Rabu, 19 Februari 2020

SAKTIKAH TUTUR KATA MANUSIA?

 

oleh :  Inas Rosyidah 

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Banyak istri berkeluh kesah
Mengapa suaminya tak bisa bersikap ramah
Sikap cuek jutek bahkan tak pernah mau kalah
Seakan dirinya tak pernah salah
Tutur katanya tajam bagai pedang yang membelah
Tak peduli meski seringkali hati anak istri patah
Wajarlah karena dia berprinsip TITAH SUAMI ITU BERTUAH

Ada juga orangtua yang tak pernah bersikap sabar
Ucapan dan perbuatannya jauh dari kata 'wajar'
Wajah dan lisannya selalu tampak sangar 
Anak yang tak sepakat dengannya harus dihajar
Saat anak tak patuh caci maki dan laknat dari bibir keluar
Wajarlah karena mereka berprinsip ORANGTUA SELALU BENAR

Ada yang salah dalam pensikapan
Ini yang harus diluruskan
Mereka miskin dalam pemahaman
Tak begitu Islam punya aturan
Dampaknya berakibat pada bentuk penindasan
Ada yang teraniaya dari sikap pendzoliman
Padahal tiap ucapan dan perbuatan
Kelak akan dimintai pertanggung jawaban

Suami bukanlah majikan
Ia juga bukan atasan apalagi komandan
Yang titahnya harus selalu dipatuhi oleh bawahan
Yang boleh langsung menghukum saat tak ada kesepahaman
Bebas menghardik saat emosi tak tertahankan
Jika demikian.... Dimana letak kasih sayang yang harusnya dihidupkan

Orangtua juga bukan Tuhan yang tak pernah lakukan kesalahan
Ia hanya manusia yang punya kedudukan tak terkalahkan
Bagaimanapun salahnya kelakuan dan ucapan
Anak tak boleh membentak apalagi lakukan kekerasan
Anak akan selalu kalah dengan orangtua jika berhadapan
Meski sang anak pemegang kebenaran
Takkan pernah ia menang jika orangtua dilawan

Manusia bukanlah setan  yang selalu lakukan kesalahan
Ia juga bukan malaikat yang pasti penuh kebenaran
Namun manusia berpotensi lakukan kesalahan ataupun kebenaran
Tergantung pemahamannya tentang Islam sebagai panduan
Jika tak faham atau gagal faham dalam memahami aturan
Bisa dipastikan kedzoliman akan dilakukan

Inilah fungsi Islam sebagai panduan kehidupan
Agar suami tahu mana batasan yang sudah Allah tentukan
Istri adalah sahabat dalam pernikahan
Ia selimut dalam kesedihan dan kemalangan
Ia cahaya di kala datang kegelapan
Ia sandaran saat cobaan hidup begitu mengguncangkan
Jika semua 'keindahan' itu belum dirasakan
Berarti ada yang salah dalam pemahaman

Jika orangtua faham syariah
Ia akan perlakukan anak dengan penuh asih dan rahmah
Takkan bersikap kejam saat anak tak patuh pada petuah
Dicarinya solusi yang tak membuat anak patah
Karena ia sadar anak adalah amanah
Investasi masa depan yang harusnya diperlakukan terarah
Bukan pelampiasan amarah
Saat hidup terasa tak ramah

Fahami... 
Tak semua titah orangtua dan suami wajib diikuti
Jika kemaksiyatan diperintahkan untuk dilakoni
Tak ada kewajiban dalam Islam pada mereka untuk ditaati
Justru HARAM jika anak dan istri taat menjalani
Karena ketaatan pada mereka hanya pada hal-hal yang Allah ridhoi
Tak patut manusia menuhankan makhluk demi sebuah ketaatan yang Allah benci

Tak ada manusia yang sempurna
Manusia gudangnya salah dan lupa
Sebagai pasangan halal apalagi sebagai orangtua
Berkali berbuat aniaya
Saat nafsu bicara 
Hukum Allah seakan tak lagi berkuasa
Ia hanya mendengarkan bisikan setan-musuh sejati manusia
Ngaji Islam men-charge iman agar full senantiasa
Upaya berpegang teguh pada aturanNya

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

Rabu, 05 Februari 2020

Hijab Syar'i, Wahyu Illahi




Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)


#InfoMuslimahJember -- Opini hijrah yang menggema kini jadi ternoda dengan adanya Gelar Kampanye “No Hijab Day”. Bahkan ada sayembara “Hari Tak Berjilbab”. Dipelopori oleh Yasmine Mohammad, kampanye "No Hijab Day" digelar melalui media sosial. Kampanye hari tanpa hijab ini dirayakan setiap 1 Februari.

Adapun alasan diadakannya kampanye ini menurut Hijrah Indonesia adalah:
(1) Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir; Niqabisasi marak satu dekade terakhir.
(2) Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana Ke-Islam-an mendakwahkan dan bersetuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda.
(3) Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan, bekerja, dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda. 
(4) Kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak. (http://mysharing.co/hijrahindonesia-gelar-kampanye-no-hijab-day/)

Diawal tahun 2020 ini memang kita telah banyak dipertontonkan dengan segala macam sekulerisme garis keras. Sekulerisme garis keras kini semakin berani dan lantang menghujat syari'at Islam. Dengan berdalih moderasi ajaran Islam kian direduksi. Direduksi dengan perkataan yang justru terlihat nyeleneh, semisal perkataan sang profesor yang menghalalkan zina, perkataan tokoh yang menyatakan jilbab tidak wajib, negara Islam haram, dan sampai detik ini ada tindakan sekelompok wanita yang mengajak untuk melepaskan hijabnya.

Jelas ini adalah konten kampanye gila yang mengusik umat Islam yang masih berakal tentunya. Sosok individu yang berakal akan selalu punya kesadaran berfikir secara cemerlang. Dimana tingkatan berfikir itu ada tiga yaitu : Pertama, berfikir dangkal yaitu tatkala hanya berfikir untuk mempertahankan hidup. Kedua, berfikir dalam yaitu tatkala berfikir sampai pada kebaikan hidupnya. Ketiga, berfikir cemerlang yaitu berfikir sampai pada permasalahan pokok yang mendasari kehidupan yakni hidup ini darimana, untuk apa, dan hendak kemana.

Ketika sosok individu sudah memiliki kesadaran yang cemerlang nan shohih yaitu menyadari hidup ini diciptakan oleh Allah, untuk beribadah, dan hendak kembali kepada Allah Swt maka dia dinyatakan beraqidah Islam. Tatkala beraqidah Islam maka punya konsekuensi untuk terikat dengan syari'at Islam secara keseluruhan/ kaffah. Sebagaimana Allah Swt. berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (TQS. Al-Baqarah 208).

Dengan demikian menutup aurat merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan sehingga kemuliaan perempuan itu terjaga. Sebagaimana jumhur'ulama bersepakat bahwa aurat wanita meliputi seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah firman Allah Swt yang artinya : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."(TQS. an-Nur (24) : 31).

Menurut Imam Ath-Thabari dalam tafsir al-Thabari juz 18/118 makna yang lebih tepat untuk"perhiasan yang biasa tampak" adalah muka dan telapak tangan. Keduanya bukanlah aurat, dan boleh ditampakkan di kehidupan umum. Sedangkan selain muka dan telapak tangan adalah aurat, dan tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing, kecuali suami dan mahram. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat shahih, Aishah ra telah menceritakan, bahwa Asma' binti abu Bakr masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah Saw pun berpaling seraya bersabda : "Wahai Asma' sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk tangan dan wajahnya."(HR. Muslim).

Selain memerintahkan wanita untuk menutup auratnya, syari'at Islam juga mewajibkan wanita untuk mengenakan busana khusus ketika hendak keluar rumah. Pakaian wanita yang hendak keluar rumah yakni terdiri dari jilbab dan khimar. Dan ini merupakan kewajiban disisi lain yang terpisah dari kewajiban menutup aurat  keberadaannya tidak boleh dicampuradukkan.

Hanya saja, ketika ia hendak keluar dari rumah, ia tidak boleh pergi dengan pakaian sembarangan, walaupun pakaian itu bisa menutupi auratnya secara sempurna. Akan tetapi ia wajib mengenakan khimar (kerudung) dan jilbab yang dikenakan di atas pakaian biasanya. Sebab, syari'at telah menetapkan jilbab dan khimar sebagai pakaian yang wajib dikenakan seorang wanita muslim ketika berada di luar rumah atau berada di kehidupan umum.

Sebagaimana Allah Swt berfirman : "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...."(TQS. An-Nur (24) : 31). Ayat ini berisi perintah dari Allah Swt agar wanita mengenakan khimar (kerudung) yang bisa menutup kepala, leher, dan dada.

Adapun kewajiban mengenakan jilbab, sebagaimana Allah Swt. Berfirman : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isteri orang mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang". (TQS. Al-Ahzab (33) : 59). Ayat ini merupakan perintah yang sangat jelas bagi wanita mukminat untuk mengenakan jilbab. Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan bahwa jilbab itu seperti sirdaap (terowongan)  atau sinmaar (lorong), yaitu baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung." (Kamus al-Muhith).

Inilah penjelasan pakaian wanita muslim yang bersumber dari rujukan yang shahih, yang harus dikenakan bagi sosok individu muslim yang beriman. Dengan demikian mulialah keberadaan perempuan.

Dengan berpakaian sebagaimana halnya diatas lantas perempuan layak untuk keluar rumah. Bahkan tidak ada dalil yang menunjukkan adanya pengekangan terhadap aktivitas wanita untuk keluar rumah tatkala sudah berpakaian jilbab dan khimar. Yang tentunya akan terikat dengan syari'at Islam tatkala berada di luar rumah dalam rangka menunaikan aktivitas yang lainnya. Sebagaimana dari Ummu 'Athiyah ra, ia berkata : "Rasulullah Saw. memerintahkan agar kami mengeluarkan para wanita, yakni hamba-hamba sahaya perempuan, wanita yang sedang haid, dan para gadis yang sedang dipingit, pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Wanita-wanita yang sedang haid, mereka memisahkan diri tidak menunaikan shalat, tetapi tetap menyaksikan kebaikan dan mendengarkan seruan kepada kaum muslim. Aku lantas berkata, "Ya Rasulullah, salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab." Rasulullah Saw pun menjawab, "Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada wanita itu." (HR Muslim). Artinya, wanita tersebut tidak memiliki pakaian jilbab yang akan dikenakan disebelah luar pakaian kesehariannya, dalam rangka keluar rumah. Maka "Rasulullah Saw memerintahkan agar saudaranya meminjaminya pakaian yang akan dia kenakan disebelah luar pakaian kesehariannya. Itulah perhatian Rasulullah Saw terkait dengan pakaian.

Kalaupun berdalih mempertahankan budaya, pada dasarnya budaya itu telah terhapus dengan syari'at Islam. Dan terbukti syari'at Islam itu memuliakan perempuan serta mampu mempersatukan. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda : "Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum wanita."(HR. Muslim)

Islam sangat menjunjung kehormatan dan kesucian wanita. Terbukti suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria yang terletak antara wilayah Iran dan Syam berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan itu ternyata 'terdengar' oleh Kholifah Mu'tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kemudian langsung beliau menggerakkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Bukan saja sang pejabat nekat, tetapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslim hingga diriwayatkan, 'kepala' pasukan sudah berada di Amuria sedangkan 'ekornya' berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang masih ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30 000 tentara musuh tewas dan 30 000 terluka. Itulah faktanya tatkala Islam diterapkan dalam kancah kehidupan.

Lantas, berdalih budaya peradaban yang seperti apa yang akan digadang-gadang. Sampai harus menanggalkan jilbab dan khimar sebagai pakaian kehormatan wanita. Demi mempersatukan  budaya yang bagaimana padahal justru dengan diterapkannya sistem Islam semua budaya itu bisa dipersatukan.

Jadi, dengan berdalih dalil apapun penyelenggaraan kampanye 'no hijab' merupakan penyesatan terhadap konsep hijrah. Karena pada dasarnya konsep hijrah itu adalah perubahan menjadi lebih baik yang tentunya sesuai dengan syari'at Islam. Wallahu A'lam bi showab.

#WordHijabDay
#YukBerhijab
#HijabItuSyari'at
#HijabBukanBudayaArab
#HijabItuMulia

Rabu, 29 Januari 2020

Sistem Pemerintahan Ala Nabi Haram Diterapkan, Benarkah?


Oleh. Yuniar Alifah

#InfoMuslimahJember -- Ditengah banyaknya problem bangsa dan dunia yang semakin sulit diselesaikan dan berbagai tindakan kriminalisasi terhadap Islam dan pejuangnya, pernyataan yang menyakitkan umat  Islam kembali  dikemukan oleh  menkoPolhukam, Mahfudz MD. Mahfudz MD menegaskan bahwa meniru sistem pemerintahan Nabi Muhammad Saw haram hukumnya. Ia menegaskan hal itu pada Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (25/1).

Tentu pernyataan ini adalah pernyataan berbahaya  yang bisa mencederai atau bahkan merusak iman seorang muslim.  Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah mengaku heran dengan Mahfud yang tidak jera-jeranya keseleo lidah. Dia pun meminta mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu segera memperbanyak doa. Sementara Mahfudz menjelaskan bahwa agama melarang untuk mendirikan negara seperti  yang  didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan nabi merupakan teokrasi di mana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Berbagai usaha untuk memfitnah Khilafah tentu harus dilawan dengan menjelaskan pemahaman yang hakiki tentang apa sebenarnya Khilafah itu sendiri. Khilafah adalah sistem politik yang mampu diandalkan, yang representatif dan akuntabel. Khilafah adalah sistem politik yang telah terbukti dalam cacatan sejarah sebagai peradaban termaju dan menyejahterakan. Lebih dari itu upaya penegakan khilafah adalah bukti kesempurnaan keimanan seorang muslim yang berusaha menerapkan aturan Allah secara kaffah dan upaya mengikuti semua yang diajarkan Rasul termasuk dalam masalah bentuk negara.

Didalam Islam Kewajiban terikat pada hukum-hukum Allah adalah sebuah kewajiban. Allah berfirman dalam surat Al-Al-Baqarah:208  _“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Sesunggunya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”_

Lalu sebagaimana yang sudah dipahami bersama, maka penerapan hukum Islam dalam masyarakat membutuhkan adanya pemimpin sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-baqarah:30 _“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi.”_ Imam al-Qurthubi selanjutnya menyatakan bahwa ayat ini juga merupakan dasar pengangkatan Imam dan khalifah yang didengar dan dita’ati untuk menyatukan kata, dan menerapkan hukum-hukum Allah. Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa tidak ada perbedaan tentang wajibnya pengangkatan khalifah tersebut di kalangan umat dan para Imam, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Asham. Sebagaimana Imam al-Qurthubi, Imam Zakaria an-Nawawiy dalam kitab Syarah Shahih Muslim juga menyatakan, “Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah. Dan kewajibannya ditetapkan berdasarkan syari’at, bukan berdasarkan akal. 

Adapun sistem teokrasi yang dituduhkan, maka perlu kita ketahui bahwa dalam sistem teokrasi, aturan yang diterapkan adalah aturan dari aturan agama tertentu. Dari sini muncul kesan adanya kemiripan dengan sistem Khilafah. Namun jika kita melihat konsep kekuasaan dalam sistem Khilafah, maka akan nampak perbedaan yang mendasar dengan sistem teokrasi.  Dalam sistem teokrasi kekuasaan dianggap “takdir” atau penunjukkan Tuhan. Sehingga pemimpinnya menganggap diri sebagai wakil Tuhan, menjadi manusia suci, terbebas dari salah maupun dosa. Sangat berbeda dengan sistem Khilafah, karena Khalifah diangkat oleh umat melalui bai’at. Khalifah juga bukan manusia suci yang bebas dari kesalahan dan dosa. Khalifah bisa dikoreksi dan diprotes oleh umat jika kebijakannya menyimpang dari ketentuan syariat. Khalifah juga bisa salah dan bisa dihukum -yang dalam struktur Khilafah fungsi ini dilakukan oleh mahkamah madzalim- yaitu ketika khalifah menyimpang dari ketentuan syariat Islam.

Kecemerlangan konsep Khilafah sebenarnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kewajiban untuk menegakkan Khilafah juga sudah sangat gamblang. Namun, sayangnya pro kontra tentang Khilafah masih terus berlangsung bahkan ditengah-tengah umat Islam sendiri. Hal ini terjadi karena banyak umat islamyang justru menggunakan kacamata Barat dalam memandang agamanya sendiri. Seperti pandangan sosiologis Max Weber tentang Islam yang justru banyak menjadi referensi sebangian umat Islam yang menolak Khilafah.

Max Weber menilai Islam sebagai sistem politik kuno yang kehilangan arah karena danya tantangan dunia modern. Dia menilai Islam sistem yang kaku dan tidak mampu untuk mengikuti inovasi dunia. Joseph Lieberman, bekas calon presiden AS juga  mendeskripsikan Khilafah sebagai “kekaisaran lalim baru”. Sebuah tuduhan yang sangat tendensius. Sementara disisi lain para sosiologis barat umumnya meyakini bahwa model politik liberal justru disokong dari susunan nilai yang universal dan mampu menyokong bentuk pemerintahan ssat ini yang efektif dan diinginkan. 

Tentu perbandingan tersebut adalah perbandingan yang tidak objektif dan menggunakan kacamata yang buram. Jika memang hadirnya “kekaisaran lalim baru” itu begitu kita takuti maka seharusnya fakta keadaan dunia Islam saat ini sekarang juga sedang diliputi kelaliman yang luar biasa, terpuruk dan tertindas karena penerapan sistem demokrasi kapitalis ditengah-tengah mereka, bukan karena Islam. Maka, sudah waktunya umat Islam membuka mata, bahwa apa yang diucapkan musuh-musuh Allah itu adalah kebohongan yang sangat nyata. Maka cukuplah bagi kita percaya pada apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya dan jangan terpedaya dengan tipu daya mereka. Sebagaiman firman Allah “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al Maidah : 49).

_Wallahu’alam_

Sabtu, 25 Januari 2020

Sistem Pendidikan Kapitalis, Tak Mampu Mensejahterakan Guru




Oleh :Watini Alfadiyah, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan)


Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita jadi pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara

#InfoMuslimahJember -- Penggalan syair diatas menggambarkan begitu mulianya jasa seorang guru, karena jasa gurulah kemuliaan martabat manusia akan terbentuk. Dengan begitu layak pula jasa guru dihargai dengan penghargaan yang pantas atau bahkan lebih atas jasanya yang tiada tara.

Namun kini, kesemrawutan penetapan surat penugasan(SP) membuat kisah yang memilukan bagi seorang guru SDN 3 Curah Takir yang sudah 15 tahun menjadi GTT kabupaten Jember, setahun terakhir dia mengajar tanpa digaji di sekolah pelosok itu karena tidak mendapatkan SP dari Bupati Faida. Dia mencari nafkah untuk keluarganya dengan berjualan nasi pecel sore hari. Disambung malamnya, bekerja menjaga ladang semangka yang siap panen agar aman dari pencuri (SuaraJatim.ID).

Fakta dunia pendidikan kini masih memprihatinkan, dilansir ratusan Guru Tidak Tetap(GTT) mendatangi gedung DPRD Jember Rabu (15/01/2020). Mereka melaporkan semua permasalahan yang dialaminya dan tak kunjung selesai. Salah satunya adalah tentang gaji yang hanya Rp 250.000 dibayar tiga bulan sekali. Di halaman gedung dewan, mereka menggelar istighosah dengan membaca al-Qur’an dan sholawat.

Sementara, beberapa perwakilan guru masuk ke ruang banmus untuk membahas persoalan guru dengan panitia hak angket DPRD Jember. “Tuntutan pertama, masukan anggaran untuk RAPBD 2020,” kata Ilham Wahyudi, salah satu perwakilan guru pada Kompas.com.

Menurut dia, guru harus sejahtera dengan mendapat gaji Upah Minimum Kabupaten [UMK]. Sebab selama ini, gaji para PTT diambilkan dari Bantuan Operasional Sekolah [BOS] (Kompas.com).

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa, GTT sudah mulai jenuh dengan nasibnya dan mulai ada ketidakpercayaan kepada pemerintah daerah dalam menangani persoalan pendidikan. Dengan adanya persoalan ini justru akan merendahkan martabat seorang guru itu sendiri, yang pada dasarnya mereka adalah insan yang harus dimuliakan karena jasanya yang tiada tara. Tapi kini, mereka masih harus berjuang dalam rangka untuk mendapatkan gaji yang layak.

Perhatian pemerintah dalam menyelesaikan persoalan GTT memang layak untuk dipertanyakan karena sudah bertahun-tahun namun kini persoalan juga tak kunjung selesai. Padahal Jember mendapatkan predikat kota HAM, yang tentunya selaras dengan predikat tersebut akan segera terselesaikan. Yang mana pada dasarnya masalah pendidikan merupakan pemasalahan kebutuhan mendasar sebagai bagian dari hak asasi manusia. Selain itu pendidikan merupakan pilar penting terbentuknya kemuliaan martabat manusia. Tatkala pendidikan dan segala hal yang berkaitan dengan terselenggaranya pendidikan terabaikan maka kemuliaan martabat manusia pun juga perlahan akan terkikis.

Semua ini bermuara dari keberadaan sistem yang ada yaitu sistem kapitalis yang ikut campur dalam arah pendidikan. Kapitalisme di sini merupakan gagasan sistem ekonomi yang menjunjung tinggi kebebasan dari sektor swasta, untuk bisa berperan aktif dalam perputaran roda perekonomian. Dalam memutar roda perekonomian kini membentuk korporasi dan telah bersanding dengan birokrasi sehingga akan ikut serta mewarnai kebijakan publik termasuk sektor pendidikan. Hingga tak heran kalau persoalan pendidikan kini sampai dikomersilkan tatkala menuntut kualitas yang lebih.

Bagaimana halnya dengan sistem pendidikan Islam? Dalam sistem Islam penanggung jawab penuh pelaksana pendidikan adalah negara. Negara memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, termasuk penyediaan dana yang mencukupi, sarana, prasarana yang memadai dan SDM yang bermutu. SDM yang bermutu tentu akan terwujud hingga dijaminnya kesejahteraan baik yang belajar maupun yang mengajar. 

Keberadaan guru sangat dimuliakan, sebagaimana Umar Bin Khatab ra sebagai pemimpin Islam di Madinah, telah menggaji guru anak-anak sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas), kalau diuangkan dengan rupiah kurang lebih Rp. 32.000.000. Demikian juga pada zaman pemerintahan Sholahudin Al-Ayubi beliau menggaji guru 11 – 40 dinar. Dengan demikian, marilah kita ambil solusi Islam yang terbukti telah diterapkan dalam kurun waktu 14 abad lamanya dan terbukti mensejahterakan. Wallahua’lam.

Jumat, 24 Januari 2020

HOMOSEKSUAL TAK MASUK AKAL, SOLUSI ISLAM RASIONAL




Oleh: Umi Nafilah, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

#InfoMuslimahJember -- Wali Kota Depok Mohammad Idris membuat kebijakan baru penyebaran perilaku LGBT. Program yang ia canangkan tersebut berbentuk razia aktivitas kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), hingga pembentukan Crisis Center khusus korban terdampak LGBT. Menurutnya upaya yang ia lakukan untuk mencegah penyebaran LGBT dan guna memperkuat ketahanan keluarga, khususnya perlindungan terhadap anak, seperti dilansir situs Pemkot Depok, Jumat (10/1/2020).


Nantinya, razia tersebut akan dilakukan di kos-kosan, kontrakan, dan apartemen di Depok. Usulan tersebut disampaikan Idris sebagai respon dari kasus pemerkosaan massal yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga di Inggris. Berdasarkan hukum Inggris, Reynhard mendapatkan hukuman seumur hidup atas 159 kasus perkosaan dan puluhan serangan seksual terhadap pria. Reynhard merupakan warga Indonesia yang tengah kuliah di Inggris. Keluarganya pun tinggal di Depok (tirto.id, 14/1/2020).

Alih-alih mendapat apresiasi, rencana itu justru dikecam banyak pihak. baik dari tatanan pemerintahan pusat, maupun masyarakat. Komnas HAM misalnya, mereka melayangkan surat kepada Wali Kota Depok ditandatangani oleh Koordinator Subkomisi Pemajuan Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, pada Senin (13/1/2020). Dalam surat tersebut, langkah Wali Kota Depok dinilai diskriminatif (tirto.id, 14/1/2020).

Tidak hanya itu, Amnesty Internasional juga mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok segera mencabut imbauan untuk merazia kelompok Lesbian, Gay, Lesbian, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Depok. 

Direktur Amnesty Internasional, Usman Hamid mengatakan langkah Pemkot Depok yang bakal merazia kelompok LGBT di Depok mencerminkan perlakuan kejam, tak manusiawi, dan merendahkan martabat mereka sebagai manusia. Bahkan beliau mendesak agar pemerintah pusat segera mencabut semua aturan yang dapat mendiskriminasi dan mengkriminalisasi kelompok minoritas gender dan orientasi seksual tertentu (CNN Indonesia, 14/01/2020).

Padahal keberadaan dan ulah kaum homoseksual ini nyata jadi ancaman bukan saja secara sosial, tetapi juga medis. Sampai hari ini hubungan seksual sejenis yang dilakukan kaum Gay masih menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS. Di 21 kota besar di AS, satu dari lima pria gay dan biseksual terinfeksi HIV/AIDS, dan separuh dari mereka tak menyadari telah terinfeksi HIV/AIDS (reuters.com, 23/9/2018)

Sebelumnya, pada bulan Februari 2016, situs National Geographic menurunkan tulisan bahwa kaum gay dan biseksual beresiko 50 kali tertular HIV/AIDS (nationalgeographic.co.id, 25/2/2016).

Jika kita telisik, pernyataan mereka tentang merazia pelaku menyimpang tersebut dikatakan "Tak Manusiawi" lalu muncul pertanyaan, bukankah justru mereka yang demikianlah yang berlaku tak manusiawi? pernyataan "tak manusiawi" justru tidak masuk akal, bahkan perlakuan mereka adalah salah satu penyebab terbesar menyebarnya virus HIV/AIDS, sangat mencengangkan dan miris, mereka berusaha keluar dari fitrah mereka sebagai manusia.

Bukankah Allah menciptakan manusia hanya dua identitas kelamin saja? kaum laki-laki (rijal) dan kaum perempuan (nisa'), tidak ada jenis yang ketiga. Kaum laki-laki berpasang-pasangan dengan kaum perempuan, inilah fitrah yang ditetapkan oleh Allah, bahkan termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang sudah seharusnya semakin menguatkan keimanan orang yang beriman dan berakal sehat. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Allah dalam QS. Ar-Rūm[30] ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

Al-qur'an telah menunjukkan bahwa hikmah penciptaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah melestarikan jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya, Allah berfirman dalam QS. An-Nisā [4]: 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Merajalelanya generasi rusak saat ini salah satunya LGBT yaitu karena rusaknya pola pikir dan pola sikap secara sistemis, sehingga masalah ini pun tidak akan terselesaikan kecuali dengan perubahan secara sistemis pula, saat ini sistem kapitalis menjadikan rusaknya generasi semakin menjadi dan meningkat, inipun karena efek liberalisasi atau kebebasan dalam segala hal, berbeda dengan sistem Islam yang berasal dari Sang Pencipta manusia, secara sanksi bersifat tegas, membuat jera dan penebus dosa.

Sungguh Islam adalah sistem dan agama yang mulia dan memuliakan manusia. Islam adalah solusi dari segala sumber masalah, tidak ada solusi hakiki kerusakan yang terjadi saat ini kecuali dengan tegaknya syariah Islam yaitu adanya kembali sistem Islam dengan penerapan syariah dan Khilafah.

Wallahu alam bish shawab.[]

Kamis, 23 Januari 2020

Pembuangan Bayi Makin Masif. Salah Ibu Mengandung??



oleh : ummu fillah

     
#InfoMuslimahJember -- Pembuangan bayi di kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, yang terjadi dua kali dalam sepekan mengundang beribu-ribu tanya? Siapakah ibu kandung yang tega membuang darah dagingnya sendiri? Apa motif di balik pembuangan bayi ini? Tanggung jawab siapakah ini semua dihadapan Allah?

    
Selayang pandang, Kalisat adalah kecamatan yang penuh dengan ulama-ulamanya, pondok-pondok pesantren kecil tersebar di pelosok desa. Tak mampukah ini jadi modal perbaikan akhlaq? Tak mampukah mendidik ketaqwaan pribadi?

      
Dalam sepekan jajaran polsek Kalisat menangani dua kasus pembuangan bayi. Pertama yaitu di penemuan jasad bayi di Dusun Junggrang Desa Patempuran tanggal 8/1/2020 dan di  tanggal 14/1/2020 kembali laporan penemuan jasad bayi di Dusun Rowo Desa Gambiran (Kalisat.Surya.co.id).

     
Kasus pembuangan bayi merupakan refleksi tidak diinginkannya kehadiran bayi-bayi tersebut. Hal ini karena bayi-bayi tersebut lahir melalui perbuatanyang tidak diridhoi oleh Allah. Hubungan pria dan wanita yang 'kebablasan', membuat Allah murka dunia dan akhirat. Menandakan betapa rusaknya moral individu zaman sekarang, selain tak peduli halal dan haram, rupanya juga membuat manusia tidak punya perikemanusiaan, sehingga darah daging sendiri pun tega dibiarkan meregang nyawa.

      
Kerusakan moral individu tidak bisa disolusi dengan banyaknya pesantren, kajian-kajian terkait akhlaq yang begitu masif. Karena  dalam sistem kapitalis memang me-liberal-kan pergaulan bebas, hingga khalwat dan ikhtilat ada dimana-mana, tanpa adanya kepentingan.

Disinilah pentingnya kita belajar dan menerapkan sistem islam, karena islam mengatur interaksi laki-laki dan perempuan, mengharamkan kholwat dan ikhtilat yang menjadi pintu masuknya perzinahan. Sebagaimana dalam firman Allah "Dan janganlah kamu mendekati zina, ( Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk" (Qs. Al Isra' : 32).
    
Larangan Allah tentang aborsi juga tertuang dalam Al qur'an "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin.Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar" (QS. Al isra' : 31)
      

Cukuplah Al qur'an dan as-sunnah sebagai pedoman kita sebagai umat islam.  Sudah saatnya kita kembali kepada aturan islam secara kaffah, dalam bingkai Khilafah. Agar keberkahan Allah turunkan dari langit dan bumi.

Allahu a'lam bish showab

Kriminalisasi Syariat Islam : "Jilbab Tak Wajib Bagi Muslimah"




Oleh : Fathimah Adz
(Writer Milenials)

                
#InfoMuslimahJember -- Sebelum kita bahas lebih jauh, kita kudu paham dulu nih, apa sih makna kriminalisasi? Jadi, buat temen-temen yang belum tau makna kriminalisasi, menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kriminalisasi adalah proses untuk mengubah pemikiran yang semula tidak dikategorikan sebagai masalah darurat tetapi kemudian digolongkan sebagai peristiwa berbahaya yang dilakukan oleh masyarakat. Nah, kalau kita ngobrolin kriminalisasi Islam, pasti teman-teman sudah pada mengerti, akan kemana bahasan kita selanjutnya.
                
Tahun 2019 telah menjadi tahun yang kelam bagi umat Islam. agama dan syariat Islam banyak di kriminalisasi. Mulai dari larangan bercadar pada ASN, penghapusan materi khilafah dan jihad di kitab fiqh dan madrasah. Belum lagi dengan penghinaan atas syariat-syariat Islam, nabi, dll.  Bahkan yang terbaru ini, istri mantan Presiden Gus Dur, Ibu Sinta Nuriyah memberi pernyataan, "Jilbab tak wajib bagi perempuan muslimah."

Wah, kok bisa ya? Akibat pernyataan ‘Eyang Sepuh’ Ibu Sinta Nuriyah ini, netizen di twitter dan instagram banyak berkomentar untuk stop wajibkan santriwati berjilbab. Lha, gimana jadinya, kalau santriwati malah nggak berjilbab?
               
Aneh ya? Seorang istri dari mantan presiden sekaligus ulama besar bisa memberikan statement yang sangat-sangat menyelisihi syariat dan hukum Allah. Padahal Allah, Pencipta sekaligus yang berhak menjadi Pengatur manusia sudah sangat gamblang menyampaikan dalam Al-Quran,

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “ (QS. Al-Ahzab 59).

Sudah jelas banget, perintah Allah untuk berjilbab adalah agar perempuan mukmin mudah dikenal dan tidak di ganggu.  Apa jadinya kalau manusia dibiarkan memilih jenis pakaiannya sendiri? yang mau pakai rok mini, monggo. Pakai hot pants, monggo. Pakai baju yang ‘you can see’, juga monggo. Al hasil akan banyak kerusakan yang ditimbulkan. Teliti saja disekitar kita. Bukankah banyaknya terjadi kasus pelecehan seksual karena  abainya wanita menutup aurat dan minim kain bajunya?

Ada apa?        

Mungkin teman-teman banyak bertanya, kenapa makin banyak pembesar-pembesar negeri  ini memberikan statement yang menyalahi syariat islam? Yupz, karena umat islam saat ini tidak punya junnah (benteng). Jadinya, ada banyak ‘peluru’ yang lansung masuk ke tengah-tengah umat islam. tanpa penghalang. Baik berupa penistaan syariat Islam, pembunuhan terhadap jiwa-jiwa kaum muslimin, program-program dari musuh Islam guna untuk mematikan potensi besar kaum muda muslim, dan masih banyak lagi. Islam jadi kehilangan kewibawaan dan kemuliaannya, syariat Islam tak lagi di hargai, darah kaum muslimin yang tumpah tak lagi membuat kita marah. Pemikiran barat yang tertanam kuat di jiwa pemuda muslim tak lagi membuat resah. Mereka berhak mengatur hidupnya sendiri, sesuka mereka lupa bahwa mereka islam.  Punya aturan kehidupan dari Sang Maha Pengatur. Musuh-musuh islam pun tak lagi memiliki rasa takut terhadap kaum muslimin.
               
Hal ini tentu berbeda jauh dengan saat junnah (benteng) kuat islam ada. Musuh Islam tak berani ‘menyentuh’ kaum muslimin, bagi segi syariat, maupun individunya.  Kita sangat mulia dan terhormat bagi mereka. Sekali berani mengusik atau bahkan melecehkan syariat kita, maka khalifah akan menghukumnya dengan hukuman yang berat dan menjerakan. Akhirnya, tak akan ada yang berani mengusik bahkan sampai melecehkan umat Islam.

Teringat suatu kisah, saat kaum muslimin berhasil memfutuhan sebuah daerah. Setelah di futuhat, kaum muslimin menancapkan al-liwa dan ar-royah di atas bukit daerah itu. Penduduk yang bersembunyi tak berani keluar menuju daerah itu, karena di kira masih ada kaum muslimin di dalam daerah tersebut, padahal kaum muslimin sudah kembali berjihad di daerah lain dan sudah meningggalkan daerah itu berbulan-bulan lamanya.
                
Begitulah mulianya kaum muslimin saat memiliki junnah berupa khilafah Islamiyyah. Bahkan kibaran al-liwa dan ar-royah sudah sangat membuat gentar dan ketakutan yang luar biasa di hati musuh musuh islam.
                 
Well, kalau kita sudah ‘muak’ dengan banyaknya kasus-kasus yang melecehkan umat Islam, maka sudah saatnya kita butuh junnah untuk kaum muslimin. Junnah yang akan mengembalikan kejayaan, kemuliaan, kehormatan, kejayaan bagi umat muslimin seluruhnya. Menjadi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.  Tentu junnah ini tak akan terwujud tanpa adanya pengorbanan dari kita.

Maka, sudah saat nya kita bangkit. Keluar dari zona nyaman. Berhenti larut dalam permasalahan diri sendiri. Mari peduli dengan permasalahan ummat, insyaAllah pertolongan Allah akan tegak bersama orang-orang yang bersabar dan berusaha. Aamiin

Wallahu ‘alam bish showwab.