Selasa, 21 Mei 2019

HUKUM SEPUTAR FIDYAH PUASA


HUKUM SEPUTAR FIDYAH PUASA

Oleh: Ust. M. Shiddiq Al Jawi

Fidyah puasa merupakan pengganti (badal) dari puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan, berupa memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha`, hlm. 260).

Siapakah yang wajib mengeluarkan fidyah? 
Menurut Syeikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam kitabnya Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, mereka yang wajib membayar fidyah ada tiga golongan;

✨Pertama,orang-orang yang tak mampu berpuasa, yaitu laki-laki atau perempuan yang sudah lanjut usia yang tak mampu lagi berpuasa, dan orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya.
Dalilnya firman Allah SWT (yang artinya), ”Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (maka jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (wa ‘alalladziina yuthiiquunahu fidyatun tha’aamu miskiin) (QS Al Baqarah [2] : 184).

Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, ”Ayat tersebut tidaklah mansukh (dihapus hukumnya), tetapi yang dimaksud adalah laki-laki lanjut usia (al syaikh al kabiir) dan perempuan lanjut usia (al mar`ah al kabirah) yang tak mampu lagi berpuasa, maka keduanya memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Nasa`i, Daruquthni).

Disamakan hukumnya dengan orang lanjut usia tersebut, orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 202 & 206).

✨Kedua, orang yang mati dalam keadaan mempunyai utang puasa yang wajib di-qadha`. 
Dalam hal ini hukumnya boleh, tidak wajib, bagi wali (keluarga) orang yang mati tersebut untuk membayar fidyah. Pihak wali (keluarga) dari orang mati tersebut boleh memilih antara meng-qadha` puasa atau memilih membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan oleh orang mati tersebut. 
Pendapat bolehnya 
membayar fidyah bagi orang yang mati, merupakan pendapat beberapa sahabat Nabi SAW, yaitu Umar bin Khaththab, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhum. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 207).

✨Ketiga, suami yang menggauli istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja dan tak mampu membayar kaffarah berupa puasa dua bulan berturut-turut. 
Suami ini wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan 60 (enam puluh) orang miskin. (HR Bukhari no 6164; Muslim no 2559). (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 207). 

Adapun bagi perempuan hamil dan menyusui, juga orang yang menunda qadha` puasa hingga masuk Ramadhan berikutnya, menurut pendapat yang rajih, tak ada kewajiban fidyah atas mereka. Mereka hanya diwajibkan meng-qadha` puasanya. (Mushannaf Abdur Razaq, no 7564, Mahmud Abdul Latif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam, hlm. 210, Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 872, Yusuf Qaradhawi, Fiqhush Shiyam, hlm. 64).

Cara membayar fidyah dengan memberi bahan makanan pokok (ghaalibu quut al balad) kepada satu orang miskin sebanyak satu mud untuk satu hari tidak berpuasa. 
Jika tak berpuasa sehari, fidyahnya satu mud. Jika dua hari, fidyahnya dua mud, dan seterusnya. Mud adalah ukuran takaran (bukan berat) yang setara dengan takaran 544 gram gandum (al qamhu). 
Untuk Indonesia, fidyah dikeluarkan dalam bentuk beras. (Abdul Qadim Zallum, Al Amwal fi Daulah Al Khilafah, hlm. 62, Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/687).

Menurut ulama Hanafiyah, boleh fidyah dibayarkan dengan nilainya (qiimatuhu), yaitu dalam bentuk uang yang senilai. Sedang menurut ulama jumhur (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), tidak boleh dibayar dengan nilainya. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/687).

Kami cenderung kepada pendapat jumhur, sebab secara jelas nash QS Al Baqarah: 184 menyebutkan pembayaran fidyah adalah dalam bentuk makanan (tha’aam), sesuai firman Allah, “fidyatun tha’aamu miskin.” Selain itu membayar fidyah dalam bentuk makanan adalah apa yang diamalkan oleh para sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Abbas dan Anas bin Malik RA. (Imam Syirazi, Al Muhadzdzab, 1/178). 

Wallahu a’lam.🍂

NABI PUN TETAP TAK MAU KOMPROMI


#SirahPolitikNabi

NABI PUN TETAP TAK MAU KOMPROMI
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Rasulullah saw. telah meninggalkan Syi’b Abu Thalib, dan mulai beraktivitas seperti biasa. Meski kaum Quraisy telah meninggalkan pemboikotan, tetapi mereka terus berusaha untuk menekan kaum Muslim dan menghalangi dakwah. Karena itu memang pekerjaan mereka. 

Pada saat yang sama, Abu Thalib tetap melindungi keponakannya, tetapi usianya ketika itu sudah lebih dari 80 tahun. Berbagai penderitaan dan peristiwa besar dan berat yang bertubi sejak beberapa tahun terakhir, terutama ketika diboikot di lembah [Syi’b], telah  membuat persendiannya lemah dan rapuh, ada bagian tulang pipihnya juga yang telah retak.  Hanya beberapa bulan setelah keluar dari Syi’b, Abu Thalib terus didera sakit. Ketika itu, kaum Kafir Quraisy khawatir, mengkhawatirkan posisi mereka di mata kaum Quraisy, andai saja Abu Thalib wafat meninggalkan mereka. Mereka pun berusaha sekali lagi mendatanginya, agar Abu Thalib mau membujuk keponakannya. Memberikan apa yang sebelumnya mereka tak sudi memberikannya kepada Nabi saw. Mereka pun mengunjungi Abu Thalib, dan ini merupakan utusan terakhir mereka. 
  
Ibn Ishaq dan yang lain menuturkan, “Ketika Abu Thalib mulai sering mengeluh sakit, dan berita semakin parahnya sakit Abu Thalib itu sampai kepada kaum Quraisy, maka kaum Quraisy itu berkata satu dengan yang lain, “Hamzah dan ‘Umar telah masuk Islam. Urusan [agama] Muhammad ini telah tersebar luar di kalangan seluruh kabilah. Mereka bertolak menemui kami untuk menemui Abu Thalib. Hendaknya segera ambil keponakannya, dan berikankan untuknya dari kita [apa yang sebelumya tak kita berikan]. Demi Allah, kita tidak bisa menjamin mereka akan mengalahkan kita dalam urusan kita.” Dalam redaksi lain dinyatakan, “Kita khawatir Syaikh ini meninggal dunia, sesuatu yang menjadi urusannya akan dikembalikan oleh bangsa Arab kepada kita.” Mereka berkata, “Biarkanlah dia, kalau nanti pamannya sudah meninggal dunia, maka ambillah dia.”    

Mereka menemui Abu Thalib, dan menyampaikan misinya. Mereka adalah para pemuka kaumnya, antara lain ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Abu Sufyan bin Harb, bersama kurang lebih 25 orang tokoh lainnya. Mereka mengatakan, “Wahai Abu Thalib, Anda adalah bagian dari kami. Anda tahu, Anda telah ditemui oleh apa yang Anda lihat, dan kami mengkhawatirkan dirimu. Anda tahu antara kami dengan keponakanmu, maka doakanlah dia, dan ambillah dari kami untuk diberikan kepadanya, dan ambillah darinya apa yang memang harus diberikan kepada kami, agar dia menghentikan permusuhannya terhadap kami, dan kami pun menghentikan permusuhan terhadapnya. Biarkanlah kami dengan agama kami, dan kami pun akan membiarkannya dengan agamanya.”

Abu Thalib pun mengutus orang untuk menemui Nabi saw. Baginda saw. pun datang kepada Abu Thalib, lalu berkata kepadanya, “Wahai keponakanku, mereka ini adalah pemuka kaummu. Mereka berkumpul untuk membahas kamu, memberikan kepadamu, dan mereka pun ingin mengambil darimu.” Abu Thalib pun memberitahukan apa yang mereka kemukakan, dan tawarkan, yaitu agar tidak saling menyerang. Maka, Rasulullah saw. bersabda kepada kepada mereka, “Bagaiman menurut kalian, jika aku memberikan satu kata, yang jika satu kata itu kalian ucapkan, maka dengannya kalian akan menguasai bangsa Arab, dan orang non-Arab pun akan tunduk kepada kalian?”  Dalam riwayat lain, baginda saw. menuturkan kepada Abu Thalib,  “Aku menginginkan mereka agar mau mengucapkan satu kata saja. Dengannya, bangsa Arab tunduk kepada mereka, dan non-Arab akan membayar jizyah kepada mereka.” 

Dalam redaksi lain, “Wahai pamanku, apa Engkau tidak minta mereka  untuk menyampaikan yang lebih baik untuk mereka?” Abu Thalib bertanya, “Apa yang kamu serukan kepada mereka?” Nabi saw. menjawab, “Saya ajak mereka untuk menyatakan satu kata, yang jika mereka mengucapkannya, maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada mereka, dan non-Arab pun akan mereka kuasai.” Dalam riwayat Ibn Ishaq, “Satu kata, yang jika kalian berikan, maka dengannya kalian akan menguasai seluruh bangsa Arab, dan orang non-Arab akan tunduk kepada kalian.”

Ketika baginda saw. menyatakan ungkapan ini, mereka pun terdiam dan bimbang. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menolak satu kata yang sangat luar biasa dahsyatnya ini. Kemudian Abu Jahal bertanya, “Gerangan apakah itu? Demi Ayahmu, sungguh aku akan memberikannya sepuluh kali sepertinya.” Nabi saw. menjawab, “Katakanlah, La ilaha Illa-Llah [Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah], dan tinggalkanlah apa yang kalian sembah selain Dia.” Mereka pun ramai menepukkan tangannya, tanda sinis. Mereka berkata, “Apakah kamu, Muhammad, ingin menjadikan tuhan yang banyak itu menjadi hanya satu tuhan? Agamamu ini aneh.” 

Mereka pun saling berkata satu sama lain, “Demi Allah, orang ini tidak memberikan apapun manfaat yang kalian inginkan. Sudah, bubar, dan pergilah dengan agama nenek moyang kalian, hingga Allah memutuskan siapa yang menang, kita atau dia.” Mereka pun bubar, meninggalkan rumah Abu Thalib.

Allah SWT turunkan Q.s. Shad: 1-7 untuk mereka, “Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” 

Dalam riwayat lain, Nabi saw. menuturkan kepada pamannya, “Wahai paman, andai saja mereka sanggup meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan urusan [dakwah]-ku ini, hingga Allah  memenangkannya atau aku binasa karenanya.” 

Begitulah keteguhan Nabi saw. Meski sebelumnya telah merasakan berbagai penyiksaan, persekusi, hingga upaya pembunuhan, tetap tidak menyurutkan tekadnya berdakwah, dan menyampaikan kebenaran. Upaya kompromi yang dilakukan oleh kaum Kafir Quraisy tak satu pun yang sanggup membuatnya meninggalkan dakwah.
This entry was posted in

Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah


Benar, bulan ini harus menjadi bulan peneguhan perjuangan sepanjang zaman. Terlebih, Ramadan tahun ini sungguh spesial. Di tengah banyaknya fitnah terhadap umat Islam di seluruh dunia -tak terkecuali di Indonesia-, maka puasa selayaknya mendorong ditingkatkannya kadar takwa umat. Hanya dengan spirit itu, perjuangan menuju tegaknya Khilafah Islam bisa segera terwujud dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala.
______________

/ Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah /

Oleh: Ustazah Noor Afeefa

Ramadan yang dinanti telah tiba. Kaum muslim tentu bergembira melaksanakan kewajiban puasa sebulan penuh. Meski pernah menjadi amalan para nabi dan kaum terdahulu, namun bagi kaum muslim puasa tentulah sangat istimewa. 

Hal ini karena puasa -yang menjadi amalan pokok di bulan Ramadan ini- memang memiliki banyak keutamaan. Salah satu keutamaannya adalah bahwa puasa merupakan perisai (junnah) bagi seorang muslim. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis Nabi shallallahu'alaihi wa sallam:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim).

===

Sebagai perisai (جُنَّة), maka puasa akan melindungi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa menjadi tameng bagi orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan amalan yang bisa merusak ibadah dan pahala puasa. Puasa juga akan memupus syahwatnya dari perbuatan dosa. Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka. Puasa akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (HR. Ahmad).

Di riwayat yang lain dinyatakan: “Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang diantara kamu dari peperangan”. (HR. Ahmad, al-Nasai, dan Ibnu Majah).

Itulah puasa yang selalu kita harapkan kesempurnaan amalannya. Kita tentunya ingin agar puasa kita benar-benar menjadi pelindung di dunia dan akhirat.

===

Puasa dan Takwa

Keberadaan puasa sebagai perisai juga sejalan dengan hikmah disyariatkannya puasa, yakni agar terbentuk ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala (QS. Al baqarah [2]:183). Sebab, puasa sebagai junnah menjadi perisai bagi individu agar terhindar dari kedurhakaan yang bisa mencederai takwanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Hanya saja, tentu tak cukup hanya ketakwaan individu yang terbentuk dan meningkat. Yang dibutuhkan dan diwajibkan juga adalah adanya ketakwaan kolektif, yaitu ketakwaan keluarga, masyarakat dan negara. 

Sebab, mengutip pernyataan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu, “Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan”. 

Sementara, perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta'ala tidak hanya menyangkut persoalan individu semata. Banyak sekali hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat bahkan negara. Contohnya, keharaman riba. Tentu, yang dimaksud tak hanya agar individu meninggalkannya, namun juga bagi masyarakat dan negara. Bahkan negara harus menegakkan sanksi bagi pelaku riba dan menjalankan sistem ekonominya berdasarkan Islam. 

Dan masih banyak lagi hukum-hukum yang memerlukan ketakwaan kolektif untuk melaksanakannya. Puasa itu sendiri akan benar-benar menjadi junnah hanya bila negara hadir dan berperan menegakkan hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa ini.

Negara harus membangun suasana takwa bagi warga negaranya. Negara juga harus menegakkan aturan (sanksi) bagi mereka yang melanggar kewajiban ini. Artinya, ketakwaan hakiki bukan hanya pada individunya saja, namun juga keluarga, masyarakat dan negara. 

Walhasil, ketakwaan kolektif sangat penting dan diperlukan agar seluruh hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala ditegakkan. Inilah ketakwaan sesungguhnya yang diharapkan dari pelaksanaan kewajiban puasa Ramadhan.

===

Imam dan Perisai

Ketakwaan kolektif, akan termanifestasikan dalam sebuah masyarakat dan negara yang menjalankan seluruh hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala. Itulah negara Khilafah Islam. Pemimpinnya (al Imam) akan berfungsi juga sebagai pelindung bagi rakyatnya. 

Di sinilah, ternyata al Imam (pemimpim umat) yang memerintahkan takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala juga dipredikati sebagai junnah (perisai) oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

===

Dengan demikian, di samping puasa, ternyata Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga menggunakan istilah perisai (junnah) bagi pemimpin yang bertakwa (Khalifah). Sebab, frase “Imam” dalam hadis tersebut bermakna al-Khalifah. Maka makna kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya. 

Al-Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Adanya indikasi pujian ini menunjukkah bahwa berita dalam hadis ini bermakna tuntutan (thalab), yakni tuntutan yang pasti hingga berfaidah wajib. Dalam hadis tersebut juga dipahami bahwa seorang imam (khalifah) diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya untuk memerintah manusia yang ada dibawah kekuasaannya dalam ketaatan dan berbuat adil yaitu dengan memberlakukan hukum-hukum Allah. 

===

Ramadan dan Dua Junnah

Demikianlah, dua buah perisai tersebut pada hakikatnya saling berkaitan satu dengan lainnya. Puasa dan kepemimpinan Islam (Khilafah) sesungguhnya bermuara pada ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Puasa menjadi perisai dari kedurhakaan agar terbentuk ketakwaan. 

Demikian pula Khilafah, merupakan manifestasi ketakwaan secara kolektif untuk memberlakukan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala. Kedua perisai tersebut tentu harus diwujudkan oleh kaum muslim.  

Oleh karena itu, Ramadan tentu akan memberikan spirit kuat kepada umat Islam. Sebab, hanya di Ramadan, kaum muslim sedunia serentak berpuasa. Serentak pula mereka menggaungkan doa dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Serentak pula untuk meminta ampunan Allah subhanahu wa ta'ala atas dosa dan maksiat yang selama ini dilakukan. Maka selayaknya pula, umat serentak untuk memikul perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah dalam sistem Khilafah Islam. 

Benar, bulan ini harus menjadi bulan peneguhan perjuangan sepanjang zaman. Terlebih, Ramadan tahun ini sungguh spesial. Di tengah banyaknya fitnah terhadap umat Islam di seluruh dunia -tak terkecuali di Indonesia-, maka puasa selayaknya mendorong ditingkatkannya kadar takwa umat. Hanya dengan spirit itu, perjuangan menuju tegaknya Khilafah Islam bisa segera terwujud dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala. []

Benarkah Kita Takut Kepada Allah?


[CERMIN HATI]

/ Benarkah Kita Takut Kepada Allah? /

Oleh: M. Taufik NT

Sungguh kita tertipu oleh diri sendiri jika kita mengaku takut hanya kepada Allah, namun masih ringan kata untuk berdusta, hati masih merasa berat menerima hukum dan ketentuan Allah Ta’ala, mata masih lebih senang melihat aurat yang terbuka, gemerlap dunia masih lebih memukau kita daripada berjuang untuk merealisir ketaatan pada Sang Pencipta.

Tak peduli kita rakyat jelata ataupun penguasa, menentang syari’at Allah Ta’ala dan mempersekusi pejuangnya serta menyematkan tuduhan-tuduhan dusta kepada mereka merupakan bukti bahwa kita berani memerangi Allah walaupun mulut kita berbusa mengatakan “aku hanya takut kepada Allah”

===

Takut kepada Allah merupakan kewajiban. Siapa saja yang tidak takut kepada Allah di dunia, kelak dia dibuat ketakutan pada hari kiamat, sebagaimana hadits qudsi riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya:

وَعِزَّتِي لاَ أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِي خَوْفَيْنِ وَأَمْنَيْنِ، إِذَا خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Demi keagungan-Ku, tidak akan Aku kumpulkan dalam diri hamba-Ku dua ketakutan dan dua keamanan. Jika dia takut kepada-Ku di dunia maka akan Kuberi keamanan di akhirat, dan jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, akan Aku buat dia ketakutan di hari kiamat”.

Hanya saja takut kepada Allah yang hakiki tidak sekedar di bibir saja, namun tercermin dalam hati, sikap, perbuatan dan ucapan.

===

Abu Laits mengutip perkataan Al-Rabî’ bin Khaitsam yang menyatakan:

عَلَامَةُ خَوْفِ اللَّهِ تَعَالَى يَتَبَيَّنُ فِي سَبْعَةِ أَشْيَاءَ:

Tanda bahwa seorang hamba itu takut kepada Allah Ta’ala nampak dalam tujuh perkara:

أَوَّلُهَا: يَتَبَيَّنُ فِي لِسَانِهِ، فَيَمْتَنِعُ لِسَانُهُ مِنَ الْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَكَلَامِ الْفُضُولِ، وَيَجْعَلُ لِسَانَهُ مَشْغُولًا بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَمُذَاكَرَةِ الْعِلْمِ.

Pertama, nampak pada lidahnya, lidahnya akan tercegah dari berdusta, menggunjing, dan berlebihan bicara. Lisannya akan sibuk berdzikir, membaca Alquran, maupun mendiskusikan ilmu.

===

وَالثَّانِي: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ بَطْنِهِ، فَلَا يُدْخِلَ بَطْنَهُ إِلَّا طَيِّبًا وَحَلَالًا، وَيَأْكُلَ مِنَ الْحَلَالِ مِقْدَارَ حَاجَتِهِ

Kedua: dia takut dalam urusan perutnya, hingga tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali makanan yang baik dan halal, serta memakan yang halal sekedar keperluannya saja, tidak berlebihan.

===

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ بَصَرِهِ، فَلَا يَنْظُرَ إِلَى الْحَرَامِ، وَلَا إِلَى الدُّنْيَا بِعَيْنِ الرَّغْبَةِ، وَإِنَّمَا يَكُونُ نَظَرُهُ عَلَى وَجْهِ الْعِبْرَةِ.

Ketiga, dia takut dalam urusan pandangannya, hingga dia tidak memandang sesuatu yang haram dilihat, tidak pula melihat dunia dengan pandangan penuh ambisi. Pandangannya ke dunia hanya digunakan untuk mengambil ‘ibrah dari apa yang terjadi.

===

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ يَدِهِ، فَلَا يَمُدَّنَّ يَدَهُ إِلَى الْحَرَامِ، وَإِنَّمَا يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى مَا فِيهِ طَاعَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
.
Keempat, dia takut dalam urusan tangannya, hingga tidak mengulurkannya kepada yang haram, hanya dia ulurkan tangannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.

===

وَالْخَامِسُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ قَدَمَيْهِ، فَلَا يَمْشِي فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Kelima, dia takut dalam urusan kakinya, hingga tidak melangkah dalam maksiat kepada Allah.

===

السَّادِسُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ قَلْبِهِ، فَيُخْرِجَ مِنْهُ الْعَدَاوَةَ، وَالْبَغْضَاءَ، وَحَسَدَ الْإِخْوَانِ، وَيُدْخِلَ فِيهِ النَّصِيحَةَ وَالشَّفَقَةَ لِلْمُسْلِمِينَ.

Keenam, dia takut dalam urusan hatinya, hingga dia membuang rasa permusuhan, kebencian dan kedengkian kepada saudara, dan memasukkan kedalam hatinya nasehat dan simpati kepada kaum muslimin

===

وَالسَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ خَائِفًا فِي أَمْرِ طَاعَتِهِ، فَيَجْعَلَ طَاعَتَهُ خَاصَّةً لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى، وَيَخَافَ الرِّيَاءَ، وَالنِّفَاقَ

Ketujuh, dia takut dalam urusan taat kepada Allah, hingga menjadikan ketaatannya ikhlas mengharap Allah semata, khawatir terjatuh kepada riya’ dan nifaq. (Abu Laits al-Samarkandi, Tanbîh Al-Ghâfilîn, Cet. III. (Beirut: Dâr Ibnu Katsir, 2000), hlm. 390-391).[1]

===

Sungguh kita tertipu oleh diri sendiri jika kita mengaku takut hanya kepada Allah, namun masih ringan kata untuk berdusta, hati masih merasa berat menerima hukum dan ketentuan Allah Ta’ala, mata masih lebih senang melihat aurat yang terbuka, gemerlap dunia masih lebih memukau kita daripada berjuang untuk merealisir ketaatan pada Sang Pencipta.

Tak peduli kita rakyat jelata ataupun penguasa, menentang syari’at Allah Ta’ala dan mempersekusi pejuangnya serta menyematkan tuduhan-tuduhan dusta kepada mereka merupakan bukti bahwa kita berani memerangi Allah walaupun mulut kita berbusa mengatakan “aku hanya takut kepada Allah”. Allâhu A’lam. []

Rabu, 15 Mei 2019

TIPS MUSLIMAH HAID dan NIFAS MERAIH KEMULIAAN RAMADHAN


[INSPIRASI RAMADHAN]

TIPS MUSLIMAH HAID dan NIFAS MERAIH KEMULIAAN RAMADHAN 

Sahabat muslimah, ketika kita Haid & Nifas,  ngerasa kurang maksimal di bulan Ramadhan? Ini tipsnya..

1. Tetap bangun di dini hari, layaknya orang sahur seperti biasa.

Membantu anggota keluarga dalam mempersiapkan makan sahur, adalah sebuah amal kebaikan.
Selain itu, kita juga bisa tetap panjatkan doa di waktu-waktu makbul, termasuk saat sahur (sebab masih masuk 1/3 malam).
Meskipun tidak shaum, tidak ada salahnya bila kita turut makan sahur, anggap saja sarapan di awal waktu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Makan sahurlah kalian. Sesungguhnya pada makan sahur tersebut terdapat keberkahan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Senantiasa menjawab adzan dan memanjatkan doa di waktu antara usai adzan dan sebelum iqomah.

“Tidak akan ditolak doa antara adzan dan iqamah.” (H.R. Abu Dawaud, At-Tirmidzi)

3. Perbanyak sedekah

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (H.R. Tirmidzi)

4. Perbanyak dzikir dan wirid (termasuk bershalawat)

Ada dari kita yang meyakini bahwa membaca Al-Quran saat haid adalah diperbolehkan. Jadi, bagi yang mengambil keyakinan ini, tetaplah bertilawah.

Bila yang meyakini pendapat lain (tidak memperbolehkan tilawah saat haid), maka kita lakukan saja murajaah, membaca terjemah, atau mendengarkan murotal.
Tetap berdzikir al-matsurat, tetap memanjatkan doa, membaca tasbih-tahmid-takbir, bershalawat serta memperbanyak istighfar.

5. Membaca buku-buku bermanfaat, mendatangi taklim, majelis ilmu atau sekadar mendengarkan ceramah dari berbagai media.

6. Memberi makan orang yang berbuka puasa.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka orang lain akan mendapatkan pahala seperti apa yang didapatkan oleh orang yang diberi makanan tersebut, tidak berkurang dari pahalanya sedikit pun.” (H.R. Tirmidzi)
.
7. Tetap melatih kebersihan hati, dan menjaga akhlak baik.

Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah di manapun kalian berada dan berbuatlah kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan; perlakukanlah orang-orang dengan ahlak baik.” (H.R Ahmad)

8. Tetap saling menasihati dalam kebaikan, misalnya saling berbagi tausyiah. (Q.S Al-Ashr: 3)

Semoga 8 tips ini bermanfaat untuk sahabat muslimah. Semoga meraih banyak amal di bulan ramadhan, selamat mencoba... 🌷☺

HUKUM SERBU SERU DI BUKALAPAK


:: HUKUM SERBU SERU DI BUKALAPAK ::

Tanya :
Ustadz, bagaimana hukumnya Serbu Seru di Bukalapak? 
(Arief B. Iskandar, Bogor)

Jawab :
Serbu seru termasuk apa yang disebut Flash sale (flash deal), yaitu program promo barang tertentu dalam dunia e-commerce dengan harga yang lebih rendah (diskon) dalam jangka waktu yang sudah ditentukan.

Dalam program Serbu Seru di Bukalapak, costumer masing-masing diminta membayar Rp 12ribu untuk membeli barang yang ditawarkan Bukalapak. Barangnya macam-macam, misalnya gadget, laptop, kamera, tas mewah, termasuk mobil.

Setelah ditentukan oleh Bukalapak, pemenang akan mendapat barang yang ditawarkan. Uang Rp 12ribu yang sudah dibayarkan, akan dikembalikan dalam 1x24 jam bagi yang tidak berhasil mendapat barang, ditransfer ke saldo milik customer, misalnya ke Bukadompet, atau DANA, atau Credits milik customer, tergantung metode pembayaran yang digunakan (lihat m.bukalapak.com)

Demikian sekilas fakta (manath) dari Serbu Seru di Bukalapak tersebut. Bagaimanakah hukumnya dalam fiqih Islam? 

Hukumnya haram, dengan 4 (empat) alasan sbb :

Pertama, terjadi riba bagi pemenang (penyerbu berhasil) dalam bentuk diskon. Diskon ini dikategorikan riba, karena merupakan manfaat yang mucul dari adanya qardh (pinjaman/hutang) berupa uang Rp 12ribu yang dikirim ke Bukalapak. 

Jadi uang Rp 12ribu itu secara fiqih adalah qardh. Alasannya, uang itu akan dikembalikan oleh Bukalapak kepada customer yang tidak berhasil. Dengan kata lain, status Rp 12ribu itu sebenarnya bukan harga yang dibayarkan di muka oleh customer, karena belum jelas siapa yang menjadi pembelinya mengingat jumlah pesertanya banyak sekali dan perlu ditentukan (diundi) lebih dulu.

Jadi, pemenang tersebut mendapat diskon dari Bukalapak, karena adanya qrdh yang dibayarkan kepada Bukalapak. Jelaslah, diskon itu adalah manfaat karena adanya qardh, maka diskon itu adalah riba.

Sabda Nabi Shallallaahualaihi wasallam “Setiap pinjaman uang (qardh) yang menghasilkan sembarang manfaat, maka dia adalah salahsatu jenis riba.” (HR. Al Baihaqi)

Kedua, program Serbu Seru hukumnya haram karena terjadi penggabungan akad qardh dan jual beli menjadi satu akad. Peserta yang membayar Rp 12ribu yang sebenarnya melakukan akad qardh, dalam waktu yang sama juga melakukan akad jual beli. Penggabungan dua akad tersebut telah diharamkan oleh syara’, sesuai sabda Nabi Shallalaahualaihi wasallam “Tidak halal menggabungkan salaf (qardh) dengan jual beli..” (HR. Tirmidzi No 1252)

Ketiga, pada program Serbu Seru ini terjadi Ghaban Faahisy yang telah diharamkan, khususnya untuk barang dengan harga mahal. Ghaban Faahisy adalah menjual barang dengan harga yang tidak normal, yaitu harga yang jauh lebih murah atau jauh lebih mahal dari harga umumnya pasar (Taqiyuddin An Nabhani, Al Nizham AlIqtishadi fi Al Islam, hal 191). Contoh, mobil mini cooper yang normalnya berharga 700juta, dijual 12ribu.

Keempat, pada program Serbu Seru ini diduga kuat pihak Bukalapak telah mengelola uang peserta dengan mendapat bunga (riba). Dana yang diperoleh Bukalapak dari peserta, diduga kuat disimpan di suatu bank melalui deposit on call, yaitu deposito secara cepat dalam satu hari dengan bunga sekitar 7%.

Maka program Serbu Seru ini hukumnya haram, karena menjadi wasilah (perantara) terjadinya riba. Wallahua’lam bisshowab

(Ustadz M Shiddiq Al Jawi)

Keutamaan Tadarrus Al Qur’an di Bulan Ramadhan


[ INSPIRASI RAMADAN ]

Keutamaan Tadarrus Al Qur’an di Bulan Ramadhan

Oleh : Yulida Hasanah

Menyibukkan  diri  dengan  membaca  al-Qur’an  al-Karim di bulan ramadhan  termasuk  ibadah  yang  paling  utama  dan merupakan  salah  satu  sarana  yang  paling  utama  untuk  mendekatkan  diri  kepada  Allah  SWT, mengharap  ridhaNya,  memperoleh  keutamaan  dan  pahalaNya. Sebab  al-Qur’an  adalah kalamullah dan merupakan asas Islam yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang  pernah  dilahirkan  kepada  umat  manusia;  dengan  syari’at  yang  paling  utama,  paling  mudah, paling luhur dan paling sempurna. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya  orang-orang  yang  selalu  membaca  kitab  Allah  dan  mendirikan  sholat  dan menafkahkan  sebahagian  dari  rizki  yang  Kami  anugerahkan  kepada  mereka  dengan  diam-diam  dan terang-terangan,  mereka  itu  mengharapkan  perniagaan  yang  tidak  akan  merugi,”  (Qs.  Fâthir  [35]: 29).

Al-Qur’an juga akan memberi syafa’at bagi orang yang membacanya. Rasulullah Saw bersabda:

“Puasa  dan  al-Qur’an  itu  akan  memberikan  syafa’at  kepada  seorang  hamba  pada  hari  kiamat  nanti. Puasa  akan  berkata,  ‘Wahai  Tuhanku,  saya  telah  menahannya  dari  makan  dan  nafsu  syahwat, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Dan al-Qur’an berkata, ‘Saya telah  melarangnya  dari  tidur  di  malam  hari,  karenanya  perkenankan  aku  untuk  memberi  syafa’at kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafa’at keduanya diperkenankan’.”

Rasulullah Saw seringkali menyuruh para sahabat untuk  membaca  al-Qur’an  di  depan  Beliau.  Imam Bukhâri dan Muslim meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ibn Mas’ud, dimana  pada  saat  itu  Rasulullah  sedang  di  atas  mimbar,  “Bacakanlah  kepadaku  al-Qur’an!”  Ibn Mas’ud  berkata,  “Pantaskah  aku  membacakan  untukmu,  sedangkan  al-Qur’an  diturunkan kepadamu?” Rasulullah Saw menjawab, “Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain.” Lalu Ibn  Mas’ud  pun  membacakan  surat  an-Nisâ’  hingga  ayat  yang  berbunyi,  “Maka  bagaimanakah (halnya  orang  kafir  nanti),  apabila  Kami  mendatangkan  seseorang  saksi  (rasul)  dari  tiap-tiap  umat dan  Kami  mendatangkan  kamu  (Muhammad)  sebagai  saksi  atas  mereka  itu  (sebagai umatmu).” Beliau bersabda, “Cukup…Cukup!” Ketika aku menoleh, kata Ibn Mas’ud, aku melihat air mata beliau bercucuran.”

Dari  Ibn  ‘Abbas  ra  dituturkan,  bahwasanya  ia  berkata,  “Nabi  Saw  adalah  orang  yang  paling dermawan,  dan  beliau  lebih  dermawan  pada  bulan  Ramadhan,  saat  beliau  ditemui  Jibril  untuk membacakan  kepadanya  al-Qur’an.  Jibril  menemui  setiap  malam  pada  bulan  Ramadhan,  lalu membacakan  kepadanya  al-Qur’an.  Rasulullah  Saw  ketika  ditemui  Jibril  lebih  dermawan  dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhori & Muslim)

Marilah kita perhatikan hadits-hadits nabi yang menceritakan tentang keutamaan membaca al-Qur’an, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya. Rasulullah Saw bersada:

“Bacalah  al-Qur’an  karena  sesungguhnya  al-Qur’an  itu  nanti  pada  hari  kiamat  akan  datang  untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”(HR. Muslim)

“Orang  yang  membaca  al-Qur’an  dan  ia  mahir  maka  nanti  akan  bersama-sama  dengan  para malaikat yang mulia lagi taat. Sedang orang yang mebaca al-Qur’an dan ia merasa susah di dalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhori & Muslim)

“Perumpamaan  orang  mukmin  yang  membaca  al-Qur’an  itu  adalah  seperti  utrujah  yang  mana baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an itu  seperti  buah  korma  yang  mana  tidak  berbau  tapi  rasanya  manis.  Perumpamaan  orang  munafik yang  membaca  al-Qur’an  itu  seperti  bunga  yang  mana  baunya  harum  tetapi  rasanya  pahit.  Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an itu seperti hanzhalah yang mana tidak berbau dan rasanya pahit.”(HR. Bukhori & Muslim)

“Tidak ada iri hati itu diperbolehkan kecuali dalam dua hal yaitu: seseorang yang diberi kemampuan oleh  Allah  untuk  membaca  dan  memahami  al-Qur’an  kemudian  ia  membaca  dan  mengamalkannya baik pada waktu malam maupun siang; dan seseorang yang dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan baik pada waktu malam maupun siang.”(HR. Bukhori & Muslim)

“Barangsiapa  yang  membaca  satu  huruf  dari  kitab  Allah  (al-Qur’an)  maka  ia  mendapat  satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatkan, ‘Alif lâm mîm’ satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”(HR. At Tirmidzi)

Dalam  hal  membaca  al-Qur’an,  Rasulullah  Saw  telah  mencontohkan  kepada  kita  untuk  membaca dengan tartil, dan tidak terburu-buru, dalam rangka melaksanakan firman Allah SWT:

“Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Qs. al-Muzzammil [73]: 4). 

Rasulullah Saw juga bersabda:
“Kelak  (di  akhirat)  akan  dikatakan  kepada  Shahibul  Qur’an  (orang  yang  senantiasa  bersama-sama dengan  al-Qur’an,  penj.),  ‘Bacalah,  naiklah  terus  dan  bacalah  dengan  perlahan-lahan  (tartil) sebagaimana  engkau  telah  membaca  al-Qur’an  dengan  tartil  di  dunia.  Sesungguhnya  tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”(HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Tentang  keutamaan  berkumpul  di  masjid-masjid  untuk  mempelajari  al-Qur’an  al-Karim,  Rasulullah Saw bersabda:

 “Tidaklah  berkumpul  suatu  kaum  di  salah  satu  rumah  Allah  seraya  membaca  kitab  Allah  dan mempelajarinya  di  antara  mereka,  kecuali  turunlah  ketenangan  atas  mereka,  serta  mereka  diliputi rahmat,  dikerumuni  para  malaikat  dan  disebut-sebut  oleh  Allah  kepada  para  malaikat  di hadapanNya.” [HR. Muslim].
 “Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca al-Qur’an dan saling  bertadarus  bersama-sama,  niscaya  akan  turun  ketenangan  atas  mereka,  rahmat  Allah  akan meliputi  mereka,  para  malaikat  akan  melindungi  mereka  dan  Allah  menyebut  mereka  kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya.”(HR. Muslim)
------------------