Kamis, 15 Agustus 2019

SUAMI ISTRI BERTENGKAR, SIAPA YANG HARUS MENGALAH?


[KELUARGA SAKINAH]

*SUAMI ISTRI BERTENGKAR, SIAPA YANG HARUS MENGALAH?*

Oleh : Faiqoh Himmah

Rumah tangga mana yang sepi dari masalah? Rumah tangga siapa yang nyaris tak ada persoalan? Rasa-rasanya tak ada. Bahkan tak mungkin ada. Karena rumah tangga yang paling mulia saja, yakni Rasulullah saw dan para istrinya pun pernah mendapatkan ujian.

Begitu juga pertengkaran, atau perdebatan antara suami istri, adalah hal yang “biasa” selama bisa disikapi dengan benar.

Seperti kata pepatah, tidaklah mudah menyatukan dua kepala. Dua pribadi dengan latar belakang berbeda. Dua selera. Dua karakter.

Ketika pertengkaran terjadi, siapakah yang harus mengalah? Apakah selalu harus istri yang meminta maaf? Apakah hal itu (meminta maaf) adalah “haram” bagi suami?

Logika manusia bisa saja berpendapat, suami sebagai pihak yang lebih dewasa dan bijak, haruslah mampu memaafkan. Mampu mengalah.

Namun di dalam Islam, istri haruslah taat pada suami dan mencari keridloannya. Bukankah Rasulullah saw bersabda, “Suamimu adalah surgamu atau nerakamu.”

Di tengah kebuntuan? Antara ego dan tuntunan Islam. Adakah jalan keluar?
Sungguh, Islam adalah jalan keluar yang hakiki. Ada konsep mendasar yang tidak banyak dipahami oleh pasangan yang berumah tangga. Wajar karena, selain jarang mendapat tempat di media. Konsep Islam tentang rumah tangga adalah salah satu yang paling banyak diserang oleh ide feminisme. Sehingga jarang umat Islam memahaminya.

*Suami Istri = Sahabat*

Pertama perlu dipahami bahwa hubungan suami istri dalam Islam adalah hubungan persahabatan. Bukan mitra kerja.

Suami adalah qawwam (pemimpin) namun kepemimpinan suami bukanlah kepemimpinan yang otoriter.
Kepemimpinan suami adalah kepemimpinan yang "ma'ruf".

Seperti perintah Allah di Al Quran :
وعاشوا هن بالمعروف...

Dan hendaklah (para suami) mempergauli mereka (para istri) dengan ma'ruf...

Ma'ruf disini, artinya adalah bergaul dengan penuh persahabatan, kelemahlembutan, cinta, kasih sayang, tolong menolong, memahami, peka, meringankan... dll

Sehingga terciptalah sakinah.

Dalam ayat lain, bahkan Allah menegaskan hak para istri atas suaminya.

وَلَهُنَّ مِثلُ الَّذِي عَلَيهِنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.”

Sahabat Ibnu Abbas ra., menyatakan : aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka meminta dia berhias untukku.

Hal ini karena sahabat Ibnu Abbas ra memahami ayat di atas.

Rasulullah saw pun telah memberikan banyak teladan, bagaimana bergaul dengan para istri beliau. Sungguh beliau bukanlah qawwam yang otoriter yang menggunakan ayat-ayat Alquran sebagai “senjata” untuk mengalahkan atau menundukkan para istri beliau.

Namun sungguh beliau telah memahamkan Alquran itu, dan mendidik mereka dengan cara yang sangat ma’ruf.

Bergaul secara ma’ruf ini bukanlah tentang karakter romantis atau tidak, tapi tentang kewajiban suami...

Sementara itu kewajiban istri adalah mencari ridlo suami dan taat pada hal-hal yg diperintahnya (selama tdk melanggar syariat).

Istri perlu memahami bahwa suaminya memiliki hak yang sangat besar atasnya.

Rasulullah saw bersabda, _“Di antara hak suami adalah seandainya dari hidungnya mengalir darah dan nanah, lalu istrinya menjilatinya, yang demikian itu belum cukup menunaikan hak-haknya. Seandainya seseorang diperbolehkan bersujud kepada sesamanya, aku pasti akan memerintahkan istri  bersujud kepada suaminya ketika dia masuk ke rumahnya karena Allah mengutamakannya atas istrinya.”_

Syaikh Nasi Asy-Syafi’i dalam kitabnya As’adu Zawjatin Fil Alami, menyakatan : Dengan demikian taat kepada suami adalah puncak ibadah. Apabila Anda melakukan segala kebaikan, tetapi Anda durhaka pada suami, Anda tidak akan mendapat wangi surga.

Wahai para istri... tidakkah kita menangis membaca ini?

*Istri Adalah Kelembutan*

Berumah tangga adalah berinteraksi setiap saat dengan pasangan kita. Karenanya, selain ilmu tentang hukum-hukum Islam dalam rumah tangga,  suami istri juga perlu belajar memahami karakter satu sama lain. Agar dapat  berkomunikasi dengan tepat.

Sehingga tercipta hubungan yang saling memahami, bukan menuntut. Apalagi menuntut (dengan emosi) menggunakan dalil-dalil... Yang terjadi justru “perang dalil” dengan dibimbing syaithon, bukan cahaya ilahi.

Dan perlu kita pahami bahwa Islam menghendaki kita (para wanita) sebagai sumber kasih sayang dan kelemahlembutan.

Rasulullah saw bersabda, _“Istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga adalah yang penuh kasih sayang, subur dan dekat dengan suaminya. Jika suaminya marah, ia datang dan meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, ‘Aku tidak bisa tidur hingga engkau ridlo terhadapku’.”_

Artinya, banyak mendekat dan meminta maaf pada suaminya.

Hadist itu bukan mau merendahkan wanita atau bentuk diskriminasi/ketidakadilan bagi wanita.

Tp hadist itu.. menegaskan bahwa sifat wanita yang hakiki adalah lemah lembut dan lapang hatinya.

Dan kelemahlembutannya inilah yang akan membuat "suami takluk" padanya.
Banyak testimony dari para istri... bahwa ketika mereka menggunakan cara-cara lembut, mengalah, menunjukkan rasa cinta... suami menjadi lebih paham apa yg diinginkan wanita dan menjadi bersikap lebih baik.

Sayangnya... karakter hakiki wanita ini seolah sangat sulit kita wujudkan. Di tengah derasnya ide gender dan feminisme, sifat lemah lembut itu menjadi terkikis. Menjadi kompetisi dalam kesetaraan. Bukan sifat penyayang dan pemaaf,  yang ada adalah harga diri sebagai istri. Suami disayangi hanya sebatas materi.

Padahal sejatinya, berumah tangga adalah salah satu ibadah. Tujuannya hanya satu : mengharap ridlo Allah.

Dan ketaatan istri pada suaminya, bukanlah bentuk merendahkan diri di hadapan suami, namun ketinggian kedudukannya di hadapan Allah.  Karena Allah-lah yang memerintahkannya. Dia.. adalah Dzat yang Maha Adil, Maha Sempurna.

Semoga Allah lapangkan urusan keluarga kita, membukakan jalan keluar dengan jalan Islam. Dan menjadikan keluarga kita, jalan menuju jannah-Nya.
Wallahu a’lam.[]

===
INFO MUSLIMAH JEMBER
_Inspirasi Wanita Sholihah_

Senin, 12 Agustus 2019

HUKUM dan ADAB SEPUTAR IDUL ADHA


[KAJIAN FIQH] 
HUKUM dan ADAB SEPUTAR IDUL ADHA  

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Hari raya di dalam Islam selalu diawali dengan takbir, serta menampilkan suka dan bahagia kepada manusia, agar pria dan wanita bisa mereguknya, dari anak-anak hingga dewasa, semuanya bisa merasakannya. Itulah Hari Raya kita, diisi dan dipenuhi dengan tahlil dan takbir. Saat kita mengumandangkan adzan, kita bertakbir. Saat berdiri, kita pun bertakbir. Saat mengawali shalat, kita pun bertakbir. Saat menyembelih sembelihan, kita pun bertakbir. Saat bayi dilahirkan, kita pun bertakbir. Saat kita mengarungi peperangan, kita pun bertakbir. Saat Hari Raya tiba, kita sambut dengan takbir. Kita lantunkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lailaha Illa-Llah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wali-Llahi al-hamd.”

Itu semua untuk melaksanakan arahan Allah SWT, “Dan hendaknya Engkau sempurnakan bilangannya, dan Engkau agungkan Allah atas apa yang telah Dia anugerahkan kepadamu, dan agar kamu bersyukur.” [Q.s. al-Baqarah: 185].

Hari Raya mempunyai beberapa kesunahan dan adab. Yang paling penting adalah:
1- Mengumandangkan takbir: Disunahkan mengumandangkan dan memperbanyak takbir, sejak malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah. “Dan hendaknya Engkau sempurnakan bilangannya, dan Engkau agungkan Allah atas apa yang telah Dia anugerahkan kepadamu, dan agar kamu bersyukur.” [Q.s. al-Baqarah: 185]

2- Mandi besar dan memakai wewangian: Sebelum mengerjakan shalat Idul Adhha disunahkan untuk mandi besar. Memakai wewangian di seluruh tubuh, termasuk pakaian.

3- Memotong kuku tangan dan kaki: Ini bagian dari kesunahan yang diajarkan oleh Nabi saw.

4- Memakai pakaian terbaik: Disunahkan memakai pakaian yang paling bagus, dengan catatan tidak berlebihan, atau memaksakan diri. Nabi saw. mempunyai Hullah, sejenis pakaian dan sorban, yang dikenakan untuk dua Hari Raya, shalat Jum’at dan menemui delegasi yang datang menghadap baginda.

5- Tidak Makan sebelum berangkat: Ini merupakan kesunahan yang diajarkan oleh Nabi saw. saat Idul Adhha.

6- Shalat Idul Fitri dan Adhha di lapangan: Bukan di masjid, kecuali ada udzur, seperti hujan, suhu dingin yang luar biasa. Nabi saw. biasa mengerjakan shalat Idul Fitri dan Adhha di lapangan, yang sekarang dibangun Masjid Ghamamah, padahal shalat di Masjid Nabawi berpahala 1000, dibanding di luar Masjid Nabawi. Ini membuktikan kesunahan shalat di lapangan.

7- Wanita disunahkan mengikuti shalat Idul Adhha: Mereka disunahkan mengikuti shalat Idul Adhha di lapangan. Bahkan, wanita haid pun disunahkan hadir di lapangan, meski tidak mengikuti shalat, agar mereka bisa mendengarkan khutbah, bersama yang lain merayakan kebahagiaan, bertemu dan saling mengucapkan selamat Hari Raya. Bahkan, jika mereka tidak mempunyai jilbab, Nabi saw. menganjurkan wanita lain yang mempunyai jilbab untuk meminjami mereka.

8- Berangkat ke lapangan, dan kembali ke rumah melalui jalur yang berbeda: Tujuannya agar bisa mengucapkan salam kepada kaum Muslim sebanyak-banyaknya, dan menyampaikan selamat Hari Raya kepada mereka, serta doa keberkahan.

9- Mengucapkan Selamat Hari Raya: disertai doa, seperti, “Taqabbala-Llahu minna wa minkum.” Atau sejenisnya.

10- Menjauhkan diri dari Maksiat di Hari Raya: Seperti ikhtilath [campur baur pria dengan wanita], berdandan yang menarik perhatian lawan jenis [tabarruj], bernyanyi-nyanyi atau karaoke dan sebagainya..

11- Menjalin silaturrahim: Dalam hadits Shahih dinyatakan, “Siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan dengan dilapangkan rizkinya, dan dipanjangkan jejaknya, maka hendaknya menyambung kekerabatan.”

12- Menjalin Hubungan Baik dengan Tetangga: Mengeratkan hubungan dan ikatan hati sebelum menjabat tangan, agar bisa menjadi pengantar terwujudnya kerjasama dalam ketaatan dan takwa. Umat ini sangat membutuhkan kerjasama dalam ketaatan.

13- Menyembelih kurban: Disunahkan menyembelih kurban bagi yang mampu, bisa untuk diri sendiri, maupun satu ekor untuk satu keluarga. Waktunya bisa tanggal 10, hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam menyembelih kurban juga disunahkan untuk menjaga adab penyembelihan. Nabi saw bersabda, “Jika kamu menyembelih, maka berbuat ihsanlah dalam menyembelih sembelihanmu.” [Hr. Muslim]. Antara lain:

a- Agar pisau yang digunakan hendaknya tajam, sehingga tidak menyiksa hewan yang disembelih.
b- Tidak menyembelih hewan di depan hewan lain yang hendak disembelih, sehingga tidak menimbulkan stress.
c- Tidak menyeret, atau menyakiti hewan yang hendak disembelih, tetapi dituntun dan dibawa ke tempat penyembelihan dengan baik dan lembut.

14- Membagikan Daging Hewan Kurban: Menyembelih hewan kurban hukumnya sunah, dan merupakan bentuk shadaqah tathawwu’ [sedekah sunah]. Bukan shadaqah wajib [zakat]. Jika shadaqah wajib hanya boleh dilakukan oleh orang Islam, dan dibagikan kepada kaum Muslim, maka shadaqah tathawwu’ yang dilakukan oleh orang Islam, seperti penyembelihan kurban, boleh dibagikan kepada non-Muslim.

INI KEUTAMAAN PUASA ARAFAH BESOK


[KAJIAN FIQH]
INI KEUTAMAAN PUASA ARAFAH BESOK

Puasa Arofah adalah sunnah yang sangat di anjurkan pada tanggal 9 Dzulhijjah.  Tepat ketika jama'ah haji melakukan ibadah wukuf di arofah. 

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)

Jumhur ulama menjelaskan, dosa yang terampuni adalah dosa kecil (ash-shaghair). Adapun dosa besar (al-kabair) seperti zina, maka riba, sihir, dan lainnya mesti dengan taubat untuk menghapusnya, tidak cukup dengan melakukan amalan saleh semata. 

Namun Syaikhu Islam Ibnu Taimiyah masih berpendapat pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil dan dosa besar.

Disunnahkan bagi setiap muslim untuk semangat berdoa pada hari Arafah karena berharap doa-doanya diijabahi (dikabulkan), karena kondisi orang yang berpuasa juga adalah kondisi mustajabnya doa. Doa ketika berbuka puasa juga adalah doa yang lebih mudah untuk dikabulkan.

Kala Santri Hadang Liberalisasi


[SUARA MUSLIMAH] 
/ Kala Santri Hadang Liberalisasi /

Oleh: Wardah Abeedah

Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata "SANTRI"? Apakah sekumpulan anak muda bersarung, mendekap atau mengkaji kitab kuning, berwajah teduh dengan adab yang luar biasa tawadhu'?

Yah, begitulah sejatinya mereka para pembelajar tsaqafah Islam. Ilmu yang dipelajari, menghiasi akal dan laku mereka.

Tak hanya itu, tsaqafah Islam yang telah merasuk dalam pemikiran para santri telah membuahkan jiwa kemandirian, tegas menolak kebathilan, bahkan ketangguhan dalam memperjuangkan Islam.

Hajatan JFC (Jember Fashion Carnival) yang sudah 18 tahun ada baru usai digelar. Namun pakaian Ambassador baru JFC, Cinta Laura dan beberapa busana yang diperagakan menuai kontra di kalangan ulama dan santri. 

Tak ayal, MUI bersuara mengecam. Beberapa tokoh pesantren juga menyatakan menyayangkan aksi tersebut. Terlebih ajang JFC ditonton masyarakat dengan berbagai usia dan catwalk terpanjang di dunia, yakni tiga kilometer lebih jalanan kota Jember.

Sebuah pamflet berisi seruan ajakan aksi dari kalangan santri menyusul muncul di grup-grup facebook yang beranggotakan warga Jember. Tanpa rasa takut, para santri mengkritisi ajang yang konon diapresiasi dunia itu. Yang mengbah wajah Jember dari Kota Santri menjadi Kota Karnaval dunia.

Meski sudah sejak lama di kalangan akademisi muncul perbincangan soal JFC yang dicurigai berkaitan dengan semakin maraknya grup-grup waria dan gay di media sosial Jember. Juga meningkatnya angka HIV-AIDS di Kota santri ini. Apalagi di setiap event karnavalnya, memang selalu ramai pemuda-pemuda gagah berlipstik dan berhighheels. Hal ini pula yang dikhawatirkan akan semakin mengukuhkan tersebarnya nilai-nilai liberal di Jember. Apalagi tahun ini Jember memperoleh predikat teladan kota ramah HAM.

HAM yang kita tau selalu menjadi jalan masuknya L*BT, Ahmadiyah, dan perilaku menyimpang dari syariat lainnya. Hal ini jelas mengkhawatirkan bagi kondisi umat Islam di Jember.

Ya, salah satu tugas terbesar santri adalah mengamalkan ilmunya. Amar makruf nahi munkar adalah bagian terpenting dari pengamalan ilmu tersebut. 

===

Abu al-Lais al-Samarkandi dalam kitab Tanbih al-Ghafilin menjelaskan bahwa untuk menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dibutuhkan 5 hal, yang pertama beliau sebutkan adalah ilmu. Sedangkan para santri, mereka telah memiliki bekal penting dalam beramar makruf nahi munkar ini.

Dengan ilmu yang dimiliki, merekalah yang seharusnya menjadi penjaga masyarakat dari kefasadan. Termasuk kefasadan yang berupa faham dan budaya liberalisme, yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Bebas untuk berekspresi dan bertingkah laku dan menolak diatur syariatnya Allah. Apalagi kefasadan ini secara tertruktur, massif, dan sistematis diaruskan untuk menjauhkan kaum muslimin dari dienNya yang mulia

Entah itu di Jember, atau di bumi Allah manapun, adalah kewajiban santri untuk menjadi penjaga Islam dan umat. Mereka harus selalu peka terhadap pemikiran, budaya, aturan ataupun kebijakan yang memuat kemunkaran, dan akan berimbas pada kerusakan akidah dan ahlak masyarakat.

Lebih dari itu, sebagaimana perjuangan santri nusantara sebelum kemerdekaan, santri harus menjadi tonggak perubahan masyarakat menuju masyarakat Islam. Dengan berupaya menerapkan syariah Islam secara kaffah oleh institusi negara di bumi Allah. Allahu a'lam

Fashion Carnaval di Kota Santri


[Suara Muslimah]
Fashion Carnaval di Kota Santri

Oleh : Wardah Abeedah

“Suasana di kota santri, asyik senangkan hati..
Suasana di kota santri, asyik senangkan hati…

Tiap pagi dan sore hari,
Muda mudi berbusana rapi.
Menyandang kitab suci,
Hilir mudik silih berganti.
Pulang pergi mengaji.”

#InfoMuslimahJember — Mendengar lagu lama ini, akan memunculkan visualisasi ademnya kota santri. Masjid yang makmur (ramai dengan aktivitas ibadah), muda-mudi berpakaian syar’i, rajin mengkaji Islam. Alquran terbiasa dibaca bahkan meski di tempat umum. Pesantren dengan ulama dan santrinya mampu membina masyarakat agar paham dan taat pada din yang sempurna ini.

Kota santri, julukan itu pernah disandang Jember tercinta. Beberapa tahun lalu sebelum perhelatan karnaval -yang konon berskala dunia- menjadi ikon baru kota ini. Betapa tidak, jumlah pesantren di Jember sangat banyak. Menurut data Kementerian Agama, pada 2013 saja terdapat 367 pesantren yang terdaftar dengan jumlah santri mencapai hampir 40 ribu orang. Data tersebut minus sekitar ratusan pesantren Salaf yang tak mendaftarkan diri ke kemenag. Madrasah Diniyah berjumlah 2000 lebih dengan total santri lebih dari 103 ribu. Jika kita berjalan ke pelosok kabupaten Jember, akan banyak ditemui plang-plang di depan jalan kecil atau gang yang menandakan adanya pesantren di sana.

Para ulama juga masih dijadikan panutan di Jember. Tak sedikit dari mereka yang duduk di jajaran birokrasi. Di kota ini, juga terdapat beberapa kampus Islam yang di antaranya dikelola langsung oleh pihak pesantren, seperti As-Sunniyah kencong.

Selepas mengenyam berbagai tsaqafah Islam di pondok, kader pesantren biasanya akan menjadi dai di daerahnya. Jika tak mendirikan pesantren, minimal mereka mendirikan madrasah, TPQ (Taman Pendidikan Alquran) atau majlis taklim. Bila dalam setahun, pesantren mewisuda ribuan santri, berapa besar potensi sumber daya manusia penyebar Islam di Jember?

Potensi Kota Santri

Sejatinya potensi besar ini menjadi aset bagi bangsa, umat dan agama. Potensi SDM penolong agama Allah untuk menegakkan Islam di bumi nusantara. Sebagaimana peran pesantren di masa pra kemerdekaan dahulu. Dipimpin ulama, perjuangan mereka berfokus pada dua hal; pertama, mengusir kafir penjajah dari nusantara, tanah milik kaum Muslimin. Yang merupakan tanah usyriyah yang tunduk pada Khilafah Utsmani.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah. Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah.

Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Pada tahun 1825 hingga 1830, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Diponegoro yang disertai para para ulama-santri dari berbagai penjuru Jawa. Bahkan pasca ditangkapnya Diponegoro, lebih dari 130 pertempuran dilakukan kalangan pesantren untuk mengusir penjajah Belanda.

8 Desember 1944, para santri berjuang untuk mengusir penjajah kafir Belanda dan mempertahankan kemerdekaan dengan bergabung bersama Laskar Hizbullah. Dalam rapat pleno Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada Januari 1945, diputuskan pimpinan pusat dari Barisan Hizbullah adalah KH Zainul Arifin.

Kedua, kembali menegakkan syariat Islam pasca runtuhnya Khilafah Utsmani dan dijajahnya bumi nusantara oleh Belanda.

Perjuangan yang dilakukan ulama dan pesantren bukan sekadar mengusir penjajah Belanda dari bumi nusantara. Lebih dari itu, harta dan jiwa yang mereka korbankan adalah demi terbentuknya Negara Islam di nusantara.

Disampaikan oleh Soepomo dalam pidatonya pada 31 Mei 1945: “Memang di sini terdapat dua paham, ialah paham dari anggota-anggota ahli agama yang menganjurkan Indonesia didirikan sebagai negara Islam; dan anjuran lain sebagai telah dianjurkan oleh Mohammad Hatta ialah negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara dengan urusan Islam. Dengan perkataan lain: bukan negara Islam.” (Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I/115 karya Yamin)

Jauh sebelum kemerdekan Indonesia dirumuskan, ulama dan kaum pesantren mengangkat senjata adalah untuk menegakkan Negara Islam. Beberapa kesultanan di nusantara seperti Aceh, Demak, dan daerah lainnya telah tunduk kepada kekhilafahan Turki Utsmani, atau yang sering dikenal dengan Ottoman.

Namun pasca keruntuhan Utsmani dan menjelang kemerdekaan Indonesia, bermunculan tokoh dari kaum nasionalis sekuler dan komunis tak sepakat. Sehingga dibentuklah Panitia Sembilan sebagai kompromi dari perbedaan pendapat antara kubu Islam yang diwakili ulama, dan kubu nasionasil sekuler, sebagaimana petikan pidato dr Soepomo di atas.

Panitia Sembilan yang terdiri dari Ir Soekarno (ketua), Drs Mohammad Hatta (wakil ketua), Mr Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo , Mr Prof Mohammad Yamin SH, KH Abdul Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Raden Abikusno Tjokrosoejoso, Haji Agus Salim, dan Mr Alexander Andries Maramis (anggota) kemudian merumuskan Piagam Jakarta.

Dalam perjalanannya, Soekarno dan Hatta meminta kepada tokoh-tokoh Islam untuk diizinkan mengubah rumusan Piagam Jakarta menjadi rumusan Pancasila. Hingga akhirnya, dihilangkan tujuh kata di atas, dan dihapus pula pasal yang menyebutkan tentang syarat Presiden yang sebelumnya mengharuskan orang Islam.

Kembalikan Ikon Jember sebagai Kota Santri

Kembali berbicara potensi Jember sebagai kota santri, sejatinya kalangan pesantren meneladani dan meneruskan perjuangan pendahulu kita. Banyaknya SDM pesantren baik dari kalangan ulama dan santri diarahkan untuk berjuang menerapkan Islam di Bumi Pertiwi. Karena saat ini umat Islam di Indonesia tidak diperangi secara fisik, maka tugas ‘Kaum Sarungan’ bukanlah berjihad dengan senjata. Namun mendakwahkan Islam.

Tsaqafah Islam yang dipelajari di pesantren, menjadi senjata ampuh sebagai solusi berbagai problem bangsa. Juga berjuang untuk menerapkan hudud, imamah dan berbagai syariat Islam, agar diterapkan secara formal oleh Negara.

Sebagaimana dahulu, para ulama telah berjuang untuk menerapkannya. Sehingga dengan tegaknya hukum Allah di nusantara, akan menjadikan Indonesia diliputi keberkahan, sebagaimana firman Allah:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-a’raf 96).

Sayangnya sejak beberapa tahun lalu, ikon Jember berubah menjadi Kota Karnaval Dunia. Wajah Jember yang dulu relijius berubah drastis. Terutama di bulan Agustus yang dinobatkan sebagai Bulan Berkunjung ke Jember.

Perhelatan Jember Fashion Carnaval justru menjadi ajang kemaksiatan. Jalanan tidaklah penuh dengan muda-mudi yang berbusana Muslim dan menyandang kitab suci. Namun dipenuhi ajang buka-bukaan aurat sembari ber-tabarruj (berhias yang diharamkan).

Event yang digelar sejak menjelang siang hingga menjelang petang ini juga menjadikan sebagian besar peserta karnaval, panitia hingga penonton terpaksa meninggalkan salat. Ikhtilath atau campur baur dengan nonmahram yang diharamkan tak bisa dihindarkan.

Efek jangka panjang bagi masyarakat Jember lebih parah lagi. Opini yang dibentuk berupa kebanggaan terhadap ajang berbau maksiat tentu menggerus akidah umat Islam, mayoritas penduduk Jember. Opini bahwa pariwisata akan menggenjot sektor ekonomi dengan menafikan sistem ekonomi Islam juga merupakan pendapat tak Islami. Cita-cita untuk menjadikan Jember sebagai kota fashion dengan adanya ajang JFC semakin menjauhkan wajah Jember sebagai kota santri.

Hal ini tentu akan mendatangkan murka Allah, zyat Pencipta manusia dan bumi seisinya. Saat ini bisa kita rasakan bagaimana berkurangnya keberkahan di kota kita tercinta. Kemiskinan yang masih tinggi, hingga kerusakan moral remaja yang semakin menjadi.

Jangan sampai kita mengulangi kesalahan kaum terdahulu yang binasa oleh azab Allah. Seperti kaum Nabi Luth yang doyan homoseks. Mereka diguncang gempa bumi dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Hingga akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Atau seperti kaum Tubba’ yang enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

Mari, kembalikan Jember sebagai kota santri yang Islami dan mencetak SDM pejuang Islam agar terwujud keberkahan di kota kecil ini dan menyebar ke seluruh pelosok negeri. Wallahu a’lam bis shawab.[]

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

HAJI: BERSATU DALAM KALIMAT TAUHID


[ KAJIAN ISLAM ]

HAJI: BERSATU DALAM KALIMAT TAUHID

Tak lama lagi jutaan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di Tanah Suci. Menggemakan kalimat tauhid. Mempersembahkan ibadah haji yang agung ke hadapan Allah SWT. 

Pada hari itu tak ada kebanggaan selain mendapatkan gelar sebagai tamu-tamu Allah SWT. Nabi saw. bersabda:

وَفْدُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلاَثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

Tamu Allah ada tiga: mujahid, haji dan peserta umrah (HR an-Nasa’i).

Ibadah Sarat Hikmah

Pelaksanaan haji memiliki banyak hikmah yang penting. Pertama: Haji adalah ibadah yang menunjukkan ketaatan dan pengorbanan. Hanya mereka yang kuat tekadnya yang mau berkorban untuk berhaji. Sebaliknya, mereka yang lemah keyakinan tak akan pernah mau melakukan ibadah haji sekalipun punya kelapangan rezeki dan sehat raganya. Padahal dalam hadis qudsi, Allah SWT mengancam siapa saja yang mampu tetapi menunda-nunda berhaji dengan ancaman yang keras:

إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِى الْمَعِيشَةِ تَأْتِى عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لَمْ يَفِدْ إِلَىَّ لَمَحْرُومٌ

Sungguh seorang hamba yang telah Aku sehatkan badannya, Aku lapangkan penghidupannya, lalu berlalu masa lima tahun, sementara dia tidak mendatangi-Ku (menunaikan ibadah haji, red.), dia orang yang benar-benar terhalang (HR al-Baihaqi).

Kedua: Ibadah haji adalah simbol tauhid. Di dalamnya ada penegasan pengesaan Allah SWT dan penafian sekutu bagi-Nya. Selama ibadah haji para jamaah senantiasa mengumandangkan kalimat talbiyah yang berisi seruan tauhid. Kalimat talbiyah juga berisi pengakuan bahwa seluruh kekuasaan hanya milik-Nya semata. Tidak ada pemilik yang hakiki selain Allah SWT (Ibnu Qayyim, Mukhtashar Tahzib Sunan, 2/335-339). 

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sungguh segala pujian,  kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Seluruh jamaah haji tak henti-hentinya memohon segala kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah SWT. Mereka pun memohon ampunan atas segala dosa. Mereka mengetahui bahwa momen berhaji adalah saat Allah SWT  mengabulkan setiap permintaan dan mengampuni setiap kesalahan hamba-Nya.

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, yang berhaji dan yang umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, pasti Allah mengabulkan mereka, dan jika mereka meminta, niscaya Allah memberi mereka (HR Ibnu Majah).

Ketiga: Berhaji juga menapaktilasi jejak bersejarah dan spiritual mulai dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. hingga Rasulullah saw. Kaum Muslim berkumpul di sekitar Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Mereka berdoa di Hijr Ismail dan Maqam Ibrahim, kemudian melaksanakan sa’i dari Shafa ke Marwa, sekaligus mereguk kesegaran air dari sumur Zamzam yang historis dan berkah.

Kemudian saat menginjakkan kaki ke Masjid Nabawi, tak ada satu pun jemaah haji yang tak membayangkan sosok Baginda Nabi saw. bersama keluarga dan para sahabat. Merekalah yang bahu-membahu memperjuangkan tegaknya agama Allah dan senantiasa membela kemuliaan Rasul-Nya. 

Dengan napak tilas itu seharusnya bangkitlah kekuatan ruhiah seorang Muslim. Muncullah semangat ibadah, perjuangan dan pengorbanannya.

Keempat: Ibadah haji juga mengajari kaum Muslim untuk mengendalikan amarah dan permusuhan; sebaliknya mengembangkan sikap ramah serta tolong-menolong kepada sesama. Di tengah cuaca panas terik, lelah dan berdesak-desakkan, para tamu Allah diminta untuk mengendalikan akhlak. Allah SWT berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ 

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa saja yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats, fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Apa saja yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah. Sungguh bekal terbaik adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (TQS al-Baqarah [2]: 197).

Para ulama menjelaskan: rafats adalah hubungan badan, fasik adalah mencaci-maki, sedangkan jidal adalah berdebat hingga memancing kemarahan. Ketiganya merupakan perkara yang terlarang dalam ibadah haji. Yang dituntut justru sebaliknya: senantiasa melakukan amal kebaikan.

Kelima: Ibadah haji adalah tempat sekaligus momen meleburnya jutaan Muslim dari segenap penjuru dunia. Tak pandang suku bangsa, bahasa, warna kulit dan strata. Mereka berkumpul di Padang Arafah, di Mina, lalu melaksanakan thawaf dan sa’i, dsb secara bersama-sama. Inilah sebagian kegemilangan ajaran Islam yang mampu mengikat manusia dalam satu buhul (ikatan), yakni akidah Islam.

Menuju Persatuan Hakiki

Yang jadi pertanyaan, mengapa ibadah haji tidak memberikan dampak persatuan yang hakiki dan berkelanjutan? Mengapa nikmat persatuan itu hilang usai ibadah haji dan umat tetap dalam keadaan porak-poranda?

Patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan dan melebur jutaan orang dalam satu tempat dan satu waktu, ternyata belum mampu mengantarkan mereka menuju persatuan yang hakiki. Hal ini terus terjadi setiap tahun. Persatuan umat saat berhaji baru sebatas menciptakan ikatan spiritual tanpa sistem (rabithah ar-ruhiyah bi la nizham). Sama persis dengan ibadah shalat berjamaah atau shalat Jumat. Umat berkumpul di satu tempat dan satu waktu, kemudian bubar begitu saja. Tak lagi ada ikatan di antara mereka.

Semestinya ibadah haji menjadi konferensi akbar untuk membangun kesadaran umat, bahwa mereka kini telah tercerai-berai. Tidak lagi menjadi umat yang satu. Banyak permasalahan umat yang harus diselesaikan secara bersama.

Ironinya, hari ini kaum Muslim mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mareka tak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada pemerintah Komunis Cina yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim Uighur.
Jelas, kaum Muslim harus membangun kembali persatuan hakiki di antara mereka. Demikian sebagaimana dulu diawali oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang bersatu dalam ikatan akidah Islam. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah supaya kalian mendapat rahmat (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Ikatan akidah yang melahirkan ukhuwah islamiyah ini bukan saja tercipta di Madinah, Negara Islam pertama di dunia, namun terus menjalar ke setiap wilayah,  di mana pun Islam tersebar melalui dakwah dan futuhat (penaklukkan). Setiap bangsa yang memeluk Islam kemudian mengganti ikatan kesukuan dan kebangsaan mereka dengan ukhuwah islamiyah. Mereka menyambut saudara seiman mereka sekalipun berbeda suku bangsa, juga sekalipun para pendatang itu yang menaklukkan negeri mereka. Bangsa Spanyol di Andalusia dan Cordoba, Persia, Syams, suku Barbar di Afrika. Semua bersatu dalam ikatan akidah dan ukhuwah islamiyah bersama kaum Muslim yang berasal dari Jazirah Arab.

Sayang, hari ini kaum Muslim berada di titik terlemah karena terpecah-belah. Tak sanggup membela diri dan memberikan perlindungan kepada sesama Muslim. Mereka malah membiarkan saudara seiman sekarat di tengah penderitaan.

Hari ini sudah delapan tahun negeri Syams dilanda peperangan. Diperkirakan 370 ribu warga tewas sebagai korban perang. PBB menghitung ada 13,5 juta warga Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sekitar 6 juga warga Suriah mengungsi di dalam negeri dan 4,8 juta lagi berada di luar negeri Suriah.

Selain itu, akibat Perang Arab Saudi-Yaman, sekitar 70 ribu warga menjadi korban tewas. Di Cina, ada sekitar 1,5 juta warga Muslim Uighur dipenjarakan oleh Pemerintah Komunis Cina di kam-kam konsentrasi. Umat Islam sedunia tentu wajib memberikan pertolongan kepada mereka dan menyelesaikan pertikaian yang ada serta menghentikan kezaliman (Lihat: QS al-Anfal [8]: 72).

Bersatu di Bawah Kalimat Tauhid

Alhasil, mari kita rekatkan kembali ikatan ukhuwah islamiyah kita. Satukan hati kita. Campakkan ego kebangsaan dan kelompok yang telah membuat kita tercerai-berai, yang telah membuat musuh terus-menerus menguasai kita.
Mari kita jadikan kalimat tauhid sebagai pemersatu kita. Sungguh kita adalah umat yang satu. Bertuhankan satu, Allah SWT. Berhukum satu, Al-Quran. Dengan persatuan di bawah kalimat tauhid itulah Allah SWT akan menolong dan memuliakan kita. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah oleh kalian nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan. Lalu Allah mempersatukan hati kalian, kemudian kalian, karena nikmat Allah itu, menjadi orang-orang yang bersaudara. Kalian pun pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. (TQS Ali Imran [3]: 103). []

—*—

Sumber:
Buletin Kaffah No. 100 (30 Dzulqa’dah 1440 H-2 Agustus 2019)

Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah100

Hukum Laki-laki Pakai Daster


Bolehkan laki-laki memakai daster perempuan saat pertandingan sepak bola dalam rangka 17-an?
______________

/ Hukum Laki-laki Pakai Daster /

Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi

Haram hukumnya laki-laki menyerupai perempuan (tasyabbuh bi an-nisaa) sebagaimana haram perempuan menyerupai laki-laki (tasyabbuh bi ar-rijal).

Dalilnya adalah hadis riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya "Rasulullah ﷺ telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan [melaknat] para wanita yang menyerupai para lelaki." (la’ana rasulullah ﷺ al-mutasyabbihiina min ar-rijaal bi an-nisaa wa al-mutasyabbihaat min an-nisaa bi ar-rijaal). (HR Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Juz I hal. 227 & 339, dan HR al-Bukhari Shahih al-Bukhari hadis no. 5886 & 6834). (Imam Syaukani,Nailul Authar, [Dar Ibn Hazm : Beirut, 2000], hal. 1306).

Imam Syaukani memberi syarah (penjelasan) hadis di atas dengan mengatakan, "Dalam hadis itu terdapat dalil bahwa haram atas laki-laki menyerupai wanita, dan haram pula atas perempuan menyerupai laki-laki, dalam hal cara bicara, pakaian, cara berjalan, dan lain-lain…" (fiihi dalil[un] ‘ala annahu yuhramu ‘ala ar-rijaal[i] at-tasyabbuhu bi an-nisaa[i] wa ‘ala an-nisaa`[i] at-tasyabbuhu bi ar-rijaal[i] fi al-kalaam[i] wa al-libaas[i] wa al-masyi wa ghairi dzaalika) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1306).

Maka dari itu, jelaslah bahwa apa yang ditanyakan, yaitu laki-laki mengenakan daster yang biasa dipakai perempuan, adalah haram tanpa keraguan lagi.

===

Perlu kami tambahkan, bahwa yang dimaksud menyerupai (tasyabbuh) di sini adalah menyerupai jenis lain dalam segala hal (berbicara, berpakaian, berjalan, dsb) yang memang menjadi ciri khas jenis lain tersebut. 

Misalnya laki-laki memakai pakaian yang secara khusus dipakai wanita saja, semisal daster, rok, kebaya, kerudung (khimar), jilbab (jubah), dan sebagainya. Atau misalnya laki-laki memakai anting-anting, cincin emas, memakai kain sutera, dan sebagainya. Atau sebaliknya, perempuan memakai pakaian yang secara khusus dipakai laki-laki saja, misalnya perempuan memakai celana panjang khas laki-laki, atau memakai sepatu khas laki-laki, tas khas laki-laki, dan sebagainya. Ini semuanya haram.

Adapun jika suatu pakaian sudah biasa dipakai oleh laki-laki dan juga perempuan, semisal sarung, maka hukum memakainya baik oleh laki-laki maupun perempuan tidaklah haram. Karena dalam kondisi tersebut tidak terjadi tindakan menyerupai jenis lain sehingga hadis di atas tidak dapat diterapkan untuk kondisi itu.

Jika kita pahami hadis di atas dan mencoba menerapkan kandungan hukumnya pada masyarakat sekuler saat ini, akan kita dapati banyak sekali penyimpangan syariah dalam hal menyerupai jenis lain tersebut.

Misalnya saja eksistensi waria (wanita pria) yang sesungguhnya berjenis kelamin laki-laki, tapi berpenampilan seperti wanita. Waria ini berdandan, berbicara, berpakaian, seperti wanita. Ini jelas haram.

===

Haram pula mengukuhkan dan mengesahkan eksistensi waria itu dengan segala macam cara dan sarana. Misalnya, menghimpun waria dalam organisasi/perkumpulan khusus waria, atau menyelenggarakan kontes-kontes waria yang menjijikkan yang didukung pejabat. Atau menyuntik para waria dengan hormon perempuan agar tanda-tanda seksual khas perempuan seperti payudara dapat tumbuh. Atau mengoperasi kelamin mereka sehingga menjadi seperti kelamin perempuan. Semua ini adalah tindakan haram.

Haram juga para artis atau selebritis laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. Misalnya, Tessy atau Aming. Perbuatan keduanya adalah haram dan terlaknat. Haram pula berbagai rumah produksi (PH, production house) dan stasiun TV yang memproduksi dan menayangkan laki-laki berpenampilan perempuan tersebut. Penghasilan mereka dari tayangan itu haram dan tidak akan berkah.

Haram juga laki-laki yang secara psikologis merasa dirinya sebagai perempuan, lalu berpakaian dan berperilaku seperti perempuan, misalnya berkerudung, padahal jenis kelaminnya jelas laki-laki. Alasan psikologis semacam itu kadang dijadikan dalih untuk menolak taqdir Allah yang telah menetapkan jenis kelamin seseorang. Tentu alasan itu harus ditolak, karena sesungguhnya jiwa merekalah yang sakit dan harus dirombak total agar kembali kepada fitrahnya yang sehat.

===

Sanksi Islam

Sebagai agama fitrah yang sehat, Islam tidak membiarkan adanya orang-orang yang jiwa dan perilakunya menyimpang dalam masyarakat. Laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, atau perempuan yang berperilaku seperti laki-laki, wajib diusir dan dikucilkan dari masyarakat ramai. Ini merupakan jenis sanksi ta’zir yang dijatuhkan oleh Qadhi Hisbah (Muhtasib) atas mereka.

Dalam satu riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu meriwayatkan Nabi ﷺ telah melaknat laki-laki banci (mukhannats) yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki. Bahkan Nabi ﷺ mengatakan :

"Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian." (akhrijuuhum min buyuutikum). Maka Nabi ﷺ telah mengeluarkan si Fulan, dan Umar pun pernah mengeluarkan si Fulan. (HR Ahmad dan Bukhari). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1306).

Nabi ﷺ telah mengusir Anjasyah, seorang budak hitam yang berlagak seperti banci. Demikian juga Umar bin Khaththab telah mengusir Mati’, dan beberapa orang lainnya (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan lain-lain) (Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi Adakah dalam Islam, hal. 73).

===

Demikianlah Islam sebagai agama fitrah yang sempurna di samping telah menjelaskan keharaman menyerupai jenis lain, juga menjelaskan hukuman tegas dengan mengusir dan mengucilkan para pelaku perbuatan haram itu dari masyarakat.

Ini sangat jauh berbeda dengan masyarakat sekuler yang rusak dan bejat saat ini. Perbuatan menyerupai jenis lain itu malah dilindungi dengan dalih HAM, sehingga berbagai perilaku menjijikkan dan hina itu lalu merajalela secara gila-gilaan di tengah masyarakat. Ini tidak boleh dibiarkan dan wajib dihentikan, karena ia merupakan kemungkaran yang nyata. [ ]