama tahun 2021, jumlah orang dengan kemiskinan ekstrem diprediksi melonjak menjadi sekitar 143 sampai 163 juta jiwa. Mereka yang menjadi "orang miskin baru" tersebut bergabung dengan 1,3 miliar orang yang sebelumnya sudah hidup dalam kemiskinan multidimensi dan makin parah kondisinya ketika pandemi.

 

Adapun Indonesia data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS-Statistic Indonesia) pada 15 februari 2021, jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019. Memang problem kemiskinan sebelum pandemi atau pada saat pandemi merupakan problem mengakar dan krusial. Apapun yang direkomendasikan oleh lembaga sekaliber dunia yaitu PBB dan Word Bank sampai saat ini tidak bisa mengakhiri problem kemiskinan.

 

Akan halnya di Jember angka kemiskinan dilaporkan meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember yang dirilis di awal tahun 2021, secara absolut, jumlah penduduk miskin di kabupaten ini pada tahun 2019 sebanyak 226,57 ribu jiwa dan tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi 247,99 ribu jiwa. Jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019.

 

Dengan fakta meningkatnya kemiskinan di Jember langkah apa yang dilakukan oleh Bupati Jember? Langkah yang diambil selain dengan pemberian beberapa bantuan yang nantinya akan disalurkan dari pusat, antara lain Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT), bansos rumah tidak layak huni (RTLH), dan bansos sembako, problem kemiskinan juga disolusi dengan pembangunan infrastruktur.

 

Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan, dalam APBD 2021 ini prioritas utama adalah pembangunan infrastruktur namun skema ini merupakan jalan untuk pengentasan kemiskinan yang ada di Kabupaten Jember. "Yang menjadi prioritas tahun ini yaitu infrastruktur jalan dan jembatan. Ini merupakan skema yang dibuat untuk membantu pengentasan kemiskinan," ujarnya saat dikonfirmasi di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu 14 April 2021 (portal jember, 14/4/2021).

 

Bisakah kemiskinan disolusi dengan memberi bantuan sosial berkala dan pembangunan infrastrukutr saja? Jadi teringat rekomendasi Word Bank satu tahun yang lalu saat Indonesia mengalami perhitungan angka kemiskinan turun. Dalam laporan Bank Dunia pada 30 Januari 2020 berjudul Aspiring Indonesia-Expanding the Middle Class, Indonesia dinilai berhasil mengeluarkan masyarakat miskin dari garis kemiskinan sebanyak 45% atau 115 juta orang. Dengan catatan, jika mereka yang baru keluar dari garis kemiskinan tidak mampu menjadi kelas menengah, maka besar kemungkinannya kembali lagi menjadi miskin. Bank Dunia kemudian merekomendasikan Indonesia perlu menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih baik, menyediakan pendidikan berkualitas, juga jaminan kesehatan. Hal ini tentu memerlukan perbaikan lingkungan usaha dan investasi pada infrastruktur.(MuslimahNews.com,Ekonomi 3/2/2020).

 

Dari rekomendasi Bank Dunia itu dapat dilihat bahwa ujung dari rekomendasinya adalah tawaran investasi dan permintaan pembenahan iklim usaha. Artinya untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan memperbanyak proyek swasta lokal maupun asing, dengan logika akan membuka serapan tenaga kerja. Ini adalah rekomendasi  lama yang sudah berjalan puluhan tahun dan terbukti tidak berhasil mengentaskan kemiskinan. Dan dengan solusi yng ditawarkan Word Bank dan langkah yang diambil Bupti Jember dalam mengatasi kemiskinan, sama yaitu pengadaan infrastruktur. Padahal permasalahan kemiskinan bukan hanya karena masalah infrastrukutr saja tapi yang lebih mendasar lagi adalah bagaimana masyarakat secara merata bisa mengakses pemenuhan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) bahkan kebutuhan pelengkap lainnya. Pun juga bukan karena bantuan sosial secara berkala yang itu tidak akan bisa bertahan lama untuk memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan dan mandiri.

 

Begitupun saat ini seruan Bank Dunia dalam artikel Ending Persistent Poverty, Respecting All People and Our Planet (membangun kemajuan bersama: mengakhiri kemiskinan akut, menghormati sesama dan planet kita) tema menyambut Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, hanya janji manis, sebatas slogan. Bank Dunia memiliki strategi utama dan menyerukan ke seluruh dunia dengan mengacu pada Millennium Development Goals. Bentuknya, saling memperhatikan di antara masyarakat. Slogannya, ‘Apa yang sudah Anda lakukan untuk orang-orang di sekitar Anda di masa pandemi ini?. Dan seruan ini sudah bisa dipastikan, tidak menyelesaikan problem utamanya. Karena seruan tersebut sifatnya hanya mengubah perilaku hidup secara individual saja. Sedangkan problem kemiskinan munculnya karena problem sistemik. Problem sistemik muncul karena adanya sistem yang diterapkan saat ini yaitu sistem kapitalis, sistem yang bertumpu dan berpihak pada kapital (pemilik modal). Sistem yang pengaturan berbangsa dan bernegara lahir dari akal pikiran manusia bukan dari wahyu. Sistem yang mempertahankan eksistensi dan penyebaran ke dunia dengan cara penjajahan. Sistem yang menciptakan kesenjangan orang kaya dengan orang miskin. Sistem yang melahirkan ide Hak Asasi Manusia (HAM). Dan atas nama HAM inilah PBB menetapkan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia atau International Day for the Eradication of Poverty diperingati setiap tanggal 17 Oktober.

 

Bisa dibayangkan bila sistem yang menciptakan kemiskinan itu membuat solusi atas kemiskinan yang ditimbulkannya. Terlebih lagi bila kemiskinan itu memang sengaja dijadikan alat penjajahan atas negara-negara jajahannya. Menjerat dengan utang ribawi di lembaga-lembaga internasional semisal Bank Dunia. Sehingga kas negara pengutang terkuras habis untuk membayar cicilan bunga utang dan aset sumber daya alam terampas sebagai kompensasi pembayaran utang. Dampaknya, negara mencari pungutan lain berupa pajak ke rakyat dan memangkas berbagai pelayanan yang sebetulnya merupakan hak rakyat. Selain memberi utang, mengeksplorasi sumber daya alam negara jajahan. Bisa dipastikan solusi yng diambil tidak akan menyentuh akar masalah kemiskinan. Bahkan solusi yang ditawarkan hnya berupa seruan manis berupa slogan-slogan yang akan tetap melanggengkan penjajah di nengara jajahannya yang telah dimiskinkan. Sehingga bisa dikatakan problem kemiskinan tidak bisa diatasi secara tuntas ketika penjajahan masih berlangsung, ketika ide HAM masih menjadi alat kepentingan penjajah, dan ketika ideologi kapitalis masih bercokol ditengah-tengah umat manusia.

 

Di saat yang sama, para penguasa justru kehilangan kemampuan untuk memastikan tiap kepala keluarga memiliki akses terhadap pekerjaan. Negara juga gagal mengatasi kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin. Distribusi harta dan kekayaan ternyata tidak bisa berputar di tengah masyarakat. Harta makin bertumpuk di antara segelintir orang, dan sebagian besar rakyat jatuh pada jurang kemiskinan. Inilah penyebab kemiskinan makin meluas.

 

Oleh karena itu satu-satunya solusi kemiskinan adalah penerapan Islam kafah. Islam kaffah yang diterapkan dalam system pemerintahan islam yakni istem Khilafah dengan sebutan Khalifah bagi pemimpinnya. Dalam Islam harus memastikan fungsi negara sehat, melayani kepentingan rakyat sesuai syarit Islam. Khalifah pelaksana hukum-hukum Islam. Atas hal ini, mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW:

 

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

 

Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” ( HR. al-Bukhari no. 2554, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu).

Dengan adanya Khilfah terdapat banyak bukti kesejahteraan dan kemakmuran yang tercipta secara luas, sehingga dinikmati bukan hanya oleh muslim, tetapi juga non muslim. Strategi utamanya adalah memastikan tiap orang berada pada proses penafkahan yang jelas, sehingga terjamin pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papannya. Standar dalam Islam untuk mengukur kemiskinan itu tetap, tidak berubah, dan tidak berbeda. Miskin adalah ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, karena itulah Islam memerintahkan tiap kepala keluarga untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok itu dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Khilafah membuat berbagai regulasi untuk memastikan tiap kepala keluarga memiliki mata pencarian. Ketika berada pada kondisi kepala keluarga wafat, sakit parah, atau sudah tua, maka Islam memerintahkan kerabat dekatnya yang mampu untuk membantu orang-orang yang berada dalam tanggung jawab penafkahan tadi. Akhirnya problem kemiskinan bisa selesai dengan cepat. Ketika tidak ada kerabat, maka tanggung jawab penafkahan tadi akan beralih ke baitulmal, ke kas negara. Negara tidak membiarkan orang-orang miskin itu menyelesaikan masalahnya sendiri, atau berharap ada orang lain yang membantu. Namun di dalam Islam, justru strategi utamanya adalah negara akan mengambil alih tanggung jawab itu secara ma’ruf. Negara akan melakukan pengaturan kebijakan makro dan mikro ekonomi syariah yang akan memastikan pembagian kepemilikan dan harta berjalan secara lancar di tengah masyarakat. Di sisi lain, negara akan menutup akses bagi negara lain yang ingin menguasai negeri-negeri kaum muslimin.