Minggu, 21 April 2019

Hubungan Kesultanan Banten dan kekhilafahan Turki Utsmani


/Hubungan Kesultanan Banten dan kekhilafahan Turki Utsmani/

Pengaruh kekuatan dan diplomasi kepada Turki Utsmani dari Banten, tampak setelah Sultan Abu al-Mufakhir meminta gelar Sultannya kepada penguasa Mekkah pada tahun 1638. Mekkah dan Madinah memang saat itu berada di bawah kekuasaan Gubernur Jendral Turki Utsmani di Jeddah.

Pengaruh militer dan gelar Khilafah di dunia Islam memang sangat berpengaruh terhadap perlindungan negeri-negeri Islam.

Gelar Sultan Banten diperoleh penguasa Banten dari Turki Utsmani melalui Syarif Makkah pada tahun 1638. Raja Kesultanan Banten yang dianggap terbesar, adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Dia adalah sultan terlama yang menduduki tahta Banten sejak tahun 1651 hingga 1682.

Meskipun hubungan antara Aceh dan Khilafah Utsmani lebih terkenal, Kesultanan Banten di sebelah utara Jawa Barat juga memiliki hubungan yang signifikan dengan kekhilafahan Utsmani melalui koneksi ke Hijaz.

Sultan Banten meminta legitimasi dari Syarif Mekkah bagi kekuasaan mereka, bahkan pada suatu kesempatan Sultan berziarah secara pribadi ke sana. Kunjungan tersebut dibuktikan dalam Sajarah Banten, namun tidak tercatat dalam sejarah Mekkah maupun sejarah Khilafah Utsmani.

Namun realitas hubungan ini dibuktikan dengan karya-karya abad ke-17 ulama Syafii Mekkah, Muhammad bin ‘Alan, yang atas perintah dari Sultan Banten menulis beberapa karya, diantaranya yang paling menonjol adalah adaptasi dari cermin Ghazali untuk para amir, Nashihat alMuluk, yang berjudul al-Mawahib al-Rabbaniyyah (Hadiah Ilahi).

Untuk meningkatkan kegiatan perniagaan Sultan Ageng Tirtayasa juga membina hubungan baik dengan negeri-negeri lain, terutama dengan Negara-negara Islam, seperti Turki, Arab, Persia, India, Aceh, Ternate dan Tidore. Tidak lupa pula Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan surat persahabatan kepada raja Denmark.

Berawal dari kedekatan Pangeran Anom (Pangeran Haji) kepada VOC. Dia dikirim ayahnya ke Mekkah pertama kali untuk meneruskan kontak yang telah terjalin ke Turki Utmani pada tahun 1671, yaitu ketika telah berjalan satu dasawarsa lebih perjanjian damai antara Kesultanan Banten dengan VOC di tahun 1659.



Referensi:

Suraiya Faroqhi, Pilgrims And Sultans, The Hajj Under The Ottomans 1517-1683, (London: I.B.Tauris & Co.Ltd, 1994

Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012)

Asrul, Intervensi Voc Dalam Konflik Suksesi Di Kesultanan Banten (1680-1684), Skripsi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

Andrew Peacock, “Divine gifts” for Java: the seventeenth century Ottoman ‘alim Muhammad b. ‘Alan of Mecca and the sultanate of Banten, University of St Andrews, Abstracts of Papers International Workshop: From Anatolia To Aceh: Ottomans, Turks And Southeast Asia, Banda Aceh, 11-12 January 2012.

Edi Ekajati S dan Sutrisni Kuntoyo, Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialism Dan Kolonialisme Di Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan NIlai Tradisional, 1983

This entry was posted in

Isra’ Mi’raj dan Kepemimpinan Umat Islam


Isra’ Mi’raj dan Kepemimpinan Umat Islam

Oleh : Ustadz Rokhmat S. Labib


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (TQS al-Isra’ [17]: 1).

Ini merupakan ayat pertama dalam al-Isra’. Isinya menceritakan tentang diperjalankannya Rasulullah saw dari al-Masjid al-Haram yang berada di Makkah ke al-Masjid al-Aqsha di Palestina.

Perjalanan Isra’

Allah Swt berfirman: 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha

Kata subhâna merupakan bentuk masdar dari kata sabbaha, yang berarti nazzaha (mensucikan). Maknanya, sebagaimana dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam Zâd al-Masîr adalah al-tanzîh lil-Lâh min kulli sû’ (mensucikan Allah dari segala keburukan). Menurut al-Baghawi, dalam konteks ayat ini, kata tersebut bermakna al-ta’ajjub (menyatakan kekaguman dan ketakjuban).

Ibnu Katsir berkata, “Allah Swt memulai surat ini dengan mengagungkan diri-Nya dan menggambarkan kebesaran peran-Nya, karena kekuasaan-Nya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain Dia sendiri. Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, 5/5).

Diberitakan bahwa Allah Yang Maha Suci telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam. Tidak ada perbedaan di kalangan mufassir bahwa yang dimaksud dengannya ‘abdihi adalah Rasulullah saw. Kata ‘abdihi itu --bagi sebagian mufassir—sekaligus juga menunjukkan bahwa yang di-isra’-kan itu melibatkan ruh dan jasad beliau.

Kata al-isrâ’ sesungguhnya mengandung pengertian perjalanan di malam hari. Oleh karena itu, ketika disebutkan layl[an] (malam hari), maka bisa berfungsi sebagai ta’kîd (penegas). Bisa juga menunjukkan makna singkatnya tempo perjalanan itu. Bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya dari Makkah ke Syam hanya sebagian waktu malam. Padahal, dengan perjalanan biasa, jarak itu ditempuh selama empat puluh malam. Kata layl[an] yang berbentuk nakirah memberikan makna ba’dhiyyah (sebagian). Demikian Fakhruddin al-Razi dan al-Syaukani dalam tafsirnya.

Kata al-Masjid al-Harâm menunjuk kepada sebuah masjid di Makkah. Dalam suatu riwayat dikisahkan, pada malam itu beliau berada di Hijr Baitullah. Dalam riwayat lain, beliau tidur di rumah Ummu Hani’. Riwayat ini dianggap masih sejalan dengan ayat ini. Sebab, sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abbas, al-Haram itu semuanya adalah masjid.

Sedangkan al-Masjid al-Ashâ adalah Bayt al-Maqdis yang terletak di Palestina. Dijelaskan Ibnu Katsir, Baitul Muqaddas yang terletak di Elia (Yerussalem) merupakan tempat asal para nabi sejak Nabi Ibrahim as. Karena itulah para nabi dikumpulkan di Masjidil Aqsa pada malam itu, lalu Nabi saw mengimami mereka di tempat mereka dan negeri mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah al-imâm al-a’zham (imam terbesar) dan al-raîs al-muqaddam (pemimpin yang didahulukan). Semoga shalawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, 5/5). 

Lalu disebutkan: 
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ 
Yang telah Kami berkahi sekelilingnya
Bahwa di sekitar Masjid al-Aqsha itu diberkahi oleh Allah Swt. Berkah itu berupa melimpahnya materi, seperti air, tumbuhan, buah-buahan, dan sebagainya. Juga, berupa non materi, seperti banyaknya nabi yang diutus, diturunkannya malaikat, dan banyaknya tempat ibadah. Menurut al-Samarqandi, tanah yang berkahi itu meliputi beberapa kota di sekelilingnya, seperti Damaskus, Yordan, dan Palestina.

Kemudian Allah Swt menjelaskan tujuan perjalanan itu:
لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا 
Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami

Kata âyâtinâ adalah berbagai keajaiban yang menjadi tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt, di bumi dan di langit. Ditambahkannya kata min sebelum âyâtinâ menunjukkan bahwa tanda yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw itu hanya sebagian. Sebab, kata min di sini bermakna li al-tab’îdh (untuk menunjukkan sebagian).

Dalam banyak hadits shahih diceritakan, banyak kejadian menakjubkan yang beliau jumpai pada saat itu. Dari Makkah ke Baitul Maqdis beliau disertai Jibril menaiki kendaraan buraq. Sesampai di Masjid al-Aqsha, beliau dipertemukan dengan nabi-nabi terdahulu. Beliau pun shalat bersama mereka dan didaulat sebagai imamnya. Setelah itu, beliau mi’raj (naik) ke langit dunia bersama Jibril. Di setiap tingkatan langit, beliau disambut secara berturut-turut oleh Adam, Yahya dan Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Setelah itu, beliau naik ke sidrat al-muntahâ, lalu ke bait al-ma’mûr, kemudian menghadap Rabbnya. Beliau juga diperlihatkan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan surga dan siksa neraka. Juga, diberikan taklif shalat lima puluh waktu dalam sehari, hingga akhirnya tinggal lima waktu. Semua itu merupakan sebagian tanda kekuasaan-Nya yang diperlihatkan kepada beliau.

Kemudian ayat ini ditutup dengan firman-Nya: 
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

Bahwa Allah Swt Maha mendengar semua ucapan hamba-Nya, dan Maha melihat semua perbuatan hamba-Nya.

Tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, sangat banyak diterangkan dalam Hadits.

Ujian Keimanan dan Alih Kepemimpinan

Peristiwa yang terjadi setahun menjelang hijrah itu –menurut sebagian riwayat-- tentu amat menggemparkan penduduk Makkah. Bagi sebagian orang, kejadian itu dianggap tidak rasional. Mereka pun menuduh Rasulullah saw telah berbohong. Provokasi itu cukup berpengaruh terhadap orang-orang yang lemannya. Bahkan ada di antara mereka yang murtad. Sebaliknya, bagi orang yang kuat imannya, kejadian itu justru makin memperkuat. Abu Bakar adalah salah satunya. Lantaran langsung membenarkan berita itu, beliau mendapatkan gelar al-shiddîq (yang membenarkan).

Menurut Rawwas Qal’ahji, pada peristiwa isra’ mi’raj itu terdapat tiga poin yang penting dipahami. 

Pertama, isra’-nya Rasulullah saw ke Baitul Maqdis dan shalatnya beliau di sana. Kedua, tampilnya Rasulullah saw sebagai imam bagi para nabi. Ketiga, pilihan Rasulullah saw terhadap gelas yang berisi susu, seraya menolak khamr.

Tampilnya Rasulullah saw menjadi imam bagi para nabi itu mengisyaratkan terjadinya alih kepemimpinan bagi umat manusia. Kepemimpinan yang sebelumnya dipegang Bani Israil dengan ditandai banyaknya nabi dari kalangan mereka dialihkan kepada beliau dan umatnya. Isra’nya beliau di Baitul Maqdis dan tampilnya beliau sebagai imam mengisyaratkan bahwa Baitul Maqdis dan sekitarnya termasuk bagian dari daerah kekuasaan negara yang akan beliau dirikan. Alasannya, tuan rumahlah yang berhak menjadi imam dalam shalat. 

Pilihan Rasulullah saw terhadap susu dan dibenarkan Jibril yang menyatakan bahwa pilihan beliau itu sesuai dengan fitrah mengandung maksud bahwa sistem yang diturunkan kepada beliau untuk memimpin manusia itu merupakan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia.

Ketiga, poin itu memang benar-benar terealisasi. Kurang lebih setahun kemudian, beliau berhasil mendirikan negara di Madinah. Ketika beliau dipanggil ke hadirat-Nya, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Islam. Baitul Maqdis dan sekitarnya pun dikuasai beberapa tahun kemudian. Tepatnya, ketika Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah. Dan itu terus berlangsung hingga khilafah Utsmaniyyah runtuh. Memang daerah itu sempat dikuasai pasukan salib, namun tentara Islam segera bisa merebutnya kembali.

Seharusnya, peringatan Isra’ Mi’raj yang rutin dilakukan setiap tahun itu menyadarkan tentang beberapa poin di atas. Jika kini umat Islam kehilangan khilafah sehingga tidak lagi menjadi pemimpin dunia; jika Baitul Maqdis yang seharusnya di bawah kekuasaan Islam justru dikangkangi institusi Yahudi, sementara umat Islam diam dan tidak merasa bersalah akan hal itu, maka peringatan Isra’ Mi’raj perlu dipertanyakan dampak yang dihasilkan. Akankah kita tidak tergerak untuk merubahnya? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

SIAPA BISA MELINDUNGI UMAT MUSLIM?



SIAPA BISA MELINDUNGI UMAT MUSLIM?

Lagi, darah Muslim tertumpah. Sekitar 50 warga Muslim New Zealand di kawasan Christchurch, yang sedang bersiap beribadah shalat Jumat, menjadi korban penembakkan brutal oleh seorang teroris Kristen. Pelaku bukan saja berencana membunuhi warga Muslim. Dia juga berniat menciptakan ketakutan pada kaum Muslim di dunia dengan cara menyiarkan aksi terornya secara live streaming lewat media sosial.
Pelaku dan komplotannya kemudian berhasil dibekuk aparat. Namun, yang menjadi persoalan, mengapa begitu mudah darah umat Muslim di belahan dunia manapun, termasuk di negeri Islam sekalipun, ditumpahkan? Di Suriah, Irak, Rohingya, Kashmir, India dan Uighur nyawa kaum Muslim begitu mudah dicabut, tanpa ada pembelaan sama sekali!

Harga Nyawa Mukmin

Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Allah SWT pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras: 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar (TQS an-Nisa`[4]: 93).

Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah SWT mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasul saw bersabda:

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اجْتَمَعُوا عَلَى قَتْلِ مُسْلِمٍ لَكَبَّهُمُ اللهُ جَمِيعًا عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ

Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka (HR ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain, kata Ibnu Abbas ra, saat memandang Ka’bah, Nabi saw pun bersabda, “Selamat datang, wahai Ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi, serang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau.” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada! Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat dan Daulah Islam. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim para Sahabat untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11).

Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum Muslim terus dilakukan oleh para penguasa Muslim sepanjang sejarah. Seperti yang dilakukan Sultan al-Hajib al-Manshur (971-1002 M). Ia dikenal oleh Barat sebagai penguasa Muslim dan jenderal di wilayah Andalusia. Ia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre, salah satu kerajaan yang berada di wilayah Spanyol yang tunduk pada Khilafah Islam, karena diketahui menyekap tiga orang Muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan al-Hajib al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf, lalu melepaskan tiga Muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.

Umat Butuh Pelindung

Umat tak bisa melindungi diri mereka sendiri. Harus ada penguasa yang melindungi mereka. Demikianlah sebagaimana pesan Nabi saw:

إنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Rasulullah saw, selaku imam kaum Muslim, semasa menjadi kepala Negara Islam Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum Muslim. Demikian pula Khulafaur-Rasyidun dan para khalifah setelah mereka. Mereka terus melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimana pun mereka berada karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka.

Bagaimanakah dengan sekarang? Saat puluhan warga Muslim ditembaki di dalam mesjid di New Zealand, adakah yang melindungi mereka? Adakah yang menuntut balas atas darah yang tertumpah? Belum lagi ratusan ribu nyawa Muslim yang menjadi korban pembantaian di Suriah, Irak, Palestina, Kashmir, Uighur dan Myanmar. Adakah yang membela dan melindungi mereka dari kaum agresor? Tidak ada!

Sampai hari ini pun, kaum Muslim Rohingya yang masih hidup masih terlunta-lunta. Tak bisa kembali ke kampung halaman mereka. Mereka menderita di penampungan. Sekitar satu juta Muslim Uighur juga masih mendekam di kam konsentrasi pemerintah komunis Cina tanpa ada yang mau menolong mereka. Tragisnya, Raja Saudi Muhammad bin Salman justru mendukung pemerintah komunis Cina melanjutkan program ‘deradikalisasi Islam’ terhadap Muslim Uighur.

Apakah para pemimpin Muslim lupa terhadap firman Allah SWT:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Tidakkah mereka pernah membaca sabda Nabi saw:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ

Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dia dan jangan pula menyerahkan dia (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Bagaimana bisa para pemimpin Dunia Islam malah bermesraan dengan penguasa Timur dan Barat yang nyata-nyata menganiaya kaum Muslim seperti Cina, Rusia, AS atau Israel?
Bandingkan dengan sikap para pemimpin Barat usai penyerengan terhadap kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Mereka serentak turun ke jalan di Kota Paris. Mereka kompak mengutuk keras penyerangan tersebut meski jelas nyata kejadian ini dipicu penghinaan terhadap ajaran Islam. 

Lihat pula ketika terjadi serangan terhadap Menara Kembar WTC 11 September 2001, George Bush langsung menyatakan perang terhadap apa yang ia namakan ‘kelompok teroris’. Lalu pada tahun 2003 AS menginvasi Irak bersama sejumlah negara dengan alasan menghukum para ‘teroris’. Hasilnya, setengah juta warga Irak tewas dalam operasi tersebut. Lagi-lagi tanpa pembelaan dan perlawanan. Semua penguasa Muslim diam!

Sekarang, siapa pula yang membela dan melindungi kaum Muslim? Lagi-lagi tidak ada! Padahal serangan terhadap Mesjid di Christchurch pekan lalu dilakukan oleh pelaku karena dorongan kebencian pada Islam. Dalam manifesto 74 halaman yang diunggah pelaku di sosial media, ia mengatakan bila dia memang penganut supremasi kulit putih yang ingin balas dendam terhadap serangan Muslim di Eropa.

Memang tidak semua warga non-Muslim di Barat memiliki kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Berbagai simpati dan empati berdatangan dari warga dunia kepada korban penembakan. 

Namun demikian, kebencian terhadap Islam (Islamphobia) telah meningkat di seantero Eropa dan Amerika Serikat adalah fakta. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center mengenai Islamophobia, sentimen negatif warga Eropa terhadap Muslim melonjak di sepanjang tahun 2016. Di Inggris, prosentase Islamophobia meningkat hingga 28 persen.
Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50 persen dan 69 persen. Di Yunani prosentasenya 65 persen. Hungaria menduduki tingkat tertinggi dengan angka 72 persen. Di Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia berdasarkan laporan, peningkatannya juga terbilang tinggi. 

Banyak warga Muslim di Eropa, terutama remaja dan perempuan, dilaporkan mengalami pelecehan secara verbal hingga pemukulan. Sepanjang tahun 2017, sekitar 200 mesjid diserang di seantero Eropa dan Inggris. Ini meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, tak ada satu pun pemimpin Dunia Islam yang merespon penderitaan umat. Para pemimpin umat hanya menjadi macan kertas. Hanya melakukan gertak sambal berisi kecaman kosong. Apakah mereka tidak malu pada remaja ingusan yang berani menghinakan senator Australia yang fasis membenci Islam? Padahal remaja itu non-Muslim dan dia tidak punya kekuasaan sebagaimana para penguasa Muslim itu?
Padahal Allah SWT tegas berfirman: 

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

Karena itu siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian (TQS al-Baqarah [2]: 194).

Jelas, kaum Muslim membutuhkan pemimpin yang sanggup melindungi dan membela mereka. Bukan pemimpin yang hanya menonton dan berkoar-koar di belakang meja, sementara tangannya tak pernah terulur menyelamatkan kaum Muslim. 
Kita membutuhkan Khilafah yang dipimpin seorang imam/khalifah, yang akan menjadi perisai yang melindungi kita. Khilafahlah yang akan menghukum siapa saja yang berani menganiaya kita. []

Hikmah:

Nabi saw bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR an-Nasa’i). []

Sikap Seorang Muslim Terhadap Datang Kabar Tentang Hari Kiamat

Sikap Seorang Muslim Terhadap Datang Kabar Tentang Hari Kiamat

Oleh : Yulida Hasanah*

Beberapa hari terakhir ini, warga Jember dihebohkan oleh isu tentang datangnya kiamat yang tak jelas dari mana sumbernya. Mirisnya, sikap warga Desa Umbulsari dan Gunungsari Kecamatan Umbulsari malah melakukan hal-hal yang tak masuk akal ketika menyikapi isu kiamat tersebut. 

Ada yang lari ke Malang, tepatnya ke Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Desa Sukosari Kecamatan Kesembon Malang. Ada juga yang tiba-tiba tidak mau bekerja karena sebentar lagi kiamat. Dan yang lebih parah, ada warga yang menjual foto Kiai Muhammad Romli Soleh Syaifuddin pengasuh Pondok Pesantren di Malang seharga Rp. 1.000.000, sebab meyakini foto tersebut untuk menolak kiamat. (Suara.com, 15/3/2019)

Sungguh menyedihkan sekali kondisi umat Islam hari ini. Dari dangkalnya cara berpikir mereka, hingga sikap yang tidak masuk akal bahkan tak ada hubungannya dengan amal seorang muslim dalam menghadapi datangnya hari kiamat. Selain keimanan atau aqidah yang tipis, hal ini juga menjadi bukti kemunduran taraf yang melanda umat Islam hari ini. 

Lalu, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terkait hari kiamat? 
Islam telah gamblang menjelaskannya. Ada 3 perkara yang wajib dimiliki oleh seorang muslim terkait dengan kabar tentang hari kiamat :

Pertama,setiap muslim wajib beriman terhadap hari kiamat. Selain karena perkara hari kiamat termasuk rukun iman yang enam. Di dalam Al Qur'an, Allah SWT juga secara qath'i (pasti) mengabarkan kepada manusia bahwa kehidupan dunia ini pasti akan berakhir tepat pada hari kiamat, kemudian kehidupan akan berganti di alam akhirat sebagai kehidupan yang abadi.

Allah SWT berfirman : " Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di Hari kiamat." (TQS. Al Mukminun : 15-16)

Berita tentang hari kiamat juga disampaikan oleh Rasulullah Saw saat menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang iman. 
" Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: 'Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, juga kepada hari kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada qadar (taqdir) yang baik dan buruk (dari Allah).' (HR. Muslim).

Dan hari kiamat ini adalah perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan akal manusia. Manusia hanya dapat mengetahuinya melalui wahyu yang diberitakan Allah, bukan melalui jalan lain. Apalagi melalui isu-isu yang tak jelas seperti yang terjadi di atas.

Kedua, seorang muslim juga harus memahami dan mencari tahu tanda-tanda datangnya kiamat dari sumber atau dalil yang ada dalam Islam, yaitu dari Al Qur'an dan Hadits. Dalam hal ini, telah banyak hadits Nabi Saw yang mengabarkan tentang hal itu. Mulai dari banyaknya mode pakaian telanjang, jumlah orang beriman sedikit, zina dan khamr serta kejahatan-kejahatan lain merajelela. Perhiasan masjid yang berlebihan dan suara hiruk pikuk lebih sering terdengar di masjid, penyalahgunaan jabatan, perpecahan umat Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam. Kehancuran Khilafah Islamiyah dan akan kembalinya kejayaan Islam dengan Khilafah di kemudian hari.

Selain itu, termasuk tanda-tanda datangnya kiamat adalah munculnya dajjal di tengah umat Islam untuk menyesatkan manusia. Lalu munculnya Muhammad al Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam. Turunnya Nabi Isa as untuk meluruskan ajaran Nasrani (yang menuhankan Nabi Isa), mengislamkan orang Nasrani, menghancurkan salib-salib, menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan syari'at Islam, membunuh dajjal, kemudian beliau menikah lalu wafat dan dikuburkan di dekat makam Rasulullah Saw. 

Ada juga berita tentang munculnya Ya'juj dan Ma'juj (dua bangsa dari sebelah Timur) yang menyerang kaum muslimin bagaikan air bah, dann peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran Ya'juj dan Ma'juj. Kemudian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir(jahat). Lalu terjadi gempa bumi di Timur, Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai minculnya api di daerah Yaman, sehingga orang-orang berlari ke syam dan di sini mereka mati setelah ditiup sangkakala. Pada saat itulah kiamat yang sesungguhnya terjadi. (Sumber: Membangun Kepribadian Islam; Khoirul Bayan)

Jadi, jelas bahwa tanda-tanda datangnya hari kiamat bukan hanya sekedar informasi belaka, melainkan menjadi informasi awal bagi kita umat Islam untuk tidak mengambil berita dari arah selain Islam.

Ketiga, selain mengimani dan mencari tahu tanda-tanda hari kiamat, maka tak cukup sampai di situ saja. Seorang muslim wajib menyiapkan amal terbaiknya untuk menyambut datangnya hari kiamat. Sebab saat ditiupnya sangkakala yang kedua kalinya oleh malaikat Israfil, maka semua manusia akan berdiri dan berkumpul di padang mahsyar. Di sanalah proses peradilan dan perhitungan amal dilakukan. Di sana pula Allah SWT memberikan catatan amal manusia selama di dunia. Lalu Allah akan azab mereka yang diberikan kitabnya (catatan amal) dari belakang berupa Syarrul Bariyyah (tempat kembali terburuk) yaitu neraka. Adapun manusia yang Allah beri kitab dari sebelah kanannya, maka mereka akan mendapatkan balasan terbaik berupa Khoirul Bariyyah (tempat kembali terbaik) yaitu Syurga.

Oleh sebab itu, jangan sia-siakan waktu hidup kita di dunia ini dengan senantiasa menjaga keimanan kita kepada Allah (Aqidah Islam) dan berusaha memperbaiki ketaatan kita terhadap seluruh Syari'at yang telah Allah turunkan melalui Rasul-Nya. Selain itu, bersabarlah dalam ketaatan, sebab bisa jadi kebahagiaan dan kesejahteraan yang belum diperoleh di dunia pasti akan diterimanya di akhirat nanti. Insyaa Allah. 

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial masyarakat

Senin, 25 Maret 2019

MUBAZIR ATAU PERILAKU BOROS DALAM PANDANGAN FIQIH ISLAM



[KAJIAN FIQH]

/MUBAZIR ATAU PERILAKU BOROS DALAM PANDANGAN FIQIH ISLAM/


Tanya jawab MUBAZIR ATAU PERILAKU BOROS -Dalam Islam, apa hukumnya membanting Hape milik sendiri hingga hancur berantakan, saat suasana hati normal?

Kemudian saat suasana hati sedih & marah? Dan saat suasana hati senang & gembira?

# Apakah pelakunya tergolong orang yang melakukan tabzir (mubazir)?

Jawab:

Kata-kata tabzir (mubazir) terdapat dalam surat: al isro ayat 26-27,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.

Perilaku Boros dilarang dalam Islam

Pada ayat tersebut dikatakan bahwa tabzir (perbuatan boros/ perilaku boros) itu dilarang, dan pemboros itu adalah temannya setan.

Dalam kajian Ushulul fiqh, pelarangan sekaligus penyamaan temannya setan, merupakan qorinah (indikasi) yang jazm (tegas) untuk bisa memasukkannya (perbuatan tabzir) kedalam kategori hukum haram. Sebab “al ashlu fin nahyi tholabut tarki hatta yadullu qarinatu littahrim” (hukum asal larangan itu adalah tuntutan untuk meninggalkan sampai terdapat indikasi untuk mengharamkan)

Dengan demikian para ulama mendefinisikan tabzir atau mubazir yang telah diketahui bahwa status hukumnya haram tersebut, sebagai berikut:

التبذير هو انفاق في معصية الله (في المعاصي) أو في غير حق أو فساد

Tabzir atau mubazir adalah membelanjakan harta untuk bermaksiat, atau tidak benar, atau untuk perbuatan rusak.

Contoh tabzir seperti membeli khomr, bermain judi, menyewa pembunuh, dsb

Dari pengertian tersebut, kita tidak dapat mengkategorikan perbuatan menghancurkan, membuang atau membanting hape sebagai perbuatan tabzir. Sebab tabzir adalah mengeluarkan harta untuk perbuatan maksiat. Karena membuang, menghancurkan, dan membanting, bukan aktivitas perbuatan maksiat (معاصي)

Perilaku Boros

Membanting Hape, membuang dan menghancurkannya lebih tepat dikategorikan sebagai perbuatan menyia-nyiakan harta, atau dalam bahasa Arab disebut
Seperti tersebut dalam hadits

أن الله كره لكم ثلاث: قيل و قال، وكثرة السؤال، واضاعة المال

“Allah membenci 3 hal dari kalian; berkata katanya-katanya, banyak bertanya, dan menghamburkan harta”

Jadi membuang Hape hukumnya tidak sampai jatuh haram, karena tidak terkategori tabzir yang diharamkan.

Melainkan hukumnya hanya makruh, tentu ini bagi orang yang suasana hatinya sedang dalam keadaan normal, atau sedang tidak bergejolak (senang ataupun marah)

Namun perlu diperhatikan, apabila seseorang membuang, membanting dan menghancurkan Hape miliknya dalam keadaan hati sedih dan marah, maka perbuatannya menjadi pembatas antara sabar dan tidak sabar.

Sebab sedih dan marah adalah ujian dari Allah swt. Selama pemilik Hape bisa menahan diri dari pembantingan Hape, sedangkan di hatinya sedang merasa kesal, maka ia tetap tergolong orang yang sabar.

Namun jika ia tidak mampu menahan sedih dan amarah, hingga kemudian ia melakukan perbuatan tersebut (membanting Hape) maka ia tidak lagi tergolong sebagai orang sabar. Sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi saw:

Anas bin Malik r.a berkata : Pada suatu hari Rasulullah s.a.w berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis diatas kuburan.

Maka Nabi s.a.w. bersabda : Bertaqwalah kepada Allah SWT dan sabarlah. Dijawab oleh wanita (itu) : enyalah kau daripadaku, kau tidak menderita bala’ musibah ku ini. Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang berbicara itu adalah Rasulullah s.a.w. kemudian ia diberi tahu bahwa itu tadi Nabi s.a.w.

Maka segeralah wanita itu pergi ke rumah Nabi s.a.w dan disana ia tidak menemukan juru kunci atau penjaga pintu sehingga dapat masuk dengan tidak bersusah payah, lalu berkata: Sebenarnya saya tidak mengetahui bahwa yang berbicara tadi adalah engakau ya Rasulullah s.a.w. Maka sabda Nabi s.a.w : Sesengguhnya kesabaran itu hanyalah pada pukulan yang pertama dari bala’. (Bukhori dan Muslim)

Namun demikian, perbantingan Hape oleh orang yang sedang marah ini tetap dalam hukum asalnya, yaitu makruh

Sedangkan jika seseorang membuang Hape saat suasana hati senang dan gembira, mungkin kiranya pelakunya adalah orang yang tidak waras, sebab bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Sungguh tidak habis fikir…

Dengan demikian, membanting, menghancurkan maupun membuang harta (Hape) hukumnya makruh

Sebab ido’atul maal adalah perbuatan yang dibenci namun tidak terdapat didalamnya indikasi yang tegas (qorinatu jazm) untuk mengharamkan, seperti celaan atau ancaman siksaan.

Wallahu a’lam bishowab



Ditulis oleh Muhammad Baiquni Syihab, Staff Pengajar STEI Hamfara

HATI-HATI DALAM MERESPON SERUAN PENERAPAN SYARI’AH DAN KHILAFAH



[ KAJIAN FIQH ]

HATI-HATI DALAM MERESPON SERUAN PENERAPAN SYARI’AH DAN KHILAFAH

Hati-hati, jangan anggap remeh ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah. Dalam kitab al-Adzkaar min Kalam Sayyidil Abraar, al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H) menuliskan sebuah bab khusus:

باب ما يقوله من دعي إلى حكم الله تعالى
“Bab apa yang selayaknya diucapkan oleh orang yang diajak berhukum dengan hukum Allah ta’ala”

Di situ beliau menjelaskan kalimat apa yang harusnya diucapkan oleh orang yang diseru atau diajak untuk berhukum dengan hukum syari’at:

... أن يقول سمعنا وأطعنا ، أو سمعا وطاعة ، أو نعم وكرامة ، أو شبه ذلك
“…hendaknya orang tersebut menjawab dengan ucapan: “kami dengar dan taati”, atau “kami patuh dan taat”, atau “ya, dengan segala hormat”, atau yang semacamnya.”

Beliau sekaligus mencantumkan ayat berkenaan dengan itu:

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur: 51)

Jadi mukmin yang sejati itu dilarang menolak seruan kepada hukum Allah. responnya harus positif meng-iya-kan, menyetujui, menerima seruan, dan yang semacamnya dengan penuh rasa tunduk dan patuh.

Al-Imam an-Nawawi lebih lanjut mengingatkan:

وليحذر كل الحذر من تساهله عند ذلك في عبارته، فإن كثيرا من الناس يتكلمون عند ذلك بما لا يليق، وربما تكلم بعضهم بما يكون كفرا
“Hendaknya ia sangat berhati-hati dari memandang remeh perkataannya pada saat itu (saat merespon ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah), karena banyak di antara manusia mengucapkan ucapan tak layak saat ada pada kondisi tersebut. Bahkan boleh jadi di antara mereka mengucapkan perkataan yang menyebabkan kekafiran.” 

Bagaimana contoh ungkapan tidak layak dan bahkan sebagian dapat menyebabkan kekafiran itu? “emang negara mana yang sudah berhasil menerapkan? (dengan nada sinis menolak)”, “penerapan hukum Allah dapat membahayakan umat Islam”, “Seruan itu perkataan benar tapi untuk tujuan batil”, “Penerapan syari’ah dan khilafah melanggar kesepakatan founding fathers negara ini”, “penerapan syari’at sudah tidak relevan”, “penerapan syari’ah dan khilafah di negeri ini hukumnya haram!”, “tidak mau kalau yang menyeru dari kelompokmu”, yang terakhir ini tak ubahnya kaum Yahudi yang tidak menerima risalah Islam lantaran dibawakan oleh Nabi dan Rasul yang bukan dari golongan mereka. ‘Ashobiyah telah menjadikan mereka buta dari melihat kebenaran.

Jika kita perhatikan bersama ayat-ayat sebelumnya (an-Nur 48-51), kita akan mendapati ayat-ayat itu menjelaskan macam-macam karakter manusia saat merespon seruan tersebut. 

Ada yang mau menerima ajakan tersebut hanya apabila itu mendatangkan keuntungan atau kemaslahatan bagi mereka. Ada yang menolak, dan itu tidak lepas dari: adanya penyakit hati, ragu-ragu terhadap risalah Islam, dan takut kalau-kalau ketetapan Allah dan Rasul-Nya itu tidak adil. sedangkan kaum mukmin sejati akan menerimanya dengan sepenuh hati.

وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ( ٤٨ ) وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ مُذۡعِنِينَ ( ٤٩ ) أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ( ٥٠ ) إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ( ٥١ )

"48. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.
49. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.
50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.
51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Jadi, jangan main-main saat ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah atau seruan untuk menerapkan Syari’ah dan Khilafah, yang dilakukan oleh siapapun orangnya dan apapun organisasinya. Sikap kita hanya satu: menerimanya dengan segala rasa hormat, tunduk dan patuh. Tidak berkelit menolak dengan berbagai macam alasan.

Malang, 11 Rajab 1440 H
Azizi Fathoni K.

MERAIH KEMULIAAN BULAN RAJAB


[KAJIAN ISLAM] 
MERAIH KEMULIAAN BULAN RAJAB

Allah SWT menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram (suci). Di dalamnya Allah SWT menetapkan kemuliaan dan kehormatan yang wajib dijaga. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sungguh bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah saat Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan itu (TQS at-Taubah [9]: 36).

Empat bulan suci tersebut dijelaskan oleh Nabi saw.:

إنَّ الزَّماَنَ قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُوْ الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ شَهْرُ مُضَرّ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادِى وَشَعْبَانَ

“Sungguh waktu itu telah diputar sebagaimana keadaannya saat Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Lalu Rajab bulan Mudharr yang terdapat di antara Jumadi dan Sya’ban.” (HR Muslim).

Dalam QS at-Taubah ayat 36 di atas, Allah SWT melarang kita menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut, termasuk pada bulan Rajab ini, apalagi menzalimi pihak lain.

Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut—termasuk pada bulan Rajab ini—lebih besar. Begitu juga amal shalih dan pahalanya (yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut) juga sangat besar (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, III/370).

Bahkan Imam asy-Syafii—rahimahulLah—telah melipatgandakan diyat (uang tebusan) atas pembunuhan karena keliru (qatlu al-khatha’) yang dilakukan pada bulan-bulan haram karena bersandar pada riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Inilah di antara kemuliaan bulan haram, termasuk bulan Rajab sekarang ini.

Dengan demikian di antara kemuliaan bulan-bulan haram (suci), termasuk bulan Rajab, adalah dilipatgandakannya dosa atau pahala manusia.

Peristiwa Penting pada Bulan Rajab

Atas izin Allah SWT, banyak sekali kemuliaan bagi kaum Muslim terealisasi dalam bulan Rajab. Bulan Rajab, misalnya, menjadi momen hijrah kaum Muslim yang pertama ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian. Pada bulan Rajab pula Allah SWT meng-isra’-mikraj-kan Rasul saw. pada tahun ke-10 kenabian. Dalam Isra’ Mikraj itu Nabi saw. tidak hanya menerima titah kewajiban shalat. Beliau pun dikukuhkan sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Saat itu beliau dititahkan menjadi imam para nabi dan rasul terdahulu di Baitul Maqdis.

Atas kehendak Allah SWT, bulan Rajab pun menjadi momen pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan. Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Sejak itu seluruh hukum syariah pun bisa diterapkan secara total. Dengan itu kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga (Lihat: Al-Hakim, Al-Mustadrak(IX/497), hadis penuturan Jabir bin Abdullah ra.).

Bulan Rajab juga telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai momen istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/252-253). ‘

Pada bulan Rajab pula, yakni pada tahun ke-2 Hijrah, Rasul saw. mengirimkan detasemen Abdullah bin Jahsy. Pengiriman detasemen ini menjadi pendahuluan atas peristiwa Perang Badar (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/248-249).

Demikian pula Perang Tabuk yang menggetarkan adidaya Romawi. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab, yakni pada tahun 9 H (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, V/195).

Bulan Rajab juga telah menjadi momen penting bagi perwujudan kemuliaan pada generasi setelahnya. Kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. dan Khalid bin al-Walid ra. pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M.

Perang Yarmuk, yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid ra., menghadapi Romawi, juga terjadi pada bulan Rajab, yaitu pada tahun 15 H/636 M (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VII/4).

Khalid bin al-Walid ra. membebaskan Hirah, Irak, juga pada bulan Rajab (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VI/343).

Baitul Maqdis pun berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim pada bulan Rajab, tepatnya pada 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, setelah mereka mengalahkan pasukan Salib dalam Perang Hittin. Saat itu pun azan kembali dikumandangkan dan shalat Jumat kembali dilaksanakan di Masjid al-Aqsha setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.

Meraih Kemuliaan Bulan Haram

Kaum Muslim dulu telah begitu rupa memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram, termasuk Rajab. Pada bulan ini mereka mempersembahkan amal-amal mulia dan spektakuler serta prestasi monumental yang dicatat dengan tinta emas sejarah untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu seyogyanya kaum Muslim saat ini pun memuliakan bulan-bulan haram, termasuk bulan Rajab ini, dengan melipatgandakan amal-amal terbaik. Caranya setidaknya bisa dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama: Dengan berhenti dari apa saja yang menyalahi hukum Allah SWT, yang bisa mendatangkan murka-Nya. Misalnya, menghentikan muamalah-muamalah yang haram seperti riba; menjauhi hasad dan dengki; meninggalkan caci-maki; menjauhi segala tindakan yang melanggar hak orang lain. Termasuk dalam hal ini meninggalkan segala bentuk kezaliman dan tidak mendukung orang-orang zalim, sebagaimana firman Allah SWT:

وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka… (TQS Hud [11]: 113).

Apalagi jika pelaku kezaliman adalah para pemimpin, terutama yang suka berbohong. Rasul saw. bersabda, “Sungguh akan ada sesudahku para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, ia bukan golonganku dan aku pun bukan golongannya dan ia tidak akan masuk menemaniku di telaga.” (HR an-Nasai, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Kedua: Dengan melaksanakan amal-amal salih, giat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah SWT dan memperbanyak amalan-amalan sunnah. Karena itu pada bulan Rajab ini, misalnya, kita harus makin disiplin dalam menunaikan shalat lima waktu; memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah; menasihati orang lain; membantu orang lain; melakukan amar makruf dan nahi mungkar; dan amal-amal salih lainnya.

Yang juga termasuk amal shalih adalah menunaikan fardhu kifayah. Salah satunya adalah menegakkan Khilafah, yakni dengan mengangkat dan membaiat imam/khalifah, yang bertugas menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Al-Imam al-Hafizh Abu Zakaria an-Nawawi asy-Syafii berkata, “Umat Islam wajib memiliki seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, memberikan hak kepada orang yang dizalimi, menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan bahwa menegakkan Imamah adalah fardhu kifayah.” (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin, III/433).

Pelaksanaan kewajiban yang merupakan fardhu kifayah itu dijelaskan oleh Imam Abu Ishhaq asy-Syathibi di dalam kitabnya, Al-Muwâfaqât (I/179). Beliau mengatakan, “Karena itu siapa saja yang mampu atas wilâyah (kekuasaan), ia dituntut menegakkan kekuasaan itu. Siapa saja yang tidak mampu atas kekuasaan tersebut, ia dituntut dengan perkara lain, yaitu mengangkat orang yang mampu dan memaksa dia untuk menegakkan kekuasaan itu. Jadi orang yang mampu dituntut menegakkan fardhu itu, sementara orang yang tidak mampu dituntut mengadakan orang yang mampu itu…”

Khatimah

Alhasil, hendaknya kita tidak mengabaikan kemuliaan bulan-bulan haram (suci), termasuk bulan Rajab. Hendaknya kita menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Sebaliknya, hendaknya kita giat memperbanyak amal-amal salih.

Hendaknya bulan Rajab ini pun kita jadikan momen untuk mengokohkan tekad, menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin untuk mewujudkan penerapan syariah Islam secara kaffah. Itulah wujud hakiki ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan seperti inilah yang bakal mewujudkan aneka kebekahan dari langit dan bumi untuk kita, sebagaimana yang Allah SWT janjikan:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan membuka untuk mereka ragam keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (Kami). Karena itu Kami mengazab mereka karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan itu (TQS al-A’raf [7]: 96).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


===
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————