Para Tokoh Jatim Bahas New Normal, Ada Kode Solusi Alam!

Para Tokoh Jatim Bahas New Normal, Ada Kode Solusi Alam!





Oleh: Vania Puspita Anggraeni

(Mahasiswi Kampus Jember)



#InfoMuslimahJember -- Pada hari Sabtu, 13 Juni 2020 kaffah channel telah menghadirkan sebuah perbincangan hangat melalui sebuah kanal youtube secara live dan menarik sekitar 8000 lebih viewers. Perbincangan hangat dengan Ustadz Ismail Yusanto dan KH. Rokhmat S. Labib yang berjalan selama 3 jam lebih sejak pukul 09.00 pagi ini menyuguhkan tema “New Normal, Diantara Ancaman Krisis Ekonomi dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam,” juga diikuti oleh beberapa tokoh intelektual yang memberikan pendapatnya terkait new normal yang sedang diperbincangkan. Acara live youtube yang menjadikan dua ustadz kondang itu sebagai pemateri utama dalam perbincangan, dilaksanakan untuk memberi gambaran dan sudut pandang lain bahwa penerapan new normal di Indonesia tidak tepat untuk dilaksanakan saat ini mengingat segala aspek yang belum terpenuhi dan dampak terburuk yang kemungkinan akan terjadi.

Wahyu Eka Dianto, S .Pt.seorang pengusaha property syari’ah yang menjadi pemateri pertama dalam acara live tersebut, menjelaskan bahwa keraguan yang timbul ditengah masyarakat terkait kebijakan New Normal sangat wajar terjadi. Karena, pemerintah sendiri yang menjelaskan bahwa  alasan yang mendasari kebijakan ini ialah faktor ekonomi. Padahal, seperti yang kita tau kenaikan kasus virus ini masih terus terjadi. Seolah memberi tanda bahwa keselamatan rakyat bukanlah prioritas.

Selain pemateri pertama yang memberikan pandangannya dengan cukup lugas, pemateri kedua, Adinda Khotibul Umam, seorang aktivis mahasiswa juga mengatakan dengan jelas bahwa  Pemerintah dirasa gagap dalam menangani virus COVID-19. Hal ini ditandai dengan ketidakseriusan pemerintah menghalau adanya ancaman virus sejak awal dan justru mengeluarkan lelucon dalam menyambut virus ini. Tidak hanya itu, Khotibul Umam juga memberikan pandangan terkait pembelajaran yang dinilai tidak efektif karena kurangnya persiapan pemerintah sebelum dan selama pelaksanaan. Mahasiswa yang masih merasa terbebani dengan UKT, menjadi tidak sempat mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Lukman Noerrochim, Ph.D yang selanjutnya menjadi pemateri ketiga, ikut memberi pandangan bahwa new normal rencana pemerintah ini hanya berupa sisi teknisnya saja, karena tidak ada perubahan yang signifikan dan tetap melanjutkan kehidupan abnormal seperti sebelumnya. Menurut beliau, new normal yang seharusnya diterapkan di Indonesia adalah new normal dengan sistem shahih. Selain itu, beliau juga memberikan pesan bahwa kita harus tetap menyampaikan pendapat meskipun pemerintah tidak mempedulikannya. Ini semua dilakukan sebagai upaya untuk menyadarkan umat.

Ustadz Ismail Yusanto sebagai pemateri inti, mengatakan bahwa semua orang pada dasarnya ingin kembali hidup normal, akan tetapi memperhitungkan waktu yang tepat untuk melaksanakan new normal juga penting dilakukan. Bahkan beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia belum memenuhi standar WHO untuk melakukan new normal.

Selain ustadz Ismail Yusanto, KH. Rokhmat S. Labib juga memberikan pandangan terkait new normal yang akan berlaku di Indonesia. Menurut beliau,  wajar jika perekonomian Indonesia anjlok setelah pandemi. APBN negara tidak sesuai dengan pendapatan negara. Karena pendapat Indonesia hanya berasal dari pajak yang tidak bisa mendukung perekonomian secara maksimal ketika terjadi wabah. Seperti yang kita tau, bahwa PSBB yang mengharuskan pekerjaan terhenti sementara membuat pajak ikut terdampak dan pastinya akan mempengaruhi pendapatan negara pula. Berbeda dengan islam yang memiliki sumber pendapatan negara lebih besar. Tidak hanya dari pajak tapi juga pos kharaj dan fa’i.

Seperti itulah, new normal di Indonesia yang diduga kuat terjadi sebab perekonomian negara anjlok. Sumber pendapatan negara yang tidak imbang dengan belanja negara, membuat pemerintah kalang kabut mencari dana pemasukan bagi berlangsungnya pengelolaan negara. Sehingga, dengan adanya new normal ini semakin memperkuat opini bahwa pemerintah sengaja memberlakukannya untuk mengembalikan perekonomian dalam kondisi semula. Meskipun, penuh resiko terhadap keselamatan rakyat karena penyebaran covid 19 di Indonesia masih tinggi. 

Sudah saatnya pengelolaan negara mengacu pada aturan shahih yang bersumber dari Allah agar solusi yang dilegalkan tidak menimbulkan permasalahan baru bagi rakyat yang seharusnya merasakan adanya kemaslahatan dari penerapan islam oleh pemimpin. Sungguh, dengan penerapan islam kaffah dalam sebuah negeri tidak hanya mendatangkan perbaikan tapi juga keberkahan dari Allah karena penerapan islam secara kaffah adalah bentuk ketaatan mutlak bagi pemegang kekuasaan di atas kekuasaan, Allah pemiliki kerajaan langit dan bumi. Allahuakbar !!

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadan

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadan




Oleh :Evi Shofia, Sp

#InfoMuslimahJember -- Ramadan sudah berlalu. Sebulan penuh selama bulan Ramadan kita berlatih untuk lebih taat, lebih banyak sedekah dan berbagi, lebih banyak tilawah dan qiyamul lail pun lebih khusyuk. Akankah setelah Ramadan pergi, ketaatan ini pun pudar?

Memang tak bisa dipungkiri keimanan seorang muslim bisa bertambah, bisa pula berkurang. Namun sebagai muslim yang baru saja melewati Ramadan dengan berbagai ketaatan, sepatutnya bisa istiqamah melakukan amalan seperti kala Ramadan.

Indikasi sukses seorang muslim melalui Ramadan adalah amal-amalnya pasca Ramadan. Tetap taat atau taatnya luruh bersama kesibukan menyambut lebaran. Bagi seorang mukmin, berhasil melalui Ramadan dengan berbagai ketaatan membuat hati bahagia. Dan berusaha untuk tetap istiqamah melakukan amal shalih, karena sejatinya Ramadan adalah bulan training untuk menghadapi 11 bulan yang akan datang.

Menurunnya semangat beramal shalih pasca Ramadan juga tidak terlepas dari upaya setan yang selalu menggoda manusia dari berbagai arah, dari depan, belakang, samping kanan atau kiri bahkan hingga masuk pada pembuluh darah. Naudzubillahi min dzalik

Namun sebagai manusia yang dikarunia akal untuk menyempurnakan keimanan, godaan setan dapat diminimalisir bahkan bisa dilawan dengan senantiasa mohon perlindungan kepada Allah. Sebagaimana firmanNya dalam QS Al-A’raf : 200, “Dan jikakamuditimpasesuatugodaansyaitanmakaberlindunglahkepada Allah”

Maka perlu tips dan trik untuk menjaga keistiqamahan dalam beramal shalih. Kita memang tak bisa menghindar dari bujuk rayu setan, tapi bisa mengupayakan menutup celah sekecil apapun agar setan tak berpeluang menggoda.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga spirit Ramadan

1. Sadar sepenuhnya tugas insan di dunia hanya untuk beribadah kepada Allah.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS 51 :56)

Dengan menyadari bahwa tugasnya hanya ibadah semata, akan mengabaikan aktifitas-aktifitas lain yang unfaedah. Fokus untuk meraih ridha Allah, apapun aktifitasnya. Kesadaran ini akan melecut semangat ibadah. Bukan hanya ibadah mahdhah, namun juga ibadah-ibadah yang lain.

2. Berusaha istiqamah melakukan berbagai ketaatan. Tetap tilawah, sedekah, qiyamullail, salat-salat sunnah dan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan terus-menerus melakukan ketaatan, hati akan lembut dan lebih terarah mengisi kehidupan.

Dalam sebuah hadits Qudsi yang sangat populer di kalangan kaum sufi, Allah SWT berfirman, "Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku telah datang menghampirinya sehasta. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang menyambutnya dengan berlari. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berlari, maka aku datang menyongsongnya lebih cepat lagi."

Dengan selalu mendekatkan diri pada Allah, Allah melindungi kita dari tergelincir pada perbuatan yang tak manfaat bahkan perbuatan dosa.

3. Jangan menyia-nyiakan waktu. Seorangmuslim yang cerdas sangat paham bahwa waktu berlalu sangat cepat. Ia takkan membiarkan waktu berlalu tanpa amal shalih. Demikian pentingnya waktu, hingga Allah bersumpah demi waktu (QS Al-Asr ). Dalam ayat tersebut Allah berfirman : “Manusia berada dalam kerugian kecuali, orang-orang yang beriman, beramal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”.

Selalu melibatkan diri dalam aktifitas amal shalih dan amar ma’ruf nahi munkar akan membuat hidup lebih berarti, dan bahagia pasti. Hingga suatu saat nanti aktifitas ini menjadi habits (kebiasaan) dan membentuk karakter yang diridhai Allah.

4. Menyadari kematian sangatlah dekat. Tak ada yang bisa memprediksi umur manusia. Kematian seperti bayang-bayang kita, sangat dekat, kedatangannya kadang tanpa aba-aba. Jika ajal sudah sampai, tak bisa dimajukan atau diundur sedetik pun. Sebagaimana dalam firman Allah Swt (QS 7 : 34)

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Dengan banyak mengingat kematian, akan memotivasi untuk istiqamah dalam kebenaran dan ketaatan. Hingga tak beri ruang sedikit pun untuk lalai syariat Allah.

5. Meyakini bahwa kehidupan di akhirat lebih baik dan kekal. Keyakinan ini menyebabkan seluruh aktifitas seorang muslim di dunia selalu dikaitkan dengan hukum syara’, semata-mata untuk menggapai ridha Allah. Menjadikan halal dan haram sebagai landasan perbuatannya. Sikap ini akan melejitkan taat, sehingga tak terlintas sedikit pun untuk maksiat.

6. Senantiasa berdoa memohon hidayah kepada Allah Swt. Melantunkan doa-doa terbaik pada waktu-waktu diijabahnya doa. Memanjatkan permohonan dengan penuh harap dan cemas. Berharap Allah Swt membimbing dengan hidayah-Nya hingga akhir yang husnul khatimah.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Albaqarah:186)


Allah Swt berjanji akan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang berdoa. Maka teruslah meminta, teruslah berharap dan teruslah berdoa agar Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Menguatkan kita untuk selalu beramal shalih senyampang masih bisa bernafas, senyampang masih diberi kesehatan untuk melakukan berbagai ketaatan, hingga nyawa terpisah dari raga.


Dengan mengupayakan semua hal di atas, semangat ibadah di bulan Ramadan akan tetap terjaga di bulan-bulan setelah Ramadan. Sehingga tujuan diwajibkannya puasa Ramadan tercapai, yaitu sampai pada level takwa. Takwa yang tidak hanya di bulan Ramadan, namun juga di bulan-bulan berikutnya. Maka kita pun akan menjadi hamba yang Rabbani, bukan hamba yang Ramadani.


Wallahua’lam Bisshawab
Jumlah Anak Penderita COVID Bertambah; Haruskah Membuka Kembali Sekolah?

Jumlah Anak Penderita COVID Bertambah; Haruskah Membuka Kembali Sekolah?


Oleh : Siti Nurhotimah


Ditengah wabah yang masih tinggi muncul wacana  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. "Kita merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli, " ujar Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Sabtu (9/5). 

Hingga kini sekolah di sebagian besar daerah masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena dampak covid-19. Namun Hamid menegaskan rencana ini dimungkinkan untuk sekolah di daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah corona.

Namun wacana tersebut tidak disetujui oleh Federasi Serikat Guru Indonesia yang khawatir siswa dan guru menjadi korban wabah covid-19 atau virus corona jika rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka sekolah pertengahan Juli diputuskan. Kekhawatiran tersebut datang dari Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriwan bukan tanpa alasan. Pasalnya koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terlihat tak sinkron dalam penanganan covid19

"Kalau ingin membuka sekolah di tahun ajaran baru, oke itu kabar baik. Tapi datanya harus betul-betul tepat, mana [daerah] yang hijau, kuning, merah," tuturnya (CNNIndonesia.com, 9/5).

Namun Hamid menegaskan rencana ini dimungkinkan untuk sekolah di daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah corona. "Untuk daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman oleh Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan," tambahnya. Tapi ia tidak menjelaskan lebih lanjut apakah pihaknya bakal menetapkan protokol kesehatan tersendiri maupun pembatasan jumlah siswa.

Wacana akan dibukanya sekolah pada juli mendatang hanya bagian dari pemulihan ekonomi sosial. Sayangnya, hal ini tanpa melihat aspek keamanan bagi rakyat  karna diiringi pemastian bahwa virus tak lagi menyebar dan mereka yang terinfeksi sudah diisolasi.

Faktanya hingga saat ini pemerintah pusat belum sanggup  memenuhi pemeriksaan covid-19  1000 spesimen per hari, sebagaimana yang diungkapkan Ahmad yurianto juru bicara penangana covid19 mengatakan ada beberapa kendala sehingga pemeriksaan belum memcapai target diantaranya karena keterbatasan labotarium dan keterbatasan reagen. Sedangkan ketua gugus percepatan penangan covid 19 Doni Manardo mengatakan pasokan reagen yang  ada belum bisa digunakan secara optimal karena penguji kekurangan sumber daya manusia (koran.tempo.com, 15/05/20).

Sangat memilukan nasib rakyat yang dipimpin dari rezim ruwaibidhah. Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan.  Saat itu, orang bohong dianggap jujur.  Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465)

Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan umat tampak dengan jelas dalam sistem demokrasi. Mereka berambisi menjadi penguasa, padahal mereka adalah orang bodoh, tidak bermutu, fasik, dan hina. Mereka bukanlah orang yang mencari kebenaran, bukan pula orang yang menggenggamnya dengan jujur, tetapi mereka adalah para pembohong  yang pandai mengklaim. kondisi mereka. Meski  mereka mengklaim membela dan terkadang mereka tampak berilmu dan benar, namun mereka menjual agama mereka untuk secuil dunia.  

Mereka menggunakan ilmunya untuk menjustifikasi kerusakan dan sistem kufur.  Mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Imam as-Syathibi pun menjelaskan arti Ruwaibidhah, “Mereka mengatakan, bahwa dia adalah orang bodoh yang lemah, yang membicarakan urusan umum. Dia bukan ahlinya untuk berbicara tentang urusan khalayak ramai, tetapi tetap saja dia menyatakannya.” (As-Syathibi, al-I’tisham, II/681).

Pendemik covid19 yang belum juga menunjukan penurunan sulit rasa menerima kebijakan dari pemerintah membuka sekolah lagi dipertengahan Juli. Mengapa demikian? Hal ini dikarnakan ketidak jelasan pemerintah menangani wabah corona hingga saat ini.

Pemerintah terus menerus mengeluarkan kebijakan kontrovesial Mulai dari membebaskan para napi yang mengakibatkan kriminalitas meningkat, mempercepat disahkannya UU Omnibus Law di tengah PHK massal dampak dari PSBB, tetap ngotot memindahkan ibu kota negara di tengah pandemi, hingga politisasi bansos di tengah kelaparan rakyatnya. kalau negara lain menerapkan kebijakan THE NEW NORMAL, karena covid19 sudah dikendalikan, masalahnya, negri ini, jangankan dikendalikan kebijakan saja membingungkan rakyat. Akibatnya, kurvanya pun terus naik. Supaya bisa dikendalikan kan butuh solusi tepat. Kebijakan di Indonesiakan mbulet karna kapitalis hanya mementingkan ekonomi tetep jalan tanpa peduli keselamatan rakyatnya


Penangan wabah dalam islam


Islam membuat kebijakan yang menyegerakan penangan wabah, yakni mengentikan penularan sehingga pemulihan kondisi bisa dilakukan setelah situasi terkendali. Dimasa Rasulullah SAW, wabah penyakit menular juga pernah terjadi. Wabah tersebut  adalah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah SAW, dalam menanganinya adalah menerapkan  karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah memerintahkan agar tidak perlu melihat para penderita kusta tesebut. Beliau meneruskan melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR.al-bukhari).  Jika metode karantina sudah diterapkan sejak masa Rasulullah SAW, guna mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Demi memastikan perintah tersebut dilaksanaan, Rasulullah membangun tembok disekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringata kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah SAW. Abu hurairah radhiyallahu anhu menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-bukhari).

 

Kebijakan yang diambil khalifah tidak mengandalkan kecerdasan dan kemampuan manusiawinya saja melainkan disandarkan pada apa yang sudah diperintahkan oleh Nabi saw. Adanya sinergi antara negara sebagai pelaksana hukum syara yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang berkarakter mulia dengan rakyat yang mudah menerima amar makruf nahi mungkar. Negara tampil terdepan dalam setiap keadaan. Tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain. Bahkan tidak akan tega mengorbankan nasib rakyatnya atas dasar pertimbangan ekonomi. Dalam diri pemimpinnya tidak ada keraguan untuk mengambil kebijakan berdasarkan syariah, karena merupakan wahyu Allah yang Mahabenar. Bukan hasil uji coba kecerdasan akal semata. Tidak ada sikap plin-plan dan ragu-ragu dalam mengambil langkah solusi menghadapi wabah. Apalagi berkali-kali bingung dalam memutuskan setiap kebijakan yang harus segera diterapkan pada rakyatnya.

 

Seperti yang dicontohkan para pejabat negeri ini, sikap yang ditunjukkan antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda menyikapi wabah corona. Tercermin dalam keputusan yang mereka ambil bukan menyelesaikan permasalahan, tapi justru menambah masalah. Dampaknya publik makin gamang dengan setiap kebijakan.

Jangankan untuk mengikuti atau taat terhadap aturan yang diberlakukan pemerintah, untuk menerimanya dengan akal sehat pun sulit bagi rakyat. Mengapa demikian?  Jawabannya, rakyat telanjur pesimis dengan setiap kebijakan penguasanya. Cenderung tak percaya dan menimbulkan ragu yang mendalam di hati mereka. Memastikan ekonomi rakyat agar tetap baik-baik saja selama pandemi saja tak mampu, konon lagi memberikan rasa aman baik kesehatan dan ketenangan hidup mustahil terwujud. 


Maka umat berharap besar pada sistem Islam yang mampu melahirkan pemimpin yang memiliki sikap tegas dan percaya diri, tidak gagap dan ragu menghadapi wabah. Kebijakan pemerintah pusat dengan daerah pun berjalan dengan baik, tidak ada kontradiksi di antara keduanya. Hingga mampu memastikan situasi terkendali dan dapat segera memulihkan keadaan. Rakyat takkan terus diliputi oleh rasa cemas dan khawatir. Karena mereka hidup dalam pengurusan seorang pemimpin yang penuh dengan tanggung jawab dan ditopang oleh sistem yang terbaik yaitu Khilafah Islamiyah. Sayangnya, sistem Islam yaitu Khilafah masih dianggap berbahaya oleh rezim ruwaibidhah. Padahal justru keberadaan rezim ruwaibidhah yang membahayakan umat dan dunia. Kapitalis berhasil membolak-balikkan antara kebenaran dengan kebatilan.

Pendemik covid19 yang belum juga menunjukan penurunam sulit rasa menerima kebijakan dari pemerintah membuka sekolah lagi dipertengahan Juli. Mengapa demikian? Hal ini dikarnakan ketidak jelaskan pemerintah menangaani wabah corona hingga saat ini.

Pemerintah terus menerus mengeluarkan kebijakan kontrovesial Mulai dari membebaskan para napi yang mengakibatkan kriminalitas meningkat, mempercepat disahkannya UU Omnibus Law di tengah PHK massal dampak dari PSBB, tetap ngotot memindahkan ibu kota negara di tengah pandemi, hingga politisasi bansos di tengah kelaparan rakyatnya.

Masihkah mau mempertahankan sistem dan rezim tersebut?



LEBARAN UNIK DAN ASIK DI TENGAH PANDEMI

LEBARAN UNIK DAN ASIK DI TENGAH PANDEMI



Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar
Laailaahaillallaahu Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahil Hamdi

#InfoMulimahJember -- MashaAllah.. Gema takbir berkumandang penanda hari raya umat islam telah tiba. Iedul fitri 1441 H kali ini benar-benar unik. Meski umat Islam seluruh dunia saat ini sedang menghadapi ujian berupa wabah Covid 19 sehingga mengharuskan semua orang #dirumahaja. Tetap tidak melunturkan semangat kami untuk menyambut hari besar umat Islam.

Dimana letak uniknya? 

Kalau biasanya lebaran diisi dengan tatap muka, bertamu, reuni, dan sebagainya. Kali ini tatap muka kita laksanakan online. Dan yang membuat fantastis adalah teknologi tanpa batas ini bisa menjadikan lebaran online kali ini diikuti teman-teman di 34 provinsi di Indonesia. MashaAllah..

Istihlal spektakuler kita kali ini difasilitasi oleh channel yotube KHILAFAH CHANNEL dan KAFFAH CHANNEL yang tentunya menjadi channel terbaik yang menyajikan kajian-kajian Islam yang up to date.

Selain UNIK, istihlal online dari 34 propinsi ini juga sangat ASIK. Karena penyajiannya ringan dan pemandu acaranya suka berpantun. Sengaja dibuat PANTUN JADUL DENGAN SEDIKIT MODIFIKASI sehingga terkesan lucu. Seperti pantun berikut ini.

Bunga Mawar Bunga melati
Syariah Islam harga mati

Narasumber utama tentunya orang yang sudah kita tahu kemampuannya dalam memberikan solusi Islam atas setiap persoalan. Siapa lagi kalau bukan ustad Ismail Yusanto dan ustad Rohmat S. labib.

Ditambah lagi testimoni dari teman-teman di 34 propinsi dengam adat masing-masing yang tetap sesuai syariah menambah lebaran kali ini benar-benar UNIK dan ASIK.

Dan poin utama kesatuan pemikiran mereka adalah inginnya segera lepas dari sistem yang terpuruk ini. Bagi mereka pandemi ini menjadi ujian cukup berat untuk rakyat.

Gara-gara Demokrasi, pandemi amat sulit dihindari. Solusi yang tidak tuntas juga sangat plin plan dalam kebijakan negara. Target ekonomi lebih dijunjung tinggi dibandingkan nyawa rakyat.

Maka dalam pidato nya ustad Labib menyampaikan konsep pemberi solusi atas setiap permasalahan umat hanya ada dalam Islam. Dan konsep islam itu tidak akan terwujud kecuali diterapkan secara utuh dalam sebuah negara. Yaitu KHILAFAH.

Taqabbalallahu minna waminkum
MOHOM MAAF lahir dan batin.
Lebaran Digital Tidak Mengubah Transisi Ketaatan

Lebaran Digital Tidak Mengubah Transisi Ketaatan



Oleh: Vania Puspita Anggraeni

#InfoMuslimahJember -- Lebaran tahun ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Pasalnya, hari ini dunia dilanda wabah COVID 19 yang mengharuskan seluruh kaum muslimin menahan diri untuk melakukan interaksi sosial agar dapat memutuskan penyebaran virus.

Adanya fenomena silahturahmi digital di tengah pandemi ini pula yang membuat tim khilafah channel memberikan suguhan tema yang menarik dalam pembicaran berbobot pada tanggal 25 Mei 2020 pukul 08.30 WIB hingga pukul 11.45. Tema yang disuguhkan yakni Lebaran on Digital, Bahagia Dalam Kemenangan, Semangat Dalam Dakwah. Pembicaraan yang mengusung hastag #LebaranKitaIstimewa berhasil menyedot 25 viewers youtube. Benar-benar bukan angka yang sedikit.

Acara yang digelar oleh tim khilafah channel dengan komando host Karebet Wijaya Kusuma ini menghadirkan dua pembicara kondang yang namanya sudah tidak asing lagi dalam acara dakwah yang menyerukan islam kaffah. Ya,Ustadz H. M. Ismail Yusanto dan KH. Rahmat S. Labib mengambil peran untuk menyukseskan acara yang digagas tim khilafah channel pagi tadi. Tidak hanya itu, acara ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 34 perwakilan kaum muslimin yang mewakili hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Pembicaraan tentang lebaran digital ini diawali oleh KH. Rahmat S. Labib yang menyampaikan bahwa tanda diterimanya amal menurut Hasan Al Basri adalah adanya kebaikan setelahnya. Seperti kita mendengar adanya istilah haji mabrur yang mengartikan bahwa adanya ketaatan setelah datang dari beribadah haji. Begitu juga sama seperti pertanda diterimanya amal ketika bulan ramadhan adalah yakni adanya output yang menjadikan diri semakin berkualitas pasca ramadhan.

Sebagaimana apa yang Allah firmankan dalam QS. Muhammad ayat 17 “Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketaqwaan kepada mereka”. Juga dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” terkait makna takwa ini dapat merujuk pada makna yang disebutkan oleh murid Ibnu Abbas Ra, bahwa makna ketakwaan adalah mengerjakan amal ketaatan kepada Allah atas dasar petunjuk dari Allah dengan mengharap rahmat dari Allah, serta meninggalkan kemaksiatan kepada Allah atas dasar petunjuk dari Allah karena takut dengan azab Allah. Maka tidak disebut takwa jika belum tunduk dengan seluruh syariat yang Allah tetapkan.

Selanjutnya,  pembicara kedua oleh KH. M. Ismail Yusanto yang mengawali dengan bahasan tentang filosofi lebaran. Istilah lebaran yang dilihat dari bahasa Jawa yang artinya sudah. Sudah berakhirnya Ramadhan yang dilanjutkan dengan Idul Fitri atau Lebaran. Hal ini membuktikan adanya akuluturasi budaya jawa yang begitu lekat dengan islam. Seolah mengajarkan bahwa agama dapat diterapkan dalam pengaturan budaya sekalipun. 

Lalu, selanjutnya tentang keistimewaan ramadhan tahun ini yang banyak digadang-gadang oleh masyarakat. Keistimewaan ramadhan salah satunya adalah kedatangannya ditengah situasi pandemi dengananjloknya perekonomian secara global dan buruknya penanganan wabah dari penguasa hari ini. Namun, untungnya kondisi datangnya pandemi tidak terlalu jauh dengan datangnya ramadhan sehingga adanya kekuatan bagi rohani dapat dirasakan untuk semakin bertawakal terhadap ketetapan Allah serta berikhtiar semaksimal mungkin sebagai manusia biasa. Selain itu acara ini juga disertai dengan takbir yang dikumandangkan oleh perwailan kaum muslimin dari seluruh penjuru negeri secara bergantian, pemberian ucapan selamat hari raya, penyampaian permohonan maaf dan beberapa ucapan motivasi untuk tetap berjuang menyuarakan islam kaffah dalam naungan khilafah dengan bahasa masing-masing. 

Dari adanya pembahasan yang melibatkan dua tokoh dakwah islam kaffah dan perwakilan tokoh muslim dari seluruh penjuru negeri menunjukkan bahwa ramadhan yang telah berlalu hendaknya menjadi alat bermuhasabah dan kontrol diri untuk senantiasa melakukan ketaatan sebagai output keberkahan ramadhan yang hendak di raih. Yakni ketaatan yang hakiki harusnya terus mendarah daging dan tidak musiman karena ketaatan sejatinya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim sebagai konsekuensi keimanan kepada Tuhannya. Sehingga tegaknya khilafah menjadi wasilah untuk melakukan ketaatan secara komprhensif dan masif oleh seluruh lapisan masyarakat agar tercipta sebuah negeri yang tidak hanya mencapai kemaslahatan dalam urusan dunia tapi juga keberkahan di sisi Allah.

Selain itu, adanya keterlibatan perwakilan seluruh penjuru negeri menjadi bukti bahwa agama Islam dapat melebur dengan budaya dan tradisi seperti yang telah diajarkan para Wali Songo di tanah jawa yang berdakwah dengan wasilah akulturasi kebudayaan yang ada di tengah masyarakat, bukan menjadi ancaman yang digaungkan oleh beberapa sumber belakangan ini. Sejatinya, Islam tidak pernah merusak, karena islam diturunkan Allah sebagai rahmat seluruh alam.


BANSOS : ANTARA PENCITRAAN DAN KEWAJIBAN?

BANSOS : ANTARA PENCITRAAN DAN KEWAJIBAN?

Bupati Klaten. Sumber Foto : Tirto.ID



Oleh :Siti Nurhotimah

#InfoMuslimahJember -- Pendemik  covid-19 tak kunjung usai, bahkan saat ini sudah lebih dari 1000  korban meinggal dunia, sehingga rakyat butuh batuan oleh pemerintahan, mirisnya dalam situasi saat ini para penjabat mengambil kesempatan emas. Bantuan sosial (bansos) menjadi cara mengambil hati rakyat jelang pilkada 2020.

Bupati Klaten yang menempel di paket bantuan sosial (bansos) penanganan virus corona (Covid-19) memantik polemik. Kasus ini membuka mata publik terkait politisasi bansos saat krisis di tengah pandemi. Kejadian bermula dari foto bansos yang viral di media sosial. Dalam paket bantuan hand sanitizer, tertempel wajah Bupati Klaten. Unggahan itu disusul oleh foto berbagai paket bantuan sosial yang juga ditempeli wajah politikus PDIP tersebut. Mulai dari beras, masker, hingga buku tulis untuk siswa diwarnai wajah. Kejadian politisasi bansos tak hanya terjadi di Klaten.

Publik juga mengkritisi surat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang diselipkan dalam bantuan sosial untuk warga Jakarta.Tak hanya di tingkat daerah, politisasi bansos juga terjadi di tingkat nasional. Publik mempermasalahkan bantuan sosial yang digelontorkan pemerintahan Joko Widodo dengan nama Bantuan Presiden RI. Nama bansos itu dinilai seolah-olah bantuan dikeluarkan langsung oleh Jokowi. Padahal sumber dana bantuan sosial berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipungut dari uang rakyat.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai KOPI Kunto Adi Wibowo berpendapat kultur politisasi bansos sudah terjadi sejak lama di dunia politik. Di Indonesia, praktik ini marak dilakukan setidaknya sejak pemerintahan Presiden SBY meluncurkan bantuan langsung tunai (BLT).Kunto mengatakan politisasi bansos merupakan salah satu trik kampanye dalam politik. Eropa lebih mengenalnya dengan istilah pork barrel atau gentong babi. " Istilahnya pork barrel, tong yang isinya daging babi dulu di Eropa. Jadi memberikan supply makanan kepada konstituennya, bahkan jauh hari sebelum pemilu. Tujuannya membangun favorability, kesukaan terhadap dia," tutur Kunto kepada (CNNIndonesia.com 29/4).

Hal ini  wajar  di dalam sistem demokrasi, Politik pencitraan masih dan akan terus terjadi dalam sistem demokrasi. Disaat sulitpun, rakyat tetap dijadikan sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan mereka.  kasus  politisasi bansos ini berhasil membuka mata publik atas buruknya penguasa saat ini, dimana mereka memanfaatkan pencitraan paket demi mempertahankan kekuasaan

Hal ini menjadi bukti, bahwasannya demokrasi  gagal  melahirkan pemimpin yang melayani rakyat dan gagal pula untuk bertanggung jawab, karena yang dipetaruhkan ialah "pencitraan". Ini tentu makin menguatkan dugaan publik atas ketidaktulusan rezim dalam mengurus rakyat. Berharap para pejabat dalam demokrasi bersikap tulus menyelesaikan segala permasalahan . Besar  omongan  jelang pemilu dengan mengatakan kepentingan rakyat di atas segalanya namun, setelah terpilih menjadi pemimpin negeri, sejatinya kepentingan pribadi yang dinomor satukan.

Melihat kerja rezim yang demikian, rasanya tak ada harapan rakyat akan sejahtera. Kebijakan yang dibuat hanyalah berdasar asas manfaat untung dan rugi. Tak heran, begitulah memang sistem kapitalis membentuk pemimpin masa kini. Padahal fakta empiris mencatat hal berbeda. Ada sosok-sosok pemimpin sejati  yang menerapkan kebijakan-kebijakan (peraturan) tanpa itung-itungan materi, tapi pada halal dan haram yang ditetapkan Illahi. Dengan peraturan tersebut, ia memiliki prinsip rela berkorban demi rakyatnya, tidak bersikap pragmatis(manfaat), apalagi memiliki sikap politik yang cenderung berubah-ubah.

Dalam sistem islam, pengurusan rakyat adalah hal yang utama. Karena itulah tugas utama pemimpin  yang akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT. Seperti contohnya, khalifah Umar yang cepat tanggap dalam menangani krisis yang terjadi akibat musim kering yang berkepanjangan. Beliau bekerja siang dan malam dan terjun langsung bukan pencitraan semata. Karena kebijakannya yang efektif dan tepat sasaran, akhirnya krisis tersebut bisa  begitu cepat teratasi. Usaha dan doa yang begitu maksimal dan optimal dilakukan, semuanya  itu hanyalah dalam rangka ketaatan kepadaNya  untuk menjalankan tugasnya sebagai pengurus rakyat. Pemimpin  terbaik ialah yang berasal dari sistem terbaik karena datang dari Sang Ilahi yang tahu betul apa solusi bagi manusia yang merupakan makhluk ciptaanNya.

Wallahu a'lam

Mampukah, Mereformasi Kualitas Pendidikan Ditengah Wabah?

Mampukah, Mereformasi Kualitas Pendidikan Ditengah Wabah?

Menteri Pendidikan. Sumber Foto : TribunNews


Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

#InfoMuslimahJember -- Ditengah wabah pandemi virus covid-19 (Corona) yang masih menghantui pundi-pundi kehidupan tak tertinggal aspek pendidikan, kini Menteri Pendidikan Nadiem sengaja mempercepat target program kerjanya. Menurutnya lebih cepat lebih baik. Ini juga merupakan suatu bentuk realisasi dari upaya efisiensi itu sendiri.

Tidak hanya itu, bahkan Nadiem membuat gebrakan dengan meniadakan UN dan menggantinya dengan Assessment Competition yang juga dipercepat satu tahun. Gagasan besar pembuatan seri-seri kebijakan yang telah disusun oleh Nadiem tidak lain adalah untuk memerdekakan potensi guru, potensi kepala sekolah, dan meningkatkan relevansi pembelajaran kepada dunia nyata.

“Dunia nyata itu bukan hanya industri, tetapi dunia pemerintahan, dunia sosial sektor, dunia non-profit,” kata Nadiem. 

“Kalau kita ingin berstandar dunia, ya assessment untuk mengukur standar kita ya juga harus mengikuti standar dunia,” pungkas Nadiem Makarim.(PortalJember).

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat minta reformasi pendidikan yang akan dilakukan pemerintah harus tetap terukur. Hal tersebut terkait dengan rencana pemerintah yang akan melaksanakan reformasi pendidikan tahun depan.

"Sebelum melakukan reformasi harus ada pemetaan semua permasalahan sektor pendidikan, sehingga hasil dari reformasi bisa diterapkan sesuai kondisi yang ada," kata Lestari, dalam keterangannya, Rabu (6/5/2020).

Lestari mengungkapkan pengembangan sektor pendidikan harus dilakukan sesuai tahapan yang benar. Apalagi menurutnya sebelum terkena dampak wabah COVID-19, kondisi peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei 2018 berada di urutan bawah.
PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Untuk nilai kompetensi membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara.
Sementara untuk nilai matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Kemudian untuk nilai sains, berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai-nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.

Lestari pun mengatakan, dengan adanya gangguan wabah Corona perlu upaya yang lebih untuk memperluas jangkauan pemerataan pendidikan di Tanah Air. Hikmah yang bisa diambil dari wabah COVID-19 di sektor pendidikan menurutnya, adalah terbukanya mata kita bahwa sistem pendidikan nasional saat ini belum sepenuhnya mampu diakses dengan baik oleh semua siswa dari Sabang sampai Marauke.

"Karena belum ada kesetaraan dari sisi infrastruktur pendidikan dan kualitas guru di sejumlah daerah di Indonesia," pungkasnya (Tribunnews.Com 06/05/20).

Suksesnya pendidikan merupakan salah satu pilar kemajuan suatu bangsa. Dengan begitu aspek pendidikan tidak bisa diletakkan nomor belakang dalam urusan kehidupan. Lalu, bagaimana halnya dengan pendidikan di negara kita. Ternyata berdasarkan survei 2018 berada di urutan bawah. Ditengah wabah pandemi virus covid-19 (Corona) ini  Mendikbud membuat gebrakan untuk tetap mempercepat target program kerjanya.

Dilain sisi Wakil ketua MPR RI Lestari Moerdijat bisa mengambil hikmah kesadaran akan kualitas pendidikan yang ada. Fakta kini menunjukkan pendidikan yang ada tatkala di ukur ternyata jauh panggang dari api yakni masalah diurai namun jauh dari solusi. Bagaimana tidak yang dijadikan indikator penilaian untuk mengukur suksesnya pendidikan yakni Programmer for International Student Assessment (PISA). Yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation For Economic Cooperation and Development) berpusat di Paris, adalah badan ekonomi dunia. Yang mengacu pada literasi membaca, menghitung, dan sains. Jadi ukuran kesuksesan pendidikan yang utama adalah untuk kemajuan ekonomi, dan terlihat mengedepankan pengetahuan mengesampingkan moral.

Sementara kita telah disuguhi fakta buramnya output pendidikan, akan krisis moral generasi kian mewarnai negeri meskipun punya kemampuan dari sisi pengetahuan. Hal ini merupakan permasalahan pendidikan yang belum tampak ada solusi. Terlebih dengan adanya wabah pandemi virus covid-19 (Corona) dunia pendidikanpun terasa terhambat dalam proses pembelajaran. Bagaimana tidak KBM secara daring butuh biaya besar, terkadang  ada kendala sinyal bahkan muncul kesulitan dalam pemahaman. sehingga  tujuan pembelajaran itu sendiri tidak tercapai secara optimal. Dengan demikian, sulit rasanya untuk mereformasi kualitas pendidikan di tengah wabah.

Lain halnya kualitas pendidikan dalam sistem Islam, akan  terukur dengan adanya tujuan. Adapun tujuan pendidikan dalam Islam yakni : Pertama, membangun kepribadian Islam, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) yang islami bagi umat, yaitu  dengan cara menanamkan staqofah Islam berupa aqidah, pemikiran, dan perilaku islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Untuk merealisasikannya negara akan membuat kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Sehingga moralnya mencerminkan kepribadian atau akhlak yang islami.

Kedua, mempersiapkan generasi agar diantara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman ( ijtihad, fiqih, peradilan dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain). Hingga akhirnya membawa kemajuan bagi sebuah peradaban. Karena dicetaknya individu-individu yang punya keahlian dan mempunyai jiwa kepemimpinan.

Dengan demikian, terukurnya kualitas pendidikan dalam sistem Islam yaitu tatkala tujuan dari pendidikan tersebut telah tercapai. Tercapainya tujuan pendidikan akan direncanakan dalam sebuah kurikulum oleh negara. Dimana keberadaan pemimpin negara dalam sistem Islam tatkala memimpin berangkat dari ketaqwaan. Dan memiliki kesadaran sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: "Imam(pemimpin) itu pengurus rakyat maka akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR. al-Bukhari dan Ahmad). 

Sejarahpun telah membuktikan bagaimana sistem pendidikan dalam Islam yang mampu mewujudkan sebuah peradaban. Peradaban  gemilang  menjadi mercusuar dunia selama 1400 tahun lamanya. Menguasai 2/3 wilayah dunia dengan kecemerlangannya. Dengan demikian, saatnya kita menjadikan pendidikan dalam sistem Islam sebagai tolak ukur kualitas dalam reformasi pendidikan yang ada. 

Wallahu a'lam bi-ashowab.

DAMAI DENGAN CORONA, APAKAH UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT?

DAMAI DENGAN CORONA, APAKAH UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT?



Sumber Foto : Mojok

Oleh : dr. Erna Noviyanti

#InfoMuslimahJember -- Setelah diksi mudik-pulang kampung, masyarakat kembali dibingungkan dengan diksi perang-damai Corona yang digulirkan oleh pemerintah.Pernyataan pemerintah untuk hidup damai dengan Corona ini memicu berbagai persepsi maksud dibaliknya. Melihat arah dan inkonsistensi kebijakan Pemerintah, tidak salah jika ada pihak yang menilai bahwa pernyataan ini memperlihatkan ketidakseriusan Pemerintah dalam menangani pandemi ini. Rakyat diminta untuk menyesuaikan kehidupannya dan tetap produktif di tengah wabah, tetapi di sisi lain Pemerintah dinilai tidak serius di dalam memutus penyebaran Covid-19.

Mulai dari tidak adanya transparansi data terkait Covid-19, sehingga menimbulkan tuntutan transparansi dari berbagai pihak. Kapasitas alat tes diagnostik yang tidak memadaiuntuk masyarakat luas. Padahal diagnostik adalah garis pertahanan pertama terhadap penularan penyakit, khususnya Covid-19 yang bisa ditularkan oleh orang tanpa gejala. Di sisi lain, komersialisasi alat tes diagnostik menjadikannya lebih memihak kepada orang yang berduit dan kalangan pejabat. Belum lagi keterbatasan sarana dan prasaranapelayanan kesehatan dalam menangani Covid-19, menambah daftar ketidakseriusan Pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini. Seruan damai dengan corona sama saja Pemerintah membiarkan tenaga medis menghadapi pandemi dan rakyat menjadi korban tanpa perlindungan.
           
Dengan menggulirkan diksi yang kontradiktif, hidup berdamai dengan Corona, semakin memperlihatkan Pemerintah lebih memilih menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target dibandingkan nyawa rakyat. Sejak awal menyikapi pandemi Covid-19, urusan ekonomi menjadi perhatian utama dari pada mengantisipasi penyebaran virus. Ketika kasus sudah mulai merebak di sejumlah negara, pada Februari pemerintah memberikan stimulus Rp 8,5 triliun untuk memperkuat ekonomi dalam negeri melalui sektor pariwisata. Pada pertengahan Maret, pemerintah kemudian meluncurkan stimulus lanjutan senilai Rp 22,5 triliun. Stimulus ini untuk menopang sektor industri dan memudahkan ekspor-impor. Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) maupun pembatasan mobilitas lainnya jelas berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Ironisnya di tengah gelombang PHK besar-besaran akibat pandemi, pemerintah justru berencana mendatangkan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok ke Sulawesi Tenggara. Ditambah dengan adanya pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker),yang dinilai merugikan pekerja lokal dan menguntungkan pekerja asing. RUU ini juga dianggap memberikan kelonggaran yang berlebihan kepada pengusaha dan investor asing yang bisa mengancam kedaulatan ekonomi. Kebijakan-kebijakan tersebut membuat pemerintah Indonesia nampak sangat inferior jika berhadapan dengan investor asing. Hilangnya kepedulian Pemerintah kepada rakyatnya di tengah pandemi Covid-19, tampak keberpihakannya kepada kepentingan korporasi dan arahan asing.

Dalam Islam, penguasa memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung). Tanggung jawab besar berada dipundaknya untuk mengurusi kebutuhan dan melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya, karena semua itu akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Jaminan pengurusan dan perlindungan atas dasar keimanan tersebut dibarengi dengan penerapan syariat Islam. SyariatIslam diturunkan oleh Allah sebagai solusi bagi seluruh permasalahan kehidupan manusia, baik itu yang berkaitan dengan politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, hukum, dan lain sebagainya.

Itulah mengapa, sepanjang khilafah tegak selama belasan abad, umat Islam hidup dalam kesejahteraan yang tidak pernah dicapai oleh peradaban lainnya. Umat Islam tampil sebagai umat terbaik, bahkan menjadi kiblat peradaban dunia. Sejarah mengukir, ketika wabah menimpa kaum muslim, khilafah dibawah pimpinan khalifah segera melakukan berbagai upaya untuk memutus rantai penyebaran dan memastikan kebutuhan dasar serta keselamatan rakyat tetap terjaga. Negara mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa memenuhi segala apa yang dibutuhkan rakyatnya, termasuk di dalamnya sarana-prasarana kesehatan dan mendorong berbagai riset untuk kemajuan pelayanan kesehatan. Sehingga fungsi pengurus dan pelindung betul-betul dilaksanakan secara optimal, pelayanan kesehatan diberikan gratis dan berkualitas untuk semua rakyatnya tanpa ada perbedaan kelas. Sistem kesehatan Islam ini disokong oleh sistem ekonomi Islam, yang pendanaannya anti defisit dan tidak dibebankan kepada rakyat.

Sangat berbeda dengan kepemimpinan berparadigma Kapitalisme, yang lebih megutamakan hawa nafsu dan kekuasaan. Pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara. Maka tidak mengherankan jika menjual aset-aset negara, melakukan privatisasi, serta membuka keran investasi yang semuanya berpihak kepada kepentingan kapital (pemodal besar) dan asing. Dengan adanya pandemi, Allah semakin menunjukkan kebobrokan sistem Kapitalisme. Bermula dari krisis masalah kesehatan, pandemi juga telah memicu krisis finansial dan krisis ekonomi. Hanya sistem Islam yang mampu menangani pandemi dan dampaknya di saat negara-negara penganut sistem Kapitalisme dibuat tak berdaya. Masihkah kita berharap sejahtera di sistem Kapitalisme?