Trend Mahasiswa Lulus Kuliah Bekerja, Yakin Sejahtera?

Trend Mahasiswa Lulus Kuliah Bekerja, Yakin Sejahtera?


Nuning Wulandari S.Tr.T

Part of Back To Muslim Identity Jember


Kini bekerja menjadi salah satu life goals para Gen Z. Mimpi saat kuliah, tantangan pasca kuliah ataupun rutinitas para Gen Z tak sempat merasakan bangku kuliah. Memang ini bukan hal baru. Bahkan seorang enterpreneur terkenal Elon Musk CEO Tesla dan SpaceX berpendapat bahwa “ Seseorang tak akan mampu mengubah hidupnya jika hanya bekerja selama 40 jam per minggu”. Apa yang disampaikan Elon menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu orang yang menganut lifestyle ini. Belakangan ini trend Gen Z gila kerja dan karier menjadi aspek terpenting dalam hidupnya sering kali dikenal dengan istilah Hustle Culture. Trend ini diartikan sebagai budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja tanpa henti dimanapun dan kapanpun. Prinsip dasarnya adalah Kerja keras membawa sejahtera sedangkan bermalas malasan pangkal miskin. Sekilas ini terdengar keren dan mengesankan meskipun sebenarnya cukup mengkhawatirkan. 

Jepang adalah salah satu negara yang menganut trend Hustle Culture ini. Sebuah riset mengatakan bahwa 1 dari 5 karwayan di Jepang memiliki resiko meninggal dunia karena kebanyakan bekerja, bahkan Jepang sudah menyiapkan Istilah bagi mereka yang meninggal saat bekerja “Karoshi” namanya. Tak cukup disini peristiwa Mba-mba SCBD yang sempat viral karena gaya hidup yang mewah nyatanya berbeda dengan kehidupan nyata mereka. Mereka terjebak pada lilitan hutang pinjol yang terus menggunung. Belum lagi trend gila kerja ini telah menyebabkan para Gen Z memilki gangguan mental mulai dari anxienty, hipertensi, gangguan tidur, stress dll. Maka wajar ketika para Gen Z akhirnya tumbuh dengan mental kerupuk dan melabeli dirinya dengan generasi strawberry. Lulus kuliah bekerja ataupun mendedikan seluruh hidup untuk bekerja ternyata tidak lantas membuat hidup lebih sejahtera. Pada faktanya seringkali yang terjadi adalah Kerja Serius Gaji Main – Main. Kerja keras bagai quda namun tak kudapati hidup sejahtera. 

Nampaknya ini perlu menjadi bahan berfikir bersama secara serius. Apa yang membuat para mahasiswa dan Gen Z yang terjun dalam dunia kerja justru tak sejahtera? Ini terjadi karena hari ini para pemuda terjebak dalam Jeratan Industrialisasi. Ada 3 penyebab utamanya diantaranya:


Serangan Life Style Dan Tren Fomo


Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Mike Fatherson mengatakan bahwa manusia senantiasa memikirkan bagaimana konsumsi dapat mempengaruhi hidupnya, mulai dari tubuh, busana, hiburan, pilihan makanan minuman dan seterusnya yang kemudian dipandang sebagai indikator dari individualitas selera serta gaya hidup dari pemilik. Semakin tinggi selera, maka ia akan semakin bonafide dan keren. Gen Z saat ini seringkali terjebak pada life style yang konsumtif. Mereka akan merasa mampu, mapan dan sukses saat mampu membeli barang – barang bukan kebutuhan dasar yang menganggap hal itu akan menaikkan citra sosial mereka. Maka wajar saat mereka terjebak pada gaya hidup yang konsumtif mereka juga akan merasakan FOMO “Fear Of Missing Out” takut akan merasa tertinggal karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Mindset yang dimiliki Gen Z seperti ini amat sangat disukai para Pemilik Modal (korporasi). Gaya hidup melangit ala Gen Z ini akan menambah kekayaan Korporasi. Tengok saja kekayaan Bernard Arnault (Chairman dan CEO LVMH Perusahaan induk dari 75 brand terkenal termasuk Louis Vuitto, Chistian Dior dll) adalah Rp 1.320 T. Pendapatan APBN saja masih kalah dibandingkan kekayaannya. 

Jadi wajar saja saat Gen Z menghabiskan hidupnya untuk bekerja, namun sejahtera tak kunjung mereka dapat. Penyebabnya adalah mereka telah terjebak pada gaya hidup konsumtif dan menjadi ladang subur bagi pasar korporasi. Hasil kerja mereka bukan lagi untuk kebutuhan hidup yang lebih baik, melainkan sebagai ajang flexing atas pencapaian hidup yang sudah mereka raih dan seolah olah telah mendapatkan sejahtera. 


Gen Z Sasaran Input Produksi Dunia Industri 


Gaya hidup Gen Z ala kapitalisme harus dipenuhi dengan bekerja, untuk bisa membeli produk – produk korporasi maka mereka harus memiliki pekerjaan diperusahaan yang bonafide. Belum lagi biaya pendidikan yang mahal, ini menjadi penyebab Gen Z bekerja untuk bisa mengembalikan modal kuliah dari orangtuanya. Namun ada yang luput dari perhatian mereka, yakni standart gaji di sistem kapitalisme. Kapitalisme memandang tenaga kerja adalah input produksi, maka berlaku hukum biaya sekecil mungkin. Kalaupun menutut mereka besar, itu hanya sekedar mencukupi kebutuhan hawa nafsu belanja barang-barang branded milik korporasi. Ini berarti gaji mereka sebenarnya akan kembali pada korporasi. 

Coba saja bandingkan gaji karywan dengan CEOnya. Perbandingan gaji CEO PT freeport Indonesia sebesar Rp 5,6 M per bulan sedangkan engineernya hanya kisaran 14-15 Jt per bulan. Rasio perbandingannya adalah 373 : 1. Sehingga Gen Z adalah aset besar bagi korporasi untuk terus menggerakkan roda perekonomian mereka, sebagai tenaga kerja sekaligus sebagai pangsa pasar yang subur. 


Gen Z Adalah Conveyor Belt Industri


Gen Z yang menjadi sasaran empuk para korporasi tidak hanya menjadi tenaga kerja dan pangsa pasarnya saja. Melainkan mereka jugalah yang menjadi andalan korporasi untuk meningkatkan penjualannya. Industri dan korporasi memanfaatkan kepopuleran Gen Z untuk menciptakan kesadaran semu bahwa kebahagiaan dan kenyamanan bisa di dapat dengan membeli produk – produk yang mereka iklankan. Mereka terus mempromosikan barang – barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya demi kepuasan batin.Korporasi melihat peluang besar dengan gaya hidup Gen Z yang mewah sebagai standart gaya hidup masyarakat pada umumnya. Inilah beberapa hal yang menjadi penyebab kerja keras yang dilakukan oleh Gen Z nampaknya masih jauh dari kata sejahtera, hal ini karena ujung dari perjuangan mereka di dunia kerja hanya habis untuk memberi makan ego dalam sistem hidup kapitalisme. 

Semua ini tidak lepas dari buah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang selalu mengedepankan untung rugi dinilai dari segi pencapaian secara materi. Seberapa serius pun Gen Z ini bekerja keras, mereka tidak akan mampu menyaingi para korporasi global. Mereka hanya akan mendapatkan remah remah ekonomi untuk bertahan hidup. Selain itu mereka dikenal sebagai generasi yang rapuh, tidak siap menyikapi persoalan hidup dan sering mengalami depresi. Gen Z seharusnya menjadi garda terdepan dalam penyelesaian  masalah masyarakat. Secara fisik mereka memiliki idealisme dan motivasi yang kuat. Tentu ini bertolak belakang dengan cara pandang islam terhadap pemuda (read : Gen Z). Islam memandang pemuda muslim sebagai orang yang memikul tugas berat dan kewajiban besar terhadap diri, agama, dan umatnya. Suatu kewajiban yang akan menyingkap eksistensinya dan mengoptimalkan potensi dirinya. Tuntutan Islam ini menjadi tanggung jawab negara Islam untuk mengoptimalkan potensi pemuda melalui pembangunan. Landasan pembangunan generasi akan bertumpu pada ideologi Islam, termasuk landasan dalam sistem pendidikan. Output pendidikan Islam akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam serta menguasai ilmu dan teknologi yang berguna bagi kehidupan.


Rasulullah, Sebaik-baik Teladan Keluarga

Rasulullah, Sebaik-baik Teladan Keluarga

    

Oleh. Gadingsari Rosi

(Pemerhati Sosial)


Bulan Rabiulawal merupakan salah satu bulan yg istimewa di dalam Islam, karena bulan kelahiran Rasul Muhammad SAW. Seorang utusan yang dipilih oleh Allah SWT untuk memberi peringatan dan pembawa berita gembira melalui mukjizatnya yaitu Al-Quranul karim.

Maka dibulan ini, sudah seharusnya kita memperbanyak sholawat kepada Nabi SAW agar kelak mendapatkan syafaat beliau SAW di yaumil qiyamah.

Rasulullah adalah sosok panutan terbaik (uswatun hasanah) bagi umatnya dalam seluruh aspek kehidupan, baik lingkup  kenegaraan, dakwah, sosial budaya, politik, hukum, akhlaq dan ibadah, serta dalam lingkup keluarga. Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al-Ahzab : 21,


كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ


"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah".

Sebagai seorang muslim maka wajib hukumnya untuk taat, tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Allah SWT dan juga Rasul-Nya tanpa tapi dan nanti. Sesuai firman Allah SWT di dalam QS. An-Nur : 51,


كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ


"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Di dalam lingkup keluarga Rasulullah terkenal sebagai pribadi yg penyayang, perhatian, penuh cinta kasih dan pelindung bagi keluarganya. Sebagaimana sabda beliau SAW,

"Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga."

(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban)


Sebagai seorang suami, menurut ummul mukminin Siti Aisyah r.a seperti diriwayatkan imam Bukhari, Nabi SAW tidak pernah merasa keberatan dan segan untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti : menjahit baju yang sobek, menyapu lantai, memerah susu kambing, belanja ke pasar, membetulkan sepatu dan kantung air yang rusak, atau memberi makan hewannya. Bahkan, beliau SAW pernah memasak tepung bersama-sama dengan pelayannya dan memperbaiki dinding rumahnya sendiri.

Beliau SAW juga bersikap adil kepada istri-istrinya, selalu bermusyawarah dengan para istrinya, tidak segan untuk menasihati istri-istrinya, tidak segan untuk menerima masukan/saran dari istri-istrinya, berhias untuk para istrinya, dan bersenda gurau dengan para istrinya.

Perkataan dan perlakuan beliau SAW yang terpuji sebagai seorang kakek, ayah, dan pemimpin negara terlihat jelas dalam berbagai kesempatan seperti sering mencium cucunya, membiarkan cucunya menggunakan punggung beliau main perosotan ketika sholat. Saat perang Uhud, beliau menolak dengan lembut anak-anak yang mau ikut berperang karena usia mereka belum cukup. Tidak ada satu pun alasan pembenar bagi kita untuk mengikutsertakan anak-anak dalam hal yang mengandung bahaya. 

Kondisi rumah tangga Rasulullah diatas jelas bertolak belakang dengan pengarusan isu yang masif tentang kesetaraan gender (antara laki-laki dan perempuan) yang menganggap rumah tangga (seperti isu superioritas laki-laki sebagai kepala keluarga menjadi biang kekerasan dalam rumah tangga/kdrt) dengan kata lain diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Ketika Islam datang dengan syariat-Nya, maka Islam telah menetapkan berbagai hak dan kewajiban untuk laki-laki dan perempuan. Islam menetapkannya sebagai hak dan kewajiban terkait kebaikan manusia menurut pandangan Allah SWT, bukan karena ada atau tidak adanya kesetaraan. Rasulullah sebagai utusan-Nya hanya menjalankan apa-apa yang sudah diwahyukan Allah SWT kepada beliau bukan berdasarkan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. An-Najm : 3-4,


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ.إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ


"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran ) menurut keinginannya. Tidak lain (Alquran  itu) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya)".

Demikianlah Rasulullah menjalankan banyak perannya dengan sempurna baik sebagai nabi, kepala negara, pemimpin jihad, sekaligus peran domestik sebagai seorang ayah, kakek yang penuh cinta dan kasih sayang, menjadi suami/kepala keluarga yang bergaul dengan makruf terhadap istri-istrinya, sehingga memberikan ketenangan dan ketentraman.


Wallahua'lam bisshowab.

 Reportase Focus Group Discussion (FGD):   BBM Naik Lagi, Rakyat Gigit Jari

Reportase Focus Group Discussion (FGD): BBM Naik Lagi, Rakyat Gigit Jari



Oleh. Dina Amel 

(Aktivis Mahasiswa Jember)


 

#Info Muslimah Jember -- Acara Focus Group Discussion (FGD) kembali diadakan oleh Back to Muslim Identity Community (BMIC) Jember dalam rangka merespon isu yang tengah ramai di masyarakat yaitu kenaikan harga Bahan Bakar Miyak (BBM) Per 3 september 2022. Kenaikan harga BBM tentu menimbulkan dampak yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. Maka dari itu, komunitas BMI sebagai salah satu wadah aktivis mahasiswa Muslimah mengadakan forum ini untuk duduk bersama para aktivis dari berbagai Lembaga mahasiswa yang ada di Jember, berdiskusi mencari solusi terkait masalah ini. Acara ini diadakan secara offline pada hari Rabu, 14 September 2022 bertempat di Mie Semeru, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.

Bermula dari kenaikan harga BBM per 3 September 2022, kenaikan tersebut tentu mengundang berbagai respon dari masyarakat. Kenaikan tersebut berupa: Pertalite yang semula Rp 7.650 kini naik menjadi Rp 10.000 per liter, solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Kita tahu BBM memegang peranan vital dalam roda kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM akan berdampak pada segmen kehidupan yang lain. 

Hampir semua orang melakukan mobilitas setiap harinya dengan kendaraan bermotor. Berbagai sector seperti ekonomi, Pendidikan, dll., hampir semuanya menggunakan BBM. Walhasil, harga BBM yang naik akan mempengaruhi kenaikan harga yang lain. Kenaikan harga bahan pokok makanan, kenaikan listrik, hingga dampaknya pada kenaikan pajak. Sedang di sisi lain, keadaan rakyat Indonesia yang sudah sulit, kini makin tercekik karena adanya kenaikan harga BBM ini apalagi tidak ada kebijakan naik gaji. Banyak hal yang harus dipenuhi sendiri, negara tidak memfasilitasi.

Lalu, sebenarnya bagaimana Sumber Daya Alam negeri kita? Energi tak terbarukan di negara kita sangat melimpah ruah adanya. BP Statistical Review 2022 menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-24 sebagai negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia dengan produksi sebanyak 692 ribu barrel per hari (bph). Dimana, Indonesia pernah menghasilkan 2 juta bph saat 25 tahun yang lalu, dan kini hanya sekitar 700 bph. Ternyata, setelah ditelisik lebih jauh sumur-sumur hidrokarbon penghasil minyak bumi ini tidak diperbarui sehingga produksi terus berkurang hingga saat ini tidak mampu memenuhi demand masyarakat senilai 1,4 hingga 1,5 juta. Dari 128 sumur hidrokarbon yang aktif, hanya ada 8 yang diperbarui dan diaktivasi. 

Selain itu, biaya produksi local yang jauh lebih murah dibanding internasional juga menjadi pertanyaan, Kenapa harga BBM justru mengikuti biaya produksi Internasional, bukan local? Apalagi didukung dengan harga BBM dunia yang tengah turun, sedangkan harga BBM di Indonesia justru naik. Ada apa? Indonesia memiliki Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, kenapa rakyat justru tidak merasakannya?


Kenapa harga BBM naik di Indonesia?

Setidaknya ada 2 alasan yang mendasari kenaikan harga BBM oleh pemerintah, yaitu semakin besarnya “beban” subsisdi BBM yang dianggap sangat membebani APBN dan yang kedua, ketidaktepatan sasaran pemberian subsidi BBM. 


Tepatkan pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut?

Kebijakan ini dinilai kurang tepat dengan beberapa alasan. Pertama, pemerintah menyatakan bahwa BBM bersubsidi salah sasaran, lantas mengapa tidak ada solusi yang menjadikannya tepat sasaran dan harga BBM justru dinaikkan? Kedua, solusi pemberian bantuan kepada masyarakat menjadi sangat tidak efektif di tengah melonjaknya harga bahan pokok apalagi tidak semua yang terdampak mendapatkannya. Ketiga, alternatif lain sebelum merugikan masyarakat adalah mengurangi jatah-jatah pemerintah dan para pejabat sebelum mengorbankan masyarakat seperti Dana Pensiunan DPRD yang masa jabatannya hanya sebentar namun justru diberi pensiunan seumur hidup serta adanya projek-projek besar yang dinilai tidak penting seharusnya tidak diprioritaskan sehingga biayanya bisa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih urgent.


Apa akar masalah permasalahan ini?

Jika kita telisiki, bukan rakyat yang tidak sabar, namun pemerintah yang tidak sadar bahwa adanya pemerintah ternyata bukan mewakili rakyat namun justru mewakili kesejahteraan rakyat, di sisi lain rakyat sengsara. SDA kita melimpah ruah tapi kemana semua? Hal ini terjadi karena adanya persekongkolan antara pengusaha dan pengusaha. Dimana, persekongkolan mereka menghasilkan kebijakan yang tentunya menguntungkan mereka, kelompok elit dan membiarkan rakyat sengsara. SDA yang ada bukan diberikan rakyat, tapi justru dinikmati oleh para oligarki. Walhasil, mereka yang miskin akan semakin miskin dan mereka yang kaya akan semakin kaya.


Apa solusi dari permasalahan ini?

Seharusnya, pemerintah memikirkan terlebih dahulu bagaimana dampak kebijakan yang dikeluarkan terhadap masyarakat. Bukan lantas mengorbankan masyarakat. Juga, BBM salah sasaran maka pemerintah perlu membuat sistem pendataan dan pengalokasian subsidi dengan benar dan rapih, tapi pemerintah justru “kesusu” mengeluarkan kebijakan kenaikan BBM yang banyak merugikan masyarakat. Siapa yang diuntungkan? Pengusaha swasta yang mengelola SDA kita, dan kita justru harus membeli kepada mereka. Sejujurnya penguasa ini berpihak pada siapa?


Sesi Tanggapan oleh Co. BMI Jember, Kak Miftah

Diskusi mengenai kenaikan harga BBM akan selalu panas dan ada banyak tanggapan terhadapnya, salah satunya kata “sabar…”. Namun, dalam melihat isu ini, kita perlu melihat apakah ini termasuk dalam aspek Aqidah atau aspek Syariah.  Jika isu ini berkaitan dengan ketetapan dari Allah, seperti halnya takdir dan rezeki, maka kita sebagai seorang muslim tentu diwajibkan untuk bersabar menghadapi segala situasi yang kita hadapi sebagaimana sabda Rasulullah shallahu’alaihiwasallam

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Kita perlu menyadari bahwa permasalahan BBM bukan masalah dari aspek Aqidah saja, tapi juga aspek penerapan syariah. Bahan Bakar Minyak adalah milik rakyat, ia dikelola semata-mata hanya untuk kesejahteraan rakyat sebagaimana sabda Rasulullah

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api" (HR Abu Dawud dan Ahmad).

BBM merupakan salah satu dari aspek api. Negara sebagai pengelola urusan ummat wajib mengelolanya untuk keperluan rakyatnya. Bukan lantas diberikan pada swasta, lalu justru dijual kepada masyarakat. Ketika syariah ini tidak diterapkan, maka akan terjdi kedzaliman seperti sekarang ini. Tidak heran, sekarang masyarakat bukan dianggap sebagai Amanah tapi justru sebagai beban. Kita dapat faktai apakah kebijakan sekarang pro rakyat atau pro rezim? Kenaikan BBM membuat hidup kita makin sempit dan dompet kita semakin luas (Kosong).

Kita perlu ketahui juga terkait APBN bahwa ¼ APBN kita dialokasikan untuk membayar bunga hutang, belum hutang pokoknya. Selain itu, 1000 T dari APBN dialokasikan untuk kelembagaan negara yang tidak ramping dan efektif, tapi justru boros anggaran, salah satu yang kita ketahui Bersama adalah berita penganggaran gorden rumah dinas anggota DPR yang mencapai Rp 43,5 miliar (cnbcindoneisa.com, 31/8/2022). Sedangkan, berapa anggaran dari APBN untuk subsidi BBM? Hanya 200 T rupiah saja. Lalu, mengapa kita harus mengorbankan subsisdi APBN untuk menyelamatkan anggaran APBN? Karena APBN kita 80% bersumber dari pajak dan 20% bersumber dari hutang. Maka, untuk membayar hutang, kita tidak dapat mengorbankan pajak karena keperluan kita juga banyak. Walhasil, subsidi APBN inilah yang kemudian dialihkan untuk membayar hutang, Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahwa jika BBM tak naik, akan sulit bayar hutang (muslimtrend.com, 10/09/2022).

Dalam melihat permasalahan ini, setidaknya ada 3 Akar Masalah yang perlu kita kritisi dan selesaikan, yaitu:

1. Kesalahan tata kelola migas

Kesalahan tata Kelola berawal dari salahnya paradigma. Hal ini dapat kita lihat pada UU migas yang memberikan jalur seluas-luasnya kepada badan perusahaan swasta untuk mengelola SDA kita. Dimana, migas yang dikelola badan perusahaan swasta ini nanti akan dijual kembali pada kita. 700.000 bph produksi minyak bumi yang dihasilkan di Indonesia dikuasai terbesar pertama dan kedua oleh perusahaan asing Chevron dan Exxonmobile. Di sisi lain, ketika minyak tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri, pemerintah justru memilih melakukan usaha yang instan dengan impor besar-besaran yang kemudian berdampak pada tingginya harga minyak dalam negeri selayaknya harga minyak di luar negeri. 

2. Mafia Migas 

Di tengah sekelumit permasalahan migas, ada oknum-oknum yang tidak memiliki hati nurani, siapa mereka? Mafia migas. Mereka mengambil keuntungan dengan mendapat fee tambahan ketika mengekspor migas ke luar negeri. Perusahaan-perusahaan produksi migas tentu butuh bahan baku untuk kemudian diolah dan dijual. Perusahaan-perusahaan ini akan mencari oknum yang mampu memfasilitasi kebutuhan mereka itu, itulah Mafia Migas. Namun, uang yang didapat oleh mafia migas ini apakah kemudian akan digunakan untuk kepentingan masyarakat? Tentu tidak, keuntungan itu kemudian akan menjadi keuntungan kelompok elit tertentu saja. 

3. Paradigma untung rugi pada pengaturan keuangan negara.

Kenaikan harga BBM yang berasalan untuk mengurangi beban APBN menimbulkan pertanyaan bagi kita, mengapa rakyat yang dianggap beban dan memberatkan negara? Padahal, jika kita telisiki 80% APBN negara bersumber dari uang rakyat, yaitu pajak yang kita bayarkan. Maka, penggunaan APBN secara maksimal untu kesejahteraan rakyat adalah memang hak rakyat dan sesuai pada tempatnya, bukan lantas APBN digunakan untuk proyek  yang tidak urgent  atau bahkan dipakai “memanjakan” pejabat negara saja. Inilah yang terjadi ketika penguasa memposisikan diri mereka sebagai perusahaan (korporatokrasi), bukan sebagai pengelola kebutuhan rakyat. Mereka senantiasa akan perhitungan dan berbicara tentang untung dan rugi.

Kita perlu melihat bagaimana pandangan Islam dalam menyolusi permasalahan ini. 

1. Kepemilikan umum dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat

Dalam Islam, kepemilikan dibagi menjadi 3 yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum, serta kepemilikan negara. Minyak termasuk salah satu komponen dari kepemilikan umum, maka negara wajib mengelola semuanya, tidak boleh diserahkan begitu saja pada swasta. Minyak tersebut diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan rakyat, sekalipun membayar sebisa mungkin tidak memberatkan masyarakat. 

2. Mengembangkan kilang minyak

  Perusahaan BUMN, Pertamina hanya bisa menghasilkan bahan bakar mentah sehingga ini menjadi masalah. Minyak yang dihasilkan oleh pertamina tidak dapat digunakan langsung oleh masyarakat Indonesia karena harus “dimasak” terlebih dahulu lewat Kilang minyak yang ada di Singapura. Maka, Minyak yang dihasilkan di Indonesia harus terlebih dahulu diekspor ke Singapura hingga menghasilkan 1,6 juta bph setalah “dimasak” dan itu sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia. Lalu, minyak tersebut kembali diimpor, tentu kini dengan harga berbeda yang lebih mahal. 

Maka Indonesia perlu mengembangkan dan memprioritaskan pembuatan Kilang Minyak sendiri. Menjadi pertanyaan, Kenapa Indonesia tidak memuat kilang minyak dan mengolah minyak mentah tersebut secara mandiri? Indonesia tidaklah kekurangan orang pintar, nyatanya orang pintar kurang dihargai dan justru digaji tinggi oleh perusahaan luar negeri. Indonesia juga kaya akan Sumber Daya Alam. Peran negaralah yang kemudian mengelola dan meng- combine potensi SDA dan SDM itu supaya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat

3. Mengembangkan energi terbarukan

Kita juga bisa mengembangkan banyak Energi terbarukan. Tidak sedikit sarjana yang dihasilkan lewat sekolah-sekolah kita, itu bisa kita manfaatkan dan kembangkan untuk mencari alternatif energi selain minyak bumi. Sekalipun kita kekurangan orang yang berkompeten, negara bisa mengirim orang ke luar negeri untuk belajar ilmu yang dibutuhkan dan kemudian ketika mereka kembali, diharapkan mereka mampu menerapkan ilmu mereka untuk kepentingan negara. Hal inilah yang juga dilakukan oleh para khalifah terdahulu, seperti Khalifah Umar bin Khattab dan Sultan Abdul Hamid II. 

4. Negara perlu mengubah paradigmanya

Negara bukan perusahaan. Negara bukan hanya sekedar fasilitator, menyedikan barang yang dibutuhkan masyarakat namun masyarakat dibebani dengan pajak, pencabutan subsidi, dan beban-beban yang lain. Peran negara adalah me-ri’ayah su’unil ummah (Mengelola kehidupan masyarakat). Negara wajib memaksimalkan potensi SDA yang dimiliki untuk ummat, bukan mengambil jalan yang mudah dengan menyerahkan SDA begitu saja pada swasta.  

Diskusi ini kemudian ditutup dengan press release yang disepakati dan dibaca Bersama oleh anggota forum, yaitu:


Kami aktivis mahasiswa se-Jember:

  1. Menolak dengan tegas kenaikan harga BBM
  2. Menuntut pemerintah untuk menjalankan tugasnya sebagai pemelihara urusan rakyat
  3. Menuntut pemerintah untuk mengembalikan seluruh pengelolaan Sumber Daya Alam keada rakyat


 Bahaya Aqidah Dibalik Keseruan Program PMM: Mahasiswa Muslim Harus Kritis

Bahaya Aqidah Dibalik Keseruan Program PMM: Mahasiswa Muslim Harus Kritis



Oleh. Ayu Fitria Hasanah S.Pd

(Pengamat Pendidikan dan Sosial Budaya)


#InfoMuslimahJember -- Baru-baru ini Universitas Jember melaksanakan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) jilid 2 sebagai bagian dari program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Bagai sebuah sensasi, pada kesempatan ini terdapat mahasiswa non-muslim asal Universitas Negeri Medan yang diberi kesempatan untuk tinggal di Pondok Pesantren Ulul Azmi Bondowoso selain menjalankan kuliah. Tak hanya tinggal, namun juga mengikuti rangkaian kegiatan ibadah umat Islam di pesantren.

Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa belajar lebih dalam tentang keberagaman agama, adat istiadat dan budaya sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air, sebagaimana salah satu tujuan kegiatan PMM (unej.ac.id, 13/09/2022). Berdasarkan hal ini maka PMM sebagai sebuah program hendak membentuk generasi agar memiliki karakter terbuka atau inklusif, dengan kata lain meningkatkan karakter/sikap mengakui dan menghargai atas eksistensi keberbedaan dan keberagaman mengenai agama, budaya dan adat istiadat sebagai bentuk cinta tanah air.

Diantara sikap inklusif yang dapat dipahami melalui kegiatan PMM ini adalah, bolehnya umat agama tertentu melakukan ibadah umat lain sebagai bentuk penghargaan, membentuk pemahaman bahwa semua agama sama atau sama-sama mengajarkan kebaikan, hanya caranya yang berbeda, membentuk persepsi agar adaptif dengan keberagaman adat dan budaya, termasuk di dalamnya mengenai cara beragama, artinya dalam tata cara beragama program ini mengajarkan generasi muda untuk adaptif dengan budaya, mengedapankan keberagaman budaya. Maksudnya, jika terdapat ajaran-ajaran agama yang bertentangan dengan budaya sekalipun hukumnya wajib tidak boleh dipaksakan. Jika syariat tersebut disuarakan untuk dilaksanakan maka dikatakan sebagai sikap eksklusif, sikap merasa agamanya paling benar, dan dikatakan intoleran.

Berdasarkan hal itu, karakter inklusif serta pemahaman inklusif yang hendak dibentuk telah melanggar batas-batas aqidah Islam serta toleransi dalam pemahaman Islam yang benar. Dalam Islam memang diperintahkan untuk bersikap toleransi terhadap umat agama lain, perintah ini terdapat dalam surat Al-Kafirun. Namun toleransi dalam Islam adalah mengakui adanya perbedaan, adanya keberadaan agama lain, dan tidak boleh mengganggu pelaksanaan ibadah mereka, tetapi haram hukumnya turut serta pada kegiatan ibadah umat lain.

Kegiatan PMM ini berpeluang menjadikan mahasiswa muslim melakukan praktik-praktik ibadah agama lain atas dasar sikap menghargai, inilah bahaya aqidah yang jelas mengancam. Selain itu, dalam aqidah Islam tegas Allah menyampaikan dalam surat Al Imron ayat 19 bahwa “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Artinya umat Islam tidak boleh memiliki pemahaman bahwa semua agama sama, dan bersikap tidak masalah meskipun tidak mengambil Islam, karena Allah jelas mengabarkan bahwa hanya Islam yang Allah ridhoi, hanya amal-amal yang dilaksanakan sesuai Islam yang diterima. Karena itu mahasiswa muslim harus berhati-hati dengan program PMM ini, agar tidak terjebak pada narasi yang bertentangan dengan Islam.

Selain itu, bentuk cinta tanah air tidak selalu harus dengan mempertahankan budaya yang ada, terlebih bagi umat Islam, jika budaya tersebut rusak dan bertentangan dengan ajaran Islam maka wajib ditinggalkan. Apalagi mengedepankan budaya dan adat istiadat atas seruan pandangan-pandangan Islam, padahal Islam datang dari Allah, sedangkan budaya datang dari manusia. 

Bentuk cinta tanah air harusnya diekspresikan dengan keseriusan mengkaji secara kritis berbagai hakikat masalah atau faktor yang menyebabkan negeri ini serta penduduknya mengalami krisis. Mengkaji bagaimana pengelolalahan sumber daya alam, pengelolahan kebijakan MIGAS, pengelolahan kesehatan dan sebagainya hingga menemukan akar masalah penyebab krisis di negeri ini. Karena itu mahasiswa muslim tidak perlu terpukau dengan program PMM tersebut, menumbuhkan rasa cinta tanah air tidak selalu harus dengan belajar berbagai budaya yang ada, tetapi dapat dengan meningkatkan kepedulian kepada masyarakat yang hari ini semakin sengsara, dapat dengan meningkatkan kepedulian terhadap nasib kekayaan negeri yang justru berakhir pada kekuasaan tangan asing.









 Jember Surga Narkoba?

Jember Surga Narkoba?



Oleh : Faiqoh Himmah 


#InfoMuslimahJember -- Warga Jember mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa dalan dua bulan, aparat telah menangkap 60 pengedar narkoba! 

Jumlah yang tidak sedikit apalagi jika membayangkan, andaikata satu pengedar punya 10 pelanggan, maka ada 600 pemakai. Bagaimana jika satu pengedar punya 20, 30 atau mungkin 100 pelanggan?

Maka, penangkapan 60 pengedar dalam 2 bulan inu adalah fakta yang cukup mencengangkan. Fakta ini cukup menggambarkan Jember dalam kondisi darurat narkoba. Ibarat fenomena gunung es, sangat mungkin jumlah riil pengedar narkoba di lapangan jauh lebih banyak dari itu.

Narkoba ini bukan isu baru. Berbagai lapisanBerbagai masyarakat bisa terjerat. Orang  biasa, pesohor, aparat bahkan pejabat. 

Dalam skala nasional, banyak artis dan pejabat terjerat kasus narkoba. Di Jember, ada oknum pegawai imigrasi ditangkap karena menggunakan narkoba. Bahkan yang menghebohkan, ada puluhan siswa sebuah SMP negeri di wilayah kota yang terlibat narkoba. Sunguh sungguh menyedihkan.

Sebelumnya sempat viral kasus empat kepala desa yang terbuai pesta sabu. Padahal mereka adalah teladan &  pengurus urusan rakyat. Warga desa Wonojati, Tempurejo, Taman Sari dan Glundengan mungkin tak akan pernah lupa bahwa dalam sejarah desa mereka, kadesnya pernah nyabu.

Di kalangan masyarakat umum, sindonews.com pada September tahun lalu mengangkat berita, 2 orang DJ (disc jokey) cantik diciduk polisi ketika hendak pesta sabu. Sebelum menciduk 2 DJ cantik ini, aparat telah menangkap 2 tersangka pengedar sabu di sebuah hotel ternama di Jember. Bahkan, diduga peredaran sabu yg melibatkan mereka ini dikendalikan dr dalam lapas! Miris! Apakah Jember sudah menjadi surga bagi peredaran narkoba? Kita berharap tidak.

Padahal  berbagai upaya sudah dilakukan untuk memberantas narkoba. Tapi Sayangnya, berbagai upaya ini seolah menemui jalan buntu. Begitu satu kasus selesai, kasus-kasus baru bermunculan.   

Munculnya kasus baru ini tak hanya dipicu karena sifat dari zat narkoba itu sendiri yang menimbulkan efek ketergantungan bagi penggunanya, lebih dari itu, penyalahgunaan narkoba terus terjadi karena hukum yang diberlakukan cenderung tak berefek jera. 

Dalam kasus empat kepala desa terlibat narkoba misalnya. Mereka hanya dijatuhi hukuman 8 bulan penjara. Banyak pula pemakai --yg menikmati narkoba dengan kesadaran-- tidak menjalani hukuman karena dianggap korban. Mereka hanya menjalani rehabilitasi. Tak jarang stlh masa rehabilitasi dikatakan selesai, mereka kembali terjerat. Sementara itu, sindikat narkoba seolah sulit tersentuh. Banyaknya tuntutan mati kepada bandar narkoba bak angin lalu.

Tak heran,  Indonesia sendiri disebut sebagai surganya peredaran narkoba. Sindikat narkoba juga seolah leluasa menyelundupkan barang haram ini meski aparat telah menjalankan sistem pengamanan secara ketat. Bahkan dalam beberapa kasus, disinyalir  justru oknum aparat yang terlibat dalam "pengamanan" peredaran narkoba.

Alhasil, mekanisme pemutusan rantai peredaran narkoba tak pernah usai. Pada akhirnya, penyalahgunaan narkoba masih saja sulit untuk ditumpas. Inilah konsekuensi penerapan sistem demokrasi-kapitalisme.


Berantas Narkoba dengan Islam

Fakta-fakta yang ada menunjukkan kepada kita bahwa Untuk memutus peredaran narkoba tidak bisa setengah hati. Memberantas peredaran narkoba haruslah bersifat sistemis. 

Artinya harus ada perubahan paradigma mendasar ttg narkoba ini dan semua pihak yang bertanggungjawab  punya kesamaan pandangan dan langkah. Baik dari sisi individu rakyat, aparat penegak hukum dan pemangku kebijakan dan juga ketegasan aturannya.

Islam sebagai agama yg sempurna, memberi petunjuk kepada kita bagaimana mengatasi ini.

Islam menjalankan tiga unsur pokok dalam memberantas narkoba. Pertama, Islam membangun benteng dr narkoba dengan memerintahkan setiap muslim untuk bertakwa. Seorang individu yang bertakwa, akan menyandarkan amal perbuatannya pada hukum Allah semata. Kesadarannya bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya adalah kontrol utama dalam mengarungi kehidupan. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) sendiri dikategorikan sebagai perbuatan yang haram untuk dilakukan.

Kedua, Islam memerintahkan masyarakat untuk memiliki kepedulian. Kepedulian ini didasarkan pada takwa tadi. Masyarakat yg takwa, akan memiliki perasaan, pemikiran yang disandarkan pada syariat. Perasaan mereka akan ridlo pada hal2 yg diridloi Allah. Sebaliknya mereka akan sama2 marah/tidak ridlo jika terjadi kemaksiyatan. Jadi ukuran rildo dan benci di tengah masyarakat adalah syariat. Pemikiran mereka pun disandarkan pada syariat. Mereka menilai baik dan buruk sesuai dengan apa yg ditetapkan oleh syariat.

Kesamaan dalam memandang mana yg baik dan mana yg buruk,  mana yg diridloi dan dibenci, akan memunculkan kontrol sosial di tengah-tengah masyarakat. Amar makruf nahi mungkar adalah tradisi keseharian masyarakat Islam. 

Ketiga, Islam memerintahkan negara menerapkan aturan Islam. Penerapan aturan Islam oleh negara ini dipandang sebagai ibadah yg diwajibkan. Islam memerintahkan penetapan sanksi yg tegas tanpa pandang bulu bagi yg terbukti bersalah.

Tidak lemah dan memudahkan grasi, dan tak mengenal kompromi dalam menjalankan hukum syariat terhadap para pengguna narkoba berupa sanksi ta’zir baik dicambuk, dipenjara atau sanksi ta’zir lainnya sesuai keputusan Qadhi.

Alhasil, harmonisasi ketiga unsur akan mencegah berulangnya kasus penyalahgunaan narkoba, sekaligus memutus rantai peredaran narkoba dalam berbagai macam bentuk.

Karena mulai dari indivudu rakyat, masyarakat, pejabat dan penguasa (negara) semua menjadikan ketakwaan sebagi perisai, syariat sebagai tolok ukur. Semua bersinergi dalam meraih ridlo Allah dan keberkahan Untuk negeri.  Menjauhkan diri dan negara dari sekulerisme-liberalisme yg terbukti merusak dan menyengsarakan manusia.

Mekanisme ini hanya dapat diterapkan jika Islam dijadikan pedoman dalam kehidupan termasuk bernegara. Allahy a'lam.


 Dukungan pada Fashion Show Umbar Aurat dan Penolakan pada Gelaran Pendidikan Akhlak Generasi di Kota Santri

Dukungan pada Fashion Show Umbar Aurat dan Penolakan pada Gelaran Pendidikan Akhlak Generasi di Kota Santri



Prita HW – 

(Momwriter dan blogger, penulis buku “Bangga Menjadi Jember People”)


Jember kembali ramai dengan beberapa perhelatan. Seteleh menjadi tuan rumah PORPROV beberapa waktu lalu, baru-baru ini juga digelar malam final Gus dan Ning Jember yang diadakan dengan panggung dan tata lampu mewah di alun-alun Jember, persis satu area dimana Masjid Agung Al Baitul Amien yang iconic berada (18/07). 

Tak disangka, kontes ajang kecantikan dan adu ketampanan untuk memilih duta wisata Jember itu menuai kritik yang keras dari kalangan masyarakat, terutama kalangan santri dan pengasuh pesantren. Kritik pertama yang kemudian ramai di media pada 19 Juli lalu datang dari Kyai Abdur Rohman Luthfi, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

Keterkejutan itu bermula saat ada fashion show perform yang mempertontonkan pakaian tembus pandang, semi transparan yang memperlihatkan lekuk tubuh wanita dengan maksimal. Menurutnya, seperti yang dilansir dari suaraindonesia.co.id, ajang yang mungkin awalnya bertujuan baik justru menjadi ajang maksiat, dan ini merupakan kemerosotan moral. 

Kekecewaan juga datang dari Gus Firjaun seperti yang dilansir dari media yang sama. 

Sementara itu, ramai diberitakan pula beberapa waktu lalu, kedatangan Ustadz Hanan Attaki (UHA) dalam tajuk Konser Langit dibatalkan dengan alasan latar belakang personal UHA yang diduga merupakan eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Jelas, ini bukan alasan yang masuk akal. Sebab, jika merujuk pada harapan tokoh pesantren yang dengan keras mengecam pertunjukan umbar aurat di ajang pemilihan Gus dan Ning Jember 2022, pemerintah harusnya memberikan edukasi yang mendidik, bukan justru sebaliknya. 

Konser Langit dengan mendatangkan UHA sebagai guest star utama merupakan salah satu langkah strategis yang seharusnya didukung pemerintah. Sebab mendekatkan ilmu agama kepada generasi muda harusnya sejalan dengan misi kalangan pesantren dalam mendidik akhlak. 

Kemanakah Arah Identitas Jember Tercinta?

Jember yang merupakan kota dengan pesantren terbanyak di Jawa Timur memang lekat dengan citra sebagai kota santri. Bahkan, sebutan yang seharusnya diperuntukkan saat menyebut putra dan putri pemilik pondok pesantren yaitu Gus dan Ning diambil sebagai sebutan bagi para duta wisata. 

Pertanyaannya, akan kemanakah arah kota santri ini? Terlebih, kalangan yang kontra dari kalangan muslim di Jember sendiri memang sangat santer terhadap salah satu case yang terjadi di panggung malam final Gus dan Ning 2022 lalu. 

Semua menganggap pertunjukan itu memalukan dan bahkan mencoreng citra Jember sebagai kota religius. 

Bila ajang-ajang serupa disebar luaskan, dan terutama terus didukung pemerintah, bisa ditebak, Jember sedang menuju pada perubahan identitas secara besar-besaran. Kecaman dan ungkapan kekecewaan tentu tak cukup untuk menjaga generasi dari paparan degradasi moral yang jauh dari nilai-nilai agama Islam. 

Sebagai seorang praktisi pendidikan, saya sendiri terus terang sangat menyayangkan sikap Pemkab Jember yang malah tidak mendukung event yang justru akan menjadi counter dari degradasi moral itu sendiri. 

Semoga tak hanya kecaman dan kekecewaan saja yang muncul terhadap event-event serupa yang digelar hanya untuk umbar aurat dan menyuburkan kemaksiatan. Lebih dari itu, diperlukan dukungan dan kebijakan yang tegas untuk menyikapi berbagai langkah yang menjadikan Jember sendiri kehilangan identitasnya sebagai kota santri.  


Busana Terbuka pada Ajang Pemilihan Gus Ning Jember, Bukti Jember Makin Liberal

Busana Terbuka pada Ajang Pemilihan Gus Ning Jember, Bukti Jember Makin Liberal



Oleh:

Ayu Fitria Hasanah S.Pd

(Pengamat pendidikan dan sosial budaya)


Warga Jember dihebohkan dengan salah satu pertunjukan fashion pada ajang pemilihan Gus Ning Jember 2022, pasalnya terdapat peserta fashion show yang merupakan calon ning menggunakan busana seksi dan terbuka. Seperti yang diketahui bahwa Gus dan Ning yang terpilih selanjutnya akan menjadi duta daerah, tentu bukan hanya mempromosikan berbagai wisata daerah, tetapi kostum fashion yang dikenakan oleh calon duta juga menjadi cerminan nilai-nilai dan budaya daerah tersebut.

Jember sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius bahkan dikenal sebagai salah satu kota santri di Jawa Timur menjadi dipertanyakan komitmennya dalam menjaga nilai-nilai religius/agama yang sudah tertanam kuat di masyarakat. 

Meski telah ada permohonan maaf dari pihak penyelenggara, masalah ini tidak dapat diabaikan. Keberanian para kontestan tampil dengan busana terbuka, dan diamnya para tamu undangan dalam menyaksikan fashion show tersebut hingga selesai menunjukkan bahwa nilai-nilai liberal (kebebasan, nilai-nilai barat) telah semakin kuat menyerang Kota Jember dan warganya. Karena itu, masyarakat tak cukup sekedar mentolerir masalah tersebut sebagai salah satu kesalahan akibat kurang kontrol terhadap kostum, tetapi harus menyadari adanya pergeseran nilai-nilai dan standart di tengah kehidupan masyarakat, yang harusnya berpegang teguh pada standart agama bergeser mengadopsi nilai-nilai liberal ala Barat. 

Umumnya atas alasan mengikuti modernisasi, meraih kemajuan dan kepopuleran masalah busana terbuka dianggap bukan bentuk peyimpangan atau pelanggaran, melainkan dianggap sebagai perkembangan fashion atau mode terkini, meski jelas melanggar syariat Islam atau nilai-nilai religius yang telah dijunjung tinggi sebelumnya. Sebaliknya penolakan terhadap modernisasi dan kemajuan semacam itu dianggap sebagai bentuk ketertinggalan dan penyebab daerah tak mampu bersaing di kancah nasionl atau pun internasional.

Narasi atau persepsi semacam ini sangat berbahaya jika terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, karena hanya akan semakin menjauhkan masyarakat dari prinsip-prinsip keyakinan, standart halal haram dan justru beralih pada kebanggaan mengambil budaya-budaya Barat atau liberal yang sejatinya bertentangan dengan agamanya.

Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk berpikir benar dan kritis dalam mendefinisikan kemajuan. Pilihan mode/gaya busana yang terbuka bukanlah lambang kemajuan ataupun sesuatu yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan prestis daerah, mode busana terbuka justru akan menimbulkan kemudhorotan, mengundang murka Allah dan menjadi teladan yang tidak baik bagi masyarakat.

Sehingga bahaya jika mode busana yang terbuka justru dijadikan kostum yang dipertunjukkan. Selain itu, masyarakat perlu kembali menguatkan identitasnya sebagai masyarakat religius yang bangga dengan nilai-nilai agama dan menguatkan kembali persepsi kemajuan, martabat/kehormatan bahwa hal itu hanya dapat diraih dengan sikap bangga memegang teguh prinsip-prinsip keyakinan dan standart halal haram, tidak membebek pada budaya-budaya bebas ala Barat.

Pagelaran Umbar Aurat di Panggung Gus-Ning : Mencoreng Citra Jember Sebagai Kota Santri!

Pagelaran Umbar Aurat di Panggung Gus-Ning : Mencoreng Citra Jember Sebagai Kota Santri!

 


Oleh : Ning Hari W 


Acara tahunan pemilihan duta wisata Gus dan Ning 2022 telah mencapai puncaknya, setelah melakukan perjalanan panjang ajang pencarian duta wisata Gus dan Ning Jember 2022.

Pencarian duta wisata ini diikuti oleh 117 peserta yang mendaftar pada awal April 2022, terdiri dari 48 Gus dan 69 Ning yang kemudian mengikuti serangkaian seleksi selama 3 bulan dan diperoleh 10 besar Gus dan Ning Jember yang berhasil melaju ke tahapan Grand Final.

Puncak pemilihan duta wisata Gus dan Ning Jember 2022 diselenggarakan di alun-alun Jember, Senin (18 Juli 2022). Acara tersebut berlangsung meriah dan dihadiri oleh Bupati Jember, tokoh masyarakat dan tak luput warga masyarakat yang didominasi para milenial Gen z.

Namun acara tersebut mengundang kontroversi antar warga Jember, saat panitia menampilkan fashion show dengan bahan busana transparan sehingga memperlihatkan bagian aurat si peraga busana yang tak layak dipertontonkan dihadapan publik. 

Penampilan busana fashion show ini telah mencemarkan nama kabupaten Jember yang berpredikat sebagai kota santri. 

Event ini merupakan yang kedua kalinya menampilkan hal tidak senonoh di hadapan publik yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember. Masih ingatkah Event tiga tahun yang lalu? Jember Fashion Carnaval (JFC) yang mendatangkan bintang tamu Cinta Laura Kiehl dengan busana yang mempertontonkan aurat. Kemarin terulang kembali di acara pemilihan duta wisata Gus dan Ning. Apakah ini memang dirancang untuk harus buka-bukaan aurat demi untuk menarik wisatawan yang datang ke Jember?

Inilah sederetan potret di sistem sekuler liberalis. Dimana sistem ini memegang tiga prinsip utamanya : kebebasan, individualisme, dan rasionalisme. Semuanya menunjukkan ketidaksiapan untuk terikat dengan ajaran agama, bahkan menentang ajaran agama.

Hal ini menunjukkan adanya kemerosotan aqidah dan moral, maka harus ditindak secara serius dalam menangani kasus ini, tidak cukup hanya minta maaf atas kelalaian yang terulang kedua kalinya.


Bagaimana Pandangan Islam Tentang Aurat?

Aurat adalah anggota tubuh yang tidak boleh ditampakkan dan diperlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain. Menutup aurat hukumnya wajib bagi seorang muslimah. Namun, bagaimana batasan aurat wanita dalam syariat Islam?

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “…Dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalan sekian dan sekian.”

Disinilah kita melihat dengan jelas akan kebijaksanaan hukum islam dalam meminta seorang perempuan untuk memakai pakaian yang sopan dan tertutup (berhijab), yang menutupi seluruh tubuhnya yaitu dengan tidak menggunakan pakaian yang ketat atau transparan. Perempuan hanya diperbolehkan untuk memperlihatkan wajah dan telapak tangannya.

Begitulah Islam sangat memuliakan wanita dengan mewajibkannya menutup aurat. Maka sudah jelas bahwa pakaian sopan dan tertutup adalah pencegahan paling baik dari hukuman di dunia, yakni ia tak mengumbar auratnya di ruang publik. Hal ini lantaran dapat mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.

Maka, kejadian beberapa hari lalu seolah-olah merusak jati diri Kabupaten Jember. Jember yang terkenal sebagai kota santri, ribuan pondok pesantren, ribuan alim ulama, termasuk Wakil Bupati adalah seorang ulama, telah tercemar gara-gara ada umbar aurat.

Sungguh tidak pantas dinikmati khalayak umum event pemilihan Gus dan Ning yang diselipi dengan fashion yang mengumbar aurat. Apalagi yang menonton generasi milenial. Mau dijadikan apa generasi kita kalau yang ditonton seperti itu?

Semoga kejadian ini tidak akan terulang kembali untuk yang kesekian kalinya.


Wallaahu a'lam bi ash-shawwaab.

 GRAND DESIGN KAPITALIS ATAS POTENSI PEMUDA

GRAND DESIGN KAPITALIS ATAS POTENSI PEMUDA



Oleh. Isnani Zahidah


#InfoMuslimahJember - Pemuda adalah aset penting bagi suatu negara. Sepanjang sejarah manusia, pemuda menjadi tonggak utama peradaban yang senantiasa memikirkan dengan sungguh-sungguh, menggerakkan, dan memimpin umat kepada suatu perubahan untuk kondisi yang lebih baik. Besarnya jumlah pemuda di seluruh dunia (satu dari lima orang penduduk dunia berusia 10-19 tahun) menjanjikan suatu arus perubahan dengan pemuda sebagai pemimpinnya. Mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan dan pernah menjadi SEkjen PBB periode 2007-2016 Ban Ki Moon mendefinisikan pemuda dengan kalimat, “Pemuda lebih dari sekedar bonus demografi. Pemuda memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan”.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,19 juta jiwa atau 24,02% dari total penduduk yaitu satu di antara empat orang Indonesia adalah pemuda. Tak berlebihan jika peran sentral mereka diatur pemerintah dalam Undang-undang nomor 40/ 2009 tentang Kepemudaan.  

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan pemuda menjadi salah satu kunci sukses dalam memanfaatkan bonus demografi. “Sebagai  generasi penerus bangsa, pemuda harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, karakter, dan jiwa patriotisme,” ujarnya saat menjadi pembicara pada Dialog Nasional Pemuda Tahun 2020 yang digelar secara daring oleh Bappenas, Senin (26/10). Menurut Muhadjir, hal itu sangat diperlukan sehingga pada tahun 2030 mendatang Indonesia benar-benar akan mencapai bonus demografi. Harapannya, jumlah angkatan kerja yang nanti diprediksi mencapai 71% akan diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing.


Rancangan Induk Potensi Pemuda

Pada dasarnya negara pengemban sistem kapitalisme rentan terjdi krisis moneter. Dalam system ekonomi kpitalis krisis moneter bisa terjadi secara periodik. Ditahun 2008 Amerika serikat telah mengalami krisis keuangan yang serius hingga menjadikan perekonomian AS lumpuh. Tidak hanya itu ditahun 2012 Eropa turut mengalami krisis yang parah seperti yang dialami AS. Akibat dari adanya krisis ini adalah merosotnya daya beli masyarakat AS dan Eropa yang mengakibatkan barang-barang industri tersebut harus segera di ekspor ke negara lain. Asia (China, India, dan Indonesia) adalah pasar yang menggiurkan karena petumbuhan ekonominya yang tinggi. Disamping itu negara-negara tersebut memiliki jumlah penduduk besar sehingga berpeluang untuk menjadi pasar bagi produk-produk AS. Demi kepentingan ini, Amerika memimpin upaya pemetaan pemberdayaan pemuda yang diaruskan secara global melalui PBB. Amerika memberikan perhatian khusus pada Indonesia terutama karena Indonesia akan memperoleh bonus demografi.

Agenda Pemerintah Internasional dan Nasional terhadap pemuda di berbagai negeri muslim khususnya Indonesia. Agenda kontra-radikalisme terhadap pemuda Muslim dengan Pencegahan ekstrimisme Kekerasan (PVE) dengan beberapa program: 1). Pemerintah menetapkan regulasi PERPRES No.7 RANPE tahun 2021  tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024. 2). kurikulum pendidikan & pelaku Usaha (MBKM, pesantren, digitalisasi madrasah; sekuler & pembajakan peran), 3). Youth empowerment-pemberdayan ekonomi, perdamaian, SDGs , 4). masyarakat- moderasi & budaya, 5). media (inklusif anti hoax (narasi radikal) dengan menciptakan berita yang nyaman kondusif anti hoax, salah satunya dengan narasi radikal dari sudut pandang penguasa, 6). Identitas dan peran baru “ala barat” bagi pemuda muslim-duta sekuler individualis, liberal, materialistis, jauh dari agama/identitas hakiki 

Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme tahun 2020-2024 (RAN PE). Perpres itu ditandatangani Jokowi pada 6 Januari 2021 dan resmi diundangkan sehari setelahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah menyusun serangkaian strategi, salah satunya fokus pada peningkatan efektivitas kampanye pencegahan ekstremisme di kalangan kelompok rentan (kontra radikalisasi). Dalam upaya ini, pemerintah melibatkan sejumlah pihak, mulai dari tokoh pemuda, agama, adat, tokoh perempuan, media massa, hingga influencer media sosial. Alasan dilibatkannya sejumlah pihak ini yakni belum optimalnya partisipasi tokoh pemuda hingga influencer media sosial, termasuk mantan narapidana teroris, dalam menyampaikan pesan pencegahan ekstrimisme. Merujuk pada Perpres, pihak-pihak tersebut nantinya akan ikut menyampaikan pesan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, baik melalui produksi konten internet maupun kampanye kreatif daring dan luring.

Terkait dengan pemberdayaan bonus demografi, salah satu alat ukur untuk menilai kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia, ungkap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ialah melalui Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Penilaian IPP didasari atas 15 indikator yang masing-masing dikelompokkan dalam lima domain yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

“Capaian IPP kita masih sangat rendah, hanya 51,50 pada tahun 2018. Bahkan di 2017 sebelumnya, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-7 untuk Youth Development Index (YDI) Asean yang artinya kita hanya lebih baik dari tiga negara yaitu Thailand, Kamboja, dan Laos,” ungkap Menko PMK. Kendati demikian, menurutnya pembangunan pemuda tentu tidak hanya terkait dengan IPP namun juga dalam rangka pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goal’s (SDG’s) yang sudah dicanangkan melalui Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015. Ini sejalan dengan UU kepemudaanyang dijadikan  acuan untuk mengarahkan potensi kebangkitan pemuda, agar tidak bergerak liar dalam merespon krisis multidimensi yang membelenggu negeri ini. UU Kepemudaan memberi garis tegas tentang target pembentukan kesadaran pemuda. Agenda penyadaran pemuda (Pasal 1Ayat 5)adalah kegiatan yang diarahkan untuk memahami dan menyikapi perubahan lingkungan. Upaya perubahan lingkungan ini kemudian dirinci dalam UU NO 41 Tahun 2011 pasal 28 Ayat 2 yaitu memahami dan menyikapi perubahan lingkungan strategis,  baik domestik maupun  global serta mencegah dan menangani risiko. Artinya, kesadaran pemuda harus sejalan dengan keberlangsungan agenda global di Indonesia

Demikianlah, arah pemberdayaan pemuda telah dirancang PBB dan diratifikasi oleh penguasa. Pemuda hanya dibaca dari nilai ekonominya semata. Pemuda telah dikorbankan menjadi mesin penyelamat ekonomi kapitalis. Hasilnya, pemuda menjadi generasi yang cuek dan permisif. Di sisi lain, pemuda juga dipapar gaya hidup liberalis, konsumeris, dan hedonis. Sementara, segelintir pemuda yang belum terlalu hanyut dalam gaya hidup hedonis dankonsumeris mendapat pemahaman mengenai HAM, multikulturisme, pluralisme, dan sebagainya dalam pendidikan yang justru kian menggerus aqidah. Pemuda, sadar atau tidak telah dijauhkan dari aqidah yang hakiki dan ‘dipaksa’ meyakini demokrasi-nasionalisme yang sebenarnya tak lebih dari alat Barat untuk melegalkan penjajahannya di negeri-negeri berkembang. Bisa dibayangkan, generasi Indonesia kedepan akan menjadi generasi yang cuek pada aqidah dan persoalan umat, pragmatis, sertaliberalis.


Visi Islam Untuk Pemuda Islam

Sangat penting untuk mendesain karakter pemuda agar potensinya yang sangat besar tidak dimanfaatkan sebagai penyelamat ekonomi kapitalisme. Penting untuk mengideologisasi gerakan pemuda agar dapat mewujudkan perubahan hakiki yang dilandasi oleh Islam.Hal ini sangat bergantung dengan taraf berfikir yang dimiliki oleh pemuda, dan taraf berfikir pemuda ini sangat ditentukan oleh bagaimana kebijakan negara dalam membentuk sistem yang terpadu dalam pemberdayaan potensi pemuda. Arah kebijakan suatu negara tersebut sangat ditentukan oleh ideologi yang dianutnya. Adapun hal yang bida dipahamkan atas pemuda dan masyarakat adalah:

1. Posisi penting pemuda dalam islam sebagai agen dalam perubahan 

2. Kepribadian islam pemuda (Pemuda besar dalam sejarah Islam – kepribadian, kualitas, dan apa yang mereka capai untuk Islam. Mereka adalah pelopor sejati Islam dan pelopor perubahan nyata.

3. Membekali mereka mampu melawan serangan-serangan musuh merusak dan membajak perannya;  keyakinan agamanya, kesadaran yang kuat akan kematian dan ahkirat, kesadaran akan kepalsuan dan bahaya dari ide-ide dan sistem liberal sekuler dan konsep-konsep non-Islam lainnya yang mengelilinginya, untuk menjadi pemimpin bukan pengikut, membangun rasa tanggung jawab terhadap ummat dan din, mencari teman yang baik, membangun konsep haya’ (malu), bangga dengan budaya dan sejarah Islam, dll 

Semoga kerja ini segera terealisasi dengan izin dan pertolongan Allah SWT.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan mengerjakan amal shalih bahwa sungguh Ia akan menjadikan  mereka berkuasa di bumi sebagaimana  Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Ia ridhai. dan Ia benar-benar mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan  menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahKu dan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatupun. tetapi barangsiapa yang kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”[]


  


Mencari Solusi Hakiki Konflik Palestina

Mencari Solusi Hakiki Konflik Palestina

 



oleh : Faiqoh Himmah*)

Lagi-lagi pasukan Israel menyerang muslim Palestina yang tengah melakukan ibadah di Masjidil Aqsha. Tanpa mengindahkan bulan Suci Ramadhan yang dihormati umat Islam, pasukan Israel menggeruduk dan menembakkan gas air mata pada jama’ah sholat shubuh, Jumat (15/04). Sekitar 150 warga Palestina dilaporkan terluka.

Ketegangan terus berlanjut. Polisi Israel menggunakan granat kejut dan peluru karet untuk mengintimidasi pengunjuk rasa (muslim yang beribadah di Masjidil Aqsha). Selasa (19,04) Israel melancarkan serangan udara ke kota Khan Younis, di wilayah selatan Jalur Gaza. Ledakan besar terlihat di pangkalan militer Hamas.

Bagaimana respon dunia? Seperti biasa, dunia hanya mengecam tanpa melakukan aksi nyata. Komite Arab Regional (yang terdiri dari Negara-negara yang melakukan normalisasi dengan Israel) mengadakan pertemuan darurat di Yordania, mereka mengutuk kekerasan Israel. Erdogan dikabarkan menelepon Presiden Israel dan menyatakan kekecewaan atas kekerasan pasukan Israel. Begitu pula menteri luar negeri UEA menelepon menlu Israel, AL Nahyan menyerukan stabibilitas. Lima negara Eropa (Irlandia, Prancis, Estonia, Norwegia, Albania) anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan bentrokan di Yerusalem dihentikan.

Sementara itu menteri luar negeri AS, mendesak Israel dan Palestina untuk menahan diri. Dalam pembicaraannya dengan Yair Lapid, Menlu Israel, Blinken menegaskan komitmen AS terhadap keamanan Israel. Sementara itu kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas, BLinken menyatakan komitmen AS untuk meningkatkan kualitas hidup warga Palestina. Blinken mendesak solusi dua Negara.

Perebutan Tempat Suci?

Dalam pernyataannya, menlu AS, Blinken menegaskan keharusan Israel dan Palestina menghormati kesepakatan atas status quo tempat suci. Bahwa otoritas kerajaan Yordania memiliki kekuasaan dalam menjaga tempat suci di komplek Al Aqsha.  Begitu pula Rusia dan Negara-negara lain. Sementara itu, PM Palestina menyatakan Al-Aqsha adalah milik dan hak umat Islam, tidak dapat dibagi-bagi.

Sebagaimana digembar-gemborkan media selama ini, konflik Israel – Palestina adalah konflik “abadi” karena terkait dengan keyakinan masing-masing agama akan tempat suci mereka. Akan tetapi, jika ditelaah secara mendalam, sejarah akan menunjukkan bahwa konflik Israel – Palestina adalah konflik yang tidak bisa dilepaskan dari situasi dunia pasca dihapuskannya Khilafah Utsmani sebagai kekhilafahan Islam.

Palestina adalah salah satu wilayah kekuasaan Khilafah Islam. Palestina ditaklukkan pada masa KHalifah Umar Bin Khaththab secara damai. Tanah Palestina adalah tanah Kharajiyah milik kaum muslimin. Selama berabad – abad, umat Islam dan Kristen yang tinggal di Palestina berada dalam pengasuhan Khilafah. Mereka hidup secara damai. Hingga tiba masa kelemahan Daulah Utsmani (Barat menyebutnya Ottoman Empire), ketika Daulah Utsmani terjebak pada Perang Dunia II dan mengalami kekalahan. Sebagian besar wilayah Daulah Ustmani kemudian berada di bawah kekuasaan Inggris. Termasuk Palestina.

Pada tahun 1917, Inggris dan Prancis membidani lahirnya “Negara” Yahudi yang disahkan dalam perjanjian Balfour. Kedua Negara tersebut memberikan dana dan senjata besar-besaran demi terwujudnya Negara Israel. Palestina, sebagai bagian dari Timur Tengah berada di pusaran konflik kepentingan dan penjajahan Barat. Seiring perubahan situasi politik dunia dengan kemunculan AS sebagai pemain penting, demi mengamankan kepentinganya di Timur Tengah, AS ikut menaruh “saham” atas Negara Israel. Bahkan lebih besar daripada para pendahulunya.

Pada tahun 1947, PBB mengeluarkan resolusi yang membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian. Sebagian besar diserahkan kepada Israel. Selanjutnya Yahudi mendeklarasikan berdirinya “Negara” Israel pada tahun 1948. Sebuah “Negara” yang berdiri dengan pengusiran dan pembantaian terhadap penduduk Palestina. Barat, yang dipimpin oleh AS mengakui dan menjamin dukungan penuh atas Negara Israel. Padahal mereka sangat getol mengkampanyekan HAM.

Ketika Iraq menginvasi Kuwait, AS menjadikan alasan untuk menyerang Iraq, mengakibatkan Negara itu luluh lantak hingga hari ini. Begitu juga saat ini ketika Rusia menyerang Ukraina, AS dan Negara-negara Barat langsung mengambil tindakan, bukan sekedar kecaman. Mulai dari Embargo terhadap Rusia hingga dukungan persenjataan untuk Ukraina. Tapi, mengapa hal demikian tidak pernah terjadi atas Palestina? Padahal kekejian Israel telanjang dipertontonkan pada dunia. AS justru secara terbuka tanpa malu menunjukkan keberpihakannya pada Israel. Apa yang menyebabkan sikap ganda ini?

Di satu sisi, penguasa – penguasa Timur Tengah tampak mesra berhubungan dengan AS. Padahal nyata-nyata AS berada di pihak Israel yang membantai saudara-saudara mereka di Palestina. Penguasa – penguasa timur tengah yang memiliki kekayaan minyak dan kekuatan militer seolah tak mampu menghentikan kekejaman Israel, sebuah Negara kecil yang baru berdiri.

Jika dikaji secara jernih dan mendalam, konflik yang terjadi di Palestina (sebagai bagian dari Timur Tengah), tidak lepas dari sejarah panjang upaya Barat untuk meruntuhkan Daulah Khilafah, sebagai representasi ideologi Islam.  Masalah Timur Tengah memrupakan masalah yang terkait dengan Islam dan bahayanya bagi Barat. Letaknya yang stratetis dengan kekayaan alam yang melimpah, terutama minyak telah membangkitkan kerakusan AS dan Barat. Negara Yahudi, sengaja ditanam untuk menimbulkan ketidakstabilan di kawasan tersebut, sehingga Timur Tengah selalu berada dalam permainan dan kendali Negara-negara Barat.

Dalam Alquran surat Ali Imran ayat 118, Allah SWT berfirman :

“Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.”

Solusi Hakiki untuk Palestina

Menilik akar masalah konflik Palestina, bahwa bukan sekedar perebutan tempat suci, akan tetapi adanya penjajahan dan kepentingan Barat atas Islam dan Timur Tengah seacara umum, solusi hakiki untuk Palestina adalah mewujudkan adanya kekuatan yang mampu menyaingi dan menghentikam hegemoni Barat.

Umat Islam tidak bisa berharap pada penguasa – penguasa negeri- negeri muslim meski mereka memiliki kekuatan militer dan SDA, karena faktanya, mereka adalah pelayan kepentingan Barat. Tidak punya nyali untuk independen dan membela saudara seiman mereka di Palestina.

Umat juga tidak bisa berharap pada perundingan dan perjanjian – perjanjian damai atau sejuta deklarasi dan kecaman, karena faktanya itu semua hanya berakhir di atas meja dan tidak sedikitpun membuat Israel gentar.

Satu – satunya yang harus umat lakukan adalah mewujudkan kekuatan independen berbasis pada ideology Islam, dengan menjadikan aqidah islam sebagaia asas dan pemersatu, lalu dengannya umat mewujudkan kekuatan dalam bentuk sebuah Negara yang berlandaskan pada syariah Islam, dengannya Jihad diserukan untuk mengusir Israel dari tanah Palestina dan mengakhiri hegemoni Barat di Timur Tengah dan dunia seacara umum. Hegemoni Barat inilah yang telah menciptakan penderitaan di dunia. Dengannya hukum – hukum syariat terhadap non muslim ditegakkan, yang terbukti mencipatakan harmoni selama berabad - abad.

Tidakkah ini adalah kekuatan yang seimbang dan jawaban atas rasa kemanusiaan kita?

Wallahu a’lam bish showab.

*) Pemred Info Muslimah Jember