KENAPA KHILAFAH DIKRIMINALISASI, sedang K-POP dan DRAKOR Jadi INSPIRASI?

KENAPA KHILAFAH DIKRIMINALISASI, sedang K-POP dan DRAKOR Jadi INSPIRASI?

 



Oleh: Umi Nafilah


#InfoMuslimahJember -- Lagi, Indonesia dikejutkan dengan pernyataan Wakil Presiden Ma'ruf Amin bahwa K-Pop dan Drakor bisa menjadi inspirasi anak muda untuk mengenalkan Budaya Indonesia. Beliau mengatakan 100 tahun lalu sebelum kemerdekaan, warga Korea datang ke Indonesia dan beberapa di antaranya justru membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, Karena itu, Indonesia dan Korea punya hubungan yang telah terjalin baik dan terus ditingkatkan.


Wapres menilai, dengan banyaknya produk Korea yang diproduksi di Indonesia dapat menjadi momentum pembelajaran bagi anak-anak bangsa untuk dapat menciptakan produk dengan kualitas yang baik dan berdaya saing. Sehingga, dalam jangka panjang diharapkan dapat mendorong proses industrialisasi Indonesia.


Disisi lain, anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri. (Kumparannews, 20/9). 


Pernyataan ini sangat bertolak belakang dengan kejadian sebulan yang lalu, jika kita ingat bagaimana film Jejak Khilafah DI Nusantara yang disutradarai Nicko Pandawa diluncurkan pada Ahad (2/8/2020) lalu di-banned beberapa kali dengan mendapat notifikasi pemblokiran film yang bertuliskan "Video tidak tersedia. Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah" diunggah akun instagram @jejakkhilafahdinusantara. 


Padahal jika kita saksikan film tersebut, tidak ada hoax didalamnya, namun di film tersebut mengungkap ternyata ada jejak khilafah di Nusantara terkhusus di Indonesia, bahkan memiliki hubungan erat antara keduanya yaitu sebelum kemerdekaan, utusan khilafahpun juga membantu mengusir penjajah di Nusantara pada waktu itu. 


Kenapa film Jejak Khilafah di Nusantara yang mengungkap sejarah Khilafah dan Indonesia malah seolah terlarang, buruk, dan malah dikriminalisasi? Kenapa tidak diapresiasi dan menjadi inspirasi untuk generasi negeri? Sedangkan K-Pop dan Drakor, kenapa malah diangkat dan menjadi inspirasi? 


Padahal dunia mengenal Indonesia mayoritas muslim terbesar, seharusnya mempelajari budaya Islam dan Khilafah adalah hal yang wajar, bukan malah mengikuti budaya barat yang jelas-jelas bertolak belakang dengan Islam, sungguh sebagai muslim, apakah kita hanya diam?


Khilafah adalah ajaran Islam, sebagai seorang muslim mempelajarinya adalah kewajiban, bahkan seharusnya semangat memperjuangkan Khilafah menjadi inspirasi dan semangat bagi generasi negeri ini.[]

MIRAS MERUSAK MORAL REMAJA, KOK GOOD LOOKING HAFIDZ QURAN DIANGGAP ANCAMAN NYATA???

MIRAS MERUSAK MORAL REMAJA, KOK GOOD LOOKING HAFIDZ QURAN DIANGGAP ANCAMAN NYATA???



Oleh. Faiqoh Himmah

(Pemred IMJ) 



#InfoMuslimahJember -- Miris, Jember catat 'prestasi'.  Delapan pemuda mabuk perkosa siswi SMA. Dilansir dari detik news, Kapolsek Tanggul AKP Sugeng menyatakan 8 pelaku dan korban sama - sama dalam kondisi mabuk. 

Kejadian semacam ini bukan pertama kali di Jember. Oktober 2019 lalu, empat pemuda di Balung perkosa dua teman perempuannya setelah menggelar pesta miras (inewsjatim.id).

Tahun 2014 lalu, empat pemuda perkosa remaja 15 tahun usai pesta miras di Ambulu (kompas.com). Yang menghebohkan nasional, adalah tragedi Yuyun 2016 lalu di Bengkulu. Dia tewas diperkosa 14 remaja setelah pesta miras dan kecanduan film porno. 

Deretan fakta yang terungkap ini (bisa jadi lebih banyak lagi yang tak terungkap) menunjukkan rusaknya moral remaja akibat miras. 

Namun kewaspadaan terhadap miras ini, tak sepadan dengan kewaspadaan terhadap hafidz Quran. Pemerintah, justru menganggap hafidz Quran yang memakmurkan masjid adalah ancaman. Mereka lebih ditakuti daripada pemuda-pemuda mabok yang menghancurkan kehormatan banyak anak gadis.

Miras yang mudah didapat dan dibuat berpadu dengan ambyarnya arah hidup remaja, adalah potret kegagalan sistem pendidikan negeri ini dalam mewujudkan insan bertakwa. Juga potret kegagalan sistem sosial yang menjamin terjaganya akal manusia. 

Inilah buah dari dikebirinya Islam hanya sebagai aturan ritual belaka. Islam, dien yang paripurna, dianggap tak layak mengatur kehidupan masyarakat dan menjadi asas segala kebijakan negara. 

Aqidah Islam dipangkas hanya sebagai asas ibadah, tidak boleh menjadi asas sosial dan kehidupan masyarakat.  Inilah sekulerisme. 

Sekulerisme, menjadikan kebebasan perilaku, kebebasan individu sebagai nafas. Ibarat akar pohon yang buruk, batang dan buah yang dihasilkan busuk. 

Saatnya kita kembali kepada Islam secara paripurna. Merenungkan kembali, benarkah syariat  Islam yang mengatur kehidupan masyarakat dan negara adalah radikal? Benarkah syariat Islam merusak dan berbahaya? Sementara syariat Islam turun dari Rabb yang menciptakan manusia.

Harus berapa lagi remaja-remaja calon pemimpin negeri ini rusak dan hancur akibat sekulerisme?

Sungguh, ini adalah pelajaran bagi orang - orang yang berpikir. 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ 

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [al-Hadîd/57:16]


 Layakkah Demokrasi Diperjuangkan?

Layakkah Demokrasi Diperjuangkan?




Oleh. Ulfiatul Khomariah

(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)


#InfoMuslimahJember -- Demokrasi. Siapa yang tak pernah mendengar istilah demokrasi? Sebuah sistem yang berkonsep pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat ini kerap kali menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia. Salah satunya Indonesia, negeri yang terkenal dengan mayoritas muslim ini begitu mengagung-agungkan sebuah sistem yang bernama demokrasi. Bahkan, banyak tokoh yang menganggap bahwa sistem politik demokrasi akan memberikan harapan besar bagi masyarakat Indonesia. Sistem demokrasi juga seringkali diusung oleh para aktivis muslim yang menganggap bahwa demokrasi bagian dari ajaran Islam. Oleh sebab itu, sebagai umat Islam wajib bagi kita semua untuk mencari tahu benarkah demokrasi ini berasal dari Islam dan layakkah sistem demokrasi untuk diperjuangkan?

Sebelum berbicara jauh tentang demokrasi, sudah selayaknya kita memahami terlebih dulu tentang apa itu demokrasi? Demokrasi merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan. Dari bahasa Inggris demos dan kratos diserap menjadi democracy. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), demokrasi dalam istilah politik memiliki arti pemerintahan rakyat. Hal ini berarti dalam sebuah Negara yang berdemokrasi, kekuasaan dan kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat dan pemerintahan dijalankan langsung oleh wakil-wakil yang dipilih oleh rakyat dalam sebuah pemilihan umum.

Secara definisi, demokrasi memiliki arti kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan rakyat. Artinya, politik demokrasi benar-benar dilepaskan dari kekuasaan agama agar dapat benar-benar berjalan sesuai dengan idealitas rasionalitas manusia. Sehingga demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat aturan dalam menentukan benar-salah dan baik-buruknya. Serta menjadikan ide sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) sebagai pondasi dasar dari demokrasi. Bukankah hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak membuat hukum? Allah SWT berfirman dalam (QS. Yusuf : 40) yang berbunyi innil hukmu illa lillah (sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah).

Secara konsep demokrasi sangat bertentangan dengan Islam dan akan mengantarkan pada kondisi yang jauh dari kata keadilan. Sehingga selogan yang sering disebutkan bahwa rakyat akan mendapatkan hak secara adil hanya akan menjadi ide yang ubsurd dan utopis untuk diwujudkan. Jika ada yang mengatakan bahwa demokrasi terlahir dari para ulama, maka pendapat tersebut tidaklah berdasar. Sebab dari berbagai sumber referensi terkait demokrasi, kita dapati bahwa ide demokrasi sama sekali tidak berkaitan dengan dunia Islam. Justru demokrasi berasal dari dunia Barat. 

Konsep demokrasi semakin disebarluaskan pada masa abad pertengahan oleh para pemikir barat. Misalkan seperti Charles Louis de Secondat Baron de Montesquieu (1689-1755) dalam bukunya, L’Esprit des Lois (The Spirit of Laws) yang memunculkan konsep Trias Politika, John Locke dalam bukunya, Two Treatises on Civil Government (1690) dan Jean Jacques Rousseau dalam bukunya, Du Contract Social (1762). Akhirnnya demokrasi kembali mengemuka pada Revolusi Perancis di Eropa selepas Perjanjian Westphalia 1648. Perjanjian ini mengatur undang-undang Internasional dalam rangka ekspansi (baca menjajah) negara lain untuk mewujudkan kepentingan negara adidaya.

Sejak Amerika Serikat bangkit dari masa isolasinya setelah Perang Dunia II, AS menjadi salah satu negara yang menyebarkan demokrasi ke seluruh dunia. Secara global AS melancarkan program “Demokratisasi Dunia”. AS menghendaki seluruh Negara di dunia ini menjalankan kehidupan Demokratis seperti yang mereka ajarkan. Untuk menunjang program itu, berbagai kegiatan dilakukan. Beberapa kalangan terpelajar dari berbagai negara diberi kesempatan mengunjungi AS untuk melihat bagaimana kehidupan demokrasi disana. Berbagai buku tentang demokrasi juga diterjemahkan dalam bahasa Nasional Negara yang menjadi sasarannya, termasuk Indonesia.

Salah satu buku kecil yang memuat tentang ajaran demokrasi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Apakah Demokrasi itu?” Buku ini merupakan terjemahan dari buku kecil yang berjudul “What is Democracy?”. Booklet ini lalu disebarkan ke berbagai kalangan oleh USIA (United State Information Agency). Dengan buku ini dan beberapa buku lainnya yang sejenis, AS ingin menyebarkan demokrasi ke bumi Nusantara. Sudah pasti tujuannya bukanlah untuk kebaikan Indonesia. Karena sangat jelas terikrar dalam pidato-pidato Pemimpin Amerika tujuan mereka menyebarkan demokrasi adalah untuk kepentingan Nasional mereka. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh George W. Bush dalam pidatonya di hadapan masyarakat AS tahun 2003: “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Dari penjelasan tersebut tergambar bahwasanya proses penyebaran demokrasi dilakukan oleh dunia Barat hanya untuk dijadikan sebagai senjata ampuh (manuver politik) untuk kepentingan mereka. 

Demokrasi memang telah menjadi alat bagi para penjajah, baik dari Barat (asing) maupun dari Timur (aseng) untuk menguasai  negeri-negeri Muslim. Inilah penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang dilakukan oleh Kafir Penjajah. Oleh karena itu, William Blum, penulis buku America’s Deadliest Export Democracy menyebutkan bahwa demokrasi adalah alat dominasi Amerika Serikat yang kini juga dipakai Cina atas  seluruh dunia. Dapat disimpulkan bahwa demokrasi merupakan alat untuk menguasai dunia demi kepentingan ekonomi, politik dan ideologi.

Dengan adanya konsep demokrasi ini, negeri-negeri Muslim khususnya tak lagi terikat pada ketentuan syariah. Akhirnya, Barat dengan mudah mempengaruhi proses legislasi (penetapan peraturan perundang-undangan) baik secara langsung melalui drafting assistance (bantuan perancangan undang-undang) maupun tidak langsung melalui orang-orang mereka di parlemen atau di pemerintahan. Sehingga tidak aneh jika segala kebijakan yang terlahir di negeri muslim sangat memihak kepada Asing maupun Aseng. 

Maka wajar apabila yang menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah nasib TKA (Tenaga Kerja Asing) daripada rakyatnya sendiri. Justru banyak lahir kebijakan tidak Pro dengan kepentingan rakyatnya sendiri seperti: naiknya iuran BPJS dimasa rakyat sedang mengalami kesulitan menghadapi pandemi covid, kekehnya pemerintah untuk melanjutkan kebijakan reklamasi, dan kebijakan perpindahan ibu kota yang terlihat memaksakan diri disaat rakyat sedang menjerit membutuhkan dana bantuan untuk bertahan hidup. Serta adanya beberapa RUU transaksional, diantaranya adalah RUU Omnibus Law, UU Migas, UU Pidana KUHP, UU SDA, UU Penanaman Modal, dll. Merupakan UU yang nampak keberpihakannya pada pengusaha (capital) tanpa memperdulikan rakyatnya sebagai buruh yang akan menjadi korbannya. 

Melalui demokrasi dengan instrumen utama media massa, apalagi demokrasi liberal seperti yang saat ini dipraktikkan, Barat sangat mudah mempengaruhi opini masyarakat dalam pemilihan pemimpin negara dan  untuk bisa menerima paham-paham dari Barat seperti sekularisme, HAM, persamaan gender hingga LGBT. Akibatnya, paham-paham itu dengan mudah menyebar dan berpengaruh dalam penetapan kebijakan. Sebaliknya jika ada paham yang bertentangan dengan paham Barat maka harus siap tidak mendapatkan ruang untuk bersuara atau istilahnya mendapat persekusi.

Melalui Demokrasi lahirlah pemimpin yang tidak otentik. Dia terpilih karena rekayasa citra (image engineering) melalui media massa. Melalui demokrasi pula, lahirlah negara yang dikontrol oleh korporasi. Dominasi korporasi terhadap negara semakin mencengkeram setelah korporasi multinasional turut bermain. Mereka turut menentukan siapa yang menjadi pemimpin sebuah negara dan apa kebijakan negara tersebut. Kembali seperti jaman VOC dulu. Maka jika dulu mampu melihat dengan jelas siapa penjajah sesungguhnya, dengan demokrasi wajah penjajah tertutupi, yang terlihat adalah sosok penyelamat yang siap menikam siapapun dan kapanpun.

Melalui demokrasi, penjajahan Barat menjadi semakin asyik bergerilya. Buktinya, jika Barat memang benar-benar tulus memperjuangkan demokrasi dan mengajak seluruh negara menerapkan demokrasi dengan sebaik-baiknya, tentu mereka akan bertindak konsisten mendukung mereka yang menerapkan demokrasi dan menentang yang sebaliknya. Kenyataannya tidaklah demikian. Lihatlah, Barat tetap mendukung rezim totaliter di sejumlah negara, seperti di rezim Assad di Suriah. Sebaliknya, mereka tak segan menjatuhkan rezim, seperti Presiden Mursi di Mesir dan FIS di Aljazair, meski terpilih dengan cara demokrasi, namun karena dinilai tidak sesuai dengan kemauan Barat akhirnya digulingkan.

Maka dapat disimpulkan bahwa demokrasi hanyalah alat bagi Barat untuk melancarkan aksi-aksi penjajahan mereka.. Itulah hakikat demokrasi yang sesungguhnya yangs angat nampak kebusukannya. Pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat hanyalah slogan isapan jempol belaka. Lalu layakkah ide demokrasi ini diperjuangkan? Wallahu a’lam bish-shawwab.


Indonesia : Negara Hukum Rasa Negara Ormas

Indonesia : Negara Hukum Rasa Negara Ormas



Oleh. Siti Nurhotima

#InfoMuslimahJember -- Kadang suka sedih melihat kalau ada sesama muslim saling beradu, mana yang lebih  bagus dan lebih baik. Melihat vidio yang sedang viral beberapa hari yang lalu Ya, pasalnya baru-baru ini puluhan anggota Ansor Bangil mendatangi kediaman Abdul Hamid dan Zainulloh di desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dalam rangka tabayun atau klarifikasi terkait dugaan penghinaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU) dan ulamanya Habib Luthfi bin Yahya di media sosial.

Namun sayang, sebagaimana yang terlihat dalam video yang telah beredar luas, ketua PC GP Ansor Bangil terlihat membentak-bentak dan mempersekusi pak kiai tersebut sembari mengatakan “HTI sebagai ormas Terlarang” dan “Khilafah sebagai ajaran terlarang”.

Namun sayangnya, Menteri Agama justru mengapresiasi sikap Banser yang mempersekusi Kiai Zainullah itu. Menag menganggap cara yang mereka lakukan sudah tepat karena mengedepankan cara yang penuh kedamaian. Ia menyebutkan langkah yang diambil GP Ansor merupakan tindakan tabayyun, dan kembali menekankan bahwa tidak ada ruang sama sekali bagi ideologi-ideologi yang bermaksud untuk menggeser Pancasila sebagai ideologi negara (fixindonesia.pikiran-rakyat.com, 22/8/2020).

Sebenarnya, apakah yang menjadi penyebab utama terjadinya tindakan main hakim sendiri, sampai-sampai menggeruduk rumah Kiai Zainullah?. Ternyata, ada dugaan penghinaan terhadap salah satu tokoh Nahdlatul ‘Ulama (NU), Habib Luthfi lewat akun sosial media seorang guru di sebuah yayasan lembaga pendidikan Islam di Kota Rembang. Masih dugaan, belum terbukti kebenarannya. Maka, sikap tabayyun seharusnya ditunjukkan bukan dengan membentak atau melakukan ancaman, melainkan duduk menang serta membicarakannya dengan kepala dingin.

Begitulah, seharusnya Menag tampil di depan sebagai penengah dalam permasalahan tersebut. Apalagi, hal itu berkaitan dengan urusan keagamaan yang tentunya menjadi bidang Kemenag. Terkait ucapan ketua PC GP Ansor Bangil yang mengatakan “HTI sebagai ormas Terlarang” dan “Khilafah sebagai ajaran terlarang”. Tentu ini harus diluruskan. 

Menurut Chandra Purna Irawan Ketua Umum Lbh Pelita Umat, organisasi dakwah Hizbut Tahrir Indonesia(HTI) bukan ormas terlarang menurut hukum dikarenakan tidak ada peraturan perundang-undangan yang menyatakannya organisasi dakwah HTI sebagai organisasi terlarang. “Organisasi dakwah HTI hanya Dicabut status badan hukum perkumpulannya saja (BHP) (Mediaumat.news, Sabtu, 22/8/2020).

Beliau juga mengatakan bahwa terkait Khilafah merupakan ajaran terlarang itu juga tidak benar. Pasalnya, ajaran Islam Khilafah tidak pernah dinyatakan sebagai paham terlarang baik dalam surat keputusan tata usaha negara, putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya sebagaimana paham komunisme, marxisme/leninisme dan atheisme, yang merupakan ajaran PKI melalui TAP MPRS NO. XXV/1966.

Dari kesemua itu, sangatlah jelas ini adalah upaya rezim hari ini untuk menjauhkan umat dari iklim islam, menjauhkan dakwah islam, menjauhkan umat dari Khilafah. Padahal, sebagaimana sholat, dakwah, puasa, membaca Alquran dan lain sebagainya itu adalah ajaran islam. Sama seperti Khilafah, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam, dan Khilafah bukanlah ideologi. Tetapi Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam, warisan dari Rasulullah, dijalankan oleh para sahabat yaitu Khulafaur Rasyidin dan diteruskan sampai ke Khilafahan terakhir Utsmaniyyah tahun 1924. Khilafah lah nanti yang akan menerapkan semua hukum.

Hukum islam terkait persanksian, ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, ibadah, informasi dan lain-lain. Maka dari itu, sudah seharusnya sebagai seorang muslim untuk memeluk islam, menjalankan semua perintah Allah menjauhi semua larangan Allah. secara kaaffah (menyeluruh) dan tidak setengah-setengah mengambil islam.

Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara (Kaaffah) keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S Al Baqarah:208).

Sungguh, sudah kewajiban bagi kaum muslim untuk singsingkan lengan, ikut bersama dalam Mega Proyek akhir zaman yang berasal dari Allah yaitu meratakan seluruh dunia dengan syariah(aturan) Islam tentunya dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bishshawab


Film Jejak Khilafah Di Nusantara : Sebuah Identitas Yang Hilang Dari Sejarah

Film Jejak Khilafah Di Nusantara : Sebuah Identitas Yang Hilang Dari Sejarah

 

Oleh: Sri Wahyuni S.Pd

(Aktivis Muslimah)


#InfoMuslimahJember -- Wow! kado spesial Muharram, akhirnya muslim tau! Sebuah film dokumenter berjudul “Jejak Khilafah Di Nusantara” yang di sutradarai oleh sejarawan Nico Pandawa sukses diselenggarakan secara live hari ini yang bertepatan dengan tahun baru islam 1 Muharram 1442 H. Yang menarik dari pemutaran film ini bukan hanya karena ditayangkan di momen pergantian tahun melainkan juga cara menyaksikan film yang mengharuskan penonton untuk memgang tiket agar dapat login, meski demikian tiket tersebut dapat dimiliki secara gratis. Film ini sendiri ditayangkan mulai pukul 09.00-12.20, dan telah banyak menyedot perhatian publik di jagad medsos. Setidaknya 63 ribu netizen telah menyaksikan film tersebut secara live di Youtube.

Pemutaran film ini diawali dengan sambutan dari Ustad Rokhmat S. Labib, dimana beliau menyampaikan bahwa “Tahun baru hijriah sebagai tahun penanggalan islam yang ditetapkan oleh khalifah Umar r.a, dimana penetapan tahun ini adalah diambil dari peristiwa hijrahnya rosul stlah kspakatan para sahabat. Smntara itu alasan yang menjadi landasan pentapan tahun islam diambil dari peristiwa hijrahnya rosul adalah sebagaimana disampaikan oleh Khalifah Umar r.a bahwa hijrah adalah peristiwa yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Maka umat yang seblumnya tertindas tatkala menyampaikan dakwah di Mkekah lantas berubah menjadi ummah yang kuat, ummah khadimah. Peristiwa penting di balik hijrah tersebut tak lain adalah yang tadinya tak punya daulah kemudian mampu mengakkannya ketika di madinah. Hijrah tersebut juga bukan hanya sebagai seorang nabi tetapi beliau juga datang sebagai kepala negara ynag menjadikan kekuasaan ada di tangan rasulullah dimana seluruh hukum islam bisa diterapkan. Bukan hanya di Madinah, namun Islam kemudian menyebar ke seluruh jazirah arab. Bahkan sepeninggal rasulullah beliau tidak hanya meninggalkan agama tetapi meninggalkan sebuah ngara yang punya kedaulatan yakni negara khilafah dan terus menyebar hingga ke wilayah lain selama kurun waktu 13 abad”. Sebagai penutup beliau menyampaikan bahwa kebangkitan Islam hanya akan bisa diwujudkan ketika khilafah ditegakkan.

Acara kemudian berlanjut dengan bincang-bincang hangat bersama para pembuat film. Dipandu oleh Ustad Karebet sebagai moderator dalam sesi ini dihadiri oleh Ustad Ismail Yusanto, Septian A.W dan Nico Pandawa. Ustad Ismail memulai sesi ini dengan menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah yakni dalam sejarah mengandung ibroh bagi orang yang berpikir. “Bagaimana ibroh didapat tergantung sejarah ditulis. Jika ditulis benar maka akan dapat ibroh yang benar dan sebaliknya. Oleh karenanya al-quran ditulis secara benar maka ibroh yang didapat juga pasti benar. Namun ada sejarah di luar quran ini kebenarannya sangat tergantung dengan siapa yang merumuskan dan apa latar belakangnya. Inilah yang menjadi munculnya sebab adanya penguburan dan pengkaburan sejarah”. Beliau lalu melanjutkan bahwa film ini disajikan adalah dalam rangka untuk menghadirkan sejarah yang benar. Beliau lantas melanjutkan bahwa sejarah tidak untuk dijadikan sebagai sumber hukum melainkan obyek pemikiran. Artinya menjadi pendukung dari ajaran yang kita pahami dimana dalam konteks ini adalah khilafah. Dengan mengetahui keberadaan khilafah di bumi nusantara adalah sebagai penguat pemahaman kita tentang ajaran tersebut. Meski demikian sekalipun jejak ini tidak terdapat di nusantara namun bukan berarti menjadi alasan menyebut khilafah tidak pnting atau tidak wajib sebab kebenaran adalah berdasarkan dalil.

Sementara itu, menurut Septian A.W film ini dikemas menarik yang membedakan dengan film-film islam yang telah banyak di produksi  yakni dalam film ini dijelaskan relasi antara khilafah di timur tengah dengan nusantara. Dan hal inilah yang tidak dibahas oleh film-film sejarah islam lainnya. Beliau kemudian menanggapi isu yang menyebut film ini sebagai film propagandis “saya kira ini hal yang belum familiar, hal tersebut bisa kita prediksi akan muncul. Hal-hal yang menuduh bahkan sebenarnya filmnya belum muncul tapi tuduhan itu sudah muncul. Sebenarnya bukan karena filmnya tapi sentiman dengan kata khilafahnya yang dikaitkan dengan indonesia.” Lanjut beliau, sbagai orang yang memiliki background lulusan sejarah memastikan bahwa apa yang akan ditayangkan ini mmiliki nilai akademis dan ilmiah.

Nico Pandawa sebagai sutradara dari film ini menyebut bahwa proses pengerjaan film ini telah melalui riset yakni mengambil dari data pustaka dan data lapangan  yang diambil mulai dari ujung Aceh hingga dearah timur Ternate sehingga film ini akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari data tersebut kemudian dilakukan kritik baik intrenal maupun eksternal, proses kemudian berlanjut dengan interpretasi yaitu menterjemahkan untuk dijadikan narasi  yang bisa dinikmati oleh semua pihak.

Di sesi berikutnya adalah penayangan film yang dibuka dengan kisah wafatnya rasulullah Saw sehingga menyebabkan duka mendalam bagi para sahabat. Mengetahui pemimpinnya saat itu telah wafat para sahabat pun bersegra untuk mengangkat pemimpin baru untuk melanjutkan kepemimpinan, dan terpilihlah sahabat Abu Bakar. Lebih mengutamakan mengangkat pemimpin baru ketimbang menyegerakan pemakaman rasul menujukkan bahwa ini adalah urusan yang sangat mendsak. Pergantian kepemimpinan ini pun berlanjut oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib r.a dan khalifah-khalifah setelahnya. Silih brgantinya kepemimpinan tersebut juga diiringi dengan makin luasnya wilayah daulah Islam bahkan hingga ke Nusantara. Di bawah kepemiminan khalifah Umar bin Abdul Aziz lah Islam mulai tersebar ke Nusantara. Pada saat itu, tahun 1258 Mongol secara brutal dan membabi buta menyerang daulah Islam di Baghdad hingga menyebabkan banyak dari kaum muslim yang wafat atas serangan tersebut. Sementara itu, kaum muslim yang selamat kemudian mengungsi kv wilayah lain yang lebih aman. Salah satu dari keturunan bani Abbasiyah bahkan mengungsi hingga ke Aceh. Dimana Aceh saat itu sedang berada dalam kekuasaan kerajaan Samudra Pasai. Bukti kisah sampainya Daulah Islam di Nusantara adalah ditemukannya tiga makam dari keturunan Abbasiyah di Aceh yakni Ashrodul Akabir Abdullah bin Muhammad al-Abasy keturunan khalifah al-mustam’shir billah, kemudian istrinya siti rahiman muadhon binti malikul dan anaknya Ashrodul Akabir yusuf bin Abdullah bin Abasy yang di batu nisannya tertulis nama kakeknya al-mustam’shir. Sementara itu, catatan yang ditulis oleh Ibnu Batutah menyebut Ayah dari  Abdullah yang makamnya berada di Aceh tadi prnah menjadi gubernur di India dan para Sultan di India begitu taat terhadap keturuanan al-mustam’shir billah dan begitu memuliakan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebut bahwa India telah berbaiat kepada Daulah Abbasiyah. Sementara disaat yang sama pula India memiliki hubungan yang erat dengan Samudra Pasai. Dengan demikian kerajaan Samudra Pasai diduga kuat berbait kepada Daulah Abbasiyah. Dengan berbaiatnya Samudra Pasai kepada Daulah Islam maka menyebarkan Islam ke Asia Tenggara menjadi tugas Samudra Pasai.

Sultan Zainal Abidin Pasai sebagai Pemimpin Samudra Pasai kemudian mengemban amanah tersebut dengan mengirim juru dakwah untuk wilayah nusantara lain agar memeluk Islam. Saat itu Majapahit sebagai ibu kota Jawa Timur yang masih memeluk agama hindu menjadi tujuan penyebaran Islam. Maka diutuslah Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Sementara di sisi lain kondisi Majapahit yang telah berada di ujung tanduk akibat kekacaun internal kerajaan tersebut menjadi faktor pendukung makin diterimanya Islam. Dakwah yang begitu masif dilakukan ini bahkan berhasil membentuk Daulah Islam pertama di Tanah Jawa. Langkah dakwah pun terus brlanjut hingga sampailah dakwah Islam di kota Maluku, Ternate, Makassar, Kalimantan, dsb. Menariknya, di tengah makin luasnya wilayah Daulah Islam di Nusantara, disaat yang bersamaan pula Konstatinopel takluk di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih. 

Namun disaat gencarnya futuhat yang dilakukan oleh tentara muslim mulai dari Rom hingga ke Nusantara, disaat itu pula tentara-tentara kristen sedang gencarnya melakukan serangan terhadap wilayah Islam yang dimulai dari tanah Andalusia hingga akhirnya mereka berhasil menaklukkan Andalusia hingga mengakibatkan populasi Muslim tersapu bersih. Akibat reconquista yang dilakukan penguasa baru yang dipimpin Fernando Daragor dan istrinya Isablla De castelia kaum muslim akhirnya banyak yang diusir, dimurtadkan bahkan dibunuh. Tak cukup sampai disitu mereka pun berambisi untuk menjadikan diri mereka kaya dengan mencari sumber rempah di Samudra Hindia. Hal ini dilakukan sebab mahalnya harga rempah saat itu yang sebanding dengan harga mas. Ekspansi mereka pun tiba di Malaka dan merebut pelabuhan stretegis tersebut dari Sultan mahmud Syah yang memerintah tempat tersebut. Bercokolnya Portugis dan Spanyol menjadi babak baru bagi perkembangan Islam di Nusantara. Melihat penjajahan yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol di India dan Nusantara membuat Sultan Sulaiman Al-Qonuni lantas menyatakan perang terbuka terhadp penguasa Portugis. Namun saat kemunculan Portugis yang telah lama menetap di Nusantara akhirnya membuat kerajaan Samudra Pasai semakin lemah, sementara itu disisi lain di ujung Aceh jusru harapan itu kian bersinar dengan munculnya Kesultanan Aceh. 

Demikianlah eksistensi khilafah di Nusantara, dan acara ini pun ditutup dengan tayangan video di beberapa tempat bersejarah yang pernah menjadi saksi jejak Khilafah di Nusantara serta kesimpulan oleh Ustad Ismail Yusanto yang menyebut perjuangan penegakan khilfah memiliki dasar historis yang kokoh sebagaimana ditayangkan di video dan memiliki dasar normatif  yang telah dibahas di banyak kitab dan bahkan di pelajaran fikih di Madrasah Aliyah disampaikan bahwa hukum menegakkannya adalah fardhu kifayah sehingga sangat aneh jika hari ini ada yang menyebut upaya perjuangan penegakannya ahistoris.


Jejak Khilafah Di Nusantara: Bukti Historis Bahwa Perjuangan Khilafah Harus Menjadi Arus Perjuangan Kita!

Jejak Khilafah Di Nusantara: Bukti Historis Bahwa Perjuangan Khilafah Harus Menjadi Arus Perjuangan Kita!


Oleh: Nurul Mauludiyah

(Pengajar Tahfidz Qur’an dan Pemerhati Generasi Jember)



#InfoMuslimahJember -- “Yang nontonnya masih sendiri, semoga segera Allah pertemukan dengan jodohnya..” Celetukan MC saat membuka agenda Premier Film Jejak Khilafah di Nusantara yang seketika melenturan otot dan melebarkan senyum kami, penonton setia JKDN, setelah cukup lama menanti tim teknis menyiapkan filmnya sampai siap untuk ditonton oleh seluruh kaum muslimin di Nusantara. Maklum, kehadiran JKDN sudah sangat ditunggu. Dan menjadikan suasana mendebarkan saat ada kabar bahwa ada sedikit gangguan teknis, hingga pemutarannya mundur hampir 1 jam. Alaa kulli hal, Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Syukur tak terhingga atas pertolongan Allah hingga premier film JKDN berjalan dengan lancar.

Film JKDN tak langsung diputar, ada serangkaian acara dan tausiyah yang disampaikan oleh para Ulama’ Nusantara yang semakin menambah semangat perjuangan Islam. Ustadz Rochmad S. Labib mengingatkan kembali kepada Umat Islam bahwa tahun baru hijriyah bukanlah, tahun baru biasa. Tahun baru hijriyah adalah penanggalan Islam yang dimulai berdasarkan tahun pertama Rasullah SAW hijrah ke Madinah Al Munawaroh. Jika sebelumnya banyak penentangan terhadap dakwah dan diterapkannya syariah, maka hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat 

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Ustadz Karebet Wijaya Kusuma kepada Ustadz Islami Yusanto, terungkap bahwa umat Islam bisa mendapatkan ibroh (pelajaran) besar lewat sejarah. Namun, masih menurut Ustadz Ismail Yusanto, sejarah seringkali disebut second hand reality. Yaitu bahwa pengisahan dalam sejarah sangat tergantung pada siapa yang menuliskan, itulah mengapa saat ini ada pengaburan dan penguburan sejarah sebagaimana sejarah khilafah Islam dan kaitannya dengan Nusantara. Jika para arkeolog memiliki istilah digging up the past, maka kaum muslimin wajib melakukan digging up the truth agar ibroh yang benar bisa didapatkan oleh kaum Muslimin. Menang, Sejarah memang bukan sandaran hukum Islam, namun dari sejarah Islam di Nusantara kita bisa melihat implementasi bagaimana jejak Khilafah di Nusantara sangat tampak. Bahwa sejarah kekhilafahan Islam di Nusantara justru sejarah yang berusaha dikubur dan dikaburkan.

Selanjutnya Pak Karebet mewawancara seorang sejarawan muda yang juga sekaligus writter dalam film JKDN, Septian AW. Saat muncul satu pertanyaan menggelitik, mengapa harus  JKDN? Septiawan menjelaskan, mungkin banyak film sejarah Islam di Nusantara, namun belum ada yang mengkaitkan hubungan erat antara Islam di Nusantara dengan Khilafah. Itulah mengapa film ini wajib sekali ditonton sebagai sebuah referensi sejarah yang ilmiah. Mengapa demikian, karena film ini tidak digarap dengan sembarangan. Menurut Nicko Pandawa sebagai producernya, film JKDN dibuat berdasarkan riset dan verifikasi akademis, juga melalui wawancara dengan para sumber primer termasuk juga data-data pustaka dengan range penelitian meliputi seluruh bumi Nusantara. 

Inilah kisah tentang Nusantara, dan jalinannya dengan negara adidaya, Inilah kisah tentang Umat Muslim Nusantara dan jalinannya dengan Muslim di seluruh dunia, inilah film Jejak khilafah di Nusantara. Suara menggema dari pengisi suara film JKDN disertai sinematografi apik dan musik latar yang menggugah rasa penasaran, membuat awalan fim JKDN begitu memukau. Selanjutnya, ditayangkan kisah sejak Rasulullah wafat, pergantian kepemimpinan oleh para khalifah hingga Islam sampai di Nusantara. 

Disaat Nusantara masih berada dalam kegelapan, dunia justru sedang dipimpini oleh sebuah adidaya baru, yaitu khilafah. Dibawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khilafah sampai di Nusantara. Menjadi logis saat khilafah memiliki relasi dengan banyak negara, karena keberadaannya sebagai Negara Adidaya. Kisahnya diceritakan begitu nyata dan mengaitkan puzzle peristiwa masa lampau Nusantara yang ternyata memiliki hubungan yang begitu erat dengan khilafah. Mulai dari hubungan Kerajaan Samudra Pasai dengan Khilafah Abbasiyah hingga perjalanan dakwah walisongo yang menjalankan misi dakwahnya sebagai kepanjangan tangan dari khilafah. Sunnguh memukau! Seolah seluruh teka teki terbuka dan seketika membuncahkan kebanggaan kaum muslimin akan keberadaaannya sebagai bagian dari khiafah sekaligus menguatkan kaum muslimin Nusantara bahwa perjuangan penegakan khilafah bukan perjuangan yang ahistoris. 

Setelah film dokumenternya selesai, ternyata acara premiere nya tak ditutup sampai disitu. Acara tersebut dimeriahkan oleh testimoni para tokoh muslim dari seluruh penjuru Nusantara, beliau-beliau adalah para ahli sejarah bahkan ada diantara beliau yang merupakan pelaku sejarah yang menyaksikan langsung bagaimana khilafah dulu menorehkan kisah gemilang, hingga Islam menjadi agama mayoritas penduduk Nusantara

Sebagai penutup, Ustadz Rochmat S. Labib menyampaikan setidaknya ada tiga pesan penting dari film ini. Pertama, bahwa Islam dan kekuasaan memiliki hubungan sangat erat. Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bahwa kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar, agama adalah dasar dan kekuasaan adalah penjaganya, sesuatu tanpa dasar akan runtuh dan dasar tanpa penjaga akan hilang. Jejak khilafah di Nusantara menggambarkan bagaimana kekuasaan Islam menjadi penjaga dari penyebaran Islam hingga Islam tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Kedua, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari kekuasaan Islam atau khilafah karena dari sejarah, kekuasaan Islam/khilafah justru menebarkan kebaikan dan hidayah. Ekspansi wilayah yang dilakukan oleh khilafah berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kafir barat yang menyengsarakan lagi merampas kekayaan. Kehadiran khilafah di Nusantara justru membawa banyak kebaikan, memberikan nafas kebangkitan dan menebarkan hidayah Islam ke seluruh penjuru Nusantara. Ketiga, Sejarah yang hari ini dikisahkan dan dikelas dalam film JKDN, InsyaAllah akan berulang kembali! Sebagaimana hadist Rasulullah, yaitu kembalinya Khilafah Rasyidah Alaa Minhajin Nubuwwah. Siapapun tak bisa menghalanginya. Bahkan upaya akan menghalanginya, adalah upaya yang sia-sia lagi hina dihadapan Allah.

Akhirnya, semoga film JKDN ini menjadi spirit dan semangat juga penguat perjuangan khususnya bagi para pengemban dakwah, umumnya bagi seluruh kaum muslimin dunia. Terlebih lagi, khilafah bukan sekedar sejarah! Ada atau tidaknya catatan sejarah tentang khilafah di Nusantara tidak sedikitpun mengurangi ghiroh kita untuk memperjuangkannya karena memperjuangkan khilafah adalah kewajiban. Keberadaan Khilafah sebagai sebuah institusi yang akan menerapkan seluruh syariah, menjadi kewajiban yang harus diwujudkan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Jika dalil seputar kewajiban memperjuangkannya sudah masyhur disampaikan dalam banyak konten dakwah, Rasululullah SAW pun telah menyampaikan bisyaroh tentang kembalinya, dan hari ini bukti kegemilangannya sudah terdokumentasi lewat film keren nan menggugah, lantas apa yang membuat kita ragu dalam memperjuangkannya?


Wallahu a’lam bish showab


Bagaimana Posisi Negeri dengan Penduduk Muslim Terbanyak Ditengah Pertarungan Adidaya di Wilayahnya?

Bagaimana Posisi Negeri dengan Penduduk Muslim Terbanyak Ditengah Pertarungan Adidaya di Wilayahnya?


Oleh: Tria Putri

(Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)


#InfoMuslimahJember -- Perseteruan yang terjadi di Laut China Selatan hingga kini kian memanas. Hal tersebut tidak lain dikarenakan potensi-potensi yang ada pada Laut Cina Selatan. Baik itu potensi kekayaan alamnya maupun dikarenakan Laut Cina Selatan sendiri merupakan jalur perdagangan yang cukup padat. Hal tersebut membuat negara-negara adidaya begitupun negara yang berada disekitar Laut Cina Selatan memperebutkan wilayah tersebut. China dengan tegas ingin berkuasa dan mengklaim Laut Cina Selatan secara sepihak, sedangkan Amerika Serikat yang didukung Jepang dan Australia mencegah penguasaan secara sepihak itu.

Laut China Selatan menjadi perairan lawan konflik setelah Beijing mengklaim 90 persen wilayah di perairan itu yang bersinggungan dengan teritorial dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) negara lain, seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, bahkan Taiwan (cnnindonesia.com, Ahad 02 Agustus 2020). Konflik inipun menimbulkan perdebatan di media sosial antara Duta Besar Cina dan Perwakilan Tinggi Australia untuk India. Perdebatan yang terjadi di Twitter itu bermula ketika Australia membela Amerika Serikat (AS) yang menolak klaim sepihak Cina atas 90 persen wilayah Laut Cina Selatan.

Laut Cina Selatan bisa jadi medan pertempuran mahadahsyat antara China dan Amerika, jika kedua belah pihak yang terlibat perseteruan tak sama-sama menahan diri (viva.co.id, Sabtu 01 Agustus 2020). Ancaman perang meletus antara China dengan Amerika Serikat (AS) dirasakan sejumlah negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, China dan Amerika hingga saat ini masih menahan diri. Sebab jika sampai timbul insiden kecil yang melibatkan militer kedua negara, bukan tak mungkin perang bakal pecah (viva.co.id, Sabtu 01 Agustus 2020). Hingga saat ini, hubungan kedua negara di kawasan masih menegang. China bahkan terus saja melakukan latihan militer di Laut China Selatan (cnbcindonesia.com, Jumat 07 Agustus 2020).

Disaat banyaknya negara menentang klaim sepihak China atas Laut Cina Selatan, Filipina yang merupakan salah satu bagian dari negara ASEAN terang-terangan menyerah jika harus perang melawan China untuk memperebutkan batas lautnya yang masuk dalam klaim Beijing. Hal tersebut tentunya sangat menguntungkan bagi China. Sebab, tanpa bersusah payah, salah satu yang batas lautnya dicaplok Beijing secara tak langsung mengakui kedaulatan negeri Tirai Bambu ini di Laut Cina Selatan (genpi.co, 01 Agustus 2020).

Namun, beda halnya dengan Indonesia. Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi, mengatakan Indonesia tetap konsisten menghormati Konvensi Hukum Laut Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) sebagai panduan dalam sengketa di Laut China Selatan (LCS). Negara dengan muslim terbanyak ini seolah-olah bersikap netral atas 90 persen klaim China di Laut Cina Selatan. Seharusnya sikap Indonesia sebagai negeri muslim terbesar semestinya aktif memobilisir kekuatan negara Kawasan (ASEAN) untuk menentang China dan Amerika Serikat yangg melakukan pelanggaran kedaulatan lautnya. Sikap ‘netral’ dengan menghormati perjanjian UNCLOS menunjukkan kelemahan menjaga kedaulatan, karena terkungkung konvensi internasional yang dibuat negara penjajah.

Dalam Islam, menjaga kedaulatan wilayah merupakan suatu perkara yang wajib. Karenanya wajib mempertahankan wilayah termasuk perbatasan dari gangguan negeri-negeri lain yang hendak menguasai. Hal ini didasarkan pada hadis dari Arfajah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika ada orang yang datang kepada kalian, ketika kalian telah sepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin merusak persatuan kalian atau memecah jamaah kalian, maka perangilah ia”. (HR Muslim)

Dengan begitu tidak ada sikap hanya berdiam diri saja dalam pandangan Islam atau bersikap netral serta patuh dalam hukum yang dibuat penjajah. Ketika kedaulatan negara Islam diserang, tidak menutup kemungkinan akan terjadi peperangan. Meskipun performa militernya jauh dibandingkan pihak yang menyerang. Namun, jika dadasarkan pada spirit atau semangat yang benar maka kita tidak akan tergantung pada kekuatan maupun jumlah.

Referensi:

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200802134303-113-531353/dubes-china-australia-debat-sengit-soal-laut-china-selatan

https://www.viva.co.id/militer/militer-dunia/1289425-perang-bisa-meletus-jika-amerika-banyak-tingkah-di-laut-china-selatan

https://www.genpi.co/internasional/57071/filipina-takut-china-di-laut-china-selatan-tapi-tolak-amerika

https://www.muslimahnews.com/2019/09/09/islam-menjaga-keutuhan-negaranya/

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200807132007-4-178204/pernyataan-resmi-ri-soal-panas-as-china-di-laut-china-selatan         

Film JKDN, Menguak Sejarah yang Terburamkan dan Hampir Terkuburkan.

Film JKDN, Menguak Sejarah yang Terburamkan dan Hampir Terkuburkan.




Oleh : Siti Nur Rahma

( Aktivis Muslimah Peduli Generasi)


#InfoMuslimahJember -- Film Dokumenter, Jejak Khilafah Di Nusantara telah ditayangkan pada Kamis, 20 Agustus 2020 perdana di media sosial secara live. Film tersebut tayang sedikit terlambat sebab ada gangguan kecil yang tak menghalangi laju pemutaran film hebat yang menceritakan sejarah Islam di bumi nusantara.

Dibuka selayang pandang oleh Al Ustadz KH. Rohkmat S Labib, saat sebelum penayangan film, menambah penasaran bagi penonton yang tak sabar menyaksikan deru tayangan yang menggugah ingatan tentang sejarah Islam.

KH. Rokhmat S Labib memberikan pengantar tentang sekilas perjalanan hijrah Rosulullah SAW. Hijrah dari kota Makkah ke Madinah untuk mendapatkan nusroh atau pertolongan dari kaum muslim untuk menerapkan syariat Allah.

Dilanjut dengan talk show sebagai pengantar diskusi film, yang dihadiri oleh tiga narasumber. Yakni Ustadz Ismail Yusanto, Penasehat Komunitas Literasi Islam, Nicko Pandawa, dan Bung Septian sejarawan muda yang ikut andil dalam pembuatan film dokumenter tersebut.

Sekilas perbincangan dalam talk show tersebut ialah membahas tentang seberapa penting film sejarah ini layak ditonton. Ustadz Ismail Yusanto sebagai narasumber menjelaskan bahwasanya dalam sejarah itu terdapat ibroh. Di dalam Al Quran sudah terjamin keakuratan dan keaslian kisah yang tertulis di dalamnya. Tentang kisah yang di luar Al Quran maka harus merujuk pada siapa penulis sejarah. Dalam hal ini harus teliti dan cermat dalam mengambil ibroh dari sejarah tersebut.

Dan sejarah sebenarnya bukanlah sumber hukum, melainkan adalah obyek hukum. Obyek film tersebut terdapat Khilafah sebagai topik utama film. Khilafah sebagai ajaran Islam merupakan Fardhu kifayah. Jejak khilafah di nusantara merupakan motivasi untuk segera melanjutkan kembali kehidupan Islam di nusantara bahkan dunia.

Dalam diskusi itu juga dipaparkan bagaimana proses pembuatan film dan latar belakang film. Dua sejarawan muda itu dengan jenius menjelaskan runtutan tahap yang dilalui agar kisah yang dipaparkan akurat dan benar.

Masuk pada sesi pemutaran film, dengan ditonton oleh ribuan pasang mata, sungguh film itu menguak sejarah Islam yang sesungguhnya.

Setelah tenggelam beberapa tahun lamanya, kini istilah khilafah kembali mencuat, termasuk di Indonesia. Sejarah khilafah telah memainkan debut di nusantara sbg sumber utama perlawanan penjajah.

Kenapa tidak sejak dulu para sineas muda itu menghadirkan karya hebatnya? Dulu saat para anak didik yang terkecoh oleh materi sejarah yang buram. Yang hanya mengenal sejarah Islam dalam lembaran buku tanpa makna. Kini terkuat sudah para Wali songo dan titahnya yang terhubung dengan kekhilafahan Abbassiyah.

Yakni Sunan Malik atau Sunan Gresik mempunyai relasi dengan kerajaan di Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang mempunyai relasi dengan kekhilafaan Abbasiyah.

Raden Patah, pangeran kerajaan Demak merupakan salah satu Raja yang mendeklarasikan darul Islam pertama di tanah Jawa.

Serentetan cerita itu menambah debar jantung penonton semakin kencang, tersebab oleh penasaran dan perasaan Islam yang terbawa oleh alur film. Hingga ditemui cerita adanya keruntuhan kerjaan Islam, Samudra Pasai oleh penjajah dari Portugis, meski kemudian Islam kembali hidup dengan adanya kesultanan di bumi Aceh.

Begitu seru dan menegangkan kisah yang dipaparkan dari awal hingga akhir. Semakin mendebarkan suasana hati dan pikiran penonton.

Sesungguhnya kebenaran yang hendak ditutupi atau diburamkan bahkan akan dikubur agar tidak terkuak, tidak akan pernah bisa. Sebab kebenaran pasti akan menjadi jalan terang bagi umat dalam mengarungi kehidupan ini. Sejarah Islam yang shohih akan terkuak untuk memotivasi umat pentingnya hidup dalam naungan Islam. Tak hanya di wilayah Nusantara saja, melainkan juga seluruh dunia dalam naungan Khilafah Rosyidah Islamiyah.
Ternyata Ada Jejak Khilafah di Nusantara

Ternyata Ada Jejak Khilafah di Nusantara


Oleh. Ulfiatul Khomariah 

(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik) 


#InfoMuslimahJember -- Kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan Tahun Baru Islam (01 Muharram 1442), sebuah film bertajuk “Jejak Khilafah di Nusantara” mengguncang jagat maya. Awalnya film ini akan ditayangkan pada pukul 09.00 WIB, namun ternyata ada sedikit gangguan sehingga diundur pada pukul 10.00 WIB. Menurut Adiasta (host nobar film JKDN), jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 250.000 orang. Namun berdasarkan viewers di Youtube ada sebanyak 278.000. Film premier Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) ini akan mengingatkan kita bahwa dulu di Nusantara pernah ada jejak sebuah negara adidaya yang bernama Khilafah Islamiyah. 

Nobar kali ini ternyata tidak hanya menonton film saja, tetapi penonton juga dijumpakan dengan orang-orang dibalik film dan mencari tahu apa yang menjadi rahasia dibalik film JKDN. Diawali oleh sambutan dari KH. Rokhmat S Labib yang menjelaskan tentang urgensi kita menonton film ini. Menurut penjelasannya bahwa salah satu peristiwa yang terjadi di bulan Muharram adalah tentang hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah sesuatu yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Di dunia ini hanya ada kebenaran dan kebathilan. Ibarat gelap dan terang keduanya tak akan pernah bersatu. Ibarat malam dan siang keduanya tak akan pernah bersatu. Yang ada hanyalah upaya untuk saling mengalahkan. 

Ia melanjutkan, ketika Rasulullah membawa al-Hak ke Makkah, penduduk muslim mengalami penyiksaan yang sangat hebat sehingga sebagian kaum muslim harus hijrah ke Habasyah. Tapi semuanya berubah tatkala Rasul hijrah ke Madinah. Umat yang sebelumnya mudah ditindah berubah nasibnya menjadi umat yang mulia. Ada apa dibalik hijrah itu? Alasannya karena umat Islam yang dulunya tidak punya kekuasaan di Makkah, kini memiliki sebuah negara di Madinah. Dimana pada saat itu suku Aus dan Khajraj menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah. Mengutip salah satu perkataan dari Umar, “dulu kita umat yang hina, tapi Allah muliakan dengan Islam.” Peringatan hijrah hanya akan bermakna saat umat Islam itu sadar bahwa yang membuat kita tertindas adalah karena ketiadaan Khilafah sebagai pelindung umat. 

Selanjutnya diisi oleh pemaparan dari 3 narasumber dibalik pembuatan Film JKDN. Ada Ust. Ismail Yusanto (Penasehat Komunitas Literasi Islam), Bung Nicko Pandawa (Sutradara film JKDN), dan Bung Septian (Sejarawan Muda dan Script Writer Film JKDN). Ust. Ismail menjelaskan tentang bagaimana Islam memandang sejarah, bahwa sejarah butuh dipelajari karena didalamnya ada ibroh bagi para ulil albab (orang-orang yang berfikir). Ibroh itu pelajaran. Ibroh itu didapat tergantung bagaimana sejarah itu diceritakan atau ditulis. Jika ditulis secara benar maka bisa mengambil ibroh yang benar. Jika yang ditulis salah, maka ibrohnya juga akan salah. Ini yang menjadi problem. Karena sejarah didapat dari second hand reality. Tergantung kepada siapa yang menuturkan/menuliskan. Tergantung dari latarbelakang si penulis baik dari aspek ideologi maupun politik. Hal ini bisa menyebabkan pengaburan dan penguburan sejarah. Maka penting memahami sejarah untuk menggali kebenaran. 

Tak hanya itu, Ust. Ismail juga memaparkan bahwa sejarah bukanlah sumber hukum dan bukan sumber pemikiran. Sejarah hanyalah obyek pemikiran yang mana akan menjadi pelengkap atau pendukung untuk memahami bagian dari ajaran yang diyakini. Sejarah adalah bagian dari ajaran Islam. Dari sejarah kita bisa memahami bagaimana prakteknya Islam dalam kehidupan. Selanjutnya pemaparan dari Bung Nicko dan Bung Septian tentang latar belakang dibuatnya film JKDN. Mereka berdua adalah sejarawan muda yang konsisten dalam ilmu sejarah. “Film ini ada untuk menjawab tantangan zaman. Saat ini Khilafah menjadi pembicaraan masyarakat di Indonesia bahkan di dunia. Sebagai sejarawan, saya tergerak untuk memberikan gambaran tentang Khilafah di Nusantara. Karena belum pernah ada film yang menceritakan hubungan antara Khilafah dan Nusantara.” Ucap Septian. Bung Nicko juga menyatakan bahwa pembuatan film ini sudah berdasarkan hasil riset dari sumber primer dan sekunder. Artinya film ini bukan khayali dan bisa dipertanggungjawabkan. 

Setelah pemaparan dari 3 narasumber itu, barulah film itu diputar. Film ini menceritakan tentang bagaimana proses menyebarnya Islam di Nusantara dan hubungannya dengan Khilafah. Kurang lebih seperti inilah isi dari film JKDN. Awal mula berdirinya daulah Islam adalah saat Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun setelah Rasulullah wafat, pemerintahan Islam digantikan oleh masa Khulafaur Rasyidin. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, di belahan Barat Asia muncul kekuatan politik yang mempersatukan umat Islam dari Spanyol sampai Sind di bawah Kekhilafahan Bani Umayah (660-749 M), lalu digantikan oleh Kekhilafahan Abbasiyah, kurang lebih satu abad (750-870 M), serta Kekhilafahan Utsmaniyah sampai 1924 M. 

Adanya kekuatan politik di Asia Barat yang berhadapan dengan Cina, telah mendorong tumbuh dan berkembangnya perdagangan di Laut Cina Selatan, Selat Malaka dan Samudra Hindia. Sedangkan Nusantara diapit oleh 2 benua dan 2 samudra. Tempat yang strategis untuk bertemunya para pedagang. Hal ini dengan sendirinya berdampak bagi penyebaran Islam dan tumbuhnya kekuatan ekonomi, karena banyaknya pendakwah Islam yang sekaligus berprofesi sebagai pedagang. Islam membara di timur tengah lalu sampai ke nusantara. 

Pengaruh keberadaan Khilafah Islam terhadap kehidupan politik DI Nusantara sudah terasa sejak masa awal berdirinya Daulah Islam. Keberhasilan umat Islam melakukan penaklukan terhadap Kerajaan Persia serta menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestina di bahwa kepemimpinan Umar bin Khatthab telah menempatkan Khilafah Islam sebagai negara super power dunia sejak abad ke-7 M. Sama halnya seperti Amerika yang saat ini menjadi negara super power seluruh dunia mengetahuinya. Begitupun saat Khilafah menjadi super power semua tunduk, termasuk Nusantara. 

Sebagaimana pengakuan dari Kesultanan Sriwijaya, saat itu Khalif Sulaiman memerintahkan Thariq bin Ziyad untuk membebaskan Spanyol. Pada masa kekuasaannya, Khalif Sulaiman telah memberangkatkan satu armada persahabatan berkekuatan 35 kapal perang dari Teluk Persia menuju pelabuhan Muara Sabak (Jambi) yang saat itu merupakan pelabuhan besar di dalam lingkungan kerajaan Sriwijaya. Armada itu transit di Gujarat dan juga di Pereulak (Aceh), sebelum akhirnya memasuki pusat Kerajaan Zabag atau Sribuza (Sriwijaya. Penguasa di Nusantara yang masih beragama Hindu mengakui kebesaran Khilafah. Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah hingga pada akhirnya Raja Sriwijaya masuk Islam. 

Tak hanya itu, Aceh yang saat ini menjadi bagian dari Nusantara juga menjadi bagian dari Kekhilafahan. Aceh Darussalam mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebagai bagian Khilafah Islam, Aceh menerapkan syariat Islam sebagai patokan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, Aceh banyak didatangi para ulama Islam dari belahan dunia lainnya. Tak hanya Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan Kekhilafahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Masyaa Allah, ternyata jejak Khilafah itu memang benar-benar ada di Nusantara dan punya hubungan yang erat. Wallahu a’lam bish-shawwab.
PENDIDIKAN BUTUH PENANGANAN EKSTRA, POP BUKAN SOLUSI TEPAT  DI TENGAH WABAH

PENDIDIKAN BUTUH PENANGANAN EKSTRA, POP BUKAN SOLUSI TEPAT DI TENGAH WABAH

Sumber : National Tempo


Oleh: Ayu Fitria Hasanah S.Pd
(Pemerhati Pendidikan dan Generasi)

Dunia pendidikan butuh perhatian ekstra, pasalnya pandemi covid 19 menuntut perubahan besar dalam aktivitas pendidikan. Lebih jelasnya, yakni perubahan ke arah belajar dan mengajar secara online secara serempak. Artinya kebutuhan internet dan gawai harusnya menjadi prioritas utama untuk dipenuhi di tengah wabah yang tak kunjung selesai ini. Jika tidak, maka aktivitas pendidikan akan terganggu, karena terbatasnya akses antara guru dan siswa untuk saling berkomunikasi.

Faktanya, di Indonesia masih terdapat 12.548  desa yang belum tersentuh akses layanan internet. Hal ini menjadi tantangan yang harusnya segera ditangani pemerintah sejak keputusan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ditetapkan. Namun seperti yang disampaikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti bahwa setelah berbulan-bulan “tidak ada langkah-langkah konkrit Kemendikbud mengatasi berbagai kendala PJJ”. Bahkan berdasarkan data survey PJJ fase 1 yang dilakukan KPAI pada April 2020 di peroleh hasil 42 persen siswa kesulitan belajar daring karena orang tua tidak mampu membeli kuota internet dan 15, 6 persen siswa kesulitan daring karena tidak memiliki ponsel, komputer atau pun lap top (https://www.google.com).

Sayangnya pemerintah justru mengutamakan peluncuran program POP (Program Organisasi Penggerak) sebagai episode keempat dari terobosan kebijakan Program Merdeka Belajar. Rincinya, POP merupakan program pemberdayaan masyarakat secara masif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Program ini tentu baik, tetapi bila kebutuhan utama pendidikan seperti sarana pra sarana, secara khusus kebutuhan internet dan gawai di tengah pendemi untuk pendidikan telah terpenuhi.

Persoalannya, aktivitas pembelajaran jarak jauh belum terjadi secara meluas dan belum berjalan normal atau efektif dengan merata, sehingga kurang tepat jika sudah melompat pada program peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah dengan adanya organisasi penggerak. Karena itu, organisasi masyarakat dan organisasi pendidikan yang mundur dari program POP pun sepakat bahwa anggaran program ini perlu direalokasi untuk keperluan yang lebih mendesak di bidang pendidikan, selain juga karena proses seleksi yang dinilai tak sejalan dengan semangat perjuangan pendidikan. Pendapat yang sama juga disampaikan komisioner KPAI bahwa anggaran POP sebesar Rp 595 miliar itu bisa digunakan untuk penggratisan internet, bantuan gawai bagi anak-anak miskin dan guru honorer. Tak hanya meminta untuk realokasi, bahkan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak agar Komisi Pemberantasan Korupsi turut mengawasi program tersebut (https://nasional.kompas.com).

Potret persoalan pendidikan ini menggambarkan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani masalah pendidikan, khususnya pendidikan di tengah wabah covid 19. Kesalahan memahami mana yang harusnya diprioritaskan mencerminkan ketidakjernihan paradigma tentang pendidikan. Karena sikap dalam menangani persoalan pendidikan erat kaitannya dengan paradigma terhadap pendidikan itu sendiri. Indonesia sebagai salah negara yang ikut menandatangani perjanjian global yakni GATS (General Agreement on Trade in Service), ikut mengadopsi paradigma bahwa pendidikan adalah bagian dari perdagangan jasa. Dampaknya, bagi rakyat yang hendak memperoleh pendidikan apalagi yang berkualitas, harus mampu mengeluarkan biaya yang besar. Karena itu, terciptalah kesenjangan sosial di tengah masyarakat, tak aneh jika terceletuk dalam pernyataan bapak Nadiem bahwa sekolah negeri diperuntukkan bagi siswa dari keluarga miskin. Meski sikap penanganan dan pernyataan Pak Nadiem terhadap pendidikan tersebut mendapat kritik, tentu tidak cukup jika hanya menunggu dan mengaharap adanya terobosan baru, tetapi perlu solusi yang lebih mendasar yakni perubahan paradigma negara tentang pendidikan sebagai barang/jasa yang diperjual-belikan menjadi hajat hidup yang harus dipenuhi negara untuk seluruh rakyat.

Dalam Islam, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara untuk semua rakyat tanpa terkecuali, baik yang miskin atau kaya, semua harus dipenuhi negara tanpa membeda-bedakan fasilitas. Bahkan pemenuhan terhadap kebutuhan pendidikan dipandang sebagai pelaksanaan syariat yang hukumnya dosa jika dilalaikan dan wajib dipenuhi. Karena itu, dalam Islam segala kebutuhan sarana pendidikan yang belum terpenuhi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, apalagi menjadi penghalang siswa memperoleh pendidikan. Hal ini sama dengan perbuatan dzalim, karena telah mengabaikan hak siswa untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, Islam juga memiliki sistem pendidikan yang mewajibkan kurikulum dan metologi pengajarannya berbasis aqidah Islam, sehingga siswa akan terlindungi dari pemikiran-pemikiran sekuler (pemisahana agama dari kehidupan) yang menyebabkannya menjadi liberal.