Kamis, 14 Februari 2019

Jangan Sombong! Yang Gaji Kamu Siapa?


[ SUARA MUSLIMAH ]

// Jangan Sombong! Yang Gaji Kamu Siapa? //
Oleh. Ulfiatul Khomariah
(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Menggemparkan! Sindiran Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara soal gaji masih asyik diperbincangkan oleh netizen dengan cuitan #YangGajiKamuSiapa. Tagar ini mendadak menjadi trending di media sosial, bahkan sempat masuk trending topik dunia. Tercatat setidaknya ada 85.700 cuitan yang menggunakan tagar ini.

Kegaduhan di dunia maya itu bermula dari ucapan Rudiantara di acara Kominfo Next yang berlangsung di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis, 31 Januari 2019. Dalam acara tersebut, Rudiantara meminta pegawainya untuk memilih stiker Pemilu 2019. Ada dua desain stiker yang disediakan. Stiker dengan suara terbanyak akan dipasang di kantor Kominfo.

Pertanyaan voting Rudiantara soal preferensi desain stiker, apakah nomor satu atau nomor dua itu sontak memancing sorak sorai pegawai Kominfo. Setelah dilakukan voting, Rudiantara memutuskan desain yang dipilih ialah yang kedua karena mendapatkan suara terbanyak. Namun, dia lantas memanggil seorang perempuan yang memilih desain nomor dua dan menanyakan alasannya. Alhasil, jawaban perempuan itu menjurus ke pilpres 2019.

Mendengar jawaban perempuan tersebut, Rudiantara nampaknya heran. Sebab, dia menanyakan masalah alasan memilih desain stiker, bukan terkait dengan Pilpres. Sesaat setelah meminta pegawainya itu kembali ke tempat duduk, Rudiantara melanjutkan pertanyaannya di atas panggung yang ditujukan kepada perempuan yang memilih stiker nomor dua tersebut. “Bu, Bu, yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Bukan keyakinan ibu? Ya sudah makasih,” katanya.

Pernyataan Rudiantara ini sontak menjadi perbincangan hangat, bahkan menjadi trending topik dunia. Meskipun sebelumnya Rudiantara sudah menegaskan bahwa pemilihan stiker itu tidak terkait dengan Pilpres. Namun, sikapnya yang demikian sangat syarat dengan kepentingan politik. Bisa kita lihat dari bagaimana penyiapan stiker, mengapa hanya ada dua stiker yang disediakan? Apalagi stiker ini dilabeli dengan angka 1 dan 2, maka wajar bila hal itu dihubungkan dengan capres paslon nomor 1 dan nomor 2.

Sementara tindakan Rudiantara yang menyindir pegawai perempuan itu menuai kontroversi di tengah masyarakat. Pertanyaan “Yang Gaji Kamu Siapa?” sungguh tidak pantas jika dilontarkan oleh seorang pejabat publik kepada rakyat sipil. Sangat bahaya sekali jika seorang pejabat publik membangun perspektif bahwa uang negara yang berasal dari rakyat itu adalah uang penguasa sehingga mengintimidasi pegawainya dengan pertanyaan yang intimidatif.

Seharusnya sebagai pejabat publik mampu bijak dalam bersikap. Terlebih tahun ini merupakan tahun politik, dimana setiap permasalahan pasti dikait-kaitkan dengan politik. Bahkan berbeda pilihan warna saja bisa syarat dengan politik. Jikalaupun Rudiantara ingin bersikap netral, tentu harus berfikir terlebih dahulu mengapa pemilihan stikernya kok hanya ada dua, lalu mengapa harus ada pernyataan “yang gaji kamu siapa?” kepada seorang pegawai yang memilih stiker nomor dua tersebut.

Hal ini menjadi bukti bahwa tidak ada yang netral dalam masalah politik, terlebih rezim saat ini memang sangat terlihat sekali kecenderungannya. Meskipun sudah sering disampaikan kepada masyarakat bahwa lembaga eksekutif harus netral dalam pilpres, tapi faktanya tidak demikian. Ditambah lagi, pertanyaan seorang menteri yang mengungkit masalah siapa yang menggaji selama ini pasti akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri beserta jajarannya.

Sungguh tidak pantas jika pertanyaan “yang gaji kamu siapa” dilontarkan kepada rakyat sipil. Karena ketika pejabat negara dipilih untuk menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyat, disitulah mereka berhak untuk mendapatkan hasil dari kerjanya berupa upah/gaji. Dan sudah pasti yang memberikan mereka upah/gaji bukanlah pemerintah, melainkan negara. Gaji yang selama ini mereka dapatkan sumber pendapatannya dari rakyat, yakni dengan menyedot pajak dari rakyat. Sedangkan pemerintah hanya sebagai fasilitator saja. 

Maka dari itu, sangat tidak pantas jika ada seorang pejabat negara mendiskreditkan bawahannya, menanyakan dengan nada tinggi “yang gaji kamu siapa?”. Sombong! Padahal gaji yang selama ini mereka peroleh asalnya dari rakyat. Ini menjadi bukti bahwa rezim saat ini menjadikan kekuasaan sebagai cara untuk berbuat semena-mena kepada rakyat. Hei para pemegang kekuasaan, jangan sombong! Seharusnya kami yang berhak bertanya, memangnya yang gaji kalian siapa? 

Wallahu a’lam bish-shawwab

Selasa, 12 Februari 2019

Halalkah Hadiah untuk Pejabat?



[KAJIAN FIQH]

Halalkah Hadiah untuk Pejabat?

Hadiah adalah pemberian yang diberikan secara cuma-cuma tanpa imbalan. Hukum asal memberikan hadiah adalah sunah, berdasarkan hadis Nabi ﷺ:

نِعْمَ الشَّيْءِ الْهَدِيَّةَ إِذَا دَخَلَتْ الْبَابَ ضَحِكَتْ اْلأُسْكُفَّةُ

"Sebaik-baik sesuatu adalah hadiah. Jika ia masuk pintu (rumah seseorang), maka yang dia masuki pun pasti tertawa."

===

Namun, kesunnahan tersebut, menurut al-‘Allamah as-Sarakhsi, berlaku jika terkait dengan hak yang tidak ada kaitannya dengan salah satu pekerjaan untuk mengurus kaum Muslim. Namun, jika ada orang yang diangkat untuk menjalankan urusan kaum Muslim, seperti para hakim dan kepala daerah, maka dia harus menolak menerima hadiah, khususnya dari orang yang sebelumnya tidak pernah memberikan hadiah kepadanya. Sebab, itu bisa mempengaruhi keputusan, dan karenanya, hadiah seperti ini merupakan bentuk suap (risywah) dan harta haram (suht).

Dalam hal ini, hadiah yang diberikan kepada pejabat publik merupakan harta yang diberikan oleh pihak yang berkepentingan (shahib al-mashlahah) bukan sebagai imbalan karena urusannya terselesaikan, tetapi karena pejabat publik itulah orang yang secara langsung menyelesaikan urusannya, atau dengan bantuannya urusan tersebut terselesaikan. 

Apakah hadiah tersebut diberikan karena keinginan untuk menyelesaikan urusan tertentu, atau setelah urusan tersebut selesai, atau pada saatnya ketika dibutuhkan. Karena itu, pada konteks inilah, hadiah kepada pejabat publik tersebut statusnya sama dengan suap (risywah).

Keharaman tersebut didasarkan pada hadis:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِسْتَعْمَلَ اِبْنَ اللُّثَيْنَةْ عَلىَ الصَّدَقَاتِ فَجَاءَ بِمَالٍ فَقَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا مِمَّا أُهْدَى إِليَّ فَقاَلَ: صلى الله عليه وسلم فِي خُطْبَتِهِ: مَا بَالُ قَوْمٍ نَسْتَعْمِلُـهُمْ فَيُقَدِّمُوْا بِمَالٍ وَيَقُوْلُوْنَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا مِمَّا أُهْدَي إِليَّ فَهَلاَ جَلَسَ أَحَدُكُمْ عِنْدَ حِمْشِ أُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لاَ

Sesungguhnya Nabi ﷺ telah mengangkat Ibn al-Lutsainah untuk mengambil sedekah/zakat. Dia kemudian datang membawa harta dan berkata, “Ini untuk Anda dan ini merupakan harta yang dihadiahkan kepada saya.” Nabi ﷺ pun bersabda dalam khutbahnya, “Bagaimana gerangan, ada suatu kaum yang kami angkat (untuk mengambil sedekah/zakat), lalu datang membawa harta, dan berkata, ‘Ini untuk Anda dan ini merupakan harta yang dihadiahkan kepada saya.’ Apa tidak sebaiknya salah seorang di antara kalian duduk di tempat ibunya, lalu melihat apakah dia akan diberi hadiah atau tidak.”

===

Dengan kata lain, ketika hadiah tersebut datang karena jabatan, maka hukumnya haram. Namun, jika hadiah tersebut datang bukan karena jabatan, maka hukumnya halal. Inilah yang dinyatakan, baik oleh al-‘Allamah as-Sarakhsi maupun al-‘Allamah an-Nabhani.

Lalu bagaimana dengan gratifikasi yang diperoleh oleh pejabat publik? Apakah faktanya sama dengan hadiah dan suap? Ataukah berbeda?

Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

===

Contoh-contoh kasus yang bisa digolongkan dalam gratifikasi, antara lain:

1. Pembiayaan kunjungan kerja lembaga legislatif oleh eksekutif, karena hal ini dapat mempengaruhi legislasi dan implementasinya.

2. Cideramata bagi guru (PNS) setelah pembagian rapor/kelulusan.

3. Pungutan liar di jalan raya dan tidak disertai tanda bukti dengan tujuan sumbangan tidak jelas. Oknum yang terlibat bisa jadi dari petugas kepolisian (polantas), retribusi (dinas pendapatan daerah) dan LLAJR.

4. Penyediaan biaya tambahan (fee) 10-20 persen dari nilai proyek.

5. Uang retribusi untuk masuk pelabuhan tanpa tiket yang dilakukan oleh Instansi Pelabuhan, Dinas Perhubungan dan Dinas Pendapatan Daerah.

6. Parsel ponsel canggih keluaran terbaru dari pengusaha kepada pejabat.

7. Hadiah pernikahan untuk keluarga pejabat dari pengusaha.

8. Pengurusan KTP/SIM/Paspor yang “dipercepat” dengan uang tambahan.

===

Berdasarkan fakta di atas, maka status gratifikasi tersebut harus dibedakan:

1. Jika gratifikasi tersebut diberikan oleh pemberinya karena terkait dengan jabatan penerimanya, baik untuk menyelesaikan urusan pada saat itu maupun pada masa yang akan datang, maka status gratifikasi tersebut haram. Statusnya, sama dengan suap.

2. Jika gratifikasi tersebut diberikan oleh pemberinya, sama sekali tidak terkait dengan jabatan penerimanya, tetapi karena hubungan kekerabatan atau pertemanan, yang lazim saling memberi hadiah, maka gratifikasi seperti ini hukumnya halal.

Jika status gratifikasi tersebut haram, maka dilaporkan atau tidak kepada negara, statusnya tetap haram. Karena itu, apa yang dinyatakan dalam UU No 20/2001, bahwa setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap, namun ketentuan yang sama tidak berlaku apabila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima, adalah ketentuan yang bertentangan dengan hukum Islam. Justru ketentuan ini melegalkan praktik suap dan hadiah yang diharamkan. Wallahu a’lam.

===

Pentingnya Adab



[KAJIAN ISLAM]

Pentingnya Adab

Oleh: Arief B. Iskandar

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78).

Demikianlah cara ulama terdahulu menghormati guru mereka. Mereka tetap memilih berdiri meski dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk.

===

Di lain waktu, Imam al-Fara’—seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra—diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Tidak hanya murid terhadap guru, adab juga acapkali ditunjukkan oleh ulama kepada ulama lainnya. Di antaranya Imam Syafii. Sebagaimana diketahui, Imam Syafii berpendapat tentang keharusan membaca doa qunut dalam shalat subuh. Namun, Imam Syafii —seorang ulama besar sekaligus imam mujtahid— pernah beberapa kali melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, hlm. 110).

Demikianlah, betapa para ulama besar di zaman terdahulu amat hormat kepada ulama lainnya, meski berbeda pendapat. Bahkan terhadap ulama yang sudah wafat pun adab itu tetap dijaga.

===

Adab yang sama ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Selama ini beliau berpendapat mengenai keharusan membaca basmalah (saat membaca surat al-Fatihah) secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar) dalam salat. Namun, di wilayah tertentu beliau berpendapat, “Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, menyatukan hati umat lebih agung dalam agama dibandingkan dengan beberapa perkara sunnah (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan 48)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qadhi Abu Utsman al-Baghdadi, meskipun termasuk ulama besar dan hakim mazhab al-Maliki, sering mengunjungi Imam ath-Thahawi yang bermazhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau (Al-Maqalat al-Kautsari, hlm. 348).

===

Adab juga ditunjukkan oleh para ulama terhadap ilmu. Suatu saat, Imam al-Hulwani—ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara—pernah menyampai-kan, “Sesungguhnya aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya dan aku tidak mengam-bil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Hal ini diikuti oleh murid beliau yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi. Suatu saat beliau mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

Adab dan penghargaan para ulama terhadap ilmu juga ditunjukkan oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abdissalam al-Bilkandi, salah seorang guru Imam al-Bukhari. Suatu saat beliau menghadiri majelis imla‘ hadits. Saat Syaikh di majelis tersebut mendiktekan hadits, tiba-tiba pena al-Bikandi patah. Khawatir kehilangan kesempatan untuk mencatat, beliau akhirnya mencari cara agar segera memperoleh pena. Tak lama kemudian beliau berteriak, “Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!” Seketika, banyak pena disodorkan kepada beliau (Umdah al-Qari, 1/165).

Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih senilai Rp 2 juta. Demikianlah Imam al-Bikandi. Ia rela kehilangan uang sebesar itu hanya agar beliau tetap berkesempatan mencatat hadis. Itu ia lakukan tentu karena penghormatan dan penghargaannya yang luar biasa terhadap ilmu.

Adab juga ditunjukkan oleh penguasa terhadap ulama. Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Khawarizmi Syah menjawab, “Saya justru yang yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Khawarizmi mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284).

Karena begitu berharganya akhlak atau adab para ulama, ada sebuah kisah menarik terkait seorang ulama besar bernama Ibn al-Mubarak. Saat itu ia bertetangga dengan seorang Yahudi. Si Yahudi berencana menjual rumahnya. Datanglah seseorang yang menawar rumahnya, “Engkau menjual dengan harga berapa?” Si Yahudi menjawab, “Dua ribu.” Si penanya berkata, “Harga rumahmu ini paling mahal seribu.” Si Yahudi menjawab, “Memang benar, tetapi yang seribu lagi untuk ‘harga’ tetanggaku, Ibnu Mubarak.” (Al-Makarim wa al-Mafakhir, hlm. 23)

Demikianlah, memiliki tetangga baik, berakhlak dan beradab seperti Ibnu Mubarak merupakan sebuah ‘harta’ yang amat mahal bagi si Yahudi. Karena itu, ia menilai tidak hanya rumahnya yang berharga, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri.

===

Mengapa begitu mulia akhlak atau adab para ulama dan para salafush-shalih dulu? Kata-kata Imam Ibn Qasim, salah satu murid senior Imam Malik, barangkali bisa menjelaskan hal ini saat ia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak) dari beliau, sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Bagaimana dengan kita?

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. []

Imam Bukhari dan Imam Nawawi di Depan ‘Pintu Istana’



[KAJIAN SIROH]

// Imam Bukhari dan Imam Nawawi di Depan ‘Pintu Istana’ //

IMAM Bukhari (256 H) juga pernah mendapat perlakuan kejam dari penguasa. Dalam Hadyu As Sari (226) disebutkan, ketika beliau memasuki Bukhara, semua mata manusia tertuju kepadanya, termasuk penguasa negeri itu, Khalid bin Ahmad bin Khalfah bin Thahir.

Akhirnya ia meminta Imam Bukhari datang ke istana dan mengajarkan Kitab Shahih dan Tarikh Al Bukhari. Tentu Imam Bukhari menolak.

Bukan hendak menutup pintu ilmu bagi mereka, akan tetapi beliau tidak mau mengajar kaum bangsawan, dengan meninggalkan para pencari ilmu dari kalangan rakyat jelata.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Imam Bukhari mengatakan, kepada utusan Sultan, ”Katakan kepadanya, saya tidak akan merendahkan ilmu, dan membawanya ke pintu-pintu Istana, jika ia membutuhkan suatu darinya (ilmu) maka datanglah ke masjid atau rumahku.”

Sikap Imam Bukhari ini membuat penguasa marah dan mengusir ulama hadits ini dari Bukhara. Di sebuah desa kecil di wilayah Samarkand beliau memutuskan untuk tinggal. Di desa itu pula, sebulan kemudian beliau wafat.

Keberanian Imam An Nawawi (676 H) dalam menolak kebijakan penguasa, juga terlalu penting untuk dilewatkan. Saat Dhahir Bebres usai menghadapi Pasukan Tatar di Syam, ia meminta fatwa para ulama wilayah itu tentang bolehnya mengambil pajak dari rakyat guna membantu peperangan. Para fuqaha Syam pun membolehkan.

“Masih tersisa ada ulama lain?” Tanya Dhahir.

“Iya, tinggal Syeikh Muhyiddin An Nawawi” Jawab salah satu dari mereka.

Akhirnya Imam Nawawi diminta datang. Setelah itu, Dhahir meminta agar beliau ikut menulis fatwa yang isinya sama seperti ulama yang lain. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Imam Nawawi menolak.

Beliau malah mengingatkan Dhahir, bahwa ia memiliki seribu budak, tiap budak membawa emas serta dua ratus budak perempuan, masing-masing mengenakan gelang emas.

“Jika engkau telah gunakan itu semua, dan tinggal para budak laki-laki dan budak perempuan yang masih lengkap dengan pakaian tanpa gelang. Maka saya baru akan memfatwakan boleh mengambil pajak dari rakyat.” tutur An Nawawi.

Setelah mendengar jawaban Imam Nawawi, Dhahir marah, ”Keluar dari negeriku!” Perintahnya kepada Imam Nawani.

“Saya mendengar dan mentaati.” Jawab ulama besar ini. Kemudian, penulis kitab Al Adzkar ini keluar dari kota Damaskus menuju desa Nawa.

Setelah peristiwa itu, para ulama merasa kehilangan, mereka menyatakan kepada Dhahir, ”Nawawi termasuk orang shalih dan ulama besar kami, yang kami jadikan tauladan, kembalikan dia ke Damaskus.”

Kemudian, Imam Nawawi diminta kembali, tapi beliau enggan dan menjawab, "Saya tidak akan masuk Damaskus, selama Dhahir masih di sana.” Setelah itu, satu bulan kemudian, Imam Nawawi wafat.*

Sumber : hidayatullah.com
This entry was posted in

DELAPAN PELAJARAN HARI INI



[CERMIN HATI]

DELAPAN PELAJARAN HARI INI

Suatu hari, Syaqiq Al Balkhi berjumpa dengan Hatim. Syaqiq bertanya, “Kamu telah menyertaiku sekian lama, ilmu apa saja yang sudah kau dapatkan?”

Hatim menjawab, “Aku mendapatkan delapan pelajaran:

Pertama, aku perhatikan segala sesuatu di dunia ini. Aku mendapati bahwa setiap orang memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Lalu ketika ia mati, ia pun harus rela berpisah dengan kekasihnya. Maka aku menjadikan segala amal shalehku sebagai kekasihku supaya ia tetap bersamaku nanti di alam kubur.

Kedua, aku perhatikan firman Allah, “Dan orang yang menahan jiwanya dari hawa nafsu, maka surga adalah tempat kembalinya.” (QS. An Nazi’at:40) Maka aku berusaha dengan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu agar aku tetap berada dalam ketaatan kepada Allah.

Ketiga, aku perhatikan bahwa setiap orang jika memiliki barang yang berharga, ia pasti selalu menjaganya dengan baik. Lalu aku perhatikan firman Allah, “Segala sesuatu yang berada padamu akan binasa, dan segala sesuatu yang berada pada Allah akan kekal abadi.” (QS. An Nahl: 96) Oleh karena itu, setiap kali aku memiliki barang berharga, aku selalu menitipkannya kepada Allah supaya menjadi kekal abadi selamanya.

Keempat, aku perhatikan manusia selalu berbangga-bangga dengan harta, keturunan dan jabatan, padahal semua itu tak ada harganya sama sekali. Lalu aku perhatikan firman Allah, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al Hujurat: 13) Oleh karena itu, aku berusaha menjadi orang yang bertakwa supaya menjadi mulia di mata Allah.

Kelima, aku perhatikan manusia saling mendengki dan iri hati. Lalu aku perhatikan firman Allah, “Aku telah membagi-bagi jatah hidup mereka.” (QS. Az Zukhruf: 32) Oleh karena itu, aku tinggalkan dengki dan iri hati.

Keenam, aku perhatikan manusia saling bermusuhan. Lalu aku perhatikan firman Allah, “Sesungguhnya syetan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6) Oleh karena itu, aku tinggalkan permusuhan dengan sesama manusia, lalu aku menjadikan syetan sebagai satu-satunya musuhku.

Ketujuh, aku perhatikan manusia menguras tenaga mereka untuk mengais rezeki. Lalu aku perhatikan firman Allah, “Tak ada satu melata pun di muka bumi ini melainkan Allah sudah menanggung rezekinya.” (QS. Hud: 6) Oleh karena itu, aku bekerja secukupnya dan seperlunya, dan aku tinggalkan sebagian lainnya.

Kedelapan, aku perhatikan mereka hanya berharap dan mengandalkan pada perniagaan, bisnis, serta kesehatan jasmani mereka saja. Maka, aku hanya berharap dan bertawakkal kepada Allah saja.

(Ibnu Qudamah al-Maqdisiy, Kitab Mukhtasar Minhajil Qashidin)
.
===
Sumber: Channel Majelis Kajian Hadits

***

LDR Dalam Pernikahan, Bolehkah?



LDR Dalam Pernikahan, Bolehkah?

Oleh. Ustad Iwan Januar

#InfoMuslimahJember -- Pernikahan itu menyatukan dua pasangan dalam satu kehidupan, juga satu atap. Tetapi kadangkala ada kondisi yang bisa membuat pasangan harus menjalin hubungan berpola LDR, Long Distance Relationship, alias hubungan jarak jauh.

Beragam kondisi yang membuat pasangan suami-istri harus menjalankan relasi pernikahan model LDR. Ada yang karena persoalan ikatan dinas yang melarang suami memboyong istri, bisa karena suami atau istri masih kuliah, atau bisa juga karena belum mendapatkan rumah yang cocok untuk memboyong keluarga ke tempat baru.

Kondisi LDR dalam pernikahan harus ditinjau dengan seksama dan hati-hati, tentu saja dengan kacamata syariat Islam. Setiap pasangan suami-istri sudah seharusnya mengikatkan diri pada hukum syara’ dalam semua hal, termasuk dalam relasi pernikahan LDR ini.

Bukan karena banyak pasangan melakukan LDR, lantas dipandang biasa dan boleh. Ada pertimbangan yang harus dinilai dalam sudut pandang hukum syara’, karena bagi setiap muslim tindakan terpuji (hasan) atau tercela (qabih) adalah menurut Allah SWT., bukan semata kerelaan kita. Kaidah syara’ mengatakan:

اَلْحَسَن مَا حَسَنَهُ الشَّرْعُ وَالْقَبِيْح مَا قَبَحَه الشَّرْعُ

Terpuji itu adalah apa yang syara’ telah memujinya, dan tercela itu adalah apa yang syara’ telah mencelanya

Karenanya mari kita tinjau hukum syara relasi LDR bagi pasangan suami-istri Islamiy. LDR dalam rumah tangga hukumnya jaiz/boleh dengan catatan sebagai berikut:

1. Dilakukan tanpa tekanan dari pihak manapun, melainkan karena kerelaan suami dan istri. Misalnya mereka berdua sepakat untuk melakukan LDR selama sekian waktu karena suami harus mengikuti program pendidikan atau kedinasan yang tidak mensyaratkan tinggal di asrama, atau tidak diperkenankan membawa istri. Bila ada pihak yang mengintimidasi pasangan suami-istri hingga terjadi LDR maka orang terkategori fasik karena menyebabkan hak dan kewajiban pasangan suami istri tidak tertunaikan sebagaimana mestinya.

2. Selama LDR nafkah lahir dan batin dari suami kepada istri tetap berjalan. Misalnya uang belanja tetap dikirim kepada istri dan anak, dan secara periodik mereka bisa bertemu sehingga nafkah batin pun tetap terpenuhi. Biasanya ada suami yang pulang setiap pekan atau mengikuti pola PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), meski ada juga yang sebulan sekali, dst.

3. Andaipun suami belum bisa memberikan nafkah lahir, akan tetapi istri ridlo dengan keadaan ini, maka LDR pun menjadi boleh. Misalnya dalam kasus keduanya masih kuliah dan suami belum bekerja sementara waktu, lalu kedua orang tua masih bersedia menanggung nafkah mereka, maka hukumnya adalah boleh. Tentu saja keadaan ini tidak boleh berlangsung permanen, suami harus tetap berikhtiar mencari nafkah karena memang hukum syara mewajibkan ia menjadi tulang punggung keluarga.

4. Selama LDR, baik suami maupun istri harus menjaga diri dengan syariat Islam, terutama dalam pergaulan sosial. Suami harus menjaga iffah, kehormatan diri, dengan tidak bergaul bebas dengan lawan jenis. Istri pun sama. Jika ada persoalan rumah tangga maka selesaikanlah bersama jangan diumbar kepada pihak yang tidak berkepentingan, apalagi disuarakan di media sosial.

5. Bila istri yang meminta LDR karena alasan kuliah atau pekerjaan, atau karena ingin bertahan tinggal di rumah orang tuanya, sedangkan suami tidak ridlo, maka sang istri berdosa. Dalam hal ini istri dianggap bermaksiat karena tidak taat kepada suaminya.

Ketaatan pada suami adalah wajib bagi seorang muslimah manakala telah menikah. Pembahasan ini dapat dikaji dalam hadits mengenai seorang muslimah yang taat kepada perintah suaminya sehingga ia tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. Bahkan ketika orang tuanya meninggal pun ia tetap tidak menjenguk mereka, karena ia menjaga ketaatan pada suami. Ketika Rasulullah SAW. dikabari tentang hal ini, Beliau memuji sikap muslimah tadi.

Maka seorang istri harus taat mengikuti kemanapun suaminya pergi. Meski untuk itu ia harus memendam rasa kangen pada kedua orang tua, atau mungkin harus meninggalkan karir atau jenjang kependidikannya. Insya Allah, dengan ketaatan pada suami niscaya Allah buka berbagai keberkahan bagi mereka. Dan suami yang baik pun akan memberi kesempatan kepada sang istri untuk misalnya melanjutkan studi lagi di tempat mereka tinggal tanpa perlu melakukan LDR.

Namun begitu, meski kondisi-kondisi di atas terpenuhi bukan berarti LDR selamanya mubah. Bisa saja terjadi kondisi dimana LDR harus diakhiri. Munculnya kemudlaratan dalam pernikahan salah satu alasan kuat untuk menyudahi LDR. Misalnya istri sudah kepayahan mengelola rumah tangga dan mengurus anak-anak, maka kehadiran suami menjadi wajib. Atau misalnya terlihat anak-anak mulai memperlihatkan kepribadian yang tidak Islami karena faktor fatherless, atau kurangnya peran ayah, maka LDR harus segera diakhiri.

Realita kekinian menunjukkan tidak sedikit pasangan suami-istri yang kemudian bubar karena tidak sanggup menjalani relasi LDR. Sebagian lagi masih menjalankan LDR tapi dengan tertatih-tatih karena merasa berat dengan berbagai problematika yang terjadi. Lebih tragis lagi ada suami/istri yang frustrasi karena mendapati pasangannya berselingkuh selama mereka menjalani relasi LDR.

Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan milik bersama, suami, istri juga anak-anak. Hukum syara’ telah menetapkan bahwa masing-masing memiliki hak yang wajib ditunaikan.

Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (TQS. Al-Baqarah [2]: 228).



Rasulullah SAW. juga bersabda:

« وَلِنَفْسِكَ حَقٌّ وَلأَهْلِكَ حَقٌّ »

Sesungguhnya pada dirimu ada hak yang wajib ditunaikan, dan sesungguhnya pada keluargamu ada hak yang wajib ditunaikan (HR. Muslim).

Nah, para suami-istri yang dirahmati Allah, bila Anda menjalani rumah tangga dengan pola LDR, evaluasilah perjalanan rumah tangga selama ini. Para suami wajib menjaga nafkah dan seluruh hak istri dan anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Sebaliknya, Anda para istri bersabarlah bila memang suami harus menjalani LDR karena pertimbangan yang sesuai syariat. Namun bila Anda yang memaksa LDR harus berjalan, maka sadarlah bahwa hal itu adalah merupakan pelanggaran atas perintah Allah, yakni wajibnya seorang muslimah taat kepada suami. Taatilah dan ikutlah suami di tempat baru. Nabi SAW. bersabda:

«أَذَاتَ زَوْجٍ أَنْتِ ؟ فَقَالَتْ : نَعَمْ ,قَالَ : فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَ نَارُكِ»

“Apakah engkau memiliki suami?” wanita itu menjawab, “Ya.” Rasulullah berkata, “Sesungguhnya ia adalah surgamu dan nerakamu.”(HR. al-Hakim).

Semoga Allah senantiasa merahmati keluarga-keluarga muslim, mengikatkan hati mereka dengan keluarga mereka, dan menjaga hukum-hukumNya. 

Dipost di web Iwan Januar pada 12/12/15

Hukum Game Mobile Legend



[KAJIAN FIQH]

Hukum Game Mobile Legend

Tanya :
Assalamu'alaykum
Afwan jiddan ustadz
Mau tanya bgmn hukum brmain game online yg skrng sdang marak di klangan masyarakat sprti game mobile legend yg gmbarnya pun tlhat tk sopan.??
Jazakumullah

Jawaban :

Waalaykumussalaam Warahmatullaah wabarakaatuh..

Game Mobile Legend memang sedang digandrungi saat ini. Sependek pemahaman kami, game tersebut adalah produk game salah satu negara di Asia Tenggara, dimana bentuk game dan pola permainannya adalah perang antar pasukan.

Jika dilihat, memang ada beberapa model dalam game tersebut yang kurang pantas. Hendaknya para orang tua memperhatikan permainan anak anak mereka.

Yang jelas, permainan ini dengan segala macam jenis dan motivasinya adalah sama saja, yakni sama-sama lahwun wa la’ibun (sesuatu yang melalaikan dan permainan), dan Allah Ta’ala menyebut segala kesenangan dunia dengan sebutan mata’ul ghurur (kesenangan yang menipu).

Ada pun Dinul Islam adalah agama yang mengecam segala bentuk perbuatan yang melalaikan dan hiburan yang membuat hati lupa dengan akhirat.

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allaah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid [57]: 20)

Rasulullaah juga memberi isyarat mendalam berkenaan kehidupan dunia yang fana ini,

يا أمة محمد والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا..

"Wahai Ummat Muhammad! Demi Allaah, Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.." (HR. Al Bukhari No. 1044)

Dunia Sementara, sedang Akhirat adalah Selamanya.

Lantas, apakah itu berarti Islam mengharamkan segala bentuk permainan yang diciptakan manusia untuk mereka atau untuk anak-anak mereka, walau dilakukan hanya sesekali saja?

Pada dasarnya perkara keduniaan terkait dengan benda, adalah halal kecuali ada dalil yang jelas dan pasti tentang haramnya. Terdapat kaidah fiqh yang berbunyi :

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

"Hukum asal segala sesuatu (benda) adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya". (Imam As-Suyuthi, Al Asybah wa An Nadza'ir, hal. 108).

Kaidah ini, berasal dari penggalian para ulama terhadap nash-nash syariat. Kaidah ini bukan kaidah yang dibuat sembarangan dan tidak bermuatan liberal. Sandaran nash kaidah ini ialah ayat dan hadits. Diantaranya :

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah [2]: 29)

Imam As- Syawkani rahimahullah dalam Fathul Qadir-nya memberikan catatan mengenai surat Al Baqarah ayat 29 ini :

قال ابن كيسان: “خلق لكم” أي من أجلكم، وفيه دليل على أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل، ولا فرق بين الحيوانات وغيرها مما ينتفع به من غير ضرر، وفي التأكيد بقوله: “جميعاً” أقوى دلالة على هذا

Berkata Ibnu Kaisan (yakni Thawus):

"Kalimat -kholaqo lakum- Menjadikan untuk kalian" yaitu karena kalian. Di dalamnya ada dalil bahwa hukum asal dari segala sesuatu ciptaan adalah mubah (boleh) sampai tegaknya dalil yang menunjukkan perubahan hukum asal ini. Tidak ada perbedaan antara hewan-hewan atau selainnya, dari apa-apa yang dengannya membawa manfaat, bukan kerusakan. 

Hal ini dikuatkan lagi dengan firman-Nya : "jami’an -Semua-", yang memberikan penunjukkan maksud yang lebih kuat dalam hal ini. “ (As-Syawkani, Fathul Qadir, 1/ 64).

Selain ayat di atas, kaidah ini juga dikuatkan oleh hadits berikut :

الحلال ما احل الله في كتابه والحرام ما حرم الله في كتابه وما سكت عنه وهو مما عفا عنه 

“Yang halal adalah apa yang Allaah halalkan dalam kitab-Nya, yang haram adalah yang Allaah haramkan dalam kitab-Nya, dan apa saja yang di diamkan-Nya, maka itu termasuk yang dimaafkan.” (HR. At Tirmidzi No. 1726.)

Juga hadits yang berkenaan dengan penyerbukkan kurma, saat salah seorang sahabat bertanya mengenai perkara ini terhadap Nabi. Sabda Nabi saat itu ialah :

أنتم أعلم بأمر دنياكم

"Kalian lebih mengetahui urusan Dunia kalian." (HR. Muslim No. 4358)

Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullaah :

فللعلماء المختصين الإجتهاد فيها، عملا بأن الأصل في الأشياء النافعة هو الإباحة، وفي الأشياء الضارة هو الحظر والمنع.

"Maka bagi para Ulama yang pakar, untuk berijtihad dalam urusan ini(urusan yang berkenaan dengan benda, yang tidak terdapat dalil syar'i yang mendetail). Tentu hal ini dilakukan karena hukum asal segala sesuatu yang bermanfaat, adalah boleh. Dan asal segala sesuatu yang menimbulkan madhorot, adalah terhalang dan terlarang." (Az-Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 8/6335. Maktabah Syamilah)

Karena itu, game serta hiburan dalam HP ini masih terkategori sebagai perkara yang boleh, jika tidak ada pelanggaran syari'at di dalamnya.

Kalau begitu, bagaimana dengan hadits yang melarang permainan - permainan?

Dari Jabir Ibn ‘Umair radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

كُل شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَل فَهُوَ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعَ خِصَالٍ : مَشْيُ الرَّجُل بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ ، وَتَأْدِيبُهُ فَرَسَهُ ، وَمُلاَعَبَةُ أَهْلِهِ ، وَتَعَلُّمُ السِّبَاحَةِ

“Segala hal selain dzikir kepada Allaah ‘Azza wa Jalla adalah termasuk permainan dan kelalaian, kecuali empat hal : berlatih panah, melatih kuda, bergurau dengan isteri, dan belajar berenang.” (HR. Ath Thabrani No. 1760.)

Dalam hadits ini hanya dibatasi empat macam permainan, seakan-akan selain empat hal ini adalah perbuatan yang lalai dan bathil.

Sebenarnya, berdalil dengan hadits untuk mengharamkan permainan-permainan adalah kurang tepat. Sebab, pada kenyataannya masih ada permainan lain yang tidak disebutkan dalam hadits ini, dan itu diperbolehkan Nabi. 

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari mengenai orang orang Habasyah yang bermain tarian pedang di masjid Nabawi ketika hari raya dan saat itu Rasulullah dan ‘Aisyah pun melihatnya. Jelas sekali, permainan Habasyah ini adalah selain empat hal di atas. Dan Rasulullaah mendiamkan perbuatan mereka(yang berarti ini bagian dari taqrir Rasulullaah, menunjukkan boleh).

Maka, hadits ini sama sekali tidaklah menunjukkan terlarang atau tercelanya permainan selain empat jenis itu.

Berkenaan dengan gambar, maka kita pastikan, apakah dalam game tersebut benar benar terdapat gambar/adegan yang tidak pantas saat dimainkan atau tidak?

Jika iya, maka hal ini berbahaya bagi akhlaq dan kepribadian seorang Muslim, terlebih bagi anak anak generasi penerus kita.

*Miris, saat sebagian orang tua dengan mudah memberikan anak berbagai fasilitas; dimana fasilitas itu disadari atau tidak melalaikan anak dan membuat anak kecanduan hiburan serta memiliki karakter pemalas.* Tentu ini melemahkan mental dan kepribadian generasi kaum muslimin dan ini adalah kesalahan fatal dari para orang tua!

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah menyampaikan beberapa prinsip dalam memanfaatkan permainan, dengan sebagai berikut :

(1) أن لا يشغل عن واجب من واجبات الدين.

(2) أن لا يخالطه قمار

(3) أن لا يصدر أثناء اللعب ما يخالف شرع الله.

Pertama. Tidak membuatnya sibuk sehingga lupa dari kewajiban-kewajiban agama.

Kedua. Tidak dicampur dengan taruhan.

Ketiga. Ketika bermain tidak terjadi hal-hal yang berselisihan dengan syariat Allah Ta’ala. (Fiqhus Sunnah, 3/514)

Bukan hanya rambu-rambu ini, mungkin bisa ditambahkan dengan :

Keempat. Tidak dilakukan secara berlebihan dan keseringan sebab akan membuat candu dan ketergantungan.

Kelima. Tidak sampai melupakan pekerjaan yang lebih bermanfaat.

Keenam. Tidak dicampur dengan perkataan kasar, sumpah serapah, dan bohong.

Ketujuh. Dilakukan di tempat pantas, bukan tempat yang menurunkan martabat.

Prinsip ini setidaknya menjadi filter, akan apa yang boleh menjadi hiburan bagi kita dan anak anak kita. D

alam hal ini, game mobile legend ini harus difilter terlebih dahulu dengan rambu rambu diatas.

Semoga Allaah Ta'ala menjaga kami, antum dan kaum Muslimin dari hiburan yang melalaikan..

Wallaahul musta'aan.